Mata kuliah di hari Kamis entah kenapa super duper padat. Mungkin sengaja karena di hari Jumat, hanya ada satu mata kuliah itu pun cuma 2 jam aja.
Ageana Seruni, atau yang akrab disapa Gea sudah membawa sekantong plastik nasi bungkus yang baru saja ia beli di kantin fakultas untuk makan siangnya. Yep, makan siang. Padahal sekarang udah pukul setengah enam sore. Jangan heran ya, namanya juga anak kos.
Setelah sapa menyapa teman-teman satu kelas yang ia temui di kantin, berpamitan dan menolak beberapa yang mengajaknya untuk ngopi dulu, Gea akhirnya berjalan sendirian menuju kosnya yang berjarak kurang lebih satu kilo dari kantin fakultas.
Baru sebulan pasca Gea resmi menjadi mahasiswa baru di kampus ini, dan Gea bukanlah mahasiswi yang mudah berbaur dan cepat beradaptasi. Malam-malamnya ia habiskan dengan menangis karena homesick tentu saja, dan sebetulnya ia juga merasa tidak enak karena terus melulu menolak ajakan teman-teman atau kakak tingkatnya untuk ngopi. Gimana dong, Gea memang merasa malu dan canggung terus bawaannya.
Sembari berjalan menuju kosannya, telinga Gea tersumpal earbuds, memutar lagu Won't Go Home Without You yang dipopulerkan oleh Maroon 5. Sesekali ia menganggukkan kepalanya mengikuti irama lagu.
Ah, Won't Go Home Without You ya?
Itu salah satu lagu yang selalu Yurio dengarkan. Selalu. Entah kenapa ini menjadi lagu Maroon 5 kesukaannya Yurio. Padahal, menurut Gea, lagu ini kurang ear-catching. Masih ada Payphone, She Will Be Loved, atau Maps yang lebih enak didengar telinga.
Omong-omong Yurio, sebetulnya begitu dengar lagu ini di putaran playlist-nya yang memutar acak, Gea ingin segera menggantinya. Ia malas mengingat-ingat kembali laki-laki yang berhasil membuatnya kebingungan setengah mati tanpa penjelasan.
Semenjak pertemuannya di ruang dosen, semenjak ia tidak sengaja mengirim DM aneh di Instagram Yurio, semenjak ia memiliki dan menyimpan nomor Yurio, sejak semua itu terjadi, Gea masih bingung dengan alasan yang sebenarnya mengapa laki-laki itu bersikap demikian padanya.
Apa yang salah dengan Gea sampai bisa-bisanya kala itu Yurio memutuskan hubungan kasih yang telah mereka jalin selama beberapa bulan, lalu semua akses Gea padanya ia putus begitu saja?
Instagram Gea di-remove. Bahkan sempat Gea mencari username-nya tapi tidak muncul. Entah Gea yang di-block atau Yurio yang deactivate akun Instagram-nya. Lalu nomor teleponnya ganti. Pernah suatu waktu Gea menelepon nomor Yurio yang ia punya, tapi begitu diangkat, bukan Yurio yang bicara, melainkan orang asing. Bayangin deh jadi Gea. Sampai nomor telepon Yurio udah di-recycle, Gea masih belum menemukan jawaban dari perginya laki-laki itu.
Oke, kalau alasannya kuliah, memang kenapa?
Selama ini Gea menebak-nebak, bisa jadi Yurio enggan LDR. Bisa jadi Yurio bukan tipe laki-laki yang bisa dan betah video call lama-lama, makanya ia harus memutus hubungannya dengan Gea.
Tapi apakah ada pembicaraan itu antara dirinya dan Yurio? Tentu saja tidak! Kalau ada, Gea tidak akan kebingungan seperti sekarang.
Juga, kalau memang betul alasannya karena Yurio tidak bisa menjalani LDR, kenapa semua akses Gea kepadanya diputus secara sepihak?
Semakin Gea mendengarkan Won't Go Home Without You, semakin ingin Gea berteriak di depan Yurio dan bertanya segamlang mungkin alasan kenapa laki-laki itu pergi begitu saja dari hadapannya, dan begitu muncul lagi malah bersikap biasa saja seolah tidak pernah melakukan hal jahat?
Gea berjalan pelan begitu masuk ke dalam gang tempat kosnya berada. Seraya langit mulai gelap, entah kenapa Gea merasa seperti ada orang yang mengikutinya dari belakang.
Pelan-pelan Gea lepas satu persatu earbuds yang semula ia pasang di telinganya, langsung ia lepas dan ia simpan di saku kemeja meskipun lagunya masih memutar.
Pantulan bayangan terlihat dari sebelah kiri Gea. Sore ini langit gelap karena memang sudah memasuki waktu petang, plus hujan akan turun. Lampu-lampu rumah warga masih sedikit yang menyala, makanya Gea bisa melihat bayangan tersebut, meskipun tidak begitu jelas, tapi bisa ia pastikan kalau itu terlihat seperti bayangan laki-laki yang tengah berjalan di belakangnya.
Gea enggan menoleh. Ia mempercepat langkah kakinya. Tapi tidak disangka, orang tersebut juga ikut mempercepat langkahnya. Terdengar dari suara gesekan sepatu dengan paving block yang terdengar oleh Gea.
Jujur, Gea takut setengah mati. Ia ingin berlari cepat, tapi kakinya seperti mati rasa. Ditambah angin sore yang begitu kencang membuat kulitnya merinding total.
Sampai akhirnya Gea memberanikan diri. Ia berhenti melangkah, dan seperti yang ia duga, orang di belakangnya juga menghentikan langkahnya.
Gea memejamkan matanya. Komat-kamit mengucap doa karena jujur ia takut kalau itu hantu. Tapi lebih takut lagi kalau orang sih. Mana sepi lagi!
Kepala gadis itu menoleh cepat ke arah belakang, dan ia bersiap setelah menoleh pokoknya LARI!
Tapi matanya yang semula panik refleks dan menyendu begitu melihat siapa yang berjalan di belakangnya.
Itu Yurio.
Laki-laki itu menyalakan flash dari ponselnya untuk menerangi jalan yang memang gelap ini.
Pemuda itu mengenakan kaos putih dengan kemeja flanel navy yang tidak ia kancing. Ransel hitam ia sampirkan sebelah di pundak kirinya. Rambutnya hitam, sedikit kecokelatan diterpa sinar dari lampu gang yang tidak begitu terang.
Yurio mengerjapkan matanya pelan.
"Are you okay, Ge?" tanyanya lembut.
Jantung Gea kayak mau jatuh ke tanah rasanya. Lutut perempuan itu melemas, dengan cepat ia menjatuhkan tubuhnya di jalan dan membiarkan dirinya duduk sembari memeluk totebag-nya.
Yurio dengan cepat berlari ke arah Gea. Buru-buru ia memegang pundak Gea yang kini tengah terduduk di jalan sembari mengatur napasnya yang berantakan.
"Ge, kenapa?" tanyanya. "Kamu sakit?" Yurio bertanya lagi dengan nada lembut.
Meskipun ia lemas, sebisa mungkin Gea menyingkirkan tangan Yurio dari bahunya. "Gak, gak usah." ia berusaha untuk berdiri dari duduknya tanpa bantuan Yurio, tapi ia tidak bisa. Lututnya terlalu lemas.
"Ge —"
Omongan Yurio terpotong oleh tepisan tangan Gea. Perempuan itu memejamkan matanya sejenak, sebelum akhirnya berhasil berdiri, lalu mengibaskan debu dari roknya.
"Kak Rio ngapain sih?" tiba-tiba saja Gea bertanya demikian dengan raut wajah kesal yang tergambar di wajahnya.
Yurio merenyitkan keningnya, "Kok ngapain? Aku bantuin kamu —"
"Emang aku butuh bantuan ya?" Gea memotong kembali. "Emang aku teriak minta bantuan kakak ya?" sahutnya lagi. "Kak Rio ngapain sih, kak? Bisa gak sih gak usah ganggu aku? Anggap aja aku gak ada, bisa gak sih?"
Jujur, Yurio tidak paham kenapa Gea tiba-tiba saja meledak seperti ini. Tapi deep down, Yurio tahu kenapa raut wajah Gea terlihat kesal setiap kali melihat ke arahnya.
"Ge —"
"Ngapain coba?" Suara Gea meninggi. "Kakak ngapain ada di sini, ngikutin aku, dan sok-sokan mau bantuin aku segala. Aku kapan sih bilang butuh bantuan kakak?" Gea terus bicara dengan ekspresi kesalnya. "Toh, kakak ajak melengos dan buang muka kan pas pertama kali kita ketemu di ruang dosen kemarin? Kenapa, kak? Salah apa sih aku sama kakak?"
Wajah bulat Gea yang cantik memerah seperti orang yang menahan malu sekaligus menahan amarah. Rambut hitamnya pendek sebahu, dengan bando putih yang terpasang dengan cantik. Mata bulat Gea menatap lurus pada Yurio yang kalau Yurio bisa mengartikan, rasanya kayak kena sinar laser saking tajamnya.
"Aku minta maaf —"
"Gak, ya, enggak!" Gea mengacungkan jari telunjuknya di depan Yurio. "Kakak kalau mau menghindar dari aku, gak mau ketemu aku, boleh aja. Aku gak larang kok, silahkan aja. Toh, sebelumnya udah pernah 'kan? Hapus aku dari kehidupan kakak juga 'kan kakak udah jago?" kata demi kata yang keluar dari bibir Gea yang kecil sama sekali tidak membuat Yurio goyah. Ia masih berdiri menatap perempuan ini sembari mencoba menelaah dan mencerna kata tiap kata yang Gea ucapkan.
Tubuh Yurio menegak. Ia menghembuskan napasnya pelan sembari menatap Gea lurus.
"Ini yang mau kamu obrolin?" tanya Yurio pelan.
Gea terdiam. Ia meneguk salivanya menahan gugup, lalu menatap Yurio tajam. Buru-buru perempuan itu berbalik, lalu melangkah menjauh.
Yurio masih diam di tempat yang sama menatap Gea yang berjalan menjauh dari tempatnya.
Perempuan berambut pendek itu menoleh tiba-tiba saat ia melangkah.
"Lagian elo ngapain sih ngikutin gue segala?!" seru Gea. Tiba-tiba saja ia menggunakan 'gue-elo' yang sebelumnya tidak pernah ia gunakan pada Yurio. "Lo nge-stalk gue? Lo masih mau ngejar-ngejar gue, HAH?!" suara Gea meninggi di akhir kalimatnya.
Mendengar ucapan Gea barusan, Yurio refleks merenyitkan kening. Pertama, ia bingung dengan Gea yang tiba-tiba menggunakan panggilan 'gue-elo' padahal biasanya mereka selalu 'aku-kamu'. Kedua… apa katanya? Ngikutin? Nge-stalk?
Gea masih berdiri, berbalik menghadap Yurio meskipun sekarang posisi mereka lumayan jauh. Perempuan itu menunggu balasan Yurio dari ucapannya barusan.
Tapi tiba-tiba saja Yurio menunjuk sebuah rumah berpagar hitam dengan pohon mangga besar di depannya.
"Ini kosan aku." jawab Yurio polos.
Gea mati kutu.
Eh, bentar-bentar. Jadi… Yurio tuh gak ngikutin dia? Gak nge-stalk dia? Jadi, sepanjang ia berjalan tadi, Yurio ada di belakangnya bukan karena ngikutin dia tapi… mau pulang ke kosannya?
Perempuan bersurai hitam pendek itu dengan cepat berbalik. Ia berlari menuju kosannya yang berjarak dua meter dari tempatnya berdiri. Buru-buru ia masuk ke dalam bangunan dua lantai itu, dan menutup pagarnya grasak-grusuk.
Dari tempat Yurio berdiri, ia bisa mendengar suara bantingan slot kunci pagar sampai suara sepeda yang terjatuh dari kos berpagar putih, tempat Gea tinggal.
Tidak bisa bohong, Yurio sebisa mungkin menahan tawanya melihat tingkah laku perempuan yang dulu sempat menjalin kasih bersamanya ini.
Gea tidak berubah, tetap gadis clumsy yang pemalu padahal aslinya super duper cerewet dan tidak bisa ditebak.
Yejira menoleh cepat ke sebelah kanannya. Di mana ada Samudra tengah hormat bendera di pagi yang terik ini. Sama hal dengan dirinya, sedang hormat bendera tanpa topi untuk menghalangi wajahnya yang terpapar sinar matahari langsung.
Mendengar ucapan Samudra barusan, Yejira otomatis tersulut emosi. "Loh, kok malah nyalahin gue?" seru Yejira. Masih dalam posisi hormatnya, ia maju selangkah dan memposisikan tubuhnya menghadap Samudra. "Lo sendiri kok yang dateng jemput gue, kenapa gue yang disalahin?" omelnya.
Samudra tertawa meremehkan, "Alibi." celetuknya. "Gua udah bilang kan kalo gua gak bisa jemput lu. Gua juga telat. Tapi lu malah marah-marah di telepon, akhirnya gua jemput kan. Tapi lu liat, makin telat jadinya!"
Apa sih mereka ini? Kenapa tiba-tiba ada di tengah lapangan Garuda sembari hormat bendera sih?
Yep, keduanya terlambat masuk di hari Senin ini.
Biasanya Yejira selalu diantar oleh papahnya atau memesan ojek online. Tapi sayangnya, pagi itu di rumah gak ada siapa-siapa dan driver ojek online-nya gak ada yang ambil orderannya. Senin super sial, kan?
Sedangkan alasan Samudra, karena semalaman suntuk ia menginap di rumah Hwallendra bersama dengan Ilham, Haikal, dan Eric. Bahkan ia baru pulang subuh tadi, karena mereka mengira kalau malam tadi tuh malam minggu, padahal kan malam senin!
Setelah tiba di rumah, bukannya bersiap untuk pergi ke sekolah, Samudra malah melempar tubuhnya ke atas kasur lalu membiarkan matanya terpejam. Jadilah ia telat.
