Diperjelas
“Jadi hana adalah orang dengan tipe introvert yang lebih suka melakukan apapun sendirian ya?“
Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang saya tanyakan kepada teman saya minggu ini. Dia baru sampai di Korea dua minggu yang lalu, dan baru saja menyelesaikan karantina.
Sebenarnya kami bekerja di institusi yang sama, namun berbeda wilayah bekerja. So, kami tidak mengenal satu sama lain.
Hidup di luar negeri tidaklah mudah, bagi saya yang seorang ekstrovert, hal ini begitu menyiksa di awal-awal perantauan.
Tapi nampaknya beda untuk teman saya yang bertipe introvert itu, mungkin hidup di luar negeri dengan dirinya sendiri lebih mudah dan nyaman untuk dijalani, karena jauh dari keramaian circle-cirle pertemanan kita di Indo (yang kadang malah toxic)
Jadi baiklah, setelah saya menanyakan hal tersebut, semua menjadi jelas.
Semisal saya dan kawan-kawan lain ada plan untuk plesir di Korea, saya tetap menawari hana tapi dengan kondisi bahwa saya sudah siap untuk ditolak, karena mungkin saja ia tidak nyaman dengan kehidupan berkelompok dalam waktu yang relatif lama.
saya mengatakan kepada hana bahwa saya tidak akan mempersoalkan ini sebagai permasalahan personal. Malahan saya akan menggunakan sudut profesional dalam arti kita menghargai satu sama lain.
Semakin dewasa, sudah semestinya kita menghormati dan menghargai kawan dari sudut pandang yang lebih dalam, tidak childish seperti dulu dimana semua kita anggap sama seperti kita, NO! it is not like that.
Penolakan bukan berarti dilandasi ketidaksukaan atau kebencian, bagi sebagian orang penolakan merupakan salah satu bentuk kejujuran kepada diri sendiri untuk tidak hidup dalam kebepura-puraan.
Baiklah, ini pelajaran yang sangat berharga untuk saya yang sering kali sangat sulit untuk berkata tidak kepada seseorang.
Mari berani, berkata tidak!
Daejeon, 17th January 2021













