Tutur Kathryn Thornton, seorang astronot NASA dari tahun 1985 sampai 1986 yang kini seorang profesor teknik di University of Virginia:
“Ketika aku meluncur ke luar angkasa, aku berharap akan melihat permata biru yang cantik dan rapuh dalam latar belakang hitam beludrunya angkasa. Potret bumi—potret yang luar biasa hebat dari sebuah kelereng biru dibungkus pusaran awan putih, potret yang menjadi lambang dari pergerakan lingkungan sepanjang 1970-an—itulah gambaran mentalku akan planet kita, rumah yang pasif bagi makhluk hidup; rumah yang membutuhkan perlindungan dari kerusakan dan degradasi akibat aktivitas manusia. Akan tetapi, bukan gambaran itu yang kemudian kulihat. Faktanya, aku sama sekali tidak siap menghadapi sekelebat pertama akan planet indah dan dinamis yang kita sebut rumah. Demikian menyilaukan, Bumi yang aku pandangi menunjukkan penampakan aktivitas manusia yang kecil sekali bila dibandingkan dengan proses alam yang luar biasa.
“Ketika siang harinya pesawat ulang-alik kami melintasi samudra, kami melihat gerakan samudra yang berpusing di bawah pantulan sinar matahari di atas air, bukti dari energi teramat dahsyat dalam golakan air yang meliputi 70 persen permukaan bumi. Dengan mudah kita dapat menandai Himalaya, pegunungan tertinggi di bumi; produk dari tabrakan nonstop antara Benua Asia dengan Anak-Benua India. Dari orbit bumi, puncak dan punggung Himalaya nampak seperti keriput dalam kertas yang terlipat. Gunung-gunung api seperti jerawat mungil di wajah bumi.
“Bayangkan betapa luar biasa energi yang terlipat dalam semua proses pengeriputan, pelipatan, pengangkatan, pencairan itu—yang terus-menerus bekerja menciptakan kerak bumi baru! Aku tidak sedang memandangi sebuah planet yang rapuh, tapi planet bumi yang hidup dan bernapas.
“Sisi malam dari bumi memberiku perspektif yang berbeda. Ketika malam hari melintasi orbit, penampakan aktivitas manusia terlihat dengan jelas. Daratan padat penduduk tampak menyala cemerlang, sementara tempat-tempat yang jarang dihuni manusia nyaris gelap sepenuhnya. Cahaya buatan menggarisi tepian benua, terutama di belahan bumi utara yang orang-orang tinggal di sepanjang garis pantai. Senar cahaya menerangi sungai, bahkan jalan-jalan tol, di mana kota berpopulasi besar tumbuh bersama melintangnya arteri transportasi.
... [Geografi] menyajikan dua sudut pandang berlainan dari planet kita: Bumi yang digjaya, nyaris tak tersentuh oleh manusia penghuninya, dan dunia lain yang menakjubkan, gemerlap oleh aktivitas manusia. Aku membayangkan diriku tengah melihat melalui sebuah lensa pembesar, mulai dari pemandangan mahaluas dari bumi dan semesta lalu terjun ke dalam panorama yang dibentuk oleh penghuni bumi dengan bagaimana mereka memodifikasi lingkungan sehingga menyesuaikan dengan kebutuhan mereka.”
Dikutip dengan penyesuaian dari “Answer Book: Fast Facts About Our World” oleh National Geographic. GIF yang ditampilkan berasal di sini.