Di posisinya yang super duper telat dan buru-buru, Yejira meneleponnya dan meminta untuk dijemput. Makin-makin deh Samudra telat.
Hukuman hormat bendera memang hukuman paling ringan di SMA Garuda. Syukur-syukur disuruh hormat bendera selama 45 menit, daripada dihukum suruh nyikat WC pake sikat gigi bekas? Ogah banget!
Fokus kembali pada Samudra dan Yejira yang hanya berdua berdiri di lapangan upacara. Karena hanya mereka berdua yang telat.
Yejira yang mendengar ucapan Samudra tadi refleks menoleh ke arah Samudra. Persetan hormat bendera! Perempuan itu kini berdiri menghadap Samudra, betul-betul menghadap dan tidak melakukan hormat. Sedangkan Samudra masih berdiri lurus menghadap bendera sembari hormat.
"Eh, lo dengar ya." Yejira bicara dengan nada super tegas. "Gue udah bilang sama lo, kalo gak bisa jemput ya gak usah. Tapi lo maksa gue katanya iya, tunggu aja. Bener kan gue tunggu? Kok malah nyalahin gue?!" seru Yejira.
"Lu bilang gak usah nya aja gak ikhlas sambil marah-marah, gimana gua mau gak mau jemput lu lah?" Samudra menyahut cepat semakin emosi.
Cekcok.
Baru kali ini mereka cekcok saling menyalahkan begini. Terlebih, di lapangan.
Baru kali ini baik Yejira maupun Samudra diteriakin, dimarah-marahi di lapangan seluas ini dan jadi tontonan gratis anak-anak yang seliweran.
Biasanya, 30 menit setelah upacara bendera akan ada waktu kosong. Guru-guru biasanya briefing, lalu siswa-siswi Garuda biasanya sarapan atau sekadar seliweran, dan beberapa Pengurus OSIS juga anak-anak Paskibra biasanya sibuk mengamankan dan memberi hukuman siswa yang telat.
Macam Samudra dan Yejira ini.
Entah gimana, masalahnya cuma mereka yang telat hari ini.
"Lo tuh sialan ya, Sam. Gue gak salah tapi tetep aja lo salahin." amuk Yejira. Bahkan jari telunjuknya ikut terangkat menunjuk-nunjuk Samudra.
Gak terima, tangan Samudra memegang telunjuk Yejira. "Gak usah nunjuk-nunjuk lah. Sopan dikit."
Gak kuat. Yejira gak tau lagi Samudra benar-benar jadi semenyebalkan ini.
Baru saja gadis ini hendak mendorong tubuh Samudra, buru-buru Yejira ditarik oleh Abian. "Udah, udah. Jangan berantem." tenangnya.
Sedangkan salah satu anak Paskibra yakni Bayu dengan cepat menarik Samudra.
"Ck, apasih. Lepas!" sungut Yejira mencoba meronta dari cengkraman Abian.
"Ra, ini di lapangan. Daritadi kalian jadi tontonan anak-anak." ingat Abian masih dengan bahasanya yang halus.
Abian menolehkan pandangannya pada Samudra. Belum juga Abian membuka mulutnya, udah duluan diserobot sama manusia jangkung ini.
"Apa? Lu mah bakal tetep belain cewek lu kan meskipun dia salah? Tolol." maki Samudra.
Mendengar Samudra bicara demikian pada Abian, gadis bersurai hitam ini mencoba kembali melepas cengkraman tangan Abian dari tangannya.
"Eh jaga ya mulu lo!" teriak Yejira.
Samudra balik berteriak, "Fakta, Ra. Udah kek, gak usah kayak bocahㅡ"
"Lu yang kayak bocah!"
Bukan Yejira, melainkan Abian Sadajiwa yang barusan membentak Samudra.
Ini pertama kali kayaknya bagi Samudra di teriaki oleh orang asing yang gak kenal dia sama sekali. Cuma tau nama.
Kepalang emosi, Samudra yang hilang kendari mendorong tubuh Abian yang ada di depannya. "Apa maksudnya lu teriakin gua, bangsat?!" seru Samudra tersulut emosi.
Tangan Samudra dengan cepat meraih dan mencengkram kerah seragam putih Abian.
Bayu hampir menyerah.
Tapi buru-buru ia menyumbul di tengah-tengah Samudra dan Abian sebelum mereka baku hantam. "Udah kek bego, diliatin lu berdua sama satu sekolah!" pekik Bayu.
Samudra melepaskan cengkramannya dari kerah seragam Abian dengan cara menghempaskannya. Tanpa peduli apa-apa lagi, pemuda jangkung itu pergi meninggalkan lapangan. Entah kemana.
Sedangkan Yejira yang sedaritadi bersembunyi di belakang tubuh Abian hanya diam. Sampai akhirnya Samudra berlalu, dan air matanya tiba-tiba menyeruak.
Sialan, Samudra. Sampai membuatnya menangis cengeng seperti sekarang. Pikir Yejira.
Sejak kejadian cekcok kemarin, rame deh desas-desus cekcok mereka di akun gosip Garuda.
Suasana kelas juga jadi ancur. Terbagi dua kubu antara para cewek dan para cowok. Padahal biasanya gabung-gabung aja. Tiap kali Ilham dan Eric mencoba menghangatkan suasana, pasti gagal. Selama dua minggu itu, suasana kelas beneran kayak rumah tak berpenghuni. Bahkan sampai di hari ulang tahun Saluna.
Gadis cantik ini merayakan sweet seventeen-nya dengan party yang dipastikan akan super duper fancy. Duit lancar sih, pastilah the best.
Ilham dan Samudra menerima undangan dari Saluna dan Hwallendra yang katanya sih mau ke kantin buat membagikan undangan. Gila, ini udah kayak pasangan kerajaan aja ke mana-mana berdua.
"Harus dateng berdua, Sam." celetuk Ilham yang tengah membaca undangannya.
Samudra yang gak minat dan sedaritadi hanya menyandarkan wajahnya di atas meja menggerakkan bahunya tak peduli.
"Gua sama lu." sahutnya.
"Palelu sama gua?! Harus berpasangan. Laki ama cewek." sentak Ilham.
"Lah kalo pasangannya laki juga?" tanya Samudra pada Ilham. Laki-laki itu diam sebentar, mikir.
"Ajak emaknya." sahut Ilham. "Gak mungkin dong kalo emaknya laki?"
Samudra menghela nafasnya, "Tau ah, gak dateng gua."
"Ah lu mah sama anak kelas juga." Ilham refleks mendorong pelan bahu Samudra. "Tuh ajak Yejira kek baikan lu berdua." seru Ilham.
Samudra hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali menyandarkan wajah di atas meja.
Sebenarnya mau dia baikan sama Yejira, cuma gengsi. Yang duluan marah kan dia, kalau dia yang minta maaf gengsi parah.
Sampai akhirnya di saat pulang sekolah, ketika Ilham udah duluan cabut hanya tersisa dirinya dan Yejira yang tengah piket sore.
Baru juga Samudra hendak beranjak dari kursinya, Yejira iseng menyapu kolong meja Samudra sampai sengaja mengenai sepatu pemuda itu.
"Minggir, mau disapu." sungut Yejira.
Samudra mengerutkan keningnya, "Nyapu yang bener." serunya.
"Ih bodo amat, gue ini yang nyapu. Suka-suka gue." sahut Yejira gak mau kalah.
Samudra iseng mendorong kening Yejira dengan telunjuknya. Refleks, Yejira menegakkan tubuhnya lalu ancang-ancang hendak memukul bahu Samudra.
"LO TUH!" pekiknya.
"APA?" Samudra gak mau kalah.
Keduanya terlihat seperti sedang menahan amarah, padahal keduanya sama-sama ingin berinteraksi lagi.
Samudra akhirnya lebih dahulu mengambil alih. Pemuda itu menyimpan sapu yang dipegang Yejira, lalu mengulurkan tangannya ke hadapan Yejira.
"Gua minta maaf." ucap Samudra.
Ia sibuk menggigiti bibirnya karena sebenarnya ia malu bicara seperti ini di depan Yejira Titania.
Yejira tak langsung menyambut uluran tangan Samudra. "Ngapain minta maaf, emang lo salah apa?" sarkasnya.
Samudra semakin merasa dipojoki.
Ia gusar menggaruk kepalanya, "Itu, Ra. Soal kita yang berantem." jawab Samudra. "Hormat bendera, gua ngatain Abian, nyalahin lu juga." lanjutnya mendikte apa saja kesalahan yang telah ia buat.
Yejira sebenarnya udah gak karuan mau ketawa terbahak-bahak lihat ekspresi Samudra yang terlihat amat sangat bersalah. Lucu banget kayak anak kecil lagi belajar minta maaf dan mengakui kesalahannya.
Gadis ini hanya menganggukkan kepalanya, lalu menyambut uluran tangan Samudra dalam sejenak.
"Oke." ujar Yejira, kemudian berlalu menuju mejanya.
Samudra membalakkan matanya, "Udah, gitu doang?" serunya.
Yejira mengangguk, "Lah emang mau ngapain lagi?" balas gadis ini.
Pemuda bersurai hitam ini berdecak sebal, "Btw, Ra. Lu ke party-nya Saluna sama siapa?"
"Abian." jawab Yejira cepat.
Mata Samudra membalak, "DEMI?!" sentaknya.
"Iya. Tadinya lo mau ngajak gue ya?" ledeknya usil. "Makanya lo minta maaf?"
Ketauan, Samudra menggelengkan kepalanya cepat. "Kagak, kagak. Pede lu!" sahut Samudra. Ia memutar bola matanya sebal. "Freak." maki pemuda itu.
Yejira tak membalas apa-apa. Ia malah melengos keluar kelas, "Gue mau obral ah ke cewek-cewek, siapa yang mau jadi pasangannya Samudra." ledek Yejira.
Samudra panik. Pemuda itu langsung ikut berlari mengejar Yejira.
"RA, EH JANGAN GITU!"
Yejira Titania berlari mendahului Samudra Noa Salendra yang tengah berlari mengejarnya di belakang.
Hari ini bisa dibilang menjadi hari paling bahagia bagi Yejira karena hari ini pertama kalinya bagi gadis bersurai panjang ini bertemu dan menjalin suatu awal hubungan dengan seorang pemuda.
Istilahnya, PDKT deh.
Senyum sumringah terukir di wajah Yejira sore ini.
Sembari mengipas-ngipas undangan birthday party-nya Saluna, ia berjalan cepat hendak mendatangi kelas seseorang di basis MIPA.
Tapi langkahnya langsung berhenti begitu ia melihat pemuda yang ia tuju tengah bercengkrama dengan gadis lain.
Bukan, bukan itu yang membuat Yejira terpaku diam. Melainkan mereka berdua seperti tengah bercakap-cakap mengenai birthday party-nya Saluna dan berencana untuk berangkat bersama sebagai pasangan.
Samudra yang baru saja sampai setelah mengejar Yejira yang semangat bukan main ketika hendak turun tangga, langsung menegakkan tubuh jangkungnya.
Alis Samudra berkerut, "Kok?" gumamnya pelan begitu pemuda yang kini menjadi spesial di mata Yejira tengah asyik bercengkrama.
Yejira sama sekali tak bersua. Gadis bersurai hitam pekat ini hanya diam menatap sang pemuda dengan tatapan yang tak bisa dimengerti.
Berbagai spekulasi muncul di kepalanya. Ingin berpikir positif, namun pikiran negatif selalu mengiming-iminginya.
Setelah gadis yang tadi tengah mengobrol dengan pemuda yang ia tunggu pergi menjauh untuk pulang, tiba-tiba saja tubuh Yejira tersenggol Samudra yang tiba-tiba melangkah cepat.
Pemuda dengan surai pekat itu langsung mendorong si pemuda ke tiang.
"Bangsat juga ya lu!" pekik Samudra gak pakai pikir dua kali.
Beberapa pasang mata dari siswa dan siswi Garuda yang hendak pulang langsung fokus pada kedua remaja ini.
Si pemuda, Abian Sadajiwa yang merupakan seorang Ketua OSIS SMA Garuda ini mengerutkan keningnya.
Bingung kenapa tiba-tiba ia dipojokkan oleh Samudra, dan menahan sakit di bahunya yang terbentur tiang. "Maksudnya apa?" Abian bertanya dengan nada agak tinggi pada Samudra. Sakit soalnya bahu dia terbentur.
Tak disangka, Samudra malah semakin kepalang emosi. Ia mencengkram kerah kemeja putih Abian, bahkan hampir mengangkat Abian dari pijakkannya.
"Kalau niat lu cuma mau nyakitin Yejira, lu seharusnya gua abisin dari awal." gumam Samudra pelan sembari menatap Abian intens dengan tajam.
Abian semakin tak mengerti maksud perkataan Samudra barusan apa sampai akhirnya, ia menolehkan kepalanya dan Yejira yang berada di fokus matanya.
Gadis dengan raut wajah dingin ini balik menatap Abian tajam.
"Abisin aja." sahut Yejira. Kemudian ia memutar tubuhnya dan berjalan menuju gerbang depan tanpa basa-basi lagi.
Mulut Abian hendak terbuka. Ia ingin memanggil Yejira supaya mau mendengarkan perkataannya terlebih dahulu.
Tapi cengkraman Samudra dari kerah bajunya membuat ia lebih dahulu bernafas lega dan sama sekali tak jadi melangkahkan kakinya untuk mengejar Yejira.
Samudra juga sama. Hal yang ingin dilakukan Abian untuk mengejar Yejira kini dilakukan oleh Samudra yang tanpa aba-aba lagi langsung mengejar gadis bersurai gelap yang semakin menjauh.
Pemuda ini tersedak minumannya sendiri ketika gadis dihadapannya bicara demikian.
"Hah?" pekik Samudra. "Jangan bilang lu gak mau datang?" sahut pemuda ini to the point.
Yejira Titania menganggukkan kepalanya, "Iya lah, gila ya lo kalau gue datang terus ketemu sama si bangsat tadi?" maki gadis ini kesal.
