Hari pertama memulai kape. Deg-degan jelas. Dengan memakai kemeja, sepatu tertutup, celana hitam, serta menenteng-nenteng jamal, saya datang ke Polda Jatim. Setelah bertanya ke beberapa pak polisi yang kebetulan semuanya adalah bapak-bapak seumuran ayah saya, saya berhasil menemukan lagi lab forensik. Memang sih kemarinnya udah ditunjukin sama pak polisi yang masih muda itu tapi mau gimana, ingatan saya cukup parah kalau menyangkut jalan dan arah serta saat itu ada distraksi dari pak polisinya yang oke jadinya saya lupa lagi.
Masuk ke labfor, saya lapor ke bagian informasi dan disuruh nunggu di lobi. Banyak bapak-bapak polisi yang nyamperin saya soalnya penasaran kenapa ada cewek manis bertampang linglung di lobi labfor, nenteng-nenteng jamal warna ijo lumut tua pula. Kira-kira seperti ini percakapan antara saya dan beberapa pak polisi petugas labfor.
Pak Polisi Labfor (PPL) 1: lho, mbak, sampean siapa? nyari siapa? ada keperluan apa?
Saya (F): *dengan senyum* saya yang mau magang di kimbiofor, pak
F: itb, pak, dari biologi
PPL 1: woh, dari bandung toh, jauh banget ya, asli bandung?
F: nggak, pak, saya asli ngawi
PPL 1: lho, ngawi sebelah mana?
PPL 1: ooh saya sering lho mbak dulu ke ngawi, blablabla…
*beberapa menit kemudian*
PPL 2: darimana? kuliah ya?
PPL 2: aslinya mana? bandung juga? orang sunda, ta sampean?
F: bukan, pak, saya dari ngawi
PPL 2: owalaaahh ngawi toh, lho dulure bojoku yo soko ngawi lho mbak! ngawine sebelah endi? (ooh ngawi toh, saudaranya istriku juga dari ngawi loh. kamu ngawi yang sebelah mana?)
PPL 2: ooh, yang banyak hutannya itu ya, dulu itu banyak orang nyari pesugihan disana
F: hahaha *ketawa getir* … sebelum jaman kemerdekaan mungkin, pak
Dan begitulah, sampai kira-kira ada enam hingga tujuh orang bapak-bapak yang nanya hal yang sama dan saya jawab dengan hal yang sama pula. Kadang saya stress harus menjawab hal yang sama berulang-ulang, tapi lihat sisi positifnya lah, itu berarti mereka peduli dan nggak ngacangin saya.
Setelah nunggu mereka selesai apel pagi (tiap hari disana ada apel pagi dari jam 6.45 hingga 7.00 WIB), saya bertemu dengan Pak Eko, yaitu kepala bagian administrasi labfor (kalau nggak salah). Lagi, saya ditanya hal yang sama, dan malah digunyoni (diajak bercanda). Saya merasa terhibur dan senang sih, daripada nganggur dan nggak diajak ngobrol, toh si bapaknya juga baik banget. Saya akhirnya tau bahwa Pak Eko adalah BBL yang saya bicarakan di postingan pertama saya mengenai kape ini. Si bapak iseng banget, ngeliat dengan teliti transkrip nilai saya, terus pake nanya: “mbak, ini biokim nilainya BC?”
Iya, oke, emang nilai biokim saya ancur banget (mau gimana lagi orang tiap kuis saya ga bisa ngerjain dan memilih menuliskan struktur kimia yang entah tidak saya ketahui eksistensinya), tapi yaudahlah, nggak bisa dan nggak niat buat ngebenerin juga. Saya jawab dengan cengengesan, “iya, pak, itu artinya B-, pertengahan antara B dan C, pak”.
Daripada nyebutnya C+ mending kan B-, terasa lebih terhormat. Bodo amat.
Lalu sebuah kenyataan menampar saya.
Saya kan kape di bagian LAB KIMBIOFOR, yang secara harfiah merupakan singkatan dari Laboratorium Kimia Biologi Forensik, yang bisa dibalik jadi lab biokimfor, sedangkan nilai saya di mata kuliah yang bersangkutan sama sekali tak bisa dibanggakan.
Sudah terlalu terlambat untuk mundur.
