Allahumma syaiban nafi'aan... Allahumma syaiban nafi'aan... Allahumma syaiban nafi'aan... Hujan surabaya menjadi begitu syahdu, bulir-bulir yang jatuh menimpa atap menghasilkan suara layaknya musik instrumen pengantar jiwa-jiwa yang ingin memeluk malam yang menjanjikan ketentraman. Tak sepi hening seperti biasa, dan tak pula riuh suara musik dangdut milik tetangga. Malam ini sungguh beda. Entah mengapa, ada satu hal yang tiba-tiba kupikirkan. Tentang ku, tentang semua tingkah laku ku. Tentang mu juga, tentang kamu yang tercipta sebagai bukan kaumku. Tentangku, entah apakah ini perasaan iri, atau efek perasaan dari jalan yang memang kupilih. Aku wanita kan. Aku paham, aku memang punya batasan. Aku mencoba dengan sekuat tenaga menjadi pribadi anggun, menghindari hal-hal yang tak perlu, dan sekuat tenaga tak terlalu mengikuti hawa nafsu kesenangan sementara. Meski mungkin kata sebagian orang, aku kaku lah, aku eksklusif, atau aku sudah berubah. Tapi memang ini jalannya, aku mencoba melihat lagi kedalam, apakah tindakanku selama ini benar? Atau hanya kesenangan dan berakhir dengan cerita yang menyenangkan pula tuk diulang-ulang? Tapi kenyataannya kosong. Tak ada yang dibanggakan. Tak ada yang bisa diceritakan ke anak2 kita sebagai hikmah pelajaran. Aku wanita yang mencoba menjaga kodratku. Menghindari hal-hal yang menurut agamaku tak baik untukku. Ah, apakah dengan begini aku tak modern? Jawabku, bukan pada aspek itu kita bisa di judge modern. Dari aspek lain kan bisa, dari pengetahuan misalnya. Aku tak munafik. Kami kaum wanita juga punya sisi liar, aku sering punya banyak hal yang aku tahu itu salah dan itu kulanggar dengan alasan yang ku pas - pas kan. Namun yang selalu kutanam dalam hati bukan berarti kesalahan itu adalah hal yang biasa. Miris ketika ada teman yang menyampaikan masa lalu kelamnya dengan tertawa-tawa. Dalam hati aku berkata, "kok, bahagia se arek iki cerito ngene, kok gak malah ditutup2i.". Sedangkan hatiku yang lain berteriak tajam, "jangan-jangan secara gak sadar kamu juga gitu Nggit". Astagfirullah. Sekarang tentangmu. Aku sadar aku seorang wanita, aku sangat menyadari bahwa nanti ku kan berbagi separuh agama denganmu. Berdasarkan ilmu yang kupunya, untuk mendapatkan seorang yang sekeren kamu, tentu aku harus mencoba menyeimbangkan diriku minimal tak jauh-jauh dari kekerenan mu. Nah, untuk saat ini, pertanyaanku adalah apakah kamu lebih suka wanita yang modern dengan bisa kau ajak makan malam bersama, hang out bersama di jam-jam yang menurut kebiasaan orang desa adalah jamnya semua pintu rumah tak ada yang terbuka? Apakah kamu juga akan memilih wanita yang asik bisa kamu ajak bercanda sehingga kadang membuat berkurang pesonanya karena tercecer kemana-mana? Ah, entahlah. Aku kadang ragu tentangmu, aku harus seimbang seperti apa agar mendapatkan seoarang sekeren kamu. Lebih parah lagi, banyak dari kaummu yang bilang kalau cantik itu nomor satu, padahal aku tahu, kamu udah lama mengaji dan berada di jalan ini. Tak jarang, teman-temanku yang tergolong kriteria itu terkena TO yang bertubi-tubi. Monggo luruskan niat dulu. Meskipun aku tahu itu 100% pilihanmu. Namun, dari banyak cerita tentang kaummu, ternyata masih ada cerita tentang seorang kaummu yang bersatu dengan kaumku melalui jalan yang begitu syahdu. Yah, seperti malam ini, saat hujan sebelumnya tak pernah bertemu dengan genteng, dan ketika mereka bertemu atas ijin Allah, keluarlah suara instrumen yang begitu syahdu. Hal inilah yang membuatku semangat tuk jadi berbeda, aku masih meyakini akan ada emas dalam bongkahan tanah itu. Pasti akan ada minimal seorang dari kaummu yang tak termasuk dalam keraguanku diatas, yang mungkin tak terkenal, namun ia sangat dikenal oleh penjuru langit dan isinya. Robbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyaatinaa qurrota a'yuniw waj'alnaa lil muttaqiina imaamaa.