Entah kenapa, tiba-tiba saja Samudra tersenyum puas ketika Yejira memanggil Abian dengan sebutan 'si bangsat'. Padahal sebelumnya, gadis ini selalu memuja-muja Abian Sadajiwa, si Ketua OSIS SMA Garuda.
Ujung bibir Samudra yang terangkat membuat fokus Yejira teralihkan.
"Lo ngapain senyum-senyum?" tanyanya.
Samudra menggelengkan kepalanya, "Enggak," gumamnya. "Gua seneng aja lo manggil dia dengan sebutan 'si bangsat'. Emang nyatanya bangsat, 'kan?"
"Eh tapi dateng lah, ini acaranya Saluna loh, bukan orang lain." Samudra masih mencoba mengajak Yejira untuk ikut.
Yejira berdecak pelan, "Sama siapa, coba? Kan harus berpasanganㅡ"
"Sama gua, lah!" Sahut Samudra cepat.
Omongan Yejira tadi sampai dipotong oleh pemuda itu. Pemuda ini mengerjap-ngerjapkan matanya. Sadar bahwa volumenya saat bicara tadi amat sangat tidak wajar.
"Sama gua." ulang Samudra meyakinkan Yejira. Nada bicaranya agak rendah sekarang.
Kening Yejira berkerut, "Lah, bukannya lo sama Ilham udah janjian nekat dateng sendiri ya?" tanya Yejira.
Samudra menggelengkan kepalanya, "Iya tadinya, tapi si Ilham dapet free pass karena dia pengisi acaranya. Jadi boleh sendirian dia."
Gadis ini mengangguk paham, "Yah, gagal dong gue melihat pasangan sesama di birthday party-nya Saluna?"
"Pasangan gundulmu!"
Yejira terkekeh mentertawakan sungutkan lebay Samudra yang tak terima disebut sebagai pasangan dengan Ilham.
Sampai akhirnya tawa Yejira mereda, dan gadis itu hanya menundukkan kepalanya diam.
Nafas Samudra terhela begitu berat begitu melihat sahabatnya ini tiba-tiba saja berubah seratus delapan puluh derajat menjadi seperti perempuan pada umumnya ketika patah hati.
Iseng, tiba-tiba saja sebuah pecahan es batu kecil mendarat di kening Yejira yang tak tetutup poni rambut.
Samudra Noa Salendra kini tengah mengacungkan sedotan di depan Yejira.
"JOROK, BEGO!" maki Yejira kesal. Tentu saja, ini es batu dari mulut Samudra!
Tak menghiraukan makian Yejira, Samudra malah kembali mengunyah es batu di mulutnya sampai kecil, lalu ditiupkannya lewat sedotan. Ia heboh sendiri begitu satu tembakan es nya kembali mendarat di wajah Yejira.
"Wah gila, udah jago gua!" pekiknya bahagia. Kemudian ia mengambil es batu dari gelasnya dan menyodorkannya pada Yejira. "Susah loh ini, lama gua belajarnya juga." dia pede menjelaskan, padahal Yejira gak tanya. "Nih, lu kunyah sampai kecil-kecil, terus lu tiup pake sedotan." suruh Samudra sembari menyodorkan gelas soda yang banyak batu es nya di gelasnya Yejira.
Perempuan itu menggelengkan kepalanya, "Apaan sih, Sam? Jorok banget, bego sumpah. Jijik ih!" pekik gadis ogah.
"Tsk, elah. Coba dulu, nanti kita perang. Yang kalah beliin satu steakhouse barbecue."
Mata Yejira langsung berbinar, "Steakhouse barbecue plus sundae." sahutnya. "Deal?"
"Deal!"
Petang itu, di lantai dua restoran cepat saji ini mereka tertawa sembari sesekali kata makian keluar dari mulut mereka.
Satu orang tengah mencoba membuat seorang yang paling berarti di hidupnya untuk tersenyum, satu orang lagi tengah mencoba menutupi lukanya yang entah akan tertutup atau tidak.
Yejira tak akan pernah tahu bahwa sikap bodoh Samudra di hadapannya adalah demi membuat ujung bibirnya kembali terangkat.
Yejira Titania, dengan dress burgundy selututnya ini menyipitkan matanya begitu Samudra tengah berbicara kepadanya.
"SIAPA????" pekik Yejira sembari menunjuk-nunjuk Samudra. Sedangkan ditangan kirinya tengah memegang gelas yang sudah Samudra yakini adalah whiskey. Dari baunya sih begitu.
Sweet seventeen-nya Saluna diadakan di salah satu club ternama ibukota. Ini kayaknya satu tempat beneran disewa sih. Abis yang daritadi nyapa Samudra orangnya gak asing. Kalau gak alumni, ya murid SMA Garuda.
Duh, jangan sampai ketahuan guru deh, baru juga tujuh belas tahun, ckckck.
Di tangan Samudra cuma ada orange juice. Dia gak akan mau minum tentu saja karena dia bawa kendaran sendiri ke sini bareng Yejira juga. Kalau ikutan minum, gak bisa pulang dia.
Samudra mengambil gelas yang dipegang Yejira kemudian menciumnya. Shit, benar saja. Ini whiskey.
"Lu katanya gak mau minum nemenin gua?" ujar Samudra.
Yejira yang setengah sadar menggelengkan kepalanya, "Enggak kok, ini tuh orange juice tau. Ilham yang ngasih." jelas Yejira.
Pemuda ini menghela nafasnya. Kalau udah Ilham yang ngasih pasti gak bener.
Masih dipegang Samudra, Yejira mengambil kembari gelasnya lalu meminumnya lagi sampai habis.
"Mau ke Ilham lagi ah gue, mau orange juiceeeee!" pekik Yejira.
Buru-buru Samudra merangkul gadis ini keluar.
"Udah gak bener lu, ayo pulang." ucap Samudra.
Beneran, Samudra membawa Yejira pulang karena sekarang udah jam satu malam, dan anaknya udah gak jelas kayak sekarang.
Sembari terus menyetir, playlist Spotify Samudra terus menyala acak. Sesekali Yejira marah-marah sendiri gara-gara lagunya gak dia tau, atau ikut enjoy menikmati.
Sampai akhirnya intro lagu milik Jason Mraz berjudul Lucky itu terdengar, baru saja hendak Samudra ganti, Yejira lebih dulu mengangkat tangannya.
🎶
Do you hear me? I'm talking to you
Across the water across the deep blue ocean
Under the open sky, oh my, baby, I'm trying
🎶
"Jangan ganti." serunya.
Samudra menginjak rem Accord hitam milik papahnya ini begitu lampu lalu lintas menunjukan warna merah.
🎶
Boy, I hear you in my dreams
I feel your whisper across the sea
I keep you with me in my heart
You make it easier when life gets hard
🎶
Ia melirik ke arah Yejira yang bergumam sendiri menyanyi mengikuti penyanyinya.
🎶
Lucky I'm in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
🎶
Ah, kenapa liriknya begini sih?
Gak bisa dipungkiri, gadis di sampingnya ini memang bukan seorang gadis yang sudah mengenalnya selama bertahun-tahun. Hanya teman satu kelas yang bahkan pertemuan pertama mereka pun tak berkesan dengan baik.
Yejira Titania selalu menunjukan sisi yang sebenarnya di depan Samudra. Begitupun dengan Samudra.
Hanya saja ada satu yang Samudra sembunyikan dari awal mereka menjadi dekat seperti sekarang. Bahwa ia telah jatuh cinta pada Yejira Titania, sahabatnya sendiri.
Entahlah, ketika ia mencoba untuk berpikir bahwa ia tidak mencintai sahabatnya ini, malah semakin membuatnya kepikiran dan akhirnya pusing sendiri.
Selama ini yang ia lakukan hanyalah menyimpannya rapat-rapat dari Yejira. Gadis itu tak boleh tahu. Sampai kapanpun.
"Gua suka deh lagu ini." gumam Yejira pelan.
Lampu hijau. Mobil hitam ini kembali melaju di tengah-tengah padatnya malam kota. Heran, udah jam satu malam padahal.
Samudra tak menanggapi gumaman kecil sahabatnya ini.
"Sam," panggil Yejira.
"Apa?" sahutnya.
"Jangan pulang, yuk?"
Ajakan Yejira barusan refleks mendapat toyoran gratis dari Samudra.
"Lu gila ya?" maki Samudra.
Yejira otomatis mengerucutkan bibirnya, "Ayolah, kapan lagi coba kita main sampai jam segini?" rayunya kekeuh.
Samudra tetap menggelengkan kepalanya. "Pulang, Ra. Lu udah acak-acakan begini juga." omel Samudra gak kalah kekeuh.
Akhirnya Yejira nurut dan hanya diam sepanjang perjalanan. Sesekali meracau tak jelas, entah menyanyi mengikuti lagu yang terpasang entah bicara yang aneh-aneh.
Sesampainya di depan rumah, Samudra langsung turun terlebih dahulu untuk membukakan pagar rumah Yejira yang terlihat sepi.
Tak lama, seorang wanita empat puluh tahunan keluar dengan daster batik khasnya yang sudah familiar di mata Samudra.
"Loh, Kak Ira nya mana, mas?" tanya si Ibu.
Bu Tinu yang sudah bekerja dengan keluarga Yejira Titania datang menyambut membukakan pagar. Beliau kayaknya sedia 24/7 ngurusin gadis berwajah dingin ini.
Ayahnya merupakan seorang duda. Ditambah selalu sibuk dengan pekerjaannya dan pulang ke rumah selama seminggu bisa cuma sekali. Maka mau gak mau, peran Bu Tinu disini bahkan udah jadi Ibu benerannya Yejira ketimbang pembantunya.
Samudra yang tengah membuka pagar langsung menegakkan tubuhnya.
"Bu Tinu, bukain kamarnya Yejira aja. Dia tidur, kasian kalau dibangunin. Biar Samudra gendong." info Samudra.
Bu Tinu mengangguk, "Oh, iya iya." sahutnya sembari ngacir langsung ke lantai dua.
Nyusahin? Emang.
Samudra yang kini hendak membawa Yejira yang sudah wasted sesekali terkekeh mendengarkan gumaman kecil dari mulu sahabatnya ini. Aduh, gak lagi-lagi deh biarin Yejira minum. Toleransi alkoholnya ancur.
"Sam, mau kebab tau." gumam Yejira random.
Iseng, Samudra mendorong pelan kening Yejira lalu membawanya menuju kamar.
Jangan tanya berat atau enggak, tentu saja jawabannya berat. Masalahnya, dia harus naik tangga. Tapi gak apa-apa deh, sesekali.
"Sam, mau lasegar tau." lagi-lagi Yejira bergumam random ketika ia sudah terbaring di atas kasur.
Bu Tinu langsung turun hendak menyiapkan minum untuk Samudra, sedangkan pemuda ini masih duduk di sisi kasur Yejira. Netranya memperhatikan bagaimana wajah Yejira Titania yang udah memprihatinkan ini.
"Gak ada romantis-romantisnya sama sekali gua mandangin lu yang udah begini, Ra." gumam Samudra pelan.
Tak disangka, Yejira malah menyahuti.
"Iya, lo gak romantis." sahutnya pelan.
Samudra gak sama sekali panik. Iyalah, besok juga lupa dia.
"Nanti kalo gua romantis, lu jatuh cinta lagi." ejek Samudra pede.
Yejira menggelengkan kepalanya, dengan matanya yang setengah terpejam. "Enggaklah! Kan yang lo duluan yang jatuh cinta sama gue."
Mata Samudra membalak begitu Yejira berkata demikian.
Bener, Ra. Gua duluan yang jatuh cinta sama lu. Hendaknya Samudra ingin berkata begitu. Namun ia hanya terkekeh lalu kembari mendorong kepala Yejira; kesukaannya.
Ketika Samudra hendak bangun dan pamit pulang, Bu Tinu muncul dengan nampan yang berisi minum dan kue-kue.
"Loh, mas Samudra mau kemana? Gak nginep aja dulu di sini, ini kemaleman loh?" tanya Bu Tinu. "Nanti saya bereskan kamar tamunya."
Samudra menggeleng, "Gak usah, Bu. Besok juga Samudra ke sini lagi." ujarnya ramah. Ia kemudian berpamitan pada Bu Tinu. "Pamit ya, Bu."
Di kelas 12 ini, baik Yejira maupun Samudra sama-sama menghabiskan waktunya untuk belajar, belajar dan belajar. Bahkan ketika jam kosong, biasanya mereka akan berbincang seputar gosip terkini.
Namun sekarang, wangsit yang tebalnya kebangetan itu ada di tengah-tengah mereka.
Yejira yang tengah mengisi soal-soal dibukunya menoleh cepat sembari melepas sebelah earphone nya.
"Iya." jawabnya singkat. "Gue gak menemukan passion gue di jurusan lain." lanjut Yejira.
"Emang ini passion lu?" tanya Samudra.
"Gak juga sih, abisnya bingung gue mau ambil jurusan apa." jawab Yejira seadanya.
Samudra mengangguk paham. Ia pun sama seperti Yejira, tengah mengerjakan beberapa soal dibuku latihannya.
Pemuda itu berdeham sejenak. Tapi Yejira masih fokus dengan bukunya. Demi apapun, ia ingin mengatakan ini pada gadis bersurai hitam yang duduk disamping nya ini. Bahwa setelah mereka lulus, peluang mereka untuk bertemu akan sangat sulit karena Samudra akan berkuliah di luar negeri.
"Ra," panggil Samudra.
"Hm?" Yejira berdeham pelan.
Bibir Samudra menipis, "Gua sebenarnya dapat beasiswa." ucap pemuda ini pelan. "Gak fully funded sih, tapi begitu gua tanya ke nyokap katanya ambil aja."
Yejira langsung melepas kedua earphone dari telinganya. Bahkan sampai meletakkan pulpennya di atas buku. Fokusnya sudah tertuju pada Samudra yang kini memasang wajah tegangnya.
"Beasiswa? Di mana?" tanya Yejira.
