Ambulans
Pada suatu malam, ada seorang pemuda yang baru pulang dari kantor. Kebetulan pada malam itu, ia mendapat giliran lembur untuk mengolah data keuangan perusahaan. Ia baru keluar dari kantornya pukul 11 malam. Biasanya, pemuda itu pulang-pergi ke kantornya dengan menaiki angkot. Sial bagi pemuda itu, ia sudah menunggu selama hampir satu jam, akan tetapi ia tak melihat satu angkot pun yang lewat malam itu. Maklum, jam sudah menunjukkan hampir tengah malam. Jalanan sudah sepi.
Akhirnya, pemuda itu memutuskan pulang ke tempat kosnya dengan berjalan kaki. Sendirian. Jarak kantor ke tempat ia nge-kost tidak terlalu jauh, hanya sekitar dua kilometer. Malam semakin larut, udara dingin pun semakin menusuk tulang.
Di tengah-tengah perjalanannya, ia melihat sebuah ambulans yang terparkir tepat di ujung jalan. Pemuda itu tiba-tiba berhenti. Tiga hari yang lalu, teman sekantornya bercerita, bahwa jalan yang ia lewati sekarang adalah jalan yang angker. Menurut cerita yang beredar di masyarakat, pada tengah malam, orang-orang yang melewati jalan itu sering melihat ambulans mondar-mandir. Anehnya, ambulans itu tak ada pengemudinya.
Tiba-tiba, jantung pemuda itu berdegup kencang. Bulu kuduknya berdiri. Ia merinding. Akhirnya, pemuda itu memberanikan diri untuk menghampiri ambulans yang terparkir sekitar 50 meter di depannya. Sesampainya di sana, ia semakin merinding. Benar, ambulans itu tak ada pengemudinya. Lalu, ia mendengar suara sayup-sayup dari bagian belakang ambulans tempat para pasien dan jenazah diangkut.
“Maaas... Maaaas, tolong saya, mas.. ”
Awalnya pemuda itu tak terlalu menghiraukan. Tapi kemudian...
“Maaas... Maaaas, tolong saya, mas.. ” Suara itu terdengar lagi.
Keringat dingin membasahi tubuh pemuda itu. Kemudian pemuda itu menuju ke arah bagian belakang ambulans. Dengan segenap sisa keberanian yang ia punya, ia memberanikan diri membuka pintu bagian belakang ambulans.
Klek...
Sontak pemuda itu kaget melihat sesuatu yang ada di hadapannya. Pemuda itu berdiri mematung. Kakinya lemas. Suaranya seakan-akan lenyap di telan angin malam yang berhembus. Ia tidak percaya terhadap apa yang dilihatnya.
“Maaas..., tolong kami, mas.. ”
Sekali lagi, pemuda itu tak percaya terhadap apa yang dilihatnya. Di dalam ambulans itu ada empat mbak-mbak penjual jamu. Singkat cerita, para mbak-mbak penjual jamu ini akan nonton konser Bigbang di Jakarta. Karena menyewa kendaraan pribadi terlalu mahal, maka untuk menuju ke tempat konser itu para mbak-mbak ini menyewa ambulans. Ongkosnya lebih murah katanya. Lalu kenapa ambulans yang mereka tumpangi terparkir di jalanan yang dilewati pemuda itu? ban ambulans itu kempes. Supirnya sedang mencari bengkel terdekat untuk mencari bantuan.
Akhirnya, pemuda itu melanjutkan perjalananya. Ia tampak pucat, seakan-akan aura kehidupan yang terpancar dari wajah pemuda itu telah meredup.
Ruang, 8 September 2016
Tulisan ini teriinspirasi dari lagu Cita Citata – Uwiw Uwiw dan ditulis untuk memenuhi WP Book and Writing Club.
@kitaclubofficial @tumbloggerkita @secangkirasa @hujanmimpi











