seen from China
seen from Japan

seen from Canada
seen from United States
seen from China
seen from Canada
seen from United States
seen from India
seen from China
seen from China
seen from United States
seen from China
seen from France

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States
seen from China
seen from Japan
seen from United States

seen from United Kingdom
The Night Before
equinare (renjun & nakyung) oneshot au written by jlldal © 2025
Tidak semua yang lama itu buruk, dan tidak semua yang baru itu baik. Tidak semua hal di masa lalu itu harus dilupakan, dan tidak semua hal yang baru terus digugu.
Semua hal yang pertama selalu memiliki cerita dan tempat tersendiri dalam setiap tahapan kehidupan manusia. Anak pertama, tumbuh gigi pertama, perayaan ulang tahun yang pertama, teman pertama, dan pertama kali jatuh cinta.
Laki-laki itu adalah semua hal pertama bagi Nisreen Kalula Attar. Laki-laki itu adalah orang pertama yang memperkenalkan cinta di hidup Nisreen. Laki-laki itu adalah orang pertama yang mengajak Nisreen untuk berlari di tengah hujan. Laki-laki itu adalah orang pertama yang diam dan hanya tersenyum ketika semua orang berteriak memakinya sepanjang jalan.
Semua hal yang indah, membahagiakan, yang menyedihkan, yang bahkan membuat Nisreen dapat meringkuk menangis, dilakukan bersama laki-laki itu.
Dia Rishtan, laki-laki pertama yang memperkenalkan hidup pada Nisreen. Tanpa harus ada kebohongan di sana.
Nisreen tahu, ia harus banyak berterimakasih dan bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk hidup. Meskipun bukan yang sebenar-benarnya hidup.
Diadopsi keluarga kaya serba berkecukupan tidak membuat Nisreen merasa hidupnya seperti mendapat lotre dua miliyar. Ia telah melewati banyak hal selama ia hidup 18 tahun ini. Tinggalkan Ibundanya meninggal karena menutupi penyakitnya, dan melihat Ayahnya gantung diri di kamar saat umurnya masih 7 tahun, atau hampir mati kehabisan napas dalam bak besar di kamar mandi panti asuhan karena keisengan teman-teman satu pantinya. Nisreen sudah melewati itu semua.
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan tinggal bersama pasangan yang sudah cukup berumur dan tidak dikaruniai seorang anak. Nisreen berterimakasih karena dipertemukan dengan Ibu dan Ayah angkatnya, nyonya dan tuan Attar yang sangat baik.
Persiapan masuk kuliah membuat Nisreen Kalula Attar sering pulang malam karena harus ikut try out atau bimbel yang sudah disediakan oleh Ayah angkatnya. Ia akan membayar mahal untuk menjamin kehidupan Nisreen. Lagi, Nisreen hanya bisa berterimakasih dan menerimanya.
Di depan pintu rumahnya, Nisreen agak ragu untuk pulang malam ini. Jemarinya mencengkram kenop pintu, hendak masuk, tapi masih ragu.
Ia hafal betul yang akan menyambutnya hanyalah golden retriever bernama Tobi yang sudah menjadi penghuni rumah ini jauh sebelum kedatangan Nisreen. Ibu dan Ayah angkatnya tentu saja orang sibuk. Tinggal di lingkungan elit seperti tempat ia berpijak tak bisa didapatkan apabila hanya duduk bersantai di kursi balkon.
“Muak? Lelah? Atau berniat kabur?”
Tiga pertanyaan dalam satu kalimat itu terdengar oleh Nisreen yang sedang menghadap pintu rumahnya.
Ia menoleh ke belakang, terdapat seorang laki-laki dengan kaos yang kebesaran dan celana selutut berwarna biru cerah. Tubuhnya kurus dengan tanda lahir di sekitar punggung tangannya.
Sedikit info yang Nisreen tahu tentang laki-laki itu. Hanya laki-laki yang baru tinggal kurang dari tiga tahun di sebrang rumahnya. Lutut laki-laki itu terdapat luka baret yang tak sedikit. Jika boleh Nisreen tebak. itu adalah bekas luka jatuh terseret di aspal.