"Jepang." jawab Samudra cepat. "Udah lama, tapi gua baru berani bilang sekarang."
Yejira menganga kaget. Ia benar-benar gak tahu kabar ini sebelumnya.
"Demi apa lo beasiswa di Jepang? BEASISWA?!" jerit Yejira.
Panik karena suara Yejira terlalu kencang, Samudra refleks memajukan tubuhnya sembari menutup mulut Yejira dengan tangannya.
"Ck, jangan teriak-teriak!" pekik Samudra. "Kan tadi udah gua bilang, gak fully funded. Sampai 3 semester awal aja, sisanya ya mandiri."
Gadis bernama lengkap Yejira Titania ini langsung menepis tangan Samudra yang menutupi mulutnya.
"Demi apa lo gak bercanda kan?" tanya Yejira lagi. "Apa sih, boong ya?"
Samudra berdecih, "Ngapain gua bercanda sih, elah."
Gak tau lagi. Yejira Titania udah senang bukan main begitu dengar sahabatnya ini dapat beasiswa. Meskipun gak fully funded, tetap saja membanggakan!
Bel pulang sekolah berdering.
Samudra yang baru saja hendak keluar kelas duluan, langsung ditahan oleh Yejira.
Pemuda itu menoleh, "Apaan?" tanyanya.
"Beli kebab yuk?"
Senyum Samudra mengembang.
"Yuk!"
Masih di depan Alfamart waktu itu. Dengan dua porsi kebab dan dua kaleng lasegar yang berada di atas meja.
Samudra dan Yejira.
Keduanya berbincang-bincang mengenai apa saja. Entah tentang dunia perkuliahan yang sebentar lagi akan mereka laksanakan, tentang masa putih abu-abunya yang sebentar lagi akan usai, dan sebagainya.
"Sam," panggil Yejira.
"Hm?" sahutnya.
"Kita hebat ya, bisa menghancurkan opini tua di masyarakat perkara persahabatan lawan jenis." ujar Yejira.
Sembari mengunyah kebabnya, Samudra fokus memperhatikan Yejira sembari menunggu kalimat berikutnya yang hendak gadis itu katakan.
"Katanya, persahabatan antara laki-laki dan perempuan itu gak ada yang murni kan? Pasti ada aja yang baper duluan." lanjut Yejira. "Tapi nyatanya kita enggak, tuh?"
Samudra refleks terkekeh. Menertawakan ucapan Yejira juga menertawakan dirinya sendiri.
Sebenarnya, jika Samudra harus jujur, ia jatuh cinta pada Yejira Titania. Tapi entahlah, ada sesuatu yang membuatnya tak akan pernah mengatakan hal itu pada gadis di hadapannya.
Yejira bukan gadis yang super duper cantik atau bahkan super duper menggemaskan. Ia hanya gadis yang terlihat cuek, padahal tidak sama sekali. Gadis iseng yang suka membuatnya marah atau kesal. Gadis yang kadang lebih menyebalkan dari Ilham di kelas.
Hanya saja Yejira tak tahu.
Yejira tak akan pernah tahu bagaimana perasaan Samudra terhadapnya. Sampai kapanpun, Samudra sudah berjanji pada dirinya sendiri.
Gadis bersurai hitam legam itu memukul pelan lengan Samudra.
"Kok ketawa sih?" sungutnya.
Samudra menggeleng, "Gak apa-apa, cuma bener aja kalimat lu tadi. Di antara kita berdua gak ada yang baper." alasan Samudra.
Setelah menyeruput minumannya, Yejira menghembuskan nafasnya pelan, "Gila, kita keren banget ya, Sam?" gumam Yejira tiba-tiba.
"Iya." ujar Samudra pelan.
Mata sipit Yejira tiba-tiba malah menatapnya seolah tengah mengintrogasi, "Tapi beneran kan lo gak baper sama gue?"
Iseng, Samudra mendorong pelan kening Yejira, "Yeee, buyut gua tuh yang baper sama lu."
"Idih, orang gila."
"Lu."
Bohong. Samudra berbohong. Hanya berbohong yang bisa Samudra lakukan daripada harus bicara jujur, dan kemungkinan buruk yang akan ia dapatkan.
Ia enggan jauh dari gadis ini.
Setidaknya, ia enggan seperti dulu di saat kelas 11 dimana ia dan Yejira bertengkar hebat. Ia hanya ingin menjadi satu-satunya pria yang ada di belakang Yejira ketika gadis itu membutuhkannya.
Keberangkatan Samudra menuju Jepang adalah hari ini, sesudah Yejira Titania melaksanakan SBMPTN. Samudra tak mengikuti SBMPTN lagi karena beasiswa nya di Jepang sudah yakin akan ia ambil.
Jangan tanya bagaimana sedihnya Yejira Titania yang sedaritadi enggan melepas cengkramannya pada ujung hoodie Samudra.
"Lo gak usah pulang deh." ledek Yejira. "Jadi fosil aja lo sana di Jepang." Tapi matanya berair, dan tangannya enggan lepas mencengkram hoodie Samudra.
Mami Samudra terkekeh mendengar ledekan Yejira. "Nanti tau-tau Mami punya menantu orang Jepang lagi ya, Ra?" sahutnya ikut meledek Samudra.
Samudra berdecak sebal, "Mi, ah gak lucu." rengeknya.
Yejira terkekeh, "Wah, tante berarti dapet PR nih harus belajar bahasa Jepang." ejek Yejira lagi.
"Waduh, gak ah. Otak tante udah gak cukup, Ra. Mau nya yang lokal-lokal aja." Mami Samudra kembali menjawab.
Mendengar sahabat dan maminya malah memojokannya, Samudra hanya terkekeh meskipun agak sebal juga karena dia yang dipojokin.
"Ra," panggil Samudra.
"Apa?" sahutnya.
Samudra terkekeh sejenak begitu melihat wajah Yejira yang awut-awutan gak jelas. Basah karena daritadi air matanya enggan berhenti mengalir.
"Eh, lu berhenti kek nangisnya jelek banget sumpah." ejek Samudra.
Semakin dikata macam itu, semakin tangisan Yejira jadi pecah.
Di Bandara siang ini.
Raut wajah mumet Yejira sehabis menghadapi soal SBMPTN tergantikan oleh wajah super duper menyedihkan. Setidaknya dipandangan Samudra.
Iseng, Yejira malah menarik lengan Samudra lalu menjadikan lengan pemuda jangkung tersebut untuk menghapus airmata serta.... ingusnya.
Sadar dengan yang dilakukan Yejira, Samudra menarik langsung lengannya. "Jorok, Ra!" pekiknya.
"Lo tuh romantis dikit kek, ini gue mau di tinggal jauh juga." komentar Yejira.
Samudra menghela nafasnya. Ia tersenyum kecil sebelum akhirnya ia menjulurkan tangan untuk menarik Yejira ke dalam pelukannya. Membuat gadis ini membenamkan wajah di dada Samudra.
"Jangan nangis." bisik Samudra pelan. Telapak tangannya refleks menepuk-nepuk pucuk kepala Yejira pelan. "Nanti pulang kok, gua janji gak akan jadi fosil di Jepang."
Semakin deras tangisan Yejira.
Tentu saja. Banyak hal yang sudah mereka lakukan bersama. Hal-hal gila, hal-hal yang tak terbayangkan sebelumnya, dan sebagainya. Bahkan Yejira tak terpikirkan sebelumnya bahwa pemuda ini akan menjadi sahabatnya entah sampai kapan.
Masa putih abu-abunya pun tinggal diujung tanduk. Kehidupan yang sebenarnya akan ia lalui di sini.
Meskipun tanpa Samudra.
"Baik-baik ya di sana." ujar Yejira.
Samudra mengangguk, "Iya, siap."
"Belajar yang rajin, jangan makan sembarangan. Kalo ada yang jual kebab, bilang gue." lanjut Yejira.
Pemuda ini terkekeh, "Iya, Raaa." sahutnya lagi.
Mata Samudra menatap Yejira, seorang gadis yang sudah mewarnai kehidupan SMA nya. Tak apa jika di akhir kisahnya nanti, ia tidak akan bisa memiliki gadis bersurai gelap itu.
Selama ia bersama Yejira, Samudra jadi menemukan cara lain untuk mencintai seseorang selain memilikinya. Yakni menjadi seorang sahabat yang selalu berdiri di belakangnya.
🎶
I'm lucky we're in love in every way
Lucky to have stayed where we have stayed
Lucky to be coming home someday
🎶
*** check Pancaka Mantra: Guide Book first if you're still confused about the face claims.
"Al, ke rumah Dirga lah. Mumpung Gafian bisa nih."
Parkiran motor SMA Garuda ramai dipenuhi siswa-siswi yang tak sabar ingin pulang ke rumah. Termasuk Samuel David Bagaskara yang kini tengah duduk asal di dekat motor yang berjejer di parkiran sekolah. Entah motor siapa yang ia duduki, karena Samuel sih bawanya Honda Civic Turbo men, bukan Honda Beat.
"Jam berapa?" tanya Alfan yang kini hendak memakai helmnya. Ia baru saja datang dari kelas, dan bersiap untuk pulang ke rumah.
“Sembilan aja, kayak biasa.” jawab Samuel.
Alis Alfan terangkat, “Nginep lagi nih?”
“Atuh hayu. Dirga juga hayu aja.” Samuel langsung setuju. “Tapi gua mau keluar dulu, ada urusan bentar.” cerocos Samuel.
Tak lama seorang gadis dengan jaket maroon itu berjalan mendekat ke arah motor Alfan. Ujung mata Samuel menyadarinya. “Agak telat tapi ya?” tanya Alfan. “Kagak yakin dateng jam sembilanan gua.”
Kening Samuel berkerut, “Ngapa dah?” tanyanya.
“Nih, minta anterin ketemu lakinya ntar malem.” Alfan menunjuk Ratu yang sudah berdiri di dekat motor Alfan dengan dagunya.
Merasa sedang jadi bahan pembicaraan, Ratu melirik ke arah Alfan lalu Samuel secara bergantian sembari menyimpan telunjuk dan ibu jarinya di dagu, berpose ala-ala.
“Tai, yang pacaran siapa, yang antar jemput siapa.” celoteh Alfan sembari mengeluarkan motornya.
Samuel memandangi Ratu yang sedang mengancingkan helmnya. “Oh, punya pacar lu?” tanyanya pada Ratu.
“Punya lah! Ya kali Ratu Nandini gak punya pacar.” jawabnya pede. Ia mengangkat dagunya sombong.
Alfan berdecak sebal, “Pacar, tapi kagak ada effort-nya buat antar jemput.” omelnya gak henti-henti.
Kesal daritadi mendengar Alfan ngomel terus, tangan Ratu refleks memukul pelan helm Alfan. “Yeeeee, pacar gue bukan supir yang kerjanya antar jemput gue doang.” sungutnya membela diri.
Mendengar ucapan Ratu barusan, alis Alfan refleks naik, “Ya terus gua supir lu gitu?!” sentaknya.
Samuel terkekeh pelan memperhatikan cekcok dua sahabatnya di parkiran motor SMA Garuda ini. “Yaudah, jam berapa aja dah, asal dateng ya lu.” seru Samuel.
Kening Ratu berkerut, “Mau ngapain?” tanyanya.
“Nginep, di rumah Dirga.” Samuel menjawab singkat.
Anggukkan kepala menjadi respon terakhir Ratu atas jawaban Samuel.
“Duluan, Sam!” pamit Alfan sembari melaju dengan motor hitamnya tersebut.
“Yo!”
“Baliknya sama laki lu ‘kan?” Alfan kembali nyerocos. Padahal ia baru saja sampai mengantarkan Ratu di depan sebuah mall tempat Ratu dan pacarnya hendak bertemu.
Ratu melepas helm, lalu menyodorkannya pada Alfan. Ia melirikan matanya ke arah Alfan dengan sengit, “Iyeee buset, gak ikhlas banget ya elo nganter gue doang?!” omel Ratu.
“Emang!” balas Alfan singkat. Ia menutup kaca helm full-face nya lalu menggerakkannya seolah pamit pada Ratu. “Cabut ye gua.” pamit Alfan.
“Awas nabrak.” pekik Ratu sebelum Alfan melaju kencang dengan Yamaha R15 V3 hitamnya itu.
Gadis bersurai kecokelatan ini menghembuskan napasnya pelan, hendak masuk ke tempat ia dan pacarnya akan bertemu. Tinggi, ganteng, umurnya lebih tua dua tahun di atas Ratu. Emang, biasanya yang lebih tua lebih yahut.
Ratu melangkahkan kakinya masuk. Ia duduk dan memesan minuman sembari menunggu kabar dari pacarnya.
7:23 PM
Kak Yuto
Ratu, aku ternyata gak bisa datang. Aku lupa kalo tugas aku deadline-nya nanti malam 😢
Kak Yuto
Gimana dong?
Kak Yuto
Gak usah berangkat ya kamu, di rumah aja
Ratu
yaaaah ☹️
Ratu
yaudah deh gak apa apa, semangat nugasnya!
Kabar dari pacarnya yang bernama Yuto membuat Ratu badmood seketika. Sebenarnya gak apa-apa kalau gak bisa ketemu, tapi kenapa harus banget batalin janji satu jam sebelumnya sih?
Terlanjur memesan minum, gadis itu hendak beranjak ke meja pemesanan dan hendak memesan makanan untuk mengganjal sejenak perutnya yang sudah lapar.
Begitu Ratu berbalik hendak berjalan menuju mejanya, pandangannya tertuju pada laki-laki berpostur tinggi dengan mata yang sipit serta rambut hitam tengah asyik tertawa dan bercengkrama dengan perempuan yang Ratu tak kenal.
Mata Ratu melihat secara langsung seseorang yang seharusnya tengah makan bersamanya sekarang. Bahkan ia bisa melihat dengan jelas pacarnya itu sedang mengusap-usap pelan kepala seorang perempuan di depannya.
Gila, ternyata ini toh alasan yang sebenarnya?
