Kai memasuki auditorium dimana Tribute untuk Rae dan ketiga temannya dipersembahkan untuk mengenang mereka, empat murid berbakat Alistaire yang telah lebih dulu berpulang. Jumlah kerumunan orang dalam auditorium tersebut sudah tidak sebanyak tadi, hanya tersisa beberapa orang yang masih larut dalam kesedihan mereka dan terlalu sibuk untuk menyadari kehadiran Kai di tempat itu. Ia meletakkan setangkai bunga matahari didepan bingkai foto Rae dan bergegas pergi. Ia pergi secepat ia datang. Tapi ia salah kalau tidak mengetahui ada orang yang menyadari keberadaannya.
Kai melihatnya. Ia melihatnya tepat ketika gadis itu sedang memerhatikan gerak-geriknya seolah Kai adalah seorang pencuri yang dapat membawa kabur bingkai foto Rae dari altar tribute itu kapan saja. Kai menatapnya balik. Tatapan yang entah akan diartikan apa oleh gadis itu. Yang pasti ketika tatapan mereka bertemu saat Kai berjalan melaluinya, gadis itu bergidik dan menjatuhkan pandangannya pada hal lain.
Ava Tirtadirga, adik sang maestro Alistaire Rae Tirtadirga. Kai sudah mendengarnya. Tidak sulit untuk mengetahui siapa gadis itu. Semua orang di sekolah ini memang sedang membicarakannya. Selain nama marga yang sama dan bentuk fisik yang hampir menyerupai serupa meski perbedaan kakak adik itu terpaut dua tahun, sulit untuk mempercayai bahwa Ava adalah seorang adik dari Rae Tirtadirga. Mungkin semua orang terlalu berekspektasi pada Ava. Memiliki bentuk fisik yang nyaris sama bukan berarti ia adalah Rae. Di Alistaire, Rae adalah seorang bintang. Rae bersinar, dimana pun ia berada. Ia mencetak berbagai prestasi yang cemerlang. Nilai-nilai akademiknya nyaris mencapai angka sempurna. Berbagai aktivitas dan club ia ikuti. Rae adalah teman semua orang.
Sedangkan Ava tetaplah Ava. Mau bagaimana pun orang-orang menegoisasikan Ava sebagai Rae, tetap saja tidak bisa. Gadis itu tida tersenyum secerah matahari. Orang-orang mengatakan nilai-nilai Ava tidak selalu diatas rata-rata dan ia tidak selalu mempunyai jawaban ketika ditanya. Penampilannya tidak seatraktif Rae, wajahnya polos tanpa riasan, dan baju seragamnya selalu tampak kebesaran. Well, itu jelas membuktikan bahwa Ava bukan Rae. Dan dengan satu tatapan menyelidik, Kai membuktikan bahwa semua itu benar adanya.
------------------------------------------------*** ------------------------------------------------
Kai memasuki perpustakaan diikuti seorang gadis berambut panjang tergerai dengan seragam sekolah yang lebih cocok dikatakan sebagai seragam pelayan klub malam. Bajunya begitu ketat di tubuh, roknya tidak memenuhi ketentuan, begitu tinggi diatas lutut. Kai memilih sudut perpustakaan yang jarang dilalui banyak orang. Ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Memeluk pinggang gadis itu seolah tidak akan melepaskannya dan saling menautkan bibir mereka. Gadis itu sempat mendesah beberapa kali, dan pada saat ia mendesah menyebutkan nama Kai. Kai pun menyadari ada orang yang sedang memerhatikan aktivitas mereka. Ava berdiri disana beberapa meter di belakang tubuh gadis dalam pelukan Kai dan tepat beberapa meter dihadapannya. Kai spontan mengerling nakal ke arah Ava dan membuat gadis itu langsung beranjak pergi.
