Ia mengingatkan kita bahwa kemungkaran yg dibiarkan tumbuh, yang kemudian dinormalisasi, lalu dikampanyekan sebagai hak asasi manusia, memiliki akhir yg telah Allah tetapkan yaitu kebinasaan dan kehancuran.
Ada sebuah kisah yang luar biasa dalam Al-Quran, yang kalau kita baca secara seksama maka kita akan menemukan sebuah ilmu parenting yang sangat indah didalamnya, bahkan yang kerennya lagi kisah ini di tokohi oleh dua orang manusia yang mulia yaitu nabi Ibrahim & Ismail.
Allah berfirman didalam surat As-Saffat ayat 102-107:
"...Maka ketika anak itu sampai pada (usia) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, 'Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!'
Dia (Ismail) menjawab ; 'Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' ... Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar."
Dalam dialog ini kita akan menemukan sosok karakter ayah berusia 99 tahun yang penuh dengan kebijaksanaan dan seorang anak berusia 12 tahun yang ketaqwaannya tak di ragukan.
dari sini kita akan menemukan betapa berharga & mahalnya chemistry antara seorang ayah dan anak.
Dalam ayat itu setidak nya kita akan akan menemukan 5 Hikmah /pelajaran berharga, dialog nya sangat singkat dan sederhana, tapi sungguh bermakna.
Disini kita akan menemukan percakapan yang bermuatan iman, ilmu dan kasih sayang dan seakan akan memberikan gambaran untuk kita bahwa dialog ayah-anak waktu mengambil keputusan itu setidaknya mengubah 3 hal sekaligus: hubungan, karakter anak, dan kualitas keputusan itu sendiri.
Hikmah pertama, Anak merasa dihargai, ayah tidak bersikap otoriter
dalam dialog itu Ibrahim nggak bilang “Ayah dapat wahyu, kamu nurut aja ya”. Tetapi beliau bilang: “Pikirkanlah bagaimana pendapatmu?”
Efeknya:
Anak suaranya punya nilai dan di hargai. Itu bikin dia nggak jadi anak yang nurut karena takut, tapi nurut karena yakin. Ismail jadi ikut pasrah bukan karena dipaksa, tapi karena diajak mikir dan dia setuju.
Dalam psikologi ini namanya autonomy support. Anak yang diajak dialog punya self-esteem lebih tinggi dan lebih patuh pada nilai yang di sampaikan, bukan cuma pada orang.
Hikmah Kedua, Keputusan jadi lebih mudah diterima
Bayangin kalau Ibrahim langsung ikat Ismail secara paksa tanpa ngomong sama sekali. Pasti ada trauma dalam hidup nya, pasti menyimpan dendam, bahkan melakukan perlawanan.
Karena diajak dialog dulu, Ismail bisa siapin mental, Ismail bisa berfikir jernih dan memberi keputusan berdasarkan iman. Kemudian Dia menjawab: “Lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu”
Efeknya:
Beban yang tadi nya berat jadi ringan karena ada rasa “ini pilihanku juga”. Itu kenapa orang yang ikut proses pengambilan keputusan jauh lebih kecil kemungkinan buat ngeluh & berontak di belakang.
Hikmah Ketiga Mengajarkan nilai ketaqwaan
dalam kisah ini seakan akan memberi gambaran bahwa dialog itu kendaraan buat transfer nilai ketaqwaan. Ibrahim lagi ngajarin tauhid, tawakal, sabar. Tapi dia ngajarinnya lewat tanya jawab, bukan ceramah.
Efeknya:
Nilai yang masuk lewat dialog nempel lebih lama. Ismail nggak cuma “dengar” perintah Allah, dia “ngalamin” cara beriman lewat interaksi sama ayahnya. Makanya dia jadi nabi juga.
Hikmah ke Empat, Hubungan ayah-anak jadi kuat dan aman
Coba kita lihat ayatnya: “ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya”. dalam ayat ini ada kebersamaan antara ayah dan anak, ayah anak bukan sekedar peran yang berbeda, tetapi keduanya adalah besti hingga akhir usia.
Efeknya:
Anak jadi nggak takut ngomong sama ayah soal hal yang berat. Kalau hal nyembelih aja bisa dibahas bareng, apalagi masalah yang yang lebih ringan, Ini bikin anak nggak cari tempat curhat ke orang yang salah.
Hikmah kelima, Anak belajar cara berpikir dan mengambil keputusan
Ibrahim ngasih contoh cara nimbang wahyu, logika, dan konsekuensi. Ismail belajar cara bertawakal yang cerdas, bukan pasrah buta.
Efeknya:
Anak jadi punya template mental: “Kalau ada masalah besar, gimana cara aku ngomonginnya sama orang tua, gimana cara aku minta petunjuk Allah, gimana cara aku sabar”. Skill ini bakal dia pakai seumur hidup.
Jadi dialog itu bukan tanda ayah lemah. Malah sebaliknya, itu tanda ayah kuat karena berani dengerin dan percaya sama anaknya.