“Di-bully? Dipukulin? Atau hampir putus asa dan berniat menabrakan diri ke jalan?” Nisreen balik bertanya pada laki-laki itu dengan nada yang sama.
Laki-laki itu tidak menjawab. Ia hanya menatap Nisreen dengan sinis di bawah topi hitam yang hampir menutupi wajahnya.
Mata Nisreen memperhatikan lutut laki-laki itu yang terluka, dan kembali menatap wajah laki-laki yang ternyata terdapat darah di ujung bibirnya.
“Nanti infeksi. Cepet obatin lukanya.” sahut Nisreen. Laki-laki itu tak bereaksi. Nisreen mengerutkan keningnya, “Lo denger kan gue ngomong apa?” ujarnya sedikit meninggikan suara.
Laki-laki itu sedikit menundukan kepala. Bahunya yang kurus telihat turun serta tangannya ia kepal kencang. “Gak ngerti.” gumam laki-laki itu pelan.
Nisreen yang hanya bisa melihat gerak mulut laki-laki itu hanya meringis sembari memincingkan matanya. “Apanya?” sahut Nisreen.
“Gak ngerti,” laki-laki itu sedikit meninggikan suaranya. “Gua gak ngerti caranya.” lanjutnya.
Nisreen terdiam. Ia masih memperhatikan laki-laki itu yang masih menundukkan kepala. “Lukanya,” laki-laki itu terdengar bersuara lagi. “Gua gak ngerti cara bersihkan lukanya.”
Helaan nafas panjang Nisreen hampaskan. Ia memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya membawa masuk laki-laki itu ke rumahnya. Mengajukan diri untuk membersihkan luka di kaki dan beberapa bagian wajah laki-laki itu yang memar dan robek.
“Muak? Lelah? Atau berniat kabur?”
Kalimat tanya sekaligus itu membuat Nisreen merasa kesal sekaligus lega. Kepalanya sudah berat akan beban untuk lulus ujian masuk universitas. Harapan orang tua angkat Nisreen sangat besar terhadapnya. Ia pun harus ‘membayar’ semua yang orang tua angkatnya beri untuknya. Meskipun tak akan pernah terbayar. Nisreen tahu itu.
Mata Nisreen melirik pada anak laki-laki dengan hoodie hitam kebesaran yang hampir menenggelamkan tubuhnya yang kurus. Itu Rishtan.
Laki-laki itu selalu di-bully di sekolah. Nisreen tahu meskipun Rishtan tak pernah membahas itu. Laki-laki ini selalu berpindah sekolah, dibuktikan dengan seragamnya yang sering berbeda setiap semester.
Bukan karena ia bermasalah, tapi karena laki-laki sebayanya itu selalu kena pukul, selalu disiksa, selalu dimaki-maki oleh orang-orang di sekolahnya. Ralat, di setiap sekolahnya.
Rishtan tak pernah mendaftar di sekolah Nisreen. Personal reason, katanya. Nisreen pun tak ingin tahu soal itu.
Sampai akhirnya ia memutuskan untuk home schooling dan menghabiskan banyak waktunya untuk menjahili Nisreen yang akhir-akhir ini sedang banyak beban.
“Kali ini harus dijawab.” ujar Rishtan.
Alis Nisreen terangkat, “Emang sebelumnya gak pernah gue jawab?” gadis itu balik bertanya.
Rishtan mengangguk, “Iya. Lu selalu marah-marah, atau balik ngejek gua ‘kayak abis dipukulin’ setiap gua nyapa lu.”
Ujung bibir Nisreen terangkat. Ia tersenyum kecil, “Faktanya, lo selalu terlihat kayak abis dipukulin.” serunya.
“Jadi?”
“What?”
“Apa jawaban lu hari ini?”
Nisreen menipiskan bibirnya. Jujur, ia muak untuk masuk ke dalam kamarnya dan kembali membuka buku untuk mengulas pembelajarannya hari ini. Terlebih, hanya Tobi yang akan menyapanya ketika ia masuk rumah.
“Rishtan,” panggil Nisreen. Laki-laki itu hanya bergumam pelan. “Bisa bawa gue kabur gak?”
