Rasa Fatal: Bincang 2/3 Ramadhan
"Ramadhan tidak seistimewa itu."
"Pengampunan memang tidak pernah terlalu berharga bagi yang tidak merasa bersalah. Tetapi bagi mereka yang lebih dulu tenggelam dalam penyesalan dan rasa malu, mereka yang hatinya tercabik oleh kesalahan serta menginginkan jalan keluar dari belenggu yang mereka buat sendiri, pengampunan jadi sangat berarti."
"Jadi menurutmu apa yang salah dengan rasa tidak istimewa di Ramadhan ini?"
"Barangkali kita berpikir, berkata-kata, bertindak, melukai, dan melanjutkan hidup seolah-olah tidak ada yang perlu disesali. Kita kehilangan sense of severity atau rasa fatal atas kelalaian dan pelanggaran sedikit demi sedikit.
Atau mungkin, kita tahu salah, tapi menutup mata, menunda, menguburnya di sudut hati dengan harapan ia membusuk dan hilang dengan sendirinya. Tapi hakikatnya kesalahan tidak mati. Ia hanya membusuk dan merayap ke dalam diri lalu mengkristal menjadi bagian dari kita."
"Tapi beberapa perbuatan memang terlalu sepele kok untuk ditaubati."
"Ayah kita, Adam, perbuatannya juga sepele. Allah katakan, "fa azallahuma syaithon" yang artinya setan menggelincirkan mereka. They just slipped. Bukan hanya tergelincir, itupun digelincirkan oleh setan. Tapi apa yang kita pelajari dari ayah kita?"
"Dia merasa malu dan merasa fatal."
"Tepat. Ia tidak membela diri, tidak mencari alasan. Ia tidak menyalahkan setan. Yang ia lakukan hanyalah tunduk, menanggung konsekuensi, dan berdoa: "Rabbana zalamna anfusana, wa illam taghfir lana wa tarhamna, lana kunanna minal khasirin."
"Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, pasti kami termasuk orang-orang yang merugi." (7: 23)
Itulah yang membedakan manusia dengan malaikat. Kita memiliki kecenderungan untuk jatuh, untuk keliru, untuk tergoda oleh sesuatu yang seharusnya kita hindari. Di sisi lain, kita juga memiliki kecenderungan untuk merasa malu, bersalah, dan kembali kepada keteraturan. Fitur taubat itulah yang membedakan manusia dengan Iblis.
"Abaa wastakbaro wa kaana minal kaafiriin". Dia merasa akbar dan menyepelekan pembangkangannya pada Sang Maha Akbar. Dia membantah, menolak mengakui kelemahannya, dan lebih memilih untuk bersikeras bahwa kesalahannya bukan kesalahan. Dia tidak meminta ampun, karena dia tidak merasa perlu dimaafkan."
"Seberapa jauh kita bisa berjalan sebelum akhirnya menyadari bahwa kita telah mengabaikan satu hal yang paling penting yakni pandangan Allah atas diri kita?"
"Yang jelas, tidak pernah bisa lebih jauh dari maut. Kita bisa menunda, bisa mengabaikan, bisa terus berjalan seolah-olah semuanya baik-baik saja. Tapi sejauh apa pun kita melangkah, tidak ada kaki yang bisa melewati batas waktu yang telah ditentukan. Tidak ada perjalanan yang bisa lebih panjang dari takdir yang telah tertulis.
Kita akan berhenti. Bayangkan kengeriannya. Di titik itu, semua penyangkalan tak berlaku. Kita akan melihat dengan jernih, tapi sudah terlambat untuk berpaling.
"Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidak berguna lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau (belum) berusaha berbuat kebajikan dengan imannya itu." (6 : 158)
Apakah kita akan menunggu sampai saat itu datang? Atau masih ada sisa keberanian untuk melihat ke dalam diri dan bertanya: Apakah aku masih peduli dengan bagaimana Allah melihatku?"
"Memang bagaimana rasanya diampuni?
"Indah. Ada perasaan ringan yang tidak mudah dijelaskan kecuali oleh mereka yang benar-benar mengalaminya. Seperti terbebas dari belenggu dan beban yang mencegahmu melangkah maju. Seperti kelegaan yang diperjuangkan."
"Bagaimana kau tahu kau sudah diampuni?"
"Allah tidak hanya menghapus dosa, tapi juga mengubah hati. Pemindahan kiblat. Peralihan framework. Pergantian arah. Apapun sebutannya.
Apa yang dulu menggoda kini terasa hambar. Apa yang dulu terasa wajar kini membuat dada bergetar. Apa yang dulu sepele jadi kini mengusik. Prioritas yang berbasis ego perlahan berganti dengan kesadaran akan pandangan Allah. Lebih dari menyesal, kita akan memahami ulang posisi diri di hadapan-Nya.
"Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia." (2 : 143)
"Dalam 10 hari terakhir, apa yang perlu aku lakukan?"
"Kembalilah dengan sepenuh hati. Dengan amal yang lebih banyak, dengan hati yang lebih sadar. Biarkan dirimu merasakan betapa butuhnya kau pada-Nya. Orang yang benar-benar mencari ampunan, tidak hanya memperbaiki perilaku, tapi juga mengizinkan hatinya dipengaruhi dan diatur ulang oleh Sang Pengatur. Jadi ini hanya tentang seberapa jauh kita memberi ruang untuk Ramadhan mengubah kita. Maka dari itu, pengampunan memang hanya omong kosong bagi mereka yang tak pernah benar-benar peduli."
— Giza. Siapa lagi yang ia nasehati sekeras ini kalau bukan dirinya sendiri?