Makanan yang sudah Ratu pesan sama sekali tak terlihat enak sekarang. Ia tak bisa tinggal diam. Gadis itu berjalan menghampiri dua orang yang tengah duduk di bagian luar restoran. Ia menyimpan keras nampan makanannya di atas meja Yuto dan si perempuan itu. Menimbulkan bunyi nyaring sampai beberapa makanannya tumpah berserakan.
“Meja yang lain penuh nih, aku ikut di sini ya!”
Suara Ratu membuat Yuto menoleh. Begitu juga dengan gadis berambut pendek di depannya.
“Loh, Ratu?” Yuto terlihat terkejut.
Ratu melirik pada Yuto, “Oh, hai, Kak Yuto. Kenapa sih, kok kaget? Oh, panik ya soalnya ketahuan bohong?” sarkasnya.
Yuto yang terlihat panik sebisa mungkin agar tetap tenang. “Aku gak selingkuh ya. Ini kita lagi ngomongin tugas kuliah, dia temen kuliah aku.” belanya.
“Hah, emang siapa yang bilang Kak Yuto lagi selingkuh? Apa ini pengakuan ya?” ejek Ratu. “By the way, ngomongin tugas kuliah apa sih yang ada elus-elus kepala gitu. Enak banget dong ya.”
Merasa tak enak kalau ia diam saja, gadis berambut pendek ini ikut berusaha membela, “M-maaf bukan gituㅡ”
“Ssssh!” Ratu menyimpan jari telunjuknya di depan bibir ketika gadis itu hendak bicara. “Aku cuma mau ngobrol sama Kak Yuto aja nih, jadi kakak diem aja deh dulu, ya.” lanjutnya sembari tersenyum kecut.
“Ck,” Yuto berdecak. Ia bangkit dari duduknya, kemudian membawa Ratu pergi dari situ sembari mencengkram pergelangan tangan Ratu. “Ayo ikut.”
“Kamu mau pesan makan apa?”
Gadis bermata bundar ini terlihat cemerlang. Pantulan lampu-lampu cantik di restoran ini begitu indah di bola matanya.
Samuel mengangkat tangannya pada pelayan yang baru saja mengantarkan dua minuman yang sebelumnya sudah mereka pesan. “Nanti aja. Duduk dulu, ada yang mau aku bicarakan.” ujar Samuel pelan begitu pelayan tersebut pergi dengan nampannya.
Herini Nayla. Gadis bermata cantik nan cemerlang ini sudah satu tahun menjalin hubungan dengan Samuel. Tentu saja mereka hanya bisa bertemu di moment-moment seperti ini karena mereka berada di sekolah yang berbeda.
Gadis yang akrab disapa Herin ini mengerutkan matanya sembari mengaduk-aduk pelan vanilla latte-nya.
“Mau ngomongin apa?” tanyanya.
Samuel membasahi bibirnya sejenak. Ia yang tadinya merundukkan kepala, jadi menatap Herin lurus.
“Kita udahan aja ya?” ia bicara enteng. “Hubungan kita.” lanjutnya.
Jemari Herin berhenti mengaduk-aduk minumannya. Ia masih menatap Samuel lurus meskipun terasa sangat tidak nyaman. Ada yang aneh. Pernah merasakan naik roller coaster? Bagaimana keadaan jantung? Berasa seperti jatuh ke perut ‘kan, walau sebenarnya tidak? Itu yang Herin rasakan sekarang.
“Aku bikin kesalahan, ya?” tanya Herin pelan.
Sontak Samuel menggelengkan kepalanya, “Enggak, enggak. Kamu gak pernah bikin kesalahan apapun.” ia tak setuju dengan ucapan Herin. Ya, pasalnya Herin memang gadis yang baik. “Aku cuma gak mau kalau nanti aku malah bikin kamu sakit hati karena sikap aku.” lanjutnya. Ia kemudian mengangkat alis sembari melirik pada Herin. “Tau sendiri kan?”
Gak, Herin gak percaya.
Memang, selama mereka berpacaran, Samuel tak pernah menjadi laki-laki yang sering diceritakan drama yang menjamur di media sosial.
Ia tak romantis. Ia cuek. Bahkan ia lupa hari ulang tahun Herin, hari jadi mereka, segala perintilan yang harusnya menjadi budaya saat berpacaran sama sekali tak pernah Samuel lakukan. Entah apa yang salah dari Samuel, tapi laki-laki itu benar-benar tidak peduli dengan orang-orang di dunianya. Termasuk Herin.
Tapi jauh dari itu, Herin gak pernah mendengar hal yang tidak-tidak tentang Samuel. Ia pemuda baik-baik.
“Bohong.” sahut Herin. “Pasti ada alasan lain.”
“Emang ada,” potong Samuel cepat. “Aku gak mau pacaran. Aku gak percaya sama sebuah hubungan yang terikat.” jelasnya cepat.
Sama sekali tak ada raut rasa bersalah di wajah Samuel. Herin tak mengerti.
“Perempuan lain?” tanya Herin.
Bukannya gelengan kepala yang Herin dapatkan sesuai harapannya, Samuel malah mengeluarkan handphone merahnya lalu menyodorkanya pada Herin. “Cek aja.” ujarnya.
Tak habis pikir. Samuel memang pemuda baik. Tapi sepertinya tidak untuk diajak menjalin sebuah hubungan.
Herin terkekeh sinis, “Kamu jahat ya, Sam.” gumamnya pelan. Ia sama sekali tak berhasrat untuk mengecek handphone Samuel karena jawabannya pasti nihil. “Memutuskan secara sepihak, menyerah secara sepihak. Aku bahkan gak pernah berpikir bahwa aku merasa terbebani sama sifat kamu yang terlalu cuek itu.” lanjut Herin. Ia menatap Samuel yang kini tengah bersandar pada punggung kursi.
“Maaf, aku cuma mau lepas aja dari sebuah hubungan yang terikat begini.” balas Samuel. Tetap teguh dengan pendiriannya.
Herin sontak langsung berdiri dari kursinya. Ia memandang Samuel lurus, lalu dibalas oleh Samuel. Pemuda itu melirik ke arah lemon tea nya yang berembun akibat dingin, dan melirik Herin lagi.
“Kenapa? Mau siram aku pakai lemon tea?” tanya Samuel sama sekali tak ada beban.
“Iya.”
Tak di sangka, Herin malah mengangguk dan mengambil gelas berisikan lemon tea tersebut. Tanpa pikir panjang, Herin langsung menyiramkan lemon tea yang ia genggam pada tubuh Samuel. Mulut pemuda blasteran itu menganga. Gila! Beneran disiram!
Herin tak bicara lagi. Ia melangkah meninggalkan Samuel yang masih duduk dalam keadaan pakaiannya yang basah. Beberapa pasang mata melirik ke arah Samuel dengan tatapan bermacam-macam.
Ya, oke ia anggap ini sebagai konsekuensi atas kebrengsekannya hari ini.
Samuel membuka dompet, lalu menyimpan beberapa lembar uang di atas meja sebagai tip, dan berajak dari situ.
“Brengsek lah!”
Sepanjang perjalanan Samuel menuju mobilnya yang terparkir di basement, ia mengumpat sebanyak mungkin. Lengketnya lemon tea masih sangat terasa di tubuhnya. Ia hendak membuka mobil guna masuk dan mengganti pakaiannya dengan kaos yang ada di kursi belakang Honda Civic Turbo putihnya ini.
Tapi suara pekikan seorang gadis membuatnya terhenti. Matanya melihat bagaimana gadis itu ditarik dengan cengkraman di tangannya yang telihat sangat mengikat.
“Lah, Ratu?” gumam Samuel pelan. Ia hanya bisa memperhatikan dari tempatnya berdiri.
Enggak, enggak gak boleh. Samuel memperingati dirinya sendiri guna tak ikut campur dengan urusan orang lain.
“APASIH?!”
Ratu mencoba berontak dari cengkraman jari sang pacar yang mengunci pergelangan tangannya sampai sakit. Ia dibawa oleh Yuto ke parkiran basement. Tempatnya lumayan sepi, bahkan mobil pun bisa dihitung jari jumlahnya. Mereka ada di dekat mobil milik Yuto yang terparkir.
“Dengerin, aku mau jelasin.” ujar Yuto sebisa mungkin terdengar lemah lembut.
“Jelasin apa, udah jelas banget itu kamu selingkuh. Masih mau ngelak apa lagi sih?” pekik Ratu.
“Ck, gak gitu.” Yuto terus mengelak.
“Emang gitu. Udah lah, udah. Kita putus aja, kamu silahkan sama teman satu kampus kamu itu.” Ratu melepaskan cengkraman jari Yuto yang melonggar di pergelangannya.
Yuto terdiam. Ia menundukkan kepala ketika Ratu hendak pergi dari sini. “Semudah ini?” gumamnya.
Ratu terdiam sejenak. Ia memejamkan matanya frustasi menahan marah, lalu balik badan guna bicara dengan Yuto.
“Iya, semudah ini. Semudah ini buat putusin cowok yang berani selingkuh kayak kamu.” sentak Ratu.
Yuto membasahi bibirnya sejenak sebelum akhirnya melangkah mendekat ke arah Ratu. “Kayaknya dari pertama kita pacaran, cuma aku ya yang sayang sama kamu, Rat. Kamunya enggak.” ujarnya tiba-tiba sembari terus melangkah mendekat ke arah Ratu.
Kening gadis bernama lengkap Ratu Nandini ini berkerut, “Apaan sih, kok malah jadi kamu yang merasa tersakiti gini?!” gerutunya.
Yuto kembali bicara, “Sekarang perkiraanku selama ini ternyata bener, kamu gak sayang aku makanya semudah ini bilang putus.”
“Kamu ngomong apa sih, kenapa kemana manaㅡ”
Omongan Ratu tertahan begitu Yuto malah tiba-tiba mencengkram kencang bahunya.
“DARI DULU AKU YAKIN KALO KAMU TUH SUKANYA SAMA ALFANSYAH!” bentak Yuto menyebut nama Alfan.
Ratu sangat kaget begitu Yuto tiba-tiba saja berani mencengkram kencang bahunya seperti ini. Tapi sebisa mungkin Ratu tak terlihat kaget dan takut, lalu membalas pekikan Yuto.
“Kalau aku suka Alfan, kenapa aku pacaran sama kamuㅡ”
“GAUSAH NGELAWAN!”
Suara telapak tangan yang mendarat di pipi Ratu terdengar menggema mengisi parkiran basement yang sepi.
Ratu kaget bukan main. Ia mengerjapkan matanya beberapa saat, mencoba mencerna apa yang baru saja Yuto lakukan kepadanya. Laki-laki brengsek ini baru saja menamparnya.
Sedangkan Samuel, yang hanya melihat dari dalam mobilnya membeku di tempat. Matanya membelalak, bahkan tangannya langsung kaku. Di depannya, sahabatnya sendiri, ditampar kencang oleh laki-laki yang Samuel yakini adalah pacarnya.
Ia menghela napasnya kasar.
Segala prinsip untuk tidak ikut campur urusan orang terpaksa ia hancurkan sendiri demi menyelamatkan sahabatnya, yang tengah sendirian diselimuti ketakutan akan laki-laki yang dengan gampangnya melayangkan tangan pada seorang perempuan.
Tetapi, ketika baru saja Samuel hendak membuka pintu mobil, suara tamparan kembali menggema di basement.
Iya, Ratu balik menampar Yuto.
Samuel pikir, langkah Ratu selanjutnya antara akan diam saja atau pergi menjauh dari Yuto. Akan tetapi, perempuan itu tiba-tiba saja balik menampar kekasihnya tersebut.
“Gak sekali dua kali gue ketemu laki-laki tai kayak lo. Gak ada kesempatan kedua, gak ada maaf, gak ada gue nangis dan mohon-mohon sama lo.” Ratu mengacungkan jari telunjuknya seraya memaki-maki Yuto yang sama kagetnya, karena ia pikir Ratu tidak akan membalas tamparannya. “Lo, pergi. Jangan pernah muncul di hadapan gue apapun alasannya.” usir Ratu.
Napas Yuto terengah-engah. Ia meneguk saliva nya gugup.
“Gini, Ratuㅡ”
“Gak. Gue bilang pergi ya pergi!” tegas Ratu.
Yuto tanpa bicara lagi langsung masuk ke dalam mobilnya. Ia melaju dengan kecepatan kencang meninggalkan parkiran.
Samuel yang menyaksikan itu dari dalam mobil hanya bisa terdiam begitu Ratu tiba-tiba saja berjongkok, ia sedikit terisak, terlihat dari bahu nya yang bergetar hebat. Tangannya sibuk seperti sedang mencari nomor di kontak teleponnya.
Ia hendak turun, hendak menemani dan menenangkan perempuan itu dari segala kejutan bajingan yang baru saja perempuan itu lalui tadi. Tapi niatnya kembali gagal begitu Ratu berbicara dengan seseorang di balik teleponnya.
“Al, lo bisa jemput gue gak?” ujar Ratu, sebisa mungkin menahan tangisannya agar tidak ketahuan Alfan. “Kalo gak bisa gapapa sih, gue order ojol nih.”
“Lah, katanya lu balik ama laki lu?” seru Alfan dari balik telepon. “Lagi beli martabak, antre. Buat anak-anak.”
“Yuto nya buru-buru katanya, gak bisa anter gue pulang.”
“Si bangsat.” gerutu Alfan. “Agak lama gapapa ya tanggung ini.”
“Yaudah, gue order ojol aja kalo gitu.” sahut Ratu.
“Gua jemput, iye iye. Otw.”
Ratu mengerutkan keningnya, “Lah, martabaknya gimana?”
“Ya balik lagi lah ke sini nanti, ama lu.” sahut Alfan.
“Ih udah ah gak usah, gue order ojol aja.”
“Di lobby yang tadi ‘kan? Oke.” Alfan kekeuh.
“Eh, woyㅡ”
Telepon terputus. Ratu menghela nafasnya berat. Sebenarnya ia enggan menghubungi Alfan, tapi entah kenapa ia sekarang merasa tidak aman dan sedikit ketakutan.