Kebalikannya kalau nggak ada dialog:
Ayah yang otoriter biasanya dapet 2 tipe anak:
1. Anak yang nurut di luar tapi benci di dalam.
2. Anak yang langsung melawan dan lepas kendali pas udah besar.
Kayak Ibrahim. Dia nabi, pemimpin, tapi tetap ngobrol sama anak umur 12 tahun soal urusan hidup-mati.
Meneladani Akhlak Rasulullah sebagai Suami dan Kepala Keluarga Idaman
SURAU.CO – Membangun rumah tangga yang harmonis merupakan dambaan setiap pasangan Muslim. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, mencari figur teladan dalam kepemimpinan keluarga menjadi sangat krusial. Rasulullah Muhammad SAW bukan hanya seorang nabi dan pemimpin negara, melainkan juga sosok suami dan kepala keluarga yang paling sempurna. Akhlak beliau dalam rumah tangga adalah…
Khaulah binti Tsa‘labah: Suara Perempuan yang Didengar Langit
SURAU.CO. Pernahkah engkau merasa begitu lemah hingga hanya bisa menengadahkan tangan dan mengadu kepada Tuhan? Ketika dunia tak mendengar, Allah tetap mendengar. Doa perempuan yang tulus bisa mengguncang langit. Ketika ada seorang wanita yang bisa mengguncang ‘Arsy dengan doa nya dan melahirkan hukum keadilan dalam Islam, ialah Khaulah binti Tsa‘labah.
Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah telah…
SURAU.CO. Pada zaman sekarang, masih banyak kita mendengar dan melihat para ibu muda yang mengeluh dengan segala dramanya ketika merawat bayi mereka sendiri. Dalam kehidupan yang serba mudah ini, masih ada ibu muda yang kesulitan merawat dan membesarkan bayi mereka. Bahkan tidak jarang juga kita lihat dalam pemberitaan, ada ibu yang membuang anaknya karena alasan ekonomi.
Bayangkan pada zaman…
Istri Nabi Luth: Ketika Cinta Dunia Menenggelamkan Iman
SURAU.CO. Pernahkah kamu membayangkan, hidup satu atap dengan seorang nabi, manusia pilihan Allah, yang lisannya tak pernah kotor, hatinya penuh cahaya, dan setiap langkahnya adalah wahyu? Pada masa kenabian, dari rumah penuh cahaya itu, lahir kisah kelam seorang wanita yang memilih gelap. Istri Nabi Luth ‘alaihissalam, perempuan yang hidup di bawah bimbingan kenabian, namun justru menjadi…
SURAU.CO. Hawa bukan hanya sebuah nama yang tercantum dalam kitab suci, tetapi representasi dari awal peradaban manusia. Ia hadir sebagai simbol kehidupan pertama yang memancarkan nilai cinta, kesetiaan, dan tanggung jawab dalam bentuk paling murni. Dari rahimnya bermula sejarah panjang umat manusia yang terus berlanjut hingga kini.
Melalui kisahnya, kita memahami bahwa kasih sayang adalah fitrah…
Nabi Musa (dikenal juga sebagai Moses) adalah seorang Nabi dan Rasul Allah yang hidup pada abad ke-13 SM. Ia lahir dari seorang ibu Yahudi dan dibesarkan oleh Firaun meski sebenarnya ia adalah anak dari bangsa Israel. Berikut kisah Nabi Musa AS singkat.
Ketika ia dewasa, Musa mengetahui identitas sejatinya dan memutuskan untuk membela hak-hak bangsanya yang sedang dianiaya oleh Firaun. Namun, karena tindakannya tersebut, ia harus melarikan diri ke Madyan.
Di sana, Musa bertemu dengan Allah dan menerima wahyu-Nya. Ia kemudian dikirim kembali ke Mesir untuk memimpin bangsanya keluar dari pemerintahan Firaun dan perbudakan. Allah memberikan Musa tongkat ajaib dan beberapa mukjizat lainnya sebagai bukti kekuasaan-Nya dan memerintahkan Musa untuk berbicara kepada Firaun.
Firaun tidak mau melepaskan bangsa Israel dan memperketat pengawasan terhadap mereka. Namun, dengan bantuan Allah, Musa berhasil membawa bangsanya keluar dari Mesir dan mengarahkan mereka menuju Tanah Suci.
Perjalanan tersebut memakan waktu 40 tahun dan dipenuhi dengan banyak ujian dan tantangan, termasuk perjalanan melalui Padang Pasir dan penerimaan Taurat oleh Musa dari Allah di Bukit Sinai.
Nabi Musa memimpin bangsanya dalam membangun Kekaisaran Yahudi dan memimpin mereka dalam berbagai pertempuran melawan bangsa-bangsa lain. Ia juga memperoleh banyak mukjizat dan wahyu dari Allah sepanjang hidupnya.
Nabi Musa wafat pada usia 120 tahun dan dipahatkan makamnya oleh Allah dan tidak diketahui secara pasti letaknya. Kisah Nabi Musa sangat penting dalam agama Islam, Yahudi, dan Kristen dan dikenang sebagai simbol kekuatan iman dan keberanian.
Itulah kisah Nabi Musa AS singkat dan padat semoga bermanfaat.