Kisah Sahabat Nabi: Mengalahkan 120 Ribu Pasukan Raja Barbar
Kisah sahabat Nabi kali ini menceritakan seorang bayi yang kelak menjadi tokoh islam yang cemerlang dalam mengukir sejarah Islam. Mari kita simak cerita selengkapnya.
Perjalanan Hijrah Para Sahabat Nabi dari Kota Makkah
Pada suatu ketika para sahabat Muhajirin tengah melakukan sebuah perjalanan yang begitu sukar. Mereka semua meninggalkan tanah kelahiran, tempat tinggal, keluarga, harta benda dan apapun yang mereka miliki dan mereka cintai demi memperjuangkan kepercayaan baru yang mereka ikuti. Siang itu, sepanjang perjalanan dari kota Makkah menuju kota Madinah, sang surya sedang menunjukkan sinarnya yang begitu terik.
Padang pasir yang berdebu mendidih seakan memanggang apapun yang ada di atasnya. Sesekali angin berhembus menerbangkan debu-debu yang semakin menyempurnakan betapa beratnya perjuangan mereka dalam melakukan perjalanan hijrah. Padang pasir panas yang menyala-nyala seolah menjadi saksi betapa gigihnya keimanan mereka kepada sang utusan yang dijanjikan sebagai pembawa risalah, penyempurna dan penutup para nabi dan rosul.
Kisah sahabat Nabi, sahabat Muhajirin yang turut serta melakukan perjalanan hijrah disiang yang sangat-sangatlah terik tersebut, terdapat sahabat Asma’ Ra yang tengah hamil tua dan merasakan keadaannya yang begitu lemah tetap memaksakan diri untuk keluar dari kota Makkah dengan tujuan mendapatkan ketenangan menyembah sang khaliq. Keimanan dan kebulatan tekadnyalah yang memberikan kekuatan dan energi positif bagi dirinya untuk tetap mengikuti perjalanan hijrah tersebut.
Kisah Para Sahabat Nabi di Daerah Quba
Setelah melalui perjalanan yang amat sangat berat, tibalah rombongan kaum muhajirin di desa quba. Quba merupakan daerah yang terdapat di provinsi kota suci Madinah. Dan tibalah saatnya sahabat Asma’ Ra melahirkan jabang bayi laki-laki yang begitu mempesona. Seorang bayi yang ikut serta melakukan perjalanan hijrah dan memasuki bumi madinah tercinta bersama dengan para muhajirin lain dari sahabat-sahabat Rosululloh Saw.
Bayi yang pertama kali lahir pada saat perjalanan hijrah itu kemudian dibawa menghadap kepada baginda nabi Muhammad Saw. di kediaman beliau di Madinah. Maka seketika itu diciumlah kedua pipinya dengan penuh kasih sayang dan dikecupnya mulut bayi sehingga yang pertama masuk ke rongga perut bayi yang kemudian diberi nama Abdullah bin Zubair itu adalah air selera Rasulullah Saw. yang mulia.
Kaum muslimin berkumpul dan beramai-ramai membawa bayi yang dalam gendongan itu mengelilingi kota seraya membaca tahlil dan takbir dengan suara yang membahana sebagai rasa syukur kepada allah atas karunia-Nya dan sekaligus sebagai pembuktian bahwa isu yang tersebar selama ini di kalangan Madinah adalah bohong dan dusta.
Terungkapnya Dusta yang Disebarkan Kaum Yahudi
Kisah sahabat Nabi, ketika para Muhajirin, yaitu sahabat- sahabat rasulullah yang melakukan perjalanan hijrah mulai memasuki kawasan kota Madinah dan diterima serta disambut dengan baik dan hangat oleh sahabat Anshar dengan memberi hidangan dan makanan, berbagi tempat tinggal, berbagi cerita suka duka dan ditinggikan derajat mereka, maka timbullah rasa iri dengki dan sifat ketidak sukaan kaum Yahudi terhadap para pendatang tersebut.
Dan sejak saat itulah kaum yahudi mulai menebarkan benih-benih permusuhan. Sebagai bentuk ketidak sukaan kaum Yahudi terhadap kaum Muhajirin tersebut, mereka mulai menyebar isu bahwa dukun-dukun mereka telah menyihir kaum muslimin sehingga telah berhasil membuat kaum muslimin mandul. Dengan penuh keyakinan, mereka mengatakan bahwa tak akan pernah ada bayi dari kaum muslimin yang bisa lahir di kota Madinah. Tak akan ada seorang pun dari mereka yang akan bisa melahirkan bayi disini.