Ia hanya berharap semoga Alfan tidak akan pernah tahu apa yang sudah Yuto lakukan kepada Ratu tadi. Tidak, tidak. Ia enggan merusak pertemanan Alfan dan Yuto, yang mana adalah sahabat dari kakaknya Alfan. Duh, gak tau deh apa yang akan terjadi kalau Alfan tau Ratu ditampar oleh Yuto.
Samuel melihat itu.
Ia tidak kaget sih kalau Ratu memilih menelepon Alfan dari sekian banyak sahabatnya di tengah situasi seperti ini.
Ratu dan Alfan sudah seperti satu orang di dua tubuh yang berbeda. Entah ada koneksi apa antara keduanya hingga banyak kemiripan pada dua orang itu.
Pemuda itu hanya bisa melihat dari jauh dengan bibir yang terkatup, seorang perempuan yang tengah bercermin dengan cermin kecil di compact powder-nya, terlihat santai namun tergambar jelas kekecewaan di sana.
Ia memilih untuk menyalakan mesin mobilnya. Sedikit membuat Ratu merenyit kesilauan begitu lampu Honda Civic Turbo miliknya nyala menyorot. Topi ia sematkan di kepalanya, tidak terpikir kembali untuk mengganti baju, dan memutuskan untuk pergi menuju rumah Dirga.
Prinsip hidupnya belum goyah saat ini.
Belum, dan ia harap tidak akan.
Alfan merenyitkan kening begitu melihat Ratu yang bangun dari kursi tempatnya menunggu di depan lobby mall. Perempuan itu terlihat sedikit bingung dan tangannya gemetar hebat.
“Lu kenapa?” tanya Alfan.
Ratu merenyitkan keningnya, “Emangnya gue kenapa dah?” dia malah balik bertanya sembari menjepit rambutnya dengan jedai.
“Lu dikasih makan gak sih ama si Yuto? Tangan lu ampe gemeteran gitu.” Alfan masih merenyitkan kening keheranan melihat tangan Ratu yang tak berhenti bergetar.
Ratu kaget, ia refleks menghindari kontak mata dengan Alfan lalu melirik ke arah sahabatnya ini dengan sinis.
“Apaan sih elah, gak nyambung lo!” gerutunya. Ia mengadahkan tangan guna meminta helm yang ada di depan Alfan, tapi bukannya dapat helm, tangan Ratu malah ditarik dan dipegang oleh pemuda bernama lengkap Alfansyah Revano Rizal ini.
“Tuh, lu gemeteran.” ia masih memegang erat tangan Ratu. Perempuan itu buru-buru menariknya. “Jawab yang bener, lu kenapa?” tanyanya serius.
Ratu berdecak, ia merebut helm yang ada di depan Alfan, lalu ia kenakan dengan cepat. “Gapapa elah, berisik banget sih elo tuh, Alfansyah.” gerutunya. Kemudian ia naik ke atas motornya Alfan. “Ayo ambil martabak. Gue mau ikut nginep di rumah Dirga juga.”
Ucapan Ratu refleks membuat Alfan malah menyundulkan helmnya ke belakang, yang mana helm mereka berdua malah berbenturan.
Ratu meringis, “AW!!!” pekiknya begitu helmnya berbenturan dengan helm Alfan.
Sedangkan pemuda itu menggeleng cepat, “Kagak ada, maksimal jam 12 lu gua anter pulang.” sungutnya tegas.
Perempuan itu hanya bisa menghela napasnya. Ia mencengkram erat jaket hitam yang Alfan gunakan begitu sahabatnya ini hendak melaju.
“Sumpaaaah, kali ini gue gak nyesel beli tempe gorengnya gila! Ini kayaknya hari keberuntungan gue sih, asli.”
Celotehan Nindya barusan dibalas kekehan Lula, Namira, Ratu dan Nahila.
Jam istirahat tadi mereka gunakan untuk makan di kantin, dan kali ini tanpa personel laki-laki karena mereka semua beneran tidur di kelas karena malamnya semua nginep di rumah Dirga, dan gak tidur sama sekali.
Ratu beneran diusir Alfansyah. Jam 11:30 malam, dia langsung diantar pulang dan Alfan beneran balik lagi buat nginep di rumah Dirga.
Dari marathon movie, main poker, main gaple, main uno, PlayStation, sampai tiba-tiba udah jam enam pagi aja. Selama jam pelajaran pun mereka bener-bener tidur. Hanya Gafian dan Samuel yang mencoba untuk tetap sadar supaya gak tertinggal pelajaran.
Nahila mengangkat sebuah paper bag yang ia bawa, “Kita tadi beli apa aja tuh?” tanyanya.
“Nasi kuningnya dua, buat Dirga sama Putra. Terus Alfan tuh… eh, Alfan nitip apa sih?” Namira langsung lupa pesanan Alfan.
Lula meringis pelan, “Dia nitip batagor bukan sih?” ia balik bertanya sembari menebak-nebak.
Ratu menggeleng, “Yang nitip batagor tuh Fawad tau, sama Athan.” sahutnya.
“Lah, terus ini kurang dong?” Nahila memekik ketika mereka sedang menaiki tangga.
“Hah, kurang gimana?” seru Nindya.
Nahila memeriksa makanan pesanan para lelaki di dalam paper bag-nya, “Di sini ada Nasi Kuning tuh dua, Batagor juga dua, sama Beef Yakiniku dua.” ia menyebutkan isi di paper bag-nya. “Yakiniku punya Samuel sama Gafian.”
Lula menghembuskan napasnya berat, “Fix sih kita lupa beliin buat Alfan, plus kita juga lupa dia nitip apa.” keluhnya.
“Haduh, gak apa-apa kali ya?” Namira panik sendiri merasa gak enak dengan Alfan.
Ratu berdecak pelan, “Udah, gapapa kok. Nanti juga barengan sama Samuel atau Dirga kan biasanya.” ucapnya enteng.
Kelima gadis ini berjalan menuju kelas mereka yang berada di lantai tiga.
Begitu keluar dari tangga menuju lantai tiga, mereka lupa. Lupaaa banget kalau jam segini adalah jam para cowok-cowok nongkrong di ujung tangga lantai tiga.
Swalaaa, mereka berjejer di dekat mulut anak tangga.
Nahila yang ada di paling depan sampai berhenti melangkah. Ia memperhatikan satu persatu wajah anak laki-laki ini, tapi gak ada yang ia kenal. Masalahnya tuh pasti diledekin, kan sebel!
“Wow, balik lagi aja yuk ke kantin. Please banget.” gumam Nindya pelan sembari merangkul lengan Namira.
“Ck elah,” gerutu Ratu pelan. Kemudian ia berjalan mendahului teman-temannya guna lewat di depan para lelaki ini.
Tak ada reaksi dari para gerombolan cowok, karena mereka sibuk dengan handphone mereka.
Ratu kira ini sudah aman dan pasti teman-temannya gak akan kena cat-calling atau siulan-siulan tolol dari anak laki-laki ini.
Sampai ketika Ratu, Nahila, Namira dan Nindya berhasil melewati barsan para lelaki, begitu Lula, anak laki-laki ini refleks berkerumun seolah menyekap Lula.
Nahila panik, Nindya udah bener-bener gelayutan doang di tangan Namira. Ratu lebih-lebih, dia beneran kaget dan takut ketika Lula tiba-tiba dikerubungin gitu.
Lula beneran sepanik itu sampai gemetar sendiri tangannya.
“Kok DM gua gak dibales sih, Lul?”
Lula refleks menoleh ke belakangnya. Di mana ada laki-laki yang lebih tinggi darinya sedang memutar-mutar handphone-nya asal.
Namanya Ethan Alan Lewis, atau akrabnya disapa Ethan. Si ketua kelas 11 IPS 4 yang dari kelas sepuluh lalu memang sering nyepik Lula, tapi gimana dong Lula nya ‘kan gak suka?
Mana bandel, teman-temannya gak jelas, bener-bener se-gak jelas itu sampai teman-teman di IPS 2 pun memperingatinya agar tak menghiraukan Ethan.
Gak mau terlihat cupu, Lula langsung menjawab pertanyaan Ethan. “Gue gak buka Instagram.” balasnya.
“Gak buka Instagram, tapi bikin Instastory, Lul?” Ethan terus memojokkan Lula.
Beberapa teman Ethan tertawa mengejek, bahkan ada yang sampai iseng nyeletuk kalimat yang gak seharusnya disebutkan. Gak ada akhlaknya emang.
“Lul, jangan cuek-cuek amat sama cowok mah, nanti kagak laku loh.” celetuk Raditya si anak IPS 4.
Ah, ini anak gaulnya emang sama orang yang gak bener semua ya. batin Lula ketika ia melirik ke arah Radit.
Setuju dengan celetukan Radit, salah satu pemuda yang kini tengah memakan potongan Ekkadonya mengangguk. “Au elah, Lul. Ethan pengen kenalan doang itu jangan sombong-sombong.” ia menambahkan. Adji namanya.
Lula gak tau lagi harus apa. Ia melirik, menatap satu-satu wajah pemuda-pemuda ini sampai akhirnya ia melihat Samuel sedang bersandar pada punggung salah satu pemuda ini sembari membaca komik di handphone-nya dan memakai earphone.
Gak bisa, Lula gak bisa hadapi Ethan sendiri karena dia bawa teman-temannya.
“Samㅡ”
Baru saja Lula hendak memanggil Samuel, tiba-tiba saja ada yang merusak kepungan yang dibuat teman-teman Ethan.
Gadis bersurai panjang ini menarik kerah bagian belakang seragam teman-teman Ethan supaya enyah dan memberinya jalan, lalu dengan segera menarik tangan Lula.
“Udah, Lul. Gak usah diladenin.” ujar Ratu. Ia langsung menarik tangan kanan Lula dan hendak membawanya keluar dari kerumunan.
Tapi Ethan gak mau kalah. Ia juga refleks menarik tangan kiri Lula dan menahannya agar tetap bersamanya. Duh, itu Lula Sahara udah lemes duluan kalau dibeginiin. Dia takut dan beneran, setakut itu sama Ethan.
“Gua lagi ngomong ya sama Lula.” seru Ethan pada Ratu.
Ratu yang langkahnya mau tak mau terhenti, langsung balik badan menghadap Ethan. “Apa? Ngomong sekarang.” serunya menatap Ethan tanpa rasa takut sedikitpun.
“Ini urusan gua sama Lula lah! Lu gak usah ikut campur.” Ethan berkata demikian.
Ujung bibir Ratu terangkat. Ia tertawa sinis, “Apa? Perihal DM lo yang gak dibales-bales?” nada suaranya sangat sangat sangat terdengar antagonis.
Nahila, Nindya dan Namira benar-benar gak tau harus gimana. Mau teriak supaya bubar, malu. Mau panggil anak-anak kelas, gak enak mereka semua pasti lagi tidur. Mau panggil guru, panjang urusannya. Akhirnya mereka cuma diam di tempat sembari komat-kamit berdoa agar dua temannya baik-baik saja.
“Lu gak usah tau.” jawab Ethan. Sebisa mungkin ia terlihat tenang menghadapi Ratu yang sedang berapi-api ini.
“Oh, gue harus tau. Urusan Lula, urusan gue juga.” bentaknya. “Lagian ngapain sih elo DM Lula terus? Kalo gak dibales, tandanya dia gak suka sama elo. Ngaca makanya elo kayak apa!”
Kalimat pedas yang terlontar dari kalimat Ratu barusan membuat mata Ethan membelalak.
Satu koridor riuh berisik. Kalau begini sih malah jadi tontonan gratis bukannya dibubarkan. Lumayan, sebelum kegiatan belajar mengajar berlangsung lagi.
Riuh koridor tadi membuat Samuel yang sedaritadi terfokus pada komik langsung menurunkan layar handphone dari pandangannya. Earphonenya ia lepas, dan, yap. Dia gak salah lihat, itu Ratu dan Lula. Teman-teman satu kelasnya.
“Ngapain coba tuh bocah?” gumamnya pelan. Sebisa mungkin tak ingin terlibat. Tahu ‘kan bagaimana sangat tidak inginnya Samuel ikut campur masalah orang lain?
Kembali pada Ethan yang masih membelalakkan matanya setelah mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ratu.
Pemuda itu membasahi bibirnya sejenak. “Wow, nyali lu oke juga.” gumam Ethan. Ia menatap Ratu tajam, “Lu juga ngaca dah. Punya apa lu sampai nyuruh gua ngaca?” Alis Ratu berkerut mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ethan. “Dengar ya, lu tuh cantik aja kagak. Jadi kagak usah belaga.” sentak Ethan pada Ratu.
“WOAAAAAA!!!”
Riuh berisik para cowok-cowok ini semakin memperpanas suasana.
Emosi Ratu tersulut dengan omongan Ethan barusan. Tanpa melepas tangan kanan Lula, Ratu berjalan mendekat ke arah Ethan. Kini keduanya berdiri berdekatan. Gak ada rasa takut sedikitpun yang tergambar di raut wajah Ratu.
“Apa?” tanya Ethan menantang.
Tanpa babibu lagi, tangan kanan Ratu yang bebas, melayang dengan keras di pipi kiri Ethan.
Yap, Ratu menamparnya.
Bunyi suara tamparan membuat riuh satu koridor itu. Ethan bahkan sampai menganga tak percaya bahwa ia ditampar seorang perempuan. Ekspresi kaget tergambar di wajah Ethan. Ia membelalakkan matanya tak percaya. Sedangkan Ratu, ia mengangkat telunjuknya menunjuk-nunjuk wajah Ethan.
“Lo adalah orang paling menjijikan yang pernah gue temui.” ujar Ratu. Sebelum akhirnya ia menarik Lula, dan membawanya pergi menuju kelas bersama tiga teman lainnya.
Ethan masih diam di tempat, sedangkan Adji dan Radit sudah tertawa guling-guling di lantai koridor.
“HAHAHAHA KENA TAMPAR CEWEK BAHAHAHAHA!!!”
