KISAH PERANG BADAR ⚔️ Pertempuran Besar yang Mengubah Sejarah Islam | Kisah Islami Menyentuh -

seen from United States

seen from Kazakhstan
seen from Morocco

seen from Netherlands
seen from Maldives
seen from United States
seen from United States
seen from Netherlands
seen from United States

seen from Netherlands

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Russia
seen from Türkiye
seen from China

seen from Germany
seen from France
seen from United States
seen from China
KISAH PERANG BADAR ⚔️ Pertempuran Besar yang Mengubah Sejarah Islam | Kisah Islami Menyentuh -
Kisah Negeri Saba: Pelajaran Pahit Mengenai Deforestasi dan Kufur Nikmat
SURAU.CO – Dalam sejarah peradaban manusia, Kisah Negeri Saba sering kali diangkat sebagai simbol kemakmuran yang luar biasa sekaligus peringatan tentang kehancuran yang tragis. Dunia mengenal negeri di wilayah Yaman ini sebagai surga berkat sistem irigasi canggih dan kekayaan alamnya yang melimpah. Namun, di balik kemegahannya, Al-Qur’an menyimpan catatan penting mengenai bagaimana keserakahan…
Istri Nabi Luth: Ketika Cinta Dunia Menenggelamkan Iman
SURAU.CO. Pernahkah kamu membayangkan, hidup satu atap dengan seorang nabi, manusia pilihan Allah, yang lisannya tak pernah kotor, hatinya penuh cahaya, dan setiap langkahnya adalah wahyu? Pada masa kenabian, dari rumah penuh cahaya itu, lahir kisah kelam seorang wanita yang memilih gelap. Istri Nabi Luth ‘alaihissalam, perempuan yang hidup di bawah bimbingan kenabian, namun justru menjadi…
DAPAT PAHALA HAJI MABRUR, TAPI TIDAK HAJI
Sa'id Ibnu Muhafah, Tukang Sol sepatu yang mendapatkan pahala haji mabrur, padahal ia tidak haji, suatu ketika Hasan Al-Basyri menunaikan ibadah haji. Ketika beliau sedang istirahat, beliau bermimpi. Dalam mimpinya beliau melihat dua Malaikat sedang membicarakan sesuatu.
"Rasannya orang yang menunaikan haji tahun ini, banyak sekali" Komentar salah satu Malaikat
"Betul" Jawab yang lainya.
"Berapa kira - kira jumlah keseluruhan?"
"Tujuh ratus ribu"
"Pantas"
"Eh, kamu tahu nggak, dari jumlah tersebut berapa kira - kira yang mabrur",
Selidik Malaikat yang mengetahui jumlah orang - orang haji tahun itu
"Wah, itu sih urusan Allah"
"Dari jumlah itu, tak satupun yang mendapatkan haji Mabrur"
"Kenapa?"
"Macam - macam, ada yang karena riya, ada yang tetangganya lebih memerlukan uang tapi tidak dibantu dan dia malah haji, ada yang hajinya sudah berkali-kali, sementara masih banyak orang yang tidak mampu, dan berbagai sebab lainnya'
"Terus?"
"Tapi Masih ada, orang yang mendapatkan Pahala haji mabrur tahun ini"
"Lho katannya tidak ada"
"Ya, karena orangnya tidak naik haji"
"Kok bisa"
"Begitulah"
"Siapa orang tersebut?"
"Sa'id bin Muhafah, tukang sol sepatu di kota Damsyiq"
Mendengar ucapan itu, Hasan Al-Basyri langsung terbangun. Sepulang dari Makkah, ia tidak langsung ke Mesir, Tapi langsung menuju kota Damsyiq (Siria). Sesampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa'id bin Muhafah.
"Ada, ditepi kota" Jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya. Sesampai disana Hasan Al-Basyri menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh,
"Benarkah anda bernama Sa'id bin Muhafah?" tanya Hasan Al-Basyri
"Betul, kenapa?"
Sejenak Hasan Al-Basyri kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya, akhirnya iapun menceritakan perihal mimpinya. "Sekarang saya tanya, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur, barang kali mimpi itu benar" selidik Hasan Al-Basyri sambil mengakhiri ceritanya.
"Saya sendiri tidak tahu, yang pasti sejak puluhan tahun yang lalu saya memang sangat rindu Makkah, untuk menunaikan ibadah haji. Mulai saat itu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Dan pada tahun ini biaya itu sebenarnya telah terkumpul"