Namun, atas restu Allah bayi yang kemudian diberi nama Abdullah bin Zubair muncul dari alam ghaibnya di kandungan. Semua mata langsung tertuju kepadanya. Dan bayi ini lahir dari seorang wanita muslim. Kaum Yahudi begitu terkejut dan hampir tak percaya mendangar kabar kelahiran bayi pertama yang lahir setelah perjalanan hijrah ini.
Kelahirannya merupakan sebuah kenyataan takdir yang digunakan untuk mengungkapkan kebohongan orang-orang yahudi di Madinah, mementahkan kekuatan dukun-dukun mereka dan yang pasti mematahkan tipu daya dan muslihat mereka selama ini.
Mengalahkan 120 Ribu Pasukan Raja Barbar
Kisah sahabat Nabi pada masa Rasulullah Saw. Abdullah bin Zubair belum mencapai umur dewasa. Tetapi lingkungan hidup dan hubungannya yang akrab dengan Rasulullah saw. telah membentuk karakter kepahlawanan dan prinsip hidupnya yang kokoh, sehingga darma baktinya dalam menempuh kehidupan di dunia kemudian menjadi buah bibir orang-orang pada masa itu dan tercatat dalam sejarah dunia.
Si kecil Abdullah bin Zubair tumbuh dengan cepat dan pesat sehingga menunjukkan hal-hal yang luar biasa dalam semangat, kecerdasan dan keteguhan pendiriannya. Masa mudanya dilaluinya tanpa noda, seorang yang suci dan tekun beribadah, hidup dalam kesederhanaan namun berjiwa perwira yang tidak terkira. Hari-hari dan peruntungan itu dijalaninya dengan tabiat yang tidak berubah dan semangat yang tak pernah kendor. Ia benar-benar seorang laki-laki yang mengenal tujuannya dan menempuhnya dengan kemauan yang keras membaja serta keimanan yang teguh luar biasa.
Seiring dengan bertambahnya usia Abdullah bin Zubair, pemerataan agama islam juga semakin pesat hingga meratai dunia. Hingga tiba suatu saat islam merambah ke benua Afrika, Andalusia dan Konstantinopel. Waktu itu sahabat Abdullah bin Zubair yang masih belum berusia tujuh belas tahun sudah nampak sebagai salah seorang pahlawan yang namanya terukir sepanjang masa.
Kisah para sahabat Nabi disebutkan dalam sebuah pertempuran yang pernah terjadi di afrika, kaum muslimin yang jumlahnya hanya berkisar dua puluh ribu tentara, sedangkan dari pihak musuh memiliki bala tentara yang berjumlah jauh lebih besar berkali lipat dari jumlah tentara kaum muslimin, yaitu seratus dua puluh ribu bala tentara. Pertempuran yang terjadi berkecamuk dengan sengitnya.
Dari keyakinan tentara afrika, mereka akan dengan mudah melumat habis tentara muslim yang jumlahnya jauh di bawah tentara mereka. Keyakinan mereka begitu kentara dari raut wajah mereka semua yang terpancar kebanggaan akan sebuah kemenangan. Dan dari pihak tentara muslim, mereka sedang terancam bahaya besar. Kemudian sahabat Abdullah bin Zubair Ra. melayangkan pandangannya memburu kekuatan musuh untuk mencari celah dari titik kelemahan musuh. Secara logika, tentara islam tidak akan mungkin mampu mengalahkan tentara afrika jika peperangan ini berjalan hanya dengan adu fisik dengan jumlah yang sangat tidak berbanding ini.
Allah memberi penglihatan kepada sahabat Abdullah bin Zubair Ra. sehingga pandangannya tertuju pada sebuah sumber kekuatan tentara lawan yang tak lain dan tak bukan terletak pada raja barbar yang menjadi panglima dari tentara mereka. Tak putus-putusnya raja itu berseru terhadap tentaranya untuk mengobarkan semangat juang mereka dengan cara yang sangat istimewa sehingga mendorong mereka untuk menerjuni maut tanpa sedikit pun rasa gentar dan sangat garang juga anarkis.
Dengan izin Allah sahabat Abdullah bin Zubair Ra. akhirnya menemukan sebuah gagasan bahwa pasukan yang sangat gagah perkasa dan berjumlah sangat banyak ini tidak mungkin di taklukkan kecuali dengan cara menjatuhkan panglima yang menjadi ujung tombak dari pihak lawan. Tapi, bagaimana ia mampu mencapainya sedangkan kenyataannya sang raja dilindungi oleh benteng pasukan yang sangat kukuh dan ketat. Pasukannya bertempur dengan sebegitu semangatnya, seragam yang dikenakan antara pasukan muslim dan pasukan lawan jelas berbeda. Pasukan musuh terus bergerak maju dengan rapat dan dahsyat seperti badai besar yang siap menggulung pasukan muslim.
