Sepakat Berteman: Teman Baik, Teman Hidup
Orang baik itu banyak sekali, tapi hanya ada satu yang tepat. Selebihnya adalah ujian.
- Kurniawan Gunadi -
Terlalu banyak kemustahilan jika dilihat dari kacamata manusia. Jarak Jakarta-Batang-Yogyakarta terbilang jauh untuk menyatukan kami berdua. Berbeda latar belakang keluarga, budaya, gaya hidup, pola asuh.
Kami mulai berkenalan di pertengahan 2019 dan memutuskan berteman menjelang dia resign, akhir tahun 2019.
A: Mbak tu umur berapa e?
U: Saya kelahiran 1995, Desember ini genap 24th mas. Kalo Mas Ardhi umurnya berapa? Bukannya sama ya?
A: Lah lebih muda kamu Mbak haha. Aku Juli 1995.
U: Ya ampun cuma beda beberapa bulan aja
A: Kalau aku panggil Ufi aja gapapa kan ya?
U: Ya gapapa lah
A: Manggil Mas Mbak kaya kaku banget masih hubungan kantor. Kita temenan wkwk
U: Ya sebelumnya kan karena formalitas kerjaan Mas
Ya, selama ini kami hanya sebatas rekan kerja jarak jauh, aku di kantor pusat (pada saat itu), dia di kantor wilayah Yogyakarta. Jauh kan haha. Setahun kami menjadi teman virtual dan menjalani project menulis di @lensa14.75 bersama ka Zulfha. Lebih banyak berinteraksi di grup, diskusi soal banyak hal, politik, budaya, agama, karakter, sifat, hingga keluarga. Dia adalah teman yang baik.
Ada begitu banyak cara Allah untuk mempertemukan. Terlihat rumit padahal sederhana, terlihat jauh padahal dekat, terlihat orang lain padahal kamu.
Hingga pada satu titik, Allah menggerakkan hatiku dan hatinya untuk berproses. Allah yang menggerakkan hati Mba Wahyu dan Mas Febri selaku murabbiah dan murabbi kami untuk memfasilitasi proses kami menuju pernikahan. Allah menggerakkan hati keluarga kami masing-masing untuk merestui proses ini. Proses dimulai di akhir September 2020, hingga akhirnya kami bersepakat pada 20 Maret 2021 menjadi teman hidup.
Mba Iim pernah bilang, “Kalian tuh lucu ya, kan udah dari tahun lalu kenal, kenapa gak dari dulu aja menikah, kenapa baru sekarang setelah melewati lika-liku kehidupan. Kalian tuh kaya mempersulit yang mudah.” Aku hanya tertawa mendengar itu. Gak sesimple itu, ada proses yang gak bisa diputus begitu aja. Proses yang tentu saja memerlukan waktu dan menguji kesabaran. Karena di waktu-waktu menunggu itulah sebenarnya ujian datang, ujian yang membuat dan membentuk seseorang menjadi seperti hari ini.
Kami menyepakati banyak hal seiring berjalannya waktu. Entah apa yang terjadi nanti tetapi masing-masing dari kami sadar bahwa perjalanan selanjutnya lahir dari sebuah komitmen besar yang kami buat saat ini. Dan yang paling penting, kami menyepakati bahwa menjadi teman hidup dalam tali pernikahan adalah bentuk proses belajar seumur hidup. Dengan berdua, kami meyakini bahwa akan menjadi berkali lipat takwanya, berkali lipat manfaatnya, dan berkali liat bersyukurnya.
Akhirnya dipost juga setelah 4 tahun pernikahan.