“YAH BUSET MENJIJIKAN KATANYA WAKAKAKAKA!!!”
Samuel yang tadinya tengah bersandar buru-buru menegakkan tubuhnya. Ia duduk di sebelah kiri Ethan yang kini sudah duduk di sebuah kursi kayu yang memang di sediakan sepanjang koridor Garuda.
“Kiri atau kanan?” tanya Samuel pada Ethan.
Ethan tak menjawab. Ia hanya menunjuk pipi kirinya yang berbekas telapak tangan. Samuel langsung menahan tawanya.
Ia dan Ethan sebenarnya sering bertemu di perkumpulan anak mobil gitu. Secara, Samuel sih anak mobil banget, teman-temannya aja udah beda sama anak-anak IPS 2 yang lain.
Radit yang udah selesai tertawa sampai menangis itu ikut duduk di kursi kayu, tepat di samping kanan Ethan.
“Lagian lu masih aja ngejar Lula? Cari sih yang lain, cewek banyak elah.” sungutnya.
Ethan berdecak, “Gua maunya Lula.” kekeuh-nya.
Adji melirik ke arah Samuel yang kini masih berusaha menahan tawa melihat bekas telapak tangan di pipi kiri Ethan.
“Tadi tuh anak kelasan lu ya, Sam?” tanya Adji.
Samuel menoleh pada Adji, lalu mengangguk, “Ngapa?”
“Demen gua.” sahut Adji cepat. “Berani banget dia tadi, gua salut dah. Keren.”
Mendengar ucapan Adji barusan, tangan Samuel refleks memukul kepala Adji dengan handphone nya sampai terdengar bunyi ‘pletuk’ lumayan keras.
“Kagak usah norak.” sungut Samuel.
Adji memegang pucuk kepalanya yang dipukul handphone, “APAAN SIH KOK MUKUL?!” serunya. Beneran nyut-nyutan.
Radit tertarik dengan pembahasan si gadis pemberani barusan. “Punya gebetan kagak tuh?” tanya Radit.
“Mana gua tau.” jawab Samuel sensi. Ada sedikit rasa ketidaksukaan Samuel ketika teman-temannya ini malah membahas soal Ratu.
Radit dengan cepat merebut handphone Samuel, “Bagi IG nya ah gua.” ia berkata demikian sembari berusaha membuka handphone Samuel.
Panik, Samuel langsung merebut paksa handphone nya lalu refleks ancang-ancang hendak memukul wajah Radit.
“Si bangsat!” sungutnya emosi. Ia merebut kembali handphone nya dari tangan Radit. “Kagak sopan, tolol!” makinya.
Radit hanya cekikikan kecil, “Ya lagian anjir lu nya kagak mau ngasih tau.” keluh Radit, tapi ia memang agak takut sama kepalan tangan Samuel.
Adji gak panik-panik amat. Udah biasa Samuel dan Radit cekcok begitu.
Ethan masih mengusap-usap pipinya yang nyut-nyutan, “Sam, sama Lula kan satu geng tuh, sahabatan kalian. Bukannya bantuin gua buat deketin dia ke gua, malah diem aja.” gerutunya.
Samuel melirik sinis, “Bodo amat anjing, bukan urusan gua.” keluhnya. Kini ia menjadikan punggung Adji sebagai sandarannya, lalu kembali membaca komik di handphone nya.
Memangnya Samuel bagian dari pertemanan itu ya?
Di kelasnya, 11 IPS 2 tepatnya. Ada segerombol siswa-siswi yang seriiiing banget, setiap hari bahkan, selalu menghabiskan waktu bersama. Tapi masing-masing dari mereka memang ada sejarah panjangnya sih.
Alfan, Dirga, Fawad, dan Reksa. Mereka sudah berteman sejak kecil, dan di kelas 10 mereka berada di satu kelas yang sama.
Lalu ada Namira dan Nindya yang awalnya bukan bagian pertemanan itu, mau gak mau jadi akrab karena Namira merupakan pacar Dirga, dan Nindya juga pacarnya Reksa. Ada Ratu juga yang tiba-tiba menjadi dekat dengan Alfan dan Fawad di kelas 10 itu karena satu kelas.
Putra dan Lula basically duo yang tak terpisahkan. Putra dan Fawad personil band sekolah, temannya banyak, sama-sama saling kenal sebelum mereka berada di satu kelas yang sama. Lula ngikut Putra. Sama siapapun Putra berteman, pasti Lula ikut. Putra dan Fawad berteman, ya Lula juga.
Selanjutnya ada Athan dan Nahila. Sama kayak Putra dan Lula, mereka duo. Tak salah lagi, Athan, Nahila dan Nindya berada di kelas yang sama saat masih kelas 10.
Kan, semuanya ada kaitannya.
Tidak dengan Samuel. Ia dari kelas yang berbeda, ia juga tidak kenal dengan siapapun di kelas itu. Ya, dirinya dan si anak baru yang kini satu bangku dengan Athan sih.
Dengan segala kebetulan itu, Samuel bertanya-tanya.
Apakah ia juga bagian dari mereka?
Atau bukan?
Apakah ia menganggap dirinya bagian dari mereka?
Atau, apakah mereka menganggap dirinya juga?
Entahlah.
“GUYSSS!!!! SUMPAH SUMPAH!!!”
Para lelaki yang tadinya hampir pingsan, langsung seger begitu suara menggelegar milik Nindya membuat mereka yang tengah tertidur di kelas langsung bangun.
Nahila menganga, baru ngeh kalau Alfan pesan Pop Mie. “Ternyata Pop Mie, geeengs.” serunya pada Lula, Ratu, Nindya dan Namira.
“Al, sorry ya kita lupa pesanan lo.” Namira meminta maaf pada Alfansyah.
Laki-laki itu berdecak sebal, “Kan, gitu kan.” gerutunya. Ia memajukan kepalanya ke makanan Fawad. “Wad, mau.”
Fawad yang asyik makan batagor menggerakkan kepalanya ke arah meja depan. Enggan batagor kecintaannya di makan Alfan. “Athan, Athan.” serunya.
Alfan memajukan tubuhnya ke meja Athan, “Than,” panggilnya.
Athan yang sama-sama makan batagor dan ogah dibagi dua sama Alfan juga melakukan yang Fawad lakukan. “Dirga, Dirga.” seru Athan sembari menggerakkan kepalanya kearah Dirga.
“Ga,” panggil Alfan.
“Gafi, Gafi.” balas Dirga yang asyik memakan nasi kuning emak. Ia melemparnya ke Gafian.
“Gaf,” pada akhirnya Alfan meminta ke Gafian.
“Sendoknya satu doang tapi.” balas Gafian.
“Pake tangan.” Alfan langsung berdiri dari kursinya. “Mir, minta sabun dong.”
“Ini.” Namira memberikan sabun cair yang ia simpan di wadah kecil kepada Alfan, lalu pemuda itu buru-buru setengah berlari ke wastafel yang berada di depan kelas. “Gengs, sumpah deh. Tadi parah banget di deket tangga!” gadis itu memajukan tubuhnya kea rah meja barisan tengah, dimana mereka sedang asyik makan siang.
“Apaan, Yang?” Dirga bertanya.
“Lula digodain Ethan!” celetuk Nindya.
Athan merenyitkan keningnya, “Ethan mana?” ia mengingat-ingat. “Oh, yang DM-in lu mulu, Lul?”
Lula mengangguk, “Iya.” jawabnya. “Sebel banget gue sama dia.”
“Dia godain Lula kan, terus temen-temennya ikutan. Geli banget gak sih. Abis itu Ratu tiba-tiba aja maju lawan Ethan, dan lo tau gak?” Nindya memotong pembicaraannya.
“APA, APA?”
“RATU NAMPAR ETHAN!!!” seru perempuan itu semangat.
“ANJIIIRRRR!!!”
Namira merangkul bahu Ratu yang asyik makan, “Gila ‘kan sohib gue. This is modern feminism!”
Dirga menyenggol paha Fawad, “Ethan Ethan yang bawa BMW E90 biru, bukan?”
Fawad menjawab, “Iye, tayo ceper yang knalpotnya minta disumpel jerami.” Athan hampir keselek batagor dengar jawaban Fawad.
Nahila mengetuk meja sebelum berbicara, “Tapi sumpah ya geng, highlight nya nih ada dua selain Ethan ditampar sama Ratu.” ujarnya.
“Tadi Samuel ada di situ, tapi gak bantuin SAMSEK!” sahut Nindya.
Lula menggelengkan kepalanya, “Gila emang.” Ia terdengar sedikit kecewa. Begitu pintu ada yang masuk ke dalam kelas, mereka refleks menoleh kea rah pintu, “Tuh, anaknya.” tunjuknya.
Samuel berjalan santai, dengan Alfan yang mengintil di belakangnya, abis cuci tangan.
“Huuuu, Samuel jahat ah males gue.” Namira menyoraki teman satu bangku kekasihnya ini.
Nahila menggelengkan kepalanya kepada Samuel, “Sam, jangan gitu ah. Gak baik loh.”
“Tau, bukannya belain gue juga!” Lula ngomel lagi.
Samuel merespon sederhana, “Apa sih, apaaaaa?” ia menarik kursi di sebelah meja Athan. “Yakiniku gua?” tanyanya. Gafian oper pesanan Samuel yang ia simpan di bawah mejanya. Jadi posisinya Alfan dan Samuel mengelilingi meja Athan dan Gafian.
Putra yang merasa tidak adil para ciwi-ciwi menyoraki Samuel, ikut bersuara. “Ya mana enak belain elu di depan temen temennya. Aneh lu.” serunya sembari memukul pelan kepala Lula dengan sendok plastik yang ia pakai untuk makan nasi kuning.
“Lah, emang gue bukan temennya?!” Lula gak terima.
“Lagian kata gua juga block aja itu si Ethan, ngeyel sih ah elu.” seru Putra.
“Gue gak suka sama dia bukan berarti harus gue block juga kan akunnya.” bela Lula.
Athan nyeletuk, “Ah elu mah, Lul. Masih aja baik ama yang model begitu.” ujarnya. “Kalau gua jadi elu mah, udah gua ciduhin.”
Namira nambahin, “Tapi bener deh apa kata Putra, kalo Samuel ikutan bakal awkward gak sih dia sama Ethan. Lagian tadi Ratu keren banget, kalo ditahan Samuel gak ada deh tuh moment Ethan ditampar Ratu.”
Baik Samuel dan Ratu yang tengah menjadi perbincangan, hanya asyik mendengarkan sembari sibuk mengunyah makan siang mereka.
Dirga nyeletuk “Ratu mah serem. Alfan aja ciut, apalagi Ethan.”
Alfan nambahin, “Sedep kalo di tampar Ratu mah, bakal trauma seumur hidup. Tangannya kayak beling.” ia mengangkat telapak tangan sebelah kiri milik Ratu.
Ratu hanya meringis sebal. Gafian ikut nimbrung, “Gak hapal gua yang mana si Ethan.” gumamnya.
Nindya menjawab, “Pokoknya mah gak lebih ganteng dari elo deh, Gaf.” ujarnya.
“Kalo lebih ganteng dari Gafi mah gua lah!” seru Fawad, kemudian ia sedikit menggerakkan kepalanya untuk melirik ke arah Nahila yang duduk di kursinya, tetapi menghadap belakang. “Ya gak, Hil?” sembari menaikan alisnya genit.
Nindya yang duduk di kursinya refleks menggerakkan tangannya seolah ingin meninju wajah Fawad. “NAJISSSS!!!” serunya gak terima.
Samuel yang sedaritadi hanya mendengarkan tiba-tiba saja bangun dari kursinya. Padahal makanannya belum habis. “Gua mau beli minum bentar.” pamitnya.
Ratu yang duduk di kursinya tiba-tiba berdiri, “Ikut!” serunya.
“Nitip air mineral yang gak dingin.” celetuk Alfan.
“Oke bos.”
Tujuan Samuel adalah berjalan menuju kantin untuk membeli air mineral karena sumpah dia haus banget. Tapi tidak dengan Ratu, tujuannya mengintil di belakang Samuel adalah untuk, tentu saja…
“LO TAI SUMPAH!!! GUE ADA DI DEPAN MATA LO MALAH LO DIEM AJA ANJIR, SINTING YA LO?!?!?!”
Yep, mencaci maki Samuel atas keacuhannya sikapnya tadi ketika Lula tengah diganggu oleh Ethan, yang mana adalah teman mainnya Samuel juga.
Pemuda berhidung bangir ini tak menggubris ocehan Ratu yang non-stop dari keluar pintu kelas sampai di depan kulkas minuman dingin area kantin. Mulut lelaki itu tertutup rapat, sedangkan tangannya sibuk mengambil air mineral dingin di kulkas untuknya.
“Gue ngerti kok elo gak mau ikut campur urusan orang lain yang gak ada kaitannya sama lo, Sam. Gue juga paham kalo elo udah yakin gak akan ada yang berani nyakitin Lula karena gue ada di situ.” cerocos Ratu di belakang Samuel. “Iya, gue emang nyeremin, kalau kata Dirga. Lo boleh deh ga bantuin gue kalaupun gue lagi di situasi yang butuh banget bantuan orang lain, karena iya, sesuai dengan prinsip hidup lo yang gak mau ikut campur urusan orang lain.” perempuan itu terus bicara.
“Tapi gue mohon banget nih, Sam. Seandainya gak ada gue disitu, please banget, asli nih gue memohon, tolong ya bantuin teman kita juga. Jagain sahabat-sahabat kita juga. Lo boleh deh cuek, gak nanyain kabar kita-kita, gak tanya soal personal life kita. Tapi please ya Sam, pecahin sedikit aja prinsip lo itu buat kita-kita. Lo boleh kok kecualikan gue, tapi gak yang lain.”
Ocehan Ratu berhenti begitu Samuel berbalik menghadapnya. “Udah?” tanyanya.
Alis Ratu bertautan, “Udah apa?” ia balik bertanya.
