Dari tulisan ini, kamu akan segera tahu tentang:
✔ Objek material geografi (geosfer)
✔ Objek formal geografi (pendekatan geografi)
Geo seorang siswa SMA. Ia tinggal di sebuah rumah besar berlantai satu dengan halaman luas yang mengelilinginya. Lingkungan rumahnya tidak begitu ramai karena terletak jauh dari ibukota kabupaten. Geo biasa berjalan kaki menuju ke sekolahnya melewati aliran sungai Barito. Selain dirinya dan kedua orangtuanya, Geo juga tinggal bersama kakek, nenek, dua orang kakak, dan satu orang adik. Orangtua Geo memiliki sebuah toko sembako di pasar.
Semasa liburan sekolah, Geo pergi menginap di rumah bibinya. Sang bibi adalah manajer perusahaan perkebunan dan memiliki dua orang anak. Mereka tinggal di sebuah apartemen di jantung kota. Meski tempat tinggal mereka dikelilingi pusat hiburan dan rekreasi, Geo dan sepupunya harus terjebak macet saat bepergian. Tiap petang, bibinya akan pulang bekerja membawa santapan yang dibelinya. Geo, bibi, dan sepupunya kemudian makan malam bersama-sama. Geo bercerita bahwa di rumahnya, neneknya yang memasak untuk mereka. Namun, mereka jarang berkumpul di meja makan bersama, kecuali saat hari raya.
Pernahkah kamu mengamati keadaan lingkungan di sekitarmu? Geografi secara harfiah berarti "catatan tentang bumi". Dalam bahasa Yunani, Geos berasal artinya "bumi" dan graphein artinya menggambarkan, mendeskripsikan, atau mencitrakan (Murtianto, 2008).
Sebelum menjadi sebuah ilmu seperti yang akan kamu pelajari sekarang, geografi mulanya berkembang dari kegemaran para cendekiawan dan penjelajah untuk mencermati apa saja tentang keadaan lingkungan di sekitar mereka. Yep, seperti Geo dalam cerpen di atas! Mereka mengamati alam, cuaca, kesuburan tanah, kepadatan tempat, kondisi masyarakat, sampai kebiasaan dan budaya yang ada. Ketika mereka mengunjungi daerah lainnya, mereka kembali mengamati lingkungan baru di sana. Ada perbedaannya ternyata, antara tempat baru ini dengan tempat sebelumnya. Selain memiliki perbedaan, tempat-tempat tersebut juga memiliki berbagai persamaan. Catatan yang mendeskripsikan tentang tempat-tempat itu pun menjadi cikal bakal ilmu geografi. Geografi awal masih berfokus menjawab pertanyaan what: "Apa sih yang ada di tempat itu?" Atau "apa yang menarik dan unik di sana?" (Heatwole, 2020).
Keingintahuan kita, manusia, tidak pupus sampai di sana. Perkembangan teknologi mendorong penelitian yang lebih luas dan mendalam. Setelah apa? geografi juga berusaha menjawab pertanyaan mengapa? Misalnya seperti di bawah ini.
❔ Mengapa ibukota Indonesia terletak di Jakarta?
❔ Mengapa di Kalimantan tidak ada gunung berapi?
❔ Mengapa di dunia ini ada kutub utara dan kutub selatan?
❔ Mengapa ada negara yang kaya dan negara yang miskin?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dan berdiri sebagai sebuah bidang ilmu, geografi memiliki mengembangkan metode tersendiri yang unik dari ilmu lainnya. (Heatwole, 2020).
Dalam Seminar dan Lokakarya Ikatan Geograf Indonesia (SEMILOKA IGI) tahun 1989, geografi didefinisikan sebagai "ilmu yang mempelajari tentang persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dalam sudut pandang kelingkungan dan kewilayahan dalam konteks keruangan". Geosfer meliputi bumi dan segala sesuatu yang ada di atasnya, seperti penduduk, flora, fauna, iklim, udara dan segala interaksinya (Murtianto, 2008). Secara sistematis, geosfer tersusun atas (1) litosfer, (2) atmosfer, (3) hidrosfer, (4) biosfer, dan (5) antroposfer. Geosfer merupakan objek material geografi.
Setiap bidang ilmu memiliki objek atau hal-hal yang dipelajarinya yang membedakannya dengan bidang ilmu lain. Terdapat objek material dan objek formal. Bayangkan kamu dan teman-temanmu sedang mempelajari seekor siput menggunakan kaca pembesar. Siput itu adalah objek material. Kaca pembesar adalah objek formalnya. Beberapa bidang ilmu mempelajari siput (baca: objek material) yang berbeda. Ada juga ilmu yang mempelajari siput (baca: objek material) yang mirip bahkan sama. Namun begitu, kaca pembesar (baca: objek formal) mereka berbeda, sehingga gambar siput yang terlihat juga akan berbeda!
Ilmu biologi mempelajari tentang makhluk hidup. Di dalam geografi, kita juga mempelajari tentang makhluk hidup, yaitu flora dan fauna (biosfer). Apakah biologi dan geografi ilmu yang sama? Oh, tidak, karena kita memiliki kaca pembesar atau objek formal yang berbeda. Biologi mempelajari tentang susunan fisik makhluk hidup, sedangkan geografi mempelajari tentang persebaran makhluk hidup.
Ilmu sosiologi mempelajari tentang masyarakat. Geografi dalam "lapisan manusia" atau antroposfer juga mempelajari tentang masyarakat. Meski memiliki "siput" yang sama, yakni masyarakat, dengan menggunakan "kaca pembesar" yang berbeda, sosiologi dan geografi dapat saling melengkapi dengan pandangannya masing-masing. Jika sosiologi memandang masyarakat dari proses interaksinya, geografi memandang masyarakat dalam hubungannya dengan lingkungan fisik maupun lingkungan sosialnya.
Sampai di sini, bisakah kamu menebak objek formal geografi yang membuatnya unik dari ilmu-ilmu lain? Jawabannya ada pada bagian akhir definisi SEMILOKA IGI: "... persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dalam sudut pandang kelingkungan dan kewilayahan dalam konteks keruangan". Objek formal geografi atau sudut pandangnya sebagai ilmu adalah pendekatan keruangan, kelingkungan, dan kewilayahan. Untuk memuaskan rasa penasaranmu tentang apa itu keruangan, kelingkungan, dan kewilayahan, ikuti terus postingan GEOGRAFIKU selanjutnya!
Geografi mempelajari persamaan dan perbedaan tempat-tempat di bumi dengan pendekatan keruangan, kelingkungan, dan konteks wilayah.
📖 Heatwhole, Charles A. 2002. "Geography for Dummies". John Wiley & Sons, Inc.
📖 Murtianto, Hendro. 2008. "Modul Belajar Geografi". Jurusan Pendidikan Geografi Universitas Pendidikan Indonesia.