Jauh sebelum hari ini, aku sering membandingkan kelebihan orang lain dengan apa yang kupunya. Kebaikan mereka, keberuntungan mereka, bahkan hal-hal kecil yang tampak sederhana di mata mereka, seringkali menjadi bahan ukur dalam pikiranku sendiri. Dan yang muncul bukanlah syukur, melainkan rasa tidak puas yang terus menggerogoti hati.
Diam-diam, aku pernah menyalahkan takdir. Pernah terlintas pula pikiran yang nyaris lancang: seolah Tuhan berlaku tidak adil dalam hidupku.
“Mengapa aku tidak seberuntung dia?”
“Mengapa dia lebih dulu punya pasangan daripada aku?”
“Mengapa dia lebih pintar dariku?”
“Mengapa aku terlahir tidak secantik mereka?”
Betapa mudah hati yang sempit menodai jiwa. Dan hingga hari ini pun, bisikan itu kadang masih ada. Na‘udzubillah, semoga seiring waktu, nurani ini semakin dilapangkan.
Namun aku belajar sesuatu yang lebih dalam: bukan hanya membandingkan kelebihan orang lain yang melahirkan hasad, membandingkan kemalangan orang lain dengan kemalanganku sendiri demi merasa lebih bersyukur pun ternyata tidak lebih mulia. Bahkan itu terasa kecil dan tidak manusiawi.
Melihat pengemis di jalan lalu membandingkannya dengan keadaan kita supaya merasa lebih bersyukur — ternyata bukan hal yang dianjurkan. Bukan karena salah bersyukur, tapi karena pada saat yang sama, kita bisa saja tengah merendahkan luka orang lain dalam hati.
Kemudian aku menemukan sebuah tulisan lama di Tumblr dari seorang teman @herricahyadi. Tulisan yang mungkin, insyaAllah, terus mengalirkan pahala untuknya hingga hari ini, insya Allah...
https://herricahyadi.tumblr.com/post/679299649576861696/bang-ada-temen-yang-bilang-kalau-bersyukur-dengan
"Cara kita bersyukur bukan dengan membandingkan kenestapaan orang lain, tapi syukuri saja apa yang ada di kita tanpa perlu memasukkan variable duka orang lain di situ"
Saat aku melihat berita tentang bencana—terutama yang terjadi di Aceh dan Sumatra—aku tidak lagi mencari rasa syukur dari penderitaan mereka. Tidak menjadikan kemalangan orang lain sebagai alasan bagiku untuk merasa lebih beruntung.
Yang bisa kulakukan hanyalah bentuk empati sederhana dari keterbatasanku: menyisihkan sebagian rezeki yang Allah titipkan dan mendoakan mereka sebagai sesama Muslim. Aku yakin, jika pun aku tak mampu memberi banyak secara materi, doa setelah salat pun akan selalu didengar Allah. Kita juga bisa menyebarkan kebaikan: mengajak orang lain untuk berdonasi melalui lembaga-lembaga filantropi terpercaya yang berseliweran di media sosial.
Aku percaya, setiap kebaikan sekecil apa pun yang kita lakukan di muka bumi tidak pernah benar-benar sia-sia. Allah pasti membalasnya — entah di dunia, atau di akhirat kelak. Wallahu a‘lam.
"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya"