Kita hidup seolah waktu adalah milik kita.
Seolah tubuh ini permanen.
Seolah nama, reputasi, dan cinta bisa bertahan lebih lama dari ingatan orang-orang yang mengucapkannya.
Padahal kita hanya tamu yang lupa diri.
Setiap detak jantung adalah hitungan mundur yang sunyi.
Setiap napas adalah kontrak sementara dengan dunia yang tidak pernah berniat memiliki kita selamanya.
Bukan sebagai pemenang atau pecundang.
Bukan sebagai legenda atau orang yang dilupakan.
Tapi sebagai sesuatu yang telanjang dari semua identitas yang kita bangun dengan susah payah.
Kita mengumpulkan benda, hubungan, dosa, dan kebanggaan, lalu suatu hari semuanya dilepaskan, bahkan tanpa izin kita sendiri.
Lucu, manusia mengira hidup adalah perjalanan menuju sesuatu yang baru.
Padahal hidup hanyalah lingkaran panjang menuju asal yang sama.
Kelahiran adalah perpisahan pertama, dan kematian adalah kepulangan terakhir.
Raji'in bukan ancaman, bukan juga penghiburan. Ia hanya fakta bahwa tidak ada yang benar-benar milik kita, bahkan diri kita sendiri.