watercolor on paper 200gsm

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Russia
seen from T1

seen from Türkiye
seen from United Kingdom

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Russia

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Malaysia

seen from Spain
seen from Philippines
seen from Estonia
seen from United States
seen from Macao SAR China
seen from United States
seen from China
watercolor on paper 200gsm
Cerita Sastra
Berjalan di trotoar kota pada hujan gerimis, memapah mantel pada pundak, kuyup dan dingin. Tak ada mentari untuk berbagi cerita sepanjang langkah kaki. Kedai kecil adalah tujuan yang bijak kali ini.
Kring Kring Kring.
Penjaga kedai minuman menoleh, penasaran dengan pelanggan yang baru saja datang.
"Kau basah sekali, tak bawa payung?"
"Ya seperti kelihatannya, apakah ada Cerita disini?" Pena taruh mantel basahnya, mata menyapu seisi ruangan beraroma kopi dan kueh manis.
"Bisa kau cari diantara rak buku itu, dia bersama Puisi, berbagi aksara disana," Ia masih membersihkan gelas-gelas kaca, "Kau mau pesan apa?"
"Kopi hitam, tak perlu sepahit kisah ku, tapi jangan kau bohongi pula dengan hal manis yang terlalu mengada-ada, dan ku ingin wafel, dengan topping kehidupan diatasnya, sedikit rice chocolate tak apa."
Pena segera menghampiri deretan rak buku di pojok kedai. Dia dapati Cerita sedang berdua dengan Puisi, dibalik lembar-lembar buku yang terbuka, entah apa yang dibicarakan, cukup seru sepertinya.
"Hai Tuan Pena, kemarilah, bergabung dengan kami, ceritakan hal yang bisa kau puisikan." Sapaan datang dari Cerita setelah ia menyadari kehadiran Pena.
Pena mengambil kursi dan ia dekatkan dengan meja mereka berdua. "Ada apa? Ada apa? Sepertinya seru sekali pembicaraan kalian ini."
"Ya Puisi sedang bercerita, tentang dirinya dan sastra di jaman ini." Cerita seakan-akan menjadi juru bicara.
"Kenapa memang?" Pena dekatkan tubuhnya kepada Puisi. Mencoba menoreh setiap dikte yang akan terucap.
Puisi hanya tersipu, "Baiklah," akhirnya berbicara, "Kini ku sadar, bahwa aku tak seperti pendahulu ku dulu, bertutur kata dengan rima-rima indah, mendayu atau membawa suara resah, penuh dengan metafora, hiperbola, personifikasi atau majas lainnya, pepatahpun kadang ada di dalamnya," Puisi sesap teh rosela yang ia pesan, "Dan apa kau tau, kini aku tak bisa sepenuhnya seperti itu, di jaman milenial ini, puisi lebih seperti ajang curhat masing-masing penulis serta pembacanya, aku tak suka seperti itu. Aku bukan hanya dari hati, tapi perlu juga di pikirkan secara logika, jika hanya puisi lembek seperti biasanya, puisi anak umur tujuh tahun kepada ibunya itu lebih baik." Setengah ter-engah ia bercerita.
"Ya bagaimana sekarang?"
"Ya, aku menyesuaikan keinginan para penikmat literasi." Puisi memberi isyarat kutip dengan kedua tangannganya.
"Literasi hampir mati di bumi ini kawan." Cerita tiba-tiba ikut berbicara.
"Mati?" Puisi tersentak.
"Ya, sudah habis jaman kata-kata adalah pujangga, dan pujangga adalah kata-kata. Semua lebih menyukai permainan dan tontonan, bukan lagi rangkaian aksara yang disusun spasi per kata, paragraf per kalimat dan lembar per kertas." Es susu menjadi korban akibat seraknya suara yang di tekan dengan emosi.
"Di jaman milenial ini lebih diminati hal-hal visual, karena lebih menarik." Sedikit sendu nada dari paraunya Puisi.
"Lalu apa kita tak menarik? Dengan segala ilmu yang bisa kita tularkan, pemahaman, dan permainan kata yang kita berikan. Aku tak paham, harus seperti apa lagi aksara yang kita metaforakan, ilmu yang kita hiperbolakan dan bagaimana membungkus pepatah menjadi indah." Hentakan kaki menjadi irama emosi percakapan saat ini.
"Bukan begitu kawan." Logika datang membawa secangkir kopi dan wafel pesanan tuan Pena.
