Kadang yang bikin kita susah maju itu bukan masa lalu kita, tapi rasa malu terhadapnya.
Kita takut kalau orang baru tahu siapa kita dulu. Takut dinilai. Takut ditinggal. Takut kehilangan kesempatan yang bahkan belum sempat kita jalani.
Padahal, kalau dipikir-pikir bukannya semua orang juga punya masa lalu ya?
Dalam Islam, yang dilihat itu bukan siapa kita dulu, tapi siapa kita sekarang dan ke mana kita menuju. Allah bahkan punya sifat Maha Menutup Aib (As-Sittir). Banyak dosa kita yang gak pernah terungkap ke siapa pun itu bukan kebetulan, itu rahmat.
Rasulullah juga ngajarin, kalau Allah sudah menutup aib kita, jangan kita buka sendiri. Artinya, masa lalu itu gak harus selalu diceritakan ke semua orang. Ada hal-hal yang cukup jadi urusan kita sama Allah.
Jadi kalau kita lagi ngerasa malu sama masa lalu itu sebenarnya tanda baik.
Artinya hati kita masih hidup. Masih ada rasa bersalah. Masih ada keinginan buat jadi lebih baik.
Yang penting sekarang bukan ngubek-ngubek masa lalu terus, tapi udah sejauh mana kita berubah? Udah seberapa serius kita bertaubat?
Karena dalam Islam, taubat itu bukan sekadar minta maaf. Tapi bener-bener balik arah. Dan kabar baiknya Allah itu bukan cuma menerima taubat, tapi juga bisa mengganti keburukan jadi kebaikan.
Jadi, gak usah terlalu takut sama orang baru. Kalau mereka datang dengan niat baik, mereka akan lihat siapa diri kita sekarang. Dan kalau mereka pergi karena masa lalu kita, mungkin mereka memang bukan orang yang Allah siapkan untuk tetap tinggal.
Yang perlu kita jaga itu hubungan sama Allah, bukan penilaian semua orang.
Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan siapa yang tahu masa lalu kita, tapi apakah Allah ridha dengan diri kita yang sekarang.