Aku ingin pulang ke hatimu, Buk.
Bekerja, banyak ya bebannya. Tapi beban yang paling terasa adalah tak bisa menceritakan keluh kesah di ruang tengah. Ah, ruangan itu biasanya riuh. Dan segala senang maupun susah tumpah ruah di sana.
Dulu aku memang suka mengeluh, karena adik paling kecilku yang tak alpa mengolok-olok gelar yang tak sesuai dengan kecerdasan orangnya. Tapi toh, hal itu hanya pemicu tawa. Dan ruangan yang sesekali terbatuk-batuk karena tuanya itu, sekali lagi menjadi saksi.
Setiap sore selepas bekerja, aku mengikuti cara jokpin: mengusap kenang dalam kening. Teringat suara parau bapak di dalam mobil
"Kamu tidak sedang bekerja. Karena kebersamaan tak layak digantikan dengan upah. Kamu sedang berjuang, mengamalkan ilmu. Ingat itu!"
Lalu, kupilin lagi niatku.