"Tapi anda tidak berangkat haji"
"Benar"
"Kenapa?"
"Waktu saya hendak berangkat ternyata istri saya hamil, dan saat itu dia ngidam berat"
"Terus?"
"Ngidamnya aneh, saya disuruh membelikan daging yang dia cium, saya cari sumber daging itu, ternyata berasal dari gubuk yang hampir runtuh, disitu ada seorang janda dan enam anaknya. Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin daging yang ia masak, meskipun secuil. Ia bilang tidak boleh, hingga saya bilang bahwa dijual berapapun akan saya beli, dia tetap mengelak.
Akhirnya saya tanya kenapa?.. "daging ini halal intuk kami dan haram untuk tuan" katanya
"Kenapa?" tanyaku lagi ,
"Karena daging ini adalah bangkai keledai, bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakanya tentulah kami akan mati kelaparan,"
Jawabnya sambil menahan air mata.
Mendengar ucapan tersebut sepontan saya menangis, lalu saya pulang, saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis, akhirnya uang bekal hajiku kuberikan semuanya untuk dia"
Mendengar cerita tersebut Hasan Al-Basyripun tak bisa menahan air mata."Kalau begitu engkau memang patut mendapatkanya" Ucapnya.
Kisah ini diceritakan oleh Imam dan Khotib Masjid Rohmah, Cairo Egypt Shahih tidaknya tidak disebutkan. Meski demikian kisah ini perlu menjadi renungan.
Ini adalah kisah sangat menginspirasi, yang disaksikan dan diceritakan oleh Al-Imam Ibnu Jarir ath-Thobari rahimahullâhu... Untuk membaca silakan geser slide gambar >>> #inspiringstory #kisah #kisahislam #kisahmenginspirasi #veryinspiredstory #kisahmenggugah #kisahbermanfat (at Depok, Indonesia) https://www.instagram.com/p/BwS6FYoHl9Y/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=r4wqjlb55rjd
Dauroh Qur'an for children. Alhamdulillah quality time for positive things. #qualitytime #moslemkids #daurohquran #kisahislam #dongengislami (at Mesjid Juang 45)
Keislaman Umar bin Khattab
Pada waktu itu pintu rumah shahabat Al-Arqam tertutup, karena rumah itu sedang dipergunakan oleh Nabi SAW untuk mengajar, sebab pada masa itu cara beliau mengajar pengikut-pengikutnya masih dengan sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui oleh kaum musyrikin.
Setelah Umar bin Khaththab tiba di rumah shahabat Al-Arqam, dengan membawa pedang yang masih terhunus, ia segera mengetok pintunya terus-menerus dengan sekeras-kerasnya.
Dari dalam, penjaga pintu itu bertanya : "Siapa itu ?".
Umar menjawab dengan suara keras : "Ibnul Khaththab !".
Penjaga pintu itu lalu mengintai dari dalam, untuk membuktikan, betulkah yang mengetok pintu itu Umar bin Khaththab. Ternyata betul bahwa yang mengetok pintu itu Umar bin Khaththab dengan membawa pedang terhunus. Lantaran itu penjaga pintu itu tidak mau membukakan pintu, karena ia mengira bahwa kedatangan Umar bin Khaththab itu akan mengamuk, dan boleh jadi akan membunuh Nabi Muhammad SAW. Maka dari itu penjaga pintu lebih dulu memberitahukan kedatangan Umar itu kepada Nabi SAW. Pada saat itu Umar tidak sabar lagi menunggu lebih lama, dan karenanya pintu itu diketoknya lagi dengan sekeras-kerasnya.
Para shahabat yang ada di dalam rumah itu tidak ada seorangpun yang berani membukakan pintu. Karena maklumlah, bahwa mereka sama sekali tidak menyangka bahwa Umar akan menjadi seorang kawan yang terkemuka bagi mereka, bahkan mereka beranggapan dan menyangka bahwa Umar bin Khaththab masih menjadi lawan yang terbesar, apalagi kedatangannya itu dengan membawa pedang terhunus. Pada saat itu para shahabat yang ada di dalam rumah shahabat Al-Arqam itu sangat mengkhawatirkan diri Nabi SAW.