"Kita masih memilki penggemar bukan? lihat di jajaran kota ini, banyak toko buku dan berbagai kantor penerbitan. Kalian kenal dengan seorang lelaki yang duduk didekat sungai setiap sore harinya?"
"Tak."
"Ah aku tau! Dia adalah pemuda yang bahkan tangan nya tak pernah lepas dari buku, tapi aku tak begitu mengenalnya."
"Ya begitu, kita tak perlu peduli dengan apa yang dunia katakan, lakukan yang terbaik menurut kita, dan satu hal, kita tak bisa membahagiakan semua orang."
"Baiklah baiklah, kau selalu bijak akan hal ini Gika." Wafel potongan kecil lalu Pena makan, "Apakah kau tau bagaimana rasanya tinta terbuang sia-sia?"
"Aku tak tau, karena aku tak punya tinta, bagaimana?"
"Ini terasa saat seluruh jerih payah itu hanya bersarang tanpa terbang ke lensa-lensa, kau tau? Aku menumpah tinta dengan jiwa, ku bagi setiap bagian jiwaku saat membuat karya, menitih kertas dengan kelam yang gelap, tapi itu terang, tercurah seluruh harap pada aksara yang terukir pada serat putih yang kemudian abu. Namun, tak ada apresiasi itu karat. Bukan maksudku meminta sebuah mendali atau sertifikat yang tertoreh namaku, tapi aku hanya ingin kata-kata ku terbaca oleh mata-mata yang kini hanya melihat kaca-kaca yang menimbulkan visual." Sebuah potongan wafel kecil kini hilang di dalam lahapan, Kopi terasa lebih dingin di mulut Pena.
"Mungkin kau terlalu udik?" Logika membuat dua orang lain menatap dia tajam.
"Bukan, dunia ini terlalu penat." Pena masih menyalak.
"Hey-hey ini terlalu jauh pembahasan kalian ini." Cerita tak mau terlibat hal-hal keributan.
"Tak apa, ini menyenangkan bukan? bertukar resah dari kisah, karena kenang yang masih terawat dalam kening. Kapan bisa seperti ini lagi? karena kadang waktu tak merasa iba pada kita." Logika masih berdiri dengan nampan kayunya.
"Memang apa salahnya jika kita tak ada?" Puisi mencoba meminta penjelasan.
"Kedai ini tak akan ramai dengan debat-debat kecil, tapi pelik kalian." Logika tertawa kecil.
"Bisa saja, bilang kalau kau masih butuh uang untuk makan, Gika." Pena seperti masih memiliki sedikit dendam pasa Logika.
Ketiga orang lainnya tertawa, hangat diantara sisa-sisa perjuangan hujan yang turun.
Dengan sisa tawa Logika bercerita "Kalo kita tak ada, ya tak ada rugi untuk kita, tapi saja, bunga tak akan mekar, karena angin tak akan menarik dan membawa benang sari pada putik."
"Awan tak akan berarak mengitari langit sambil berkejaran satu sama lain, membuat sebuah arus dilangit, dengan angan sebagai kapal yang berlayar disana." Puisi coba ikut andil.
"Laut tak akan berombak, dan daun kelapa tak akan melambai pada kapal yang meninggalkan dermaga. Debur nya akan sunyi, dan ia menagih janji pada air yang jatuh sebagai hujan." Cerita berucap dengan gagasannya
"Gunung tak akan berpasak, dan bumi tak akan berpijak, dengan segala bintik yang tergantung dan menemani Lunar melalui dinginnya malam. Disini dan tak akan pergi." Pena tak mau kalah.
"Bukan kita yang butuh di baca, tapi kalian yang butuh aksara." Lanjut semuanya.
