Aku mencintaimu, dengan segala yang ada padamu, bahkan yang tak sejalan dengan doaku.
Kita berdiri di bawah langit yang sama, tapi doa kita terbang ke arah yang berbeda.
Aku mencintaimu, meski setiap pelukan terasa seperti melanggar sesuatu yang tak kasatmata.
Kita memilih bersama, meninggalkan batas-batas agama yang melingkari hati kita.
Tapi kenapa cinta ini terasa seperti luka yang kubawa ke mana-mana?
Bukan karena aku tak bahagia,
tapi karena aku tahu, di mata dunia, kita adalah salah yang dibiarkan.
Kita mencintai dengan sepenuh hati,
tapi juga dengan sepenuh rasa bersalah.
Apakah ini cinta, atau hanya perjuangan melawan garis takdir yang tak bisa diubah?
Aku ingin percaya bahwa cinta ini cukup.
Bahwa kita adalah jawaban atas doa-doa yang kita tinggalkan.
Tapi di malam-malam sepi, saat hanya ada aku dan pikiranku,
aku bertanya: apakah ini benar, atau hanya pelarian dari ketakutan akan kehilangan?
Kita memilih bersama, tanpa keterkaitan agama,
tapi bisakah kita bertahan,
saat rasa ini terus-menerus mengingatkan kita pada dosa yang tak bisa dihapuskan?
Namun, meski semua terasa seperti salah, aku tetap tinggal.
Karena bagiku, mencintaimu adalah satu-satunya hal yang benar.
Dan jika ini adalah hukuman, aku akan menjalaninya, seumur hidupku.
—untukmu cinta yang tak bernama.