Katakanlah ini kebiasaan Kai sejak hidupnya tidak sama lagi. Bermain dengan gadis manapun yang ia suka. Membuat mereka seolah seperti dibutuhkan dan membuang mereka sesukanya. Bagi Kai tidak ada yang salah dengan sikapnya itu. Toh, semua gadis itu menerimanya dengan lapang dada. Kai memang tidak pernah menawarkan cinta. Menjadi cucu pewaris keluarga Alistaire, ya Kai adalah satu-satunya cucu pemilik sekolah ini maupun yayasan Alistaire, membuat ia bisa berbuat apa saja di sekolah. Apapun tanpa terkecuali. Selama ia dapat menghasilkan melodi-melodi indah dari pianonya, selama ia selalu mendapatkan nilai sempurna di setiap tes, dan selama ia lulus ujian dengan nilai tertingga, apapun yang ia lakukan bukanlah sebuah masalah. Ia sempat menghentikan kebiasaannya untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia kembali ke rutinitasnya itu setelah alasannya untuk berhenti hilang begitu saja. Dan kehadiran sosok Ava yang memergokinya di perpustaaan tadi sukses membuat Kai tidak bernafsu melanjutkan aktivitasnya serta berpikir dua kali mengenai kebiasaannya bermain perempuan.
Kai menekan kombinasi nomor loker yang ia ingat. Isinya tidak berbeda, masih saja berantakan. Berbagai surat beramplop merah jambu yang ia ketahui dari penggemar-penggemarnya masih memenuhi loker itu. Namun satu surat mengusik benaknya. Surat yang dilipas sedernaha tanpa amplop apapun dan tanpa tulisan. Surat yang beberapa kali telah memenuhi lokernya beberapa minggu terakhir. Surat yang akhirnya membuat hidupnya kembali tidak tenang.
Malam ini Kai tidak ingin tidur. Dibanding berada di dalam kamar asramanya, ia lebih nyaman berada disini. Di rumah kaca yang selama beberapa tahun ini hanya menjadi miliknya seorang. Rumah kaca yang berada di belakang gedung sekolah dan keberadaannya sedikit tersembunyi di balik pohon besar membuatnya jarang di kunjungi orang lain, ditambah lagi dengan mitos bahwa pohon besar dan rumah kaca ini berhantu, tentu tidak ada orang yang berani menjamahnya.
Di tempat ini Kai banyak menghabiskan waktunya. Tempat dimana ia bisa lepas dari segala kepalsuan dunia. Tidak ada yang bisa mengusiknya termasuk perempuan-perempuan yang terus meminta untuk dimanjakan olehnya. Di tempat ini pula sebuah Grand Piano milik keluarganya diletakkan sehingga ia bisa memainkannya kapanpun ia mau. Dan mala mini ia berniat menainkannya. Setelah seperti mendapatkan terror surat-surat dari orang yang sudah tidak ada disini namun namanya masih terpatri di dalam surat itu, pikiran Kai terlalu kacau.
Kai meletakkan jari-jarinya di atas tuts piano yang siap dijamah kapan saja. Perlahan melodi-melodi ringan mengalun. Kemudian ia memainkan serangkaian nada berulang kali. Ia lama-kelamaan larut alam permainannya sendiri. Entah sudah berapa lama melodi dan nada-nada indah mengalun di rumah kaca itu. Namun tiba-tiba semuanya terhenti saat Kai menemukan sosok Ava di depan pintu kaca.
Kai beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan nada dan melodi indah yang mengalun itu seperti dipaksakan untuk berhenti. “Ngapain lo disini?” Tanya Kai seraya membuka pintu rumah kacanya. Ia tidak berniat mempersilakan orang asing masuk, tapi entah kali ini. Ada dorongan yang memaksanya untuk membiarkan Ava masuk ke rumah kaca itu.
“Maaf aku tidak bermaksud untuk mengganggumu,” kata Ava. Gadis itu langsung terkagum-kagum dengan isi rumah kaca itu. Rumah kaca itu dipenuhi oleh rumpun bunga dan tanaman-tanaman merambat disisi kacanya namun pada bagian atap masih menyisakan celah untuk sinar matahari dapat memasukinya.. Kai mengamati gerak-gerik Ava yang masih mengamati rumah kacanya.
“Lo adik Rae,” bukan bertanya, lebih seperti sebuah pernyataan bersifat memastikan. Dan Ava hanya menggumam sesaat untuk mengiyakan. Gadis itu berhenti dan menyudahi aktivitasnya. Ia berbalik dan memandang Kai.
