Analisis Nury Sybli, 10 Tahun Perjuangkan Anak Baduy Lawan Buta Aksara oleh Umi Septia Rahayu
Dalam artikel yang diterbitkan pada 25 November 2017 di liputan6.com ini, menceritakan Nuri Sybli, seorang jurnalis yang tergerak untuk memperkenalkan literasi kepada anak-anak suku Baduy agar melawan buta aksara. Kelas baca tersebut dimulai pada tahun 2007.
Alasan ia memulai Kelas Baca adalah seringkali anak-anak suku Baduy hanya menjadi objek wisatawan karena mereka tidak mampu berkomunikasi. Pengenalan huruf pada generasi muda tersebut, agar mereka mengerti menjadi masyarakat adat yang sesungguhnya, bisa menjelaskan tentang tatanan kehidupan adat pada orang luar, dan tidak mudah terpengaruh.
Kelas yang ia jalani sempat terhenti karena ada kesalahpahaman dengan warga Desa Balingbing selama dua tahun. Salah seorang temannya bernama Kang Sarpin, membantu meluruskan kesalahpahaman tersebut. Ia menjelaskan bahwa Nuri hanya memberi pelajaran bukan sekolah formal yang sudah dilarang oleh aturan adat. Kemudian Kelas Baca diadakan lagi pada tahun 2014 dengan jumlah murid yang semakin bertambah banyak.
Menurut saya, Nuri Sybli sangat menginspirasi pembaca untuk selalu berbagi ilmu sekecil apapun itu. Hanya dengan tekad ingin memajukan suku Baduy dan melestarikan kearifan lokal yang nanti akan dijalankan oleh generasi mudanya, ia menjalani pengajaran dengan sukarela dan ikhlas. Walaupun dengan berbagai rintangan, seperti perjalanannya yang jauh selama 30 menit, naik turun bukit, pengajaran terhadap anak suku Baduy yang harus sabar dan telaten, serta donasi buku yang terus-menerus dilakukan.
Feature ini masuk ke dalam Feature Profil dengan penjabaran cerita yang yang mudah dipahami serta jelas artikulasinya. Pembaca dibawa larut dalam cerita feature ini.
Sumber: https://www.liputan6.com/health/read/3174350/nury-sybli-10-tahun-perjuangkan-anak-baduy-lawan-buta-aksara










