Aku tengah mengerjakan PR, belajar menghitung dan membaca biasanya di temani ibu. Tapi malam ini aku mengerjakannya sendirian sebab ibu tidak bisa menemani belajar karena capek. Pekerjaan rumah yang begitu banyak, di tambah ibu sedang mengandung adikku diperutnya.
"Tokk.. tokk.. tok.." Suara ketukan pintu terdengar keras tepat pukul 7.20 malam, aku langsung keluar kamar dan benar saja itu ayah.
"Ayahhh.." aku memanggilnya dari kamar menuju pelukannya.
"Nanti dulu yah nak, ayah capek..!!" Hmm, hilanglah kesempatanku menyampaikan rindu yang sudah ku tahan selama seharian ini.
"Masuk kamar dulu yah kak, lanjutin belajarnya, ibu ada perlu dulu sama ayah"
"Baik bu," dengan perasaan kecewa aku kembali ke kamar dan melanjutkan PR.
Kalian tau? Aku suka belajar matematika, aku bisa berkhayal mempunyai banyak buah kemudian memakannya dan sisanya adalah jawaban dari PR ku. Itu baru dari satu soal, sedangkan ini ada 7 soal dengan 3 jenis buah yang berbeda, 2 soal ice cream dan 2 soal alat tulis. Aku sangat kaya dalam khayalku, hheheh..
Tak terasa waktu menunjukan pukul 8 dan aku baru ingat kalau belum sholat isya, duhh pelajaran matematika membuatku lalai dengan kewajibanku. Aku segera mengambil wudhu dan melaksanakan sholat. Selesai sholat, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Kemudian aku merapikan bekas belajarku karena kalau ini terlihat ibu, mungkin aku akan kena omel seharian penuh.
"Alhamdulillah selesai, sekarang waktunya tidur, Bismillahirrahmanirrahim, bismika Allahuma ah'ya wa bismika amuut"
Baru pejamkan mata, tiba-tiba aku mendengar ayah berteriak, yang tadinya mau beranjak tidur pun tidak jadi dan langsung menghampiri pintu, tapi aku ingat kalau tadi ibu memintaku ke kamar sebab ayah dan ibu ada perlu. Akupun mengurungkan niatku dan hanya melihat dari lubang pintu.
Ternyata, ayah dan ibu tengah berperan.
Di malam yang terasa begitu mencekam
Sentuhan dingin tak henti menusuk tulang
Aku hanya berselimutkan hujan
Tersenyum menyaksikan sebuah pertunjukan
Dialog ayah dan ibu
Yang sendang melawan kerasnya badai
Terdengar harmoni
Dengan hujan petir sebagai pengiring
"Hheheh, Allah lihat deh, orang tua ku sedang bersandiwara menjadi penyihir yang beradu kekuatan, ini seperti nyata karena hujan dan petir begitu harmoni dengan adegan mereka" ucapku dalam hati.
Tiba-tiba air mata mengalir, aku tak tau kenapa bisa keluar padahal aku senang melihat pertunjukan ini di depan mataku. Aku menyapu pipiku dan berucap pada diri "Hari ini cukup segini dulu nontonnya yahh, udah malam waktunya tidur, semoga besok pagi pertunjukan ini berakhir" ucapku pada diri sendiri.




