“Dan lo adalah mantan pacar kakak.” Ava pun tidak bertanya, pernyataan itu langsung mengusik bagian terdalam dari diri Kai. Ia hanya tertawa kecil merespon hal itu. Ia sama sekali tidak mengira bahwa gadis ini mengenalnya. Mungkin itulah kenapa Ava terus memperhatikannya sejak di auditorium dan dimana pun pandangan mereka bertemu.
“Apa yang lo tau?” Kai menyelidik. Seberapa banyak gadis ini tahu tentangnya. Apakah Rae menceritakan semuanya? Apakah Ava tahu kejadian hari itu? Berbagai keingintahuan mengusik benak Kai.
“Cukup banyak.” Ava memalingkan muka. Mengamati perabot di dalam rumah kaca itu. Menelusuri Grand Piano warna putih yang begitu menakjubkan. Mengaguminya seolah melihat barang peninggalan di dalam sebuah museum. Ava tidak terlalu bisa bermain alat musik. Kemampuan yang ia miliki hanyalah dalam segi vocal. Tapi melihat sebuah Grand Piano, ia tidak mungkin tidak mengaguminya.
“Lo yang masukin surat-surat itu ke loker gue kan?” Kai sudah yakin jawabannya ya, walau yang ditanya bahkan hanya bergeming tidak berniat menjawab. “Lo adik Rae. Jelas lo punya akses ke barang-barang pribadi Rae. Bukan masalah sulit buat gue untuk tau siapa pengirimnya.”
Kai memerhatikan Ava dengan saksama. Jelas, gadis itu kaget bahwa Kai semudah itu memecahkan teka-teki yang Ava buat. Child Prodigy, orang tergenius di Alistire mau dibodohi? Yang benar saja. Teka-teki semacam itu bukan level Kai. “Itu semua perasaan kakak yang sebenarnya. Aku cuma ingin menyampaikan kepada orang yang seharusnya tahu dan menjadi penerima suratnya.”
“Lo cukup tahu banyak ternyata. Apa lo juga tahu tentang perjanjian kami?” Kai cukup hati-hati mengucapkan kata-katanya kali ini. Alih-alih berhasil mengintimidasi lawannya, ia tahut pertanyaan barusan justru akan membuatnya tersudut.
“Per-jan-ji-an?” Hanya itu yang keluar dari mulut Ava. Kai memerhatikannya. Seolah Ava sedang mengingat sesuatu atau justru sedang mmemastikan apa yang baru saja didengarnya.
------------------------------------------------*** ------------------------------------------------
“Kamu pernah jatuh cinta nggak sih, Kai?” Rae mengaduk-aduk minumannya. Mendongak sesaat untuk menanti jawaban Kai. Entah apa yang membuat Rae tergelitik untuk mempertanyakan itu.
“Jatuh cinta? Sama makanan? Jelas lah. Hamburger, kentang goreng berminyak yang baru aja mateng.” Gurau Kai sambil menyantap kentang goreng dihadapannya. Rae mendengus kesal.
“Bukan itu Kai yang aku maksud.” Kai terus memakan kentang gorengnya dan memerhatikan Rae yang masih terus berbicara. Kai jelas tahu kemana arah pembicaraan Rae. Hanya saja ia sama sekali tidak tertarik. Jatuh cinta? Cuma orang-orang bodoh yang mau dibodohi oleh cinta. Dan ia bukanlah salah satu diantaranya.
“Aku suka kamu, Kai.” Aku Rae secara spontan. Kai sama sekali tidak kaget. Mendapatkan pernyataan cinta dari perempuan merupakan hal biasa baginya. Dan Rae entah gadis keberapa yang mengucapkannya.
“Gue juga sayang lo, Rae.” Jawab Kai santai. Ia mengambil gelas dan meneguknya secara perlahan. Rae Nampak menunggu respon lain dari Kai, “gue kencan tapi gue gak terlibat dalam hubungan-hubungan rumit yang saling mengikat satu sama lain dan happily ever after itu gak ada Rae. Itu cuma ada dibenak mereka yang berharap seolah mereka bisa jadi Cinderella dalam semalam dan bahagia begitu saja. Dan jangan pernah berharap gue tertarik dalam hubungan membosankan itu. Gue gak pernah menawarkan sebuah cinta, Rae.”