Sahabat Abdullah bin Zubair Ra. seorang yang tak pernah gentar dengan segala resiko dari apapun yang telah diputuskannya ingin ia jalani. Semangatnya yang tak pernah pudar sedikitpun, dan didukung dengan ketegaran lagi keberaniannya, akhirnya menggerakkan lisannya untuk memanggil kawan-kawannya.
"Lindungi punggungku dan mari menyerbu bersamaku!" perintahnya setelah kawan-kawannya berkumpul.
Dan begitu ia selesai mengatakan demikian, maka ia segera melesat menuju tempat dimana sasarannya telah ia kunci. Sepasang mata elangnya tidak sedikit pun melepaskan pandangan terhadap raja yang menjadi puncak kekuatan tentaranya itu. Kawan-kawannya dengan kompak dan serempak melindungi sahabat Abdullah bin Zubair Ra. dari sabetan pedang, tusukan tombak terjangan lembing dan anak panah dari musuh.
Dibelahnya barisan yang berlapis- lapis itu untuk menuju raja musuh hingga ia benar-benar sampai di hadapannya. Sang raja terhenyak, tak dilihatnya ada sedikit pasukan musuh datang dari arah mana. Tapi kenyataannya mereka sudah saling berhadapan. Dengan sigap dan tangkas, sahabat Abdullah bin Zubair Ra. memburunya. Ia tak akan melepaskan sasarannya yang telah berada di hadapannya. Pukulan pun segera dilayangkannya kepada sang raja, hingga raja itu jatuh tersungkur. Tak kalah cepatnya, kawan-kawannya segera mengepung tentara yang berada di sekeliling sang raja dan menghancurkan mereka. Pasukan kafir pengawal sang raja itu pun kocar-kacir dan tumbang mendapatkan serangan yang sangat mendadak itu.
Gema takbir segera dikumandangkan, memecah peperangan yang masih tersisa. Sejenak ratusan ribu mata tertuju pada sumber suara menghentikan peperangan. Namun hanya sejenak saja, kembali mereka bertempur. Pasukan muslimin melihat panji islam berkibar di tempat yang sebelumnya di tempati oleh panglima pasukan barbar. Kemenangan di depan mata. Mereka segera mengatur siasat. Sepakat. Semua tunduk pada satu perintah. Badai pasukan barbar telah kehilangan intinya. Pasukan muslim menerkam mereka. Mereka ketakutan. Kehilangan kegarangan. Dan tumbang menyusul panglima mereka.
"Allahu Akbar..!!". Akhirnya, suara takbir gegap gempita menandakan kaum muslimin telah berhasil memenangkan peperangan itu.
Kemenangan peperangan pun berada di pihak kaum muslimin dengan peranan penting yang telah dilakukan oleh sahabat Abdullah bi Abi Sarah Ra. Dan berita itu pun disampaikan ke madinah, kepada sang khalifah yang pada saat itu dipegang kendali oleh khalifah utsman bin affan ra.
Semua prestasi yang telah diraihnya, tidak pernah mampu membuat seorang sahabat Abdullah bin Zubair ra. sedikit pun merasa bangga. Bahkan, ia selalu merasa kurang. Kisah sahabat Nabi dengan pengabdian yang dilakukannya untuk Tuhan, agama dan Rasul-Nya. Ia merasa belum melakukan apapun untuk meluhurkan agamanya. Sifat kepahlawanannya yang seringkali unggul dalam beberapa kali peperangan tidak menjadikannya surut dalam menekuni ibadahnya.
Derajat ataupun gemilangnya prestasi dalam usia mudanya, kedudukan atau harta bendanya, keberaniannya dan kegigihannya, semua itu tidak menjadikan halangan bagi sahabat Abdullah bi Abi Sarah Ra. untuk tetap menjadi seorang lelaki ahli ibadah yang menahan lapar dan dahaga di siang hari dan terjaga di malam hari untuk beribadah kepada Allah dengan kekhusu’an serta niat yang suci. Malam-malamnya, selalu hidup dengan bermacam ibadah yang tak pernah puas dilakukannya.
Hikmah dari kisah sahabat Nabi ini adalah kita bisa melihat pengaruhnya seorang ibu untuk kesuksesan anaknya. Ibu dari sahabat Abdullah bin Zubair ra. adalah gambaran ibu yang sangat luar biasa, sehingga sahabat Abdullah bin Zubair ra. bisa menjadi salah satu tokoh bersejarah dalam perjuangan Islam diantara para sahabat-sahabat Nabi yang lainnya. Karena bagaimanapun juga, ibu dari sahabat Abdullah bin Zubair ra. yang mengajarkan dan mendidiknya untuk selalu menjadi teladan bisa mengukir sejarah sehingga bisa dikenang sampai saat ini.
Read the full article