Permohonan Nisreen tadi disambut senyum dari bibir tipis laki-laki bernama Rishtan ini.
“Ayo kabur!” balas Rishtan.
The Night Before The Funeral dari The Mary Onettes yang tak akrab di telinga Nisreen mengudara di dalam Toyota Corolla Altis hitam milik Rishtan yang tengah mereka kendarai.
Jam sepuluh malam, mereka memutuskan untuk drive-thru nuggets dan burger kesukaan Rishtan. Mampir ke minimarket untuk membeli dua botol air mineral dan sebungkus permen mint. Beberapa bungkus makanan ringan menumpuk di kursi belakang.
Jendela di samping Nisreen dibukanya lebar-lebar dengan volume lagu yang paling maksimal. Rishtan sesekali melirik ke arah Nisreen dengan helaian rambutnya yang berterbangan.
“AAAAAAAAA!!!!”
Teriakan Nisreen ditemani oleh gemuruh ombak pesisir dan lantunan lirik milik The Mary Onettes. Keputusan Rishtan untuk membawa Nisreen ke pantai di malam hari rupanya bukan sebuah kesalahan. Ada perasaan lega yang Rishtan rasakan ketika senyum di wajah gadis itu mengembang. Pipinya membulat cantik, serta matanya yang gelap menyipit indah.
Toyota Corolla Altis ini berhenti di pesisir pantai. Pasir dan jalanan hanya berjarak beberapa meter. Rishtan memutuskan untuk memarkirkan Corolla nya di atas pasir pantai.
Nisreen buru-buru melepas alas kakinya dan berlari menuju bibir pantai. Ia menendang-nendang ombak yang menggelitiki telapak kakinya dan berjalan mengitari pesisir.
Mata gadis itu melirik ke arah Rishtan yang hanya berdiri, bersandar pada pintu mobil sembari melipat tangan. “Sini dong! Kalo cuma nontonin gue main air doang mana asyik!” pekik Nisreen.
Rishtan terkekeh pelan dan menggelengkan kepalanya, “Silahkan, silahkan. Muntahin semua beban lu di situ.” serunya.
Angin di malam hari memang sekencang ini ternyata. Rambut sebahu milik Nisreen saja sudah tak terlihat bentuknya.
“Woy!” panggil Rishtan. “Masuk, buruan. Anginnya makin kenceng ntar lu sakit!” suruhnya.
Nisreen menurut dan berjalan menuju mobil Rishtan.
Mesin mobil dibiarkan menyala. Lampunya menyorot ombak yang lebih tinggi dibanding ketika siang hari.
Sembari membuka bungkus hamburger-nya, Rishtan berdeham sejenak.
“Lega?” tanyanya.
Nisreen menggeleng, “Belum.” gadis itu memakan sepotong nugget yang dibeli sebelumnya.
“Kenapa belum?” Rishtan kembali bertanya.
Pandangan kosong dari Nisreen adalah jawaban yang Rishtan dapatkan atas pertanyaannya.
Bisa dibilang, baru kali ini Rishtan mengobrol panjang lebar dengan tetangga sebrang rumahnya ini. Biasanya, hanya celetukan iseng atau ejekan yang terlontar antara keduanya. Kadang, berpapasan di jalanpun saling tak peduli. Bertetangga, tapi tidak seakrab yang seharusnya.
Rishtan tak tahu banyak tentang Nisreen. Gadis yang diadopsi? Hanya itu. Rishtan pun baru tiga tahun tinggal di rumahnya yang sekarang.
“Gue masih gak percaya kenapa Ibu dan Ayah gue ninggalin gue gitu aja.”
Setelah diselimuti diam selama beberapa menit, kalimat itu terlontar dari bibir Nisreen yang semula hanya bungkam. Rishtan tak bersuara. Ia membiarkan gadis terus berbicara.
“Gue gak sesedih itu ketika tahu bahwa Ibu meninggal karena bertahun-tahun menyembunyikan kanker perutnya. Enggak, gue gak sesedih itu. Bahkan gue gak nangis. Semua orang di tempat kerjanya turut berduka cita. Kata-kata penyemangat, uang, makanan, semuanya memenuhi rumah ketika Ibu pergi.” Nisreen masih menatap ombak seraya bercerita.