“Aku serius Kai.” Rae tertegun mendengar pernyataan Kai. “Oke kalau gitu, ayo kita pacaran. Bukan hubungan mengikat yang berujung pada ikatan selamanya. Hanya bentuk simbioasis mutualisme diantara kita.” Kai mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Rae seolah seperti keputusasaan. Apa gadis itu sebegitu cintanya pada Kai?
“Kamu mungkin tidak tertarik dengan konsep bahagia selamanya. Kamu mungkin tidak tahu bagaimana rasanya bisa membayangkan masa depan bersama orang yang kamu saying, membayangkan bagaimana kamu menghabiskan sisa hidupmu bersama orang yang selama ini selalu kamu pikirkan. Aku juga tidak bermaksud untuk membuat kamu mulai tertarik pada hal-hal seperti itu. Aku tidak akan pernah membiarkan hatiku jatuh, dan sakit Kai. Jadi kamu tidak perlu khawatir.” Rae berusaha meyakinkan Kai, “mungkin kita hanya dua orang yang ebetulan bertemu di satu titik waktu dan suatu hari nanti akan berpisah untuk mengambil jalan yang berlawanan arah.”
“Baiklah deal. Tapi hubungan ini berakhir saat salah satu atau kedua belah pihak telah tidak tertarik untuk melanjutkannya lagi. Gue gak mau terlibat pada sakit hati yang tak berujung.” Mereka berdua akhirnya menghabiskan sisa makanan mereka dengan canda tawa. Entah gurauan apa yang mereka bicarakan. Suasana kembali seperti semula namun ada yang telah berubah. Mereka berdua berpacaran. Dengan Rae yang memberikan cintanya dan Kai yang menerima perjanjian konyol itu dengan alas an simbiosis mutualisme.
Pada hari-hari berikutnya, mereka sering menghabiskan waktu bersama di malam hari. Keluar dari asrama pada petang hari dan kembali saat tengah malam datang hanya untuk makan bersama di kafe kesuakaan mereka berdua, atau sekedar menghabiskan waktu di halaman rumput belakang sekolah. Terlampau banyak waktu yang mereka lalui bersama.
------------------------------------------------*** ------------------------------------------------
Kai salah kalau ia tidak akan pernah jatuh cinta, salah jika ia sama sekali tidak akan pernah tertarik pada Rae Tirtadirga. Seharusnya sejak awal ia sendiri tahu seperti apa perasaannya. Seharusnya sejak awal Kai tidak berusaha menolak semuanya dan mementingkan gengsinya. Kai bukan tidak menyadarinya, ia sadar ia telah jatuh cinta terlalu dalam pada sosok Rae Tirtadirga. Ia hanya tidak mungkin mematahkan persepsinya dan membuat orang lain benar dan dia salah. Tidak, Kai tidak akan membiarkan itu terjadi meski harus merelakan semuanya asal ia sendiri tidak menjatuhkan pridenya.
Namun semua itu sudah terlambat. Pernyataan cintanya pun tidak akan pernah membawa Rae kembali ke dalam pelukannya. Setelah dengan tega menjatuhkan gengsinya, akhirnya ia sadar Rae telah berkorban terlalu banyak untuk dirinya. Harusnya Kai sadar ia adalah laki-laki paling beruntung karena pernah dicintai dan diperjuangkan oleh Rae.
Kai menceritakan semuanya pada Ava. Ia sama sekali tidak berniat, tapi kehadiran Ava seolah menyodorkan bahu untuk bersandar. Kai sudah terlalu lama menyimpan penyesalannya sendiri. “Kamu menyayangi kakak, bukankah begitu? Cinta, walaupun dengan cara yang salah dan tetap mementingkan egomu. Maafkanlah dirimu sendiri, Kai. Sudah waktunya kamu memaafkan diri sendiri. Kakak tidak akan pernah kembali meski kamu terus menyalahkan diri sendiri. Tapi aku yakin dia bahagia karena kamu akhirnya berani melawan ketakutanmu untuk menyadari bahwa kamu telah jatuh cinta. Di kehidupan yang akan datang, jangan pernah lepaskan wanita yang mencintaimu dan yang kamu cinta, begitu saja Kai. Cukup kakak yang tidak pernah mendapatkan pernyataan cinta darimu. “
Writing Project Fanfiction
Novel : Girl meets boy
Penulis: Winna Efendi