@Regrann from @caramelmachiato91 - ❝Dekat yang tak melekat, tetapi hanya memberi sekat.❞—[Amor Fati, Chapter II] . . Yah, sepertinya kutipan pembuka chapter kedua itu layaknya aku dan kamu mungkin yah. Hahaha oke abaikan! Sengaja hari ini 2 postingan. Karena ini #day2 yang di mana memang harusnya aku membahas chapter II. So, here we go... . . Amor Fati ini ritmenya sedikit dinamis menurutku, makanya aku mengulas pun nggak mendayu-dayu seperti KALA kemarin. Tadi pagi aku sudah bilang bukan kalau Ka Iid dan Bella selalu berhasil menyentuh hatiku lewat tulisannya. Ya, dan itu terjadi lagi di chapter II ini. Kali ini ada tokoh baru. Baik dari sisi Saka ataupun sisi Lara. Bedanya, yang bersama Saka ini, yah begitu. Yang sama Lara, seperti itu. Aku nggak mau menjabarkan di sini, karena spoiler itu nggak oke teman-teman. Biar kalian cari tau sendiri siapakah yang sedang dekat tetapi masih memberi sekat di keduanya. 🤓 . . ❝Kita memang begitu senang menyiksa diri sendiri. Keadaan seperti itu membuatku mengerti, lebih baik terluka dalam ingatan daripada tidak merasa apa pun sama sekali. Ini bukan perkara ingin baik-baik saja namun perkara ingin merasakan sesuatu.❞—[Amor Fati, hlm. 96] . . Ini dari hati saya yang paling dalam, Teruntuk bapak yang membuat penggalan di atas. Terima kasih ya, sudah bikin seorang Hani makin mengerti kalau ternyata selama ini dia sebenarnya juga masih ingin merasakan sesuatu walaupun itu bisa saja menyiksa bahkan menghancurkan dia. #EdisiHaniBaper . . Guys, if you ask me, how's your feel? I'll answer, i don't know... i can't explain it. But, i can feel it... So, if you want to know, read this book as soon as possible! . . #KALA #AMORFATI #hujanmimpi #stefaniBella #SyahidMuhammad #eleftheriawords #GradienMediatama #BooktourAmorfati #bookstagram #black #bookstagramerindonesia #literature #booksofinstagram #phonegraph #bookphotograph #bookish #aesthetic #vsco #vscobook #vscocam #bookaesthetic #bibliophile #caramelmachiato91 #IndonesiaMembaca #131217 #Indonesia
@Regranned from @owneva_ - 📚: Perempuan Penggenggam Rindu Penulis : @tiasetiawati2709 Penerbit : @mediakita "Perempuan sering mengatakan dia baik-baik saja. Nyatanya, dia menyimpan sejuta gemuruh dalam dadanya : sendiri saja." -Perempuan Penggenggam Rindu, halaman 90 . . Buku ini berisi kalimat-kalimat yang sangat menyentuh. Topik yang diangkat mulai dari jatuh cinta, kesetiaan, pengkhianatan, problema dalam sebuah hubungan hingga patah hati, benar-benar menorehkan pembelajaran bagi pembacanya. Buku ini dengan magisnya membuat pembaca untuk memahami perempuan lebih dalam dan membuat pembaca melihat dari lain sudut pandang. . . "Ku cintai kau dengan tulus. Namun, aku tak bisa tinggal lebih lama, bila kita masih tanpa status." -Perempuan Penggenggam Rindu, halaman 103 Saya tidak dapat berkata banyak, karena saya telah hanyut dalam rangkaian kalimat-kalimatnya yang indah. . "Ada saat dalam hidup ini Aku ingin sejenak saja berhenti Hanya melihat sekeliling Lalu perlahan Menatap dalam ke diri sendiri Untuk berpikir Berpikir... Berpikir...." -Perempuan Penggenggam Rindu, halaman 231 #PerempuanPenggenggamRindu #IGBookReview #BukuKece #BukuJamanNow #SidoarjoHitzz #ReviewerJamanNow#bookstagram #bookstagramer #bookstagramindonesia #bookstagramfeatures #instabook #bookish #bookishfeature #bookworm #booknerd #booklover #booklicious #bibliophile #bookaddict #bookphotography #PerempuanPenggenggamRindu #Mediakita #Sajaksejuk #Indotraveller #IndonesiaMembaca #hijabtraveller #bookandtraveller #traveller #instaphotograp #instalike #tiasetiawati