Ia duduk sembari melipat kakinya di kursi mobil, tepat di samping Rishtan.
“Tapi begitu gue lihat Ayah meninggalkan gue dengan cara seperti itu, gue sedih. Kenapa dia tega meninggalkan gue sendirian? Kenapa dia tega meninggalkan satu-satunya keluarga yang dia miliki? Kenapa dia tega meninggalkan anak perempuan berusia tujuh tahun sendirian di dunia yang sejahat ini?” suaranya kian parau. “Butuh bertahun-tahun buat lupa gimana tubuh Ayah terpontang-panting melayang di kamar. Sampai sekarang, gue gak bisa memaafkan Ayah atas kematian yang ia pilih. Kenapa sih harus Ayah yang mati, kenapa gak gue aja?!”
Suara Nisreen meninggi. Tanpa diundang, airmata milik gadis itu mengalir melewati pipinya. Ia terisak sesekali, dan mencoba menahan tangisannya agar tak pecah.
Laki-laki bernama Rishtan ini tak menggubrisnya. Ia hanya duduk di samping Nisreen, berusaha menjadi peran pendengar yang baik untuk segala kata yang keluar dari mulut gadis ini. Ia hanya mengedipkan matanya perlahan tanpa sekalipun memalingkan pandangannya dari Nisreen.
Mata gadis itu meredup. Ia menoleh pelan dan memandang Rishtan yang terlihat buram di matanya karena penuh dengan airmata. “Selama ini doa gue cuma satu; gue gak mau sendirian. Tapi kenapa semua orang pergi dan biarkan gue sendiri?”
Nisreen Kalula Attar memandang Rishtan yang hanya terdiam menatap gadis yang tengah berselimut airmata. Terlihat jelas banyak kesedihan ditumpuk rutinitas yang membebaninya. Tertutup manis bungkam bibir gadis di hadapannya. Tak pernah terkuak, tak pernah tumpah, dan tak pernah dibicarakan.
Tangan Rishtan hanya bisa terulur menepuk pelan gadis itu.
“Need a hug?” tanya Rishtan pelan.
Yang ada di kepala Rishtan saat ini hanya ingin memeluk gadis itu erat sembari menepuk-nepuk bahunya.
Tawarannya disambut hangat tubuh Nisreen yang berhambur memeluknya. Tangisannya semakin kencang, beradu riuh dengan ombak yang kian malam kian tinggi. Hoodie hitam yang dikenakan Rishtan basah akan airmata yang terus mengalir dari mata Nisreen.
Rishtan tak bicara lagi. Ia membiarkan Nisreen memeluknya, dan ia memberikannya pelukan. Jemari Rishtan mengusap pelan helaian surai gelap milik gadis Kalula ini.
Suara riuh ombak beradu dengan lagu milik Gloria Laing yang mengalun lembut dari mobil hitam milik Rishtan. Laki-laki itu masih memeluk Nisreen dengan hangat. Sampai akhirnya Nisreen melepas peluk, dan sedikit menjauhkan tubuhnya dari Rishtan.
Kepalanya mengadah, mata Nisreen menatap Rishtan yang tengah menatapnya juga. Sedikit airmata yang tergenang di mata gadis itu terlihat seperti binar karena terpantul cahaya lampu kecil jalanan.
Jemari laki-laki yang semula masih mengusap pelan rambut milik Nisreen, kini berjalan, menari-nari dengan lembut menuju bahu, dan berhenti di tengkuk gadis ini.
Mata mereka seolah terkunci. Tak ada satupun yang enggan mengalihkan pandangannya. Seolah tenggelam di dalam lautan yang tak pernah bertemu dasarnya.
Kali ini tak ada pertanyaan yang terucap dari mulut Rishtan. Laki-laki itu mengecup pelan bibir Nisreen yang sedikit terbuka. Ia kembali menjauhkan wajahnya dari wajah gadis itu, dan mengusap bibir Nisreen dengan ibu jarinya.