Kemudian, setelah Nabi SAW mengetahui kedatangan Umar bin Khaththab, maka beliau bersabda : "Bukakan pintu ! Biarkan Umar masuk, semoga Allah menjadikannya seorang yang baik dan memberi petunjuk kepadanya".
Kemudian shahabat Hamzah (paman Nabi SAW) berkata : "Bukakanlah pintu itu, persilahkan Umar masuk, mungkin Allah akan memberikan kebaikan kepadanya dengan mengikut seruan Muhammad, memeluk Islam dan tunduk di bawah panji-panji Kalimah Tauhid. Tetapi jika kedatangannya bukan demikian, maka akulah yang akan mengha-dapinya dan akulah yang akan menghabisi nyawanya".
Tetapi penjaga pintu itu masih belum mau membukakan pintu, karena dia sangat takut. Oleh sebab itu shahabat Hamzah dan shahabat Zubair lalu mendekati pintu. Kemudian barulah penjaga pintu itu berani membuka pintu, dan ketika Umar masuk, dengan segera tangan kanannya dipegang oleh Hamzah dan tangan kirinya dipegang oleh Zubair. Dan setelah Umar bin Khaththab mendekati tempat duduk Nabi SAW, maka seketika itu juga badannya gemetar, karena takutnya melihat wajah Nabi SAW. Kemudian beliau bersabda kepada kedua shahabat tadi : "Lepaskan Umar!" Maka oleh kedua shahabat itu Umar bin Khaththab dilepaskan dengan segera dan lalu didudukkan dihadapan Nabi SAW. Kemudian beliau menarik pakaian Umar dengan bertanya :
مَا جَاءَ بِكَ يـَا ابـْنَ اْلخَطَّابِ ؟
"Dengan maksud apa kedatanganmu kemari, hai Ibnul Khaththab ?"
فَوَ اللهِ مَا اَرَى اَنْ تَنْتَهِيَ حَتَّى يُنَزِّلَ اللهُ بِكَ قَارِعَةً.
"Demi Allah ! Aku tidak menyangka bahwa engkau akan berhenti dari perbuatanmu sehingga Allah menurunkan sesuatu yang sangat menggon-cangkanmu".
Umar bin Khaththab menjawab dengan tegas :
جِئْتُ َلاُوْمِنُ بِاللهِ وَرَسُوْلــِهِ وَ بِمَا جَاءَ مِنْ عِنْدِ اللهِ.
"Aku datang kemari demi sesungguhnya aku akan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada apa-apa yang telah datang dari sisi Allah".
Oleh sebab itu Nabi SAW lalu menepuk dada Umar dengan tangan kanannya tiga kali dan bersabda :
اَسْلِمْ يـَا ابـْنَ اْلخَطَّابِ، اَللّهُمَّ اهْدِ قَلْبَهُ ! اَللّهُمَّ اهْدِ عُمَرَ بْنَ اْلخَطَّابِ ! اَللّهُمَّ اخْرُجْ مَا فِى صَدْرِ عُمَرَ مِنْ غِلٍّ وَابـْدِلْهُ اِيـْمَانًا !
"Islamlah engkau hai Umar bin Khaththab ! Ya Allah, tunjukilah hati-nya ! Ya Allah, tunjukilah Umar bin Khaththab ! Ya Allah, keluarkanlah apa-apa yang ada di dalam dada Umar dari pada perasaan benci, dan gantilah dengan iman !".
Selanjutnya Nabi SAW bersabda :
اَ لَمْ يَأْنِ لَكَ يَاعُمَرَ اَنْ تَشْهَدَ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ، وَاَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ؟
"Apakah belum masanya bagimu Umar, bahwa engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad itu Rasul Allah ?".
Lalu seketika itu juga Umar membaca syahadat di hadapan Nabi SAW:
اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ، وَاَنَّكَ رَّسُوْلُ اللهِ.
"Aku bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan bahwasanya engkau (Muhammad) adalah Rasul Allah".
Setelah Umar bin Khaththab membaca syahadat, lalu Nabi SAW membaca takbir tiga kali.
اَللهُ اَكْــبَرُ ! اَللهُ اَكْــبَرُ ! اَللهُ اَكْــبَرُ !
"Allah Maha Besar ! Allah Maha Besar ! Allah Maha Besar !"
Kemudian sekalian kaum Muslimin yang ada di dalam rumah itu membaca takbir juga bersama-sama dengan suara sekeras-kerasnya.
Kemudian Allah menurunkan wahyu kepada Nabi SAW :
اَوَ مَنْ كَانَ مَيْتًا فَاَحْيَيْنهُ وَجَعَلْنَالَه نُوْرًا يَّمْشِيْ بِه فِى النَّاسِ كَمَنْ مَّثَلُه فِى الظُّـلُمتِ لَـيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا، كَذلِكَ زُيـِّنَ لِلْكـفِرِيـْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ. الانعام:122
"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat ke luar dari padanya ? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan". [Al-An'am : 122]
( Brosur Ahad, 15 Des 1996