. Nona Teh dan Tuan Kopi "Parak" karya Crowdstroia Penerbit: Kata Depan Tahun: 2017 Pertama kali baca cerita ini di Wattpad pas zaman masih SMK dulu. Waktu dikasih pengumuman Troia kalau cerita ini mau terbit, saya sangat excited. Karena ini cerita Wattpad yang punya kualitas bagus. Baik dilihat dari bahasa cerita maupun alurnya. Saya mengikuti cerita ini dari awal, saat itu saya baru bikin akun Wattpad. Jadi, saya pengin banget punya versi cetaknya. Pembaca di Wattpad pasti tahu kalau NTdTK ini cerita yang narasinya banyak. Tapi nggak bikin bosen pembaca. Ketika cerita lain mengusung tokoh remaja, NTdTK ini justru menghadirkan tokoh "matang". Varsha diceritakan sebagai perempuan pertengahan 30 tahun yang belum menikah. Dan Regen digambarkan sebagai pria mendekati 40 yang belum menikah juga. Saya rasa cerita ini perlu kita baca untuk mengubah perspektif kita tentang orang yang belum memutuskan untuk menikah meski usia mereka tergolong matang. Cerita ini, baik versi cetak maupun Wattpad, belum bisa ditebak akan berakhir seperti apa. Di Wattpad ada sequelnya tapi hanya beberapa bagian saja dan Troia tidak melanjutkannya di Wattpad. Sementara untuk versi cetak, Troia memberi bocoran bahwa NTdTK akan dibagi menjadi 3 buku. Parak menjadi yang pertama. Mungkin Taklik menjadi yang kedua. Bagi yang penasaran bisa langsung cari di toko buku. Btw buku ini sangat laris. Saya ikut PO cetakan pertama, tapi baru dapat bukunya dicetakan kedua. #reviewbuku #resensi #buku #sastra #populer #koleksipribadi #hobimembaca #Indonesiamembaca #ayomembaca
@Regrann from @caramelmachiato91 - ❝Kelak setiap kenangan hanya akan berakhir pada ingatan.❞—[Amor Fati, Chapter I] . . Dari sinilah aku kembali memulai cerita tentang kehidupan Saka dan Lara. Ahh, jika kalian sudah membaca KALA, kalian pasti akan paham bagaimana keadaannya. Di bagian ini, terasa sangat sesuai dengan kutipannya. Bahwa kenangan berakhir pada ingatan. Beberapa momen memang membuat mereka berdua saling mengingat satu sama lain. Dan yang jelas masih saling menyimpan rindu satu sama lain. . . Sensasi Amor Fati ini sedikit berbeda ketimbang KALA waktu itu. Walaupun masih tetap dengan 2 sudut pandang yang berbeda, tapi kali ini entah kenapa rasanya ceritanya lebih hidup dari awal mula aku membaca lembaran Amor Fati ini. Mungkin karena ada beberapa orang lagi di sini yang masing-masing punya peran penting. Dan tetap, setiap rangkaian kata yang diciptakan Bella dan Kak Iid pada bagian mereka masing-masing, efeknya masih sama ketika membaca KALA. Aku nggak tau yah, di sini aku yang mudah tersentuh atau memang kalian yang sangat menyentuh hatiku. . . . . .❝Hidup itu selalu ngasih pilihan ke kita. Terserah itu bukan jawaban. Terserah ini milik mereka yang nggak tahu mau dibawa kemana hidupnya.❞—[Amor Fati, hlm. 46] . . Jadi, jangan pernah menjawab TERSERAH karena TERSERAH itu bukanlah sebuah jawaban yang menyelesaikan masalah. . . #KALA #AMORFATI #hujanmimpi #stefaniBella #SyahidMuhammad #eleftheriawords #GradienMediatama #BooktourAmorfati #bookstagram #black #bookstagramerindonesia #literature #booksofinstagram #phonegraph #bookphotograph #bookish #aesthetic #vsco #vscobook #vscocam #bookaesthetic #bibliophile #caramelmachiato91 #IndonesiaMembaca #121217 #Indonesia
Balik lagi, setelah berjuang melawan mager setelah ujian 😁. Kali Ini saya akan berbagi beberapa tips yang saya sadur dan tadabbur- i dari bukunya Dr. Raghib as- Sirjani tentang membaca sebagai pedoman Hidup kita sebagai seorang muslim. #marimembaca#muslimmembaca#bukuislamibestseller#yukmembaca#indonesiamembaca#alazharmesir#tipsmembaca (di Cairo, Egypt) https://www.instagram.com/p/CNhQG9WnqAi/?igshid=1sklghbc1jb55
wah, sudah lama sekali aku tidak menulis. rasanya aneh ketika aku ingin meluapkan perasaan melalui kata dan kalimat. kosakata ku seakan meluap dari ingatan.
aneh yah, mungkin karena dua tahun terakhir ini aku lebih sering meluapkan emosi dengan cat dan kuas. mungkin begitu yah.
aku akan mencoba menulis kembali dan mungkin podcast di youtube atau Spotify. akan aku coba.