Gadis itu tak mengerti apa maksudnya. Ia tak menghiraukan gestur yang semula Rishtan lakukan, dan memilih untuk mengalungkan kedua tangannya pada leher laki-laki dengan hoodie hitam ini, dan balik menciumnya pelan.
Semakin dalam, dan tenggelam. Seolah mereka tak akan pernah bertemu lagi esok malam.
Sinar matahari memaksa menyeruak masuk melalui sela-sela ventilasi kamarnya.
Kejadian malam tadi masih membekas di pikiran Nisreen Kalula Attar. Jemari gadis itu menyentuh pelan bibirnya sendiri, lalu tersenyum seperti orang gila.
Ia dan Rishtan kembali ke rumah pada pukul dua malam. Dengan modal tangkai pohon di belakang rumahnya, Nisreen bisa masuk diam-diam melalui jendela kamar. Sedangkan Rishtan hanya menunggu di depan rumahnya untuk memastikan Nisreen masuk ke dalam rumahnya dengan aman.
Di hari sabtu pukul sembilan pagi gadis ini terbangun. Malam tadi seperti mimpi indah yang tak pernah Nisreen impikan. Perasaan lega sekaligus mendebarkan masih menyelimutinya hingga pagi ini.
Ia turun dari kamarnya menuju dapur untuk mengambil buah dan memakannya. Kakinya melangkah menuju pintu rumah, dan langsung dibuat bingung dengan apa yang matanya tangkap.
Rumah Rishtan dipenuhi oleh wartawan, dan garis polisi yang mengitarinya. Jendela dan kaca di rumah Rishtan pecah. Isi rumahnya berantakan bukan main. Corolla Altis hitam yang dikendarai Rishtan dengannya tadi malam terparkir dengan kaca yang pecah serta coretan kata-kata kasar di badan mobilnya.
Nisreen tak bisa mencerna apa yang ia lihat sekarang. Tadi malam laki-laki itu masih baik-baik saja.
Kemunculan Nisreen di depan rumahnya memancing para wartawan dan menghampirinya.
“Apakah saudari tahu bahwa ini tempat tinggal istri simpanan pengusaha kaya Tjahya Tanutama?”
“Benarkah putra dari istri simpanan Tanutama tinggal di sini?”
“Apakah saudari tahu tentang anak haram dari Tjahya Tanutama yang bernama Rishtan Tanutama?”
Kepala Nisreen hampir pecah mendengar serbuan pertanyaan yang ditumpahkan pada dirinya. Ia hampir panik, namun ayah angkatnya buru-buru menarik Nisreen agar masuk ke dalam rumahnya.
“Maaf, kami tidak mengetahui apapun. Terima kasih. Selamat pagi.” potong ayah angkat Nisreen pada wartawan seraya membawa Nisreen masuk ke rumahnya.
Sang ayah menutup pintu rumahnya rapat-rapat dan menguncinya. Ibu angkat Nisreen menggelengkan kepalanya, “Mereka akan terus melarikan diri, karena terror yang diberikan oleh istri sah nya tak akan pernah berhenti.” gumamnya pelan.
Ayah angkat Nisreen menghela napasnya, “Sudah lihat beritanya, kan? Ini karena Tjahya Tanutama hendak mempublikasikan anak dari istri simpanannya itu pada publik. Tentu istri sahnya tidak terima, karena ia hanya mau Tanu Company dipegang oleh anaknya.”
Nisreen yang masih berdiri di balik pintu mematung mendengar obrolan singkat kedua orang tua angkatnya. Lutut kakinya mendadak lemas, dan ia jatuh terkapar. Tangisannya pecah tiba-tiba, membuat ayah dan ibunya panik dan keheranan.
Setelah kejadian ini, Rishtan tak pernah muncul lagi di kehidupan Nisreen. Laki-laki itu tak pernah mengejeknya lagi ketika ia baru pulang dari segala kegiatan bimbelnya.
Rishtan Tanutama.
Laki-laki yang mengajarkan Nisreen bagaimana rasanya hidup meski hanya satu malam, itu menghilang, dan tak pernah kembali.
oh, i can’t see your face now if i let you go, will you come back another time? so i can look forward we’re never done, are we, babe? — Why Can’t I Have You by Gloria Laing
END.