Nekad, saya tetap cengengesan dan ngobrol bareng Pak Eko dan seorang bapak labfor lain yang baik hati. Selanjutnya, saya dibawa ke bagian lab kimbiofor dan dipertemukan dengan kepala labnya. Namanya Bu Fad (bukan nama sebenarnya), si ibunya baik banget dan ramah banget. Si ibunya cerita-cerita tentang lab kimbiofor, yang terdiri dari beberapa lab lagi diantaranya lab DNA, lab toksikologi, lab serologi, dan lainnya. Saya akhirnya ditempatkan tidak secara khusus di lab DNA, soalnya kadang ga ada kerjaan karena ga semua kasus dianalisis DNA-nya, dan lab DNA itu ga sembarang orang boleh masuk. Yaudah gak apa, toh tetep seneng saya akhirnya bisa kape di bagian forensik.
Hari pertama saya nggak ada kerjaan, cuman ngobrol-ngobrol dan baca-baca buku toksikologi (Clarke’s Identification of Drugs and Poisons). Di kimbiofor ini selain Bu Fad, ada juga petinggi polisi namanya Pak Ko (bukan nama sebenarnya juga). Pak Ko baiiiikkk banget, luar biasa baik pokoknya. Saya diajak ngobrol lama banget, diajarin banyak hal (sebagian besar pelajaran tentang hidup), dikasih wejangan biar nggak sembarangan ngelakuin sesuatu dan akhirnya menyesal misalnya hamil diluar nikah (sumpah itu contoh yang dikasi si bapaknya). Pak Ko ini cerita juga tentang anak-anaknya yang udah sukses dan anak bungsunya yang seumuran saya juga dan lagi kuliah. Selanjutnya ada Bu Fit (lagi-lagi bukan nama sebenarnya) yang juga baik walaupun saya nggak banyak ngobrol sama Bu Fit, soalnya ibunya sering keluar-keluar. Terus ada juga Mbak Kur, Mbak Nov, dan Mbak An (ketiganya juga bukan nama sebenarnya) yang bertugas di lab. Total pekerja di lab kimbiofor hanyalah 7 orang, satunya lagi adalah Bu De yang lagi pelatihan di Sukabumi. Saya senang mendengarkan mereka mengobrol dan bercerita hal-hal menarik mengenai kasus yang diterima labfor. Siangnya Bu Fad pergi keluar ke TKP, make rompi hitam tulisannya LABFOR gitu, keren banget.
Oh ya, di lab besar yang biasanya dipakai untuk nyimpen segala jenis reagen dan barang bukti dan tempat sampling darah, ada sebuah laci kaca yang isinya berbagai merk minuman keras oplosan, contoh bahan bakar palsu, pewarna makanan palsu dan beberapa jenis produk kimia yang palsu dipajang disitu. Yang lumayan mengejutkan adalah ada tengkorak, bung! Kata Mbak Kur, tengkorak itu udah ada disitu bahkan sejak jaman pendahulunya labfor. Uwow.
Kejadian yang cukup bego adalah ketika saya ingin ke kamar mandi, saya harus membawa kunci. Jadi kamar mandi di koridor itu emang dikunci, jadi harus bawa kunci dari kantor staf. Nah, setelah saya wudhu, saya lupa bahwa saya ngantongin kunci itu di kemeja saya. Terus ada ibu-ibu yang tiba-tiba masuk juga soalnya, makanya saya tambah lupa. Terus pas pulang (saya disuruh pulang duluan sama Pak Ko karena ngga ada kerjaan yang bisa saya lakukan juga disana) tanpa sadar bahwa kunci kamar mandi itu masih ada di saku kemeja saya. Sampe kosan, saya di-sms sama Mbak Nov, apakah kuncinya masih ada di saya. Malu banget, berasa bego dan tolol gitu ngebawa kunci kamar mandi dan akhirnya petugas lainnya ga bisa make kamar mandi itu sesorean soalnya kekunci. Saking stresnya, saya akhirnya curhat ke Weta, orang yang saya ketahui tak akan menertawakan saya karena hal bodoh ini (nggak nertawain sih, tapi cerita ke Nida, dimana pada akhirnya saya diketawain juga). Tapi setelah itu saya ikutan ketawa sih, baru hari pertama saya udah bikin ulah. Ini mah tolol banget.
Sebagai tambahan, Pak Eko menyarankan saya untuk mengikuti tes polwan setelah saya lulus dan diwisuda nanti. Haha.
Pelajaram Moral Keenam : Hati-hari dengan barang yang terbawa. Selalu periksa saku, kantong baju, dan tas untuk memastikan tak ada barang lab yang penting seperti kunci kamar mandi terbawa hingga pulang.