“Ngomelnya?” Samuel bertanya dengan wajahnya yang super datar dan tidak peduli itu. “Lu benci ya sama gua?” pemuda itu bertanya lagi.
Semakin Ratu tidak mengerti, “Hah?” ia keheranan.
“Lu benci ya sama gua karena sifat gua yang begini?” Samuel mengulang pertanyaannya.
Bukannya dapat penjelasan, kepala Samuel malah kena pukul air mineral yang Ratu ambil dari atas etalase. “GUE GEBUK YA KEPALA LO!” pekik Ratu.
“UDAH LU GEBUK!” sungut Samuel sembari mengusap pelan kepalanya.
Ratu berdecak, “Gue gak mau ya sahabat gue jadi manusia brengsek dan menjijikan kayak Ethan gitu!” sahut Ratu. Ia kemudian mengangkat air mineral titipan Alfansyah, “Bu, dia yang bayar ya.” tunjuknya pada Samuel, lalu pergi meninggalkan Samuel terlebih dahulu.
Laki-laki itu hanya bisa merenyitkan kening keheranan. Gimana sih cara kerja otak perempuan ini?
Bukannya tadi malam ia baru saja mendapatkan pengalaman traumatis yang bahkan Samuel pun lihat ya? Tapi kenapa hari ini ia bersikap… biasa saja?
Tidak semua yang lama itu buruk, dan tidak semua yang baru itu baik. Tidak semua hal di masa lalu itu harus dilupakan, dan tidak semua hal yang baru terus digugu.
Semua hal yang pertama selalu memiliki cerita dan tempat tersendiri dalam setiap tahapan kehidupan manusia. Anak pertama, tumbuh gigi pertama, perayaan ulang tahun yang pertama, teman pertama, dan pertama kali jatuh cinta.
Laki-laki itu adalah semua hal pertama bagi Nisreen Kalula Attar. Laki-laki itu adalah orang pertama yang memperkenalkan cinta di hidup Nisreen. Laki-laki itu adalah orang pertama yang mengajak Nisreen untuk berlari di tengah hujan. Laki-laki itu adalah orang pertama yang diam dan hanya tersenyum ketika semua orang berteriak memakinya sepanjang jalan.
Semua hal yang indah, membahagiakan, yang menyedihkan, yang bahkan membuat Nisreen dapat meringkuk menangis, dilakukan bersama laki-laki itu.
Dia Rishtan, laki-laki pertama yang memperkenalkan hidup pada Nisreen. Tanpa harus ada kebohongan di sana.
Nisreen tahu, ia harus banyak berterimakasih dan bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk hidup. Meskipun bukan yang sebenar-benarnya hidup.
Diadopsi keluarga kaya serba berkecukupan tidak membuat Nisreen merasa hidupnya seperti mendapat lotre dua miliyar. Ia telah melewati banyak hal selama ia hidup 18 tahun ini. Tinggalkan Ibundanya meninggal karena menutupi penyakitnya, dan melihat Ayahnya gantung diri di kamar saat umurnya masih 7 tahun, atau hampir mati kehabisan napas dalam bak besar di kamar mandi panti asuhan karena keisengan teman-teman satu pantinya. Nisreen sudah melewati itu semua.
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan tinggal bersama pasangan yang sudah cukup berumur dan tidak dikaruniai seorang anak. Nisreen berterimakasih karena dipertemukan dengan Ibu dan Ayah angkatnya, nyonya dan tuan Attar yang sangat baik.
Persiapan masuk kuliah membuat Nisreen Kalula Attar sering pulang malam karena harus ikut try out atau bimbel yang sudah disediakan oleh Ayah angkatnya. Ia akan membayar mahal untuk menjamin kehidupan Nisreen. Lagi, Nisreen hanya bisa berterimakasih dan menerimanya.
Di depan pintu rumahnya, Nisreen agak ragu untuk pulang malam ini. Jemarinya mencengkram kenop pintu, hendak masuk, tapi masih ragu.
Ia hafal betul yang akan menyambutnya hanyalah golden retriever bernama Tobi yang sudah menjadi penghuni rumah ini jauh sebelum kedatangan Nisreen. Ibu dan Ayah angkatnya tentu saja orang sibuk. Tinggal di lingkungan elit seperti tempat ia berpijak tak bisa didapatkan apabila hanya duduk bersantai di kursi balkon.
“Muak? Lelah? Atau berniat kabur?”
Tiga pertanyaan dalam satu kalimat itu terdengar oleh Nisreen yang sedang menghadap pintu rumahnya.
Ia menoleh ke belakang, terdapat seorang laki-laki dengan kaos yang kebesaran dan celana selutut berwarna biru cerah. Tubuhnya kurus dengan tanda lahir di sekitar punggung tangannya.
Sedikit info yang Nisreen tahu tentang laki-laki itu. Hanya laki-laki yang baru tinggal kurang dari tiga tahun di sebrang rumahnya. Lutut laki-laki itu terdapat luka baret yang tak sedikit. Jika boleh Nisreen tebak. itu adalah bekas luka jatuh terseret di aspal.
“Di-bully? Dipukulin? Atau hampir putus asa dan berniat menabrakan diri ke jalan?” Nisreen balik bertanya pada laki-laki itu dengan nada yang sama.
Laki-laki itu tidak menjawab. Ia hanya menatap Nisreen dengan sinis di bawah topi hitam yang hampir menutupi wajahnya.
Mata Nisreen memperhatikan lutut laki-laki itu yang terluka, dan kembali menatap wajah laki-laki yang ternyata terdapat darah di ujung bibirnya.
“Nanti infeksi. Cepet obatin lukanya.” sahut Nisreen. Laki-laki itu tak bereaksi. Nisreen mengerutkan keningnya, “Lo denger kan gue ngomong apa?” ujarnya sedikit meninggikan suara.
Laki-laki itu sedikit menundukan kepala. Bahunya yang kurus telihat turun serta tangannya ia kepal kencang. “Gak ngerti.” gumam laki-laki itu pelan.
Nisreen yang hanya bisa melihat gerak mulut laki-laki itu hanya meringis sembari memincingkan matanya. “Apanya?” sahut Nisreen.
“Gak ngerti,” laki-laki itu sedikit meninggikan suaranya. “Gua gak ngerti caranya.” lanjutnya.
Nisreen terdiam. Ia masih memperhatikan laki-laki itu yang masih menundukkan kepala. “Lukanya,” laki-laki itu terdengar bersuara lagi. “Gua gak ngerti cara bersihkan lukanya.”
Helaan nafas panjang Nisreen hampaskan. Ia memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya membawa masuk laki-laki itu ke rumahnya. Mengajukan diri untuk membersihkan luka di kaki dan beberapa bagian wajah laki-laki itu yang memar dan robek.
“Muak? Lelah? Atau berniat kabur?”
Kalimat tanya sekaligus itu membuat Nisreen merasa kesal sekaligus lega. Kepalanya sudah berat akan beban untuk lulus ujian masuk universitas. Harapan orang tua angkat Nisreen sangat besar terhadapnya. Ia pun harus ‘membayar’ semua yang orang tua angkatnya beri untuknya. Meskipun tak akan pernah terbayar. Nisreen tahu itu.
Mata Nisreen melirik pada anak laki-laki dengan hoodie hitam kebesaran yang hampir menenggelamkan tubuhnya yang kurus. Itu Rishtan.
Laki-laki itu selalu di-bully di sekolah. Nisreen tahu meskipun Rishtan tak pernah membahas itu. Laki-laki ini selalu berpindah sekolah, dibuktikan dengan seragamnya yang sering berbeda setiap semester.
Bukan karena ia bermasalah, tapi karena laki-laki sebayanya itu selalu kena pukul, selalu disiksa, selalu dimaki-maki oleh orang-orang di sekolahnya. Ralat, di setiap sekolahnya.
Rishtan tak pernah mendaftar di sekolah Nisreen. Personal reason, katanya. Nisreen pun tak ingin tahu soal itu.
Sampai akhirnya ia memutuskan untuk home schooling dan menghabiskan banyak waktunya untuk menjahili Nisreen yang akhir-akhir ini sedang banyak beban.
“Kali ini harus dijawab.” ujar Rishtan.
Alis Nisreen terangkat, “Emang sebelumnya gak pernah gue jawab?” gadis itu balik bertanya.
Rishtan mengangguk, “Iya. Lu selalu marah-marah, atau balik ngejek gua ‘kayak abis dipukulin’ setiap gua nyapa lu.”
Ujung bibir Nisreen terangkat. Ia tersenyum kecil, “Faktanya, lo selalu terlihat kayak abis dipukulin.” serunya.
“Jadi?”
“What?”
“Apa jawaban lu hari ini?”
Nisreen menipiskan bibirnya. Jujur, ia muak untuk masuk ke dalam kamarnya dan kembali membuka buku untuk mengulas pembelajarannya hari ini. Terlebih, hanya Tobi yang akan menyapanya ketika ia masuk rumah.
“Rishtan,” panggil Nisreen. Laki-laki itu hanya bergumam pelan. “Bisa bawa gue kabur gak?”
Permohonan Nisreen tadi disambut senyum dari bibir tipis laki-laki bernama Rishtan ini.
“Ayo kabur!” balas Rishtan.
The Night Before The Funeral dari The Mary Onettes yang tak akrab di telinga Nisreen mengudara di dalam Toyota Corolla Altis hitam milik Rishtan yang tengah mereka kendarai.
Jam sepuluh malam, mereka memutuskan untuk drive-thru nuggets dan burger kesukaan Rishtan. Mampir ke minimarket untuk membeli dua botol air mineral dan sebungkus permen mint. Beberapa bungkus makanan ringan menumpuk di kursi belakang.
Jendela di samping Nisreen dibukanya lebar-lebar dengan volume lagu yang paling maksimal. Rishtan sesekali melirik ke arah Nisreen dengan helaian rambutnya yang berterbangan.
“AAAAAAAAA!!!!”
Teriakan Nisreen ditemani oleh gemuruh ombak pesisir dan lantunan lirik milik The Mary Onettes. Keputusan Rishtan untuk membawa Nisreen ke pantai di malam hari rupanya bukan sebuah kesalahan. Ada perasaan lega yang Rishtan rasakan ketika senyum di wajah gadis itu mengembang. Pipinya membulat cantik, serta matanya yang gelap menyipit indah.
Toyota Corolla Altis ini berhenti di pesisir pantai. Pasir dan jalanan hanya berjarak beberapa meter. Rishtan memutuskan untuk memarkirkan Corolla nya di atas pasir pantai.
Nisreen buru-buru melepas alas kakinya dan berlari menuju bibir pantai. Ia menendang-nendang ombak yang menggelitiki telapak kakinya dan berjalan mengitari pesisir.
Mata gadis itu melirik ke arah Rishtan yang hanya berdiri, bersandar pada pintu mobil sembari melipat tangan. “Sini dong! Kalo cuma nontonin gue main air doang mana asyik!” pekik Nisreen.
Rishtan terkekeh pelan dan menggelengkan kepalanya, “Silahkan, silahkan. Muntahin semua beban lu di situ.” serunya.
Angin di malam hari memang sekencang ini ternyata. Rambut sebahu milik Nisreen saja sudah tak terlihat bentuknya.
Nisreen menurut dan berjalan menuju mobil Rishtan.
Mesin mobil dibiarkan menyala. Lampunya menyorot ombak yang lebih tinggi dibanding ketika siang hari.
Sembari membuka bungkus hamburger-nya, Rishtan berdeham sejenak.
“Lega?” tanyanya.
Nisreen menggeleng, “Belum.” gadis itu memakan sepotong nugget yang dibeli sebelumnya.
“Kenapa belum?” Rishtan kembali bertanya.
Pandangan kosong dari Nisreen adalah jawaban yang Rishtan dapatkan atas pertanyaannya.
Bisa dibilang, baru kali ini Rishtan mengobrol panjang lebar dengan tetangga sebrang rumahnya ini. Biasanya, hanya celetukan iseng atau ejekan yang terlontar antara keduanya. Kadang, berpapasan di jalanpun saling tak peduli. Bertetangga, tapi tidak seakrab yang seharusnya.
Rishtan tak tahu banyak tentang Nisreen. Gadis yang diadopsi? Hanya itu. Rishtan pun baru tiga tahun tinggal di rumahnya yang sekarang.
“Gue masih gak percaya kenapa Ibu dan Ayah gue ninggalin gue gitu aja.”
Setelah diselimuti diam selama beberapa menit, kalimat itu terlontar dari bibir Nisreen yang semula hanya bungkam. Rishtan tak bersuara. Ia membiarkan gadis terus berbicara.
“Gue gak sesedih itu ketika tahu bahwa Ibu meninggal karena bertahun-tahun menyembunyikan kanker perutnya. Enggak, gue gak sesedih itu. Bahkan gue gak nangis. Semua orang di tempat kerjanya turut berduka cita. Kata-kata penyemangat, uang, makanan, semuanya memenuhi rumah ketika Ibu pergi.” Nisreen masih menatap ombak seraya bercerita.
Ia duduk sembari melipat kakinya di kursi mobil, tepat di samping Rishtan.
“Tapi begitu gue lihat Ayah meninggalkan gue dengan cara seperti itu, gue sedih. Kenapa dia tega meninggalkan gue sendirian? Kenapa dia tega meninggalkan satu-satunya keluarga yang dia miliki? Kenapa dia tega meninggalkan anak perempuan berusia tujuh tahun sendirian di dunia yang sejahat ini?” suaranya kian parau. “Butuh bertahun-tahun buat lupa gimana tubuh Ayah terpontang-panting melayang di kamar. Sampai sekarang, gue gak bisa memaafkan Ayah atas kematian yang ia pilih. Kenapa sih harus Ayah yang mati, kenapa gak gue aja?!”
Suara Nisreen meninggi. Tanpa diundang, airmata milik gadis itu mengalir melewati pipinya. Ia terisak sesekali, dan mencoba menahan tangisannya agar tak pecah.
Laki-laki bernama Rishtan ini tak menggubrisnya. Ia hanya duduk di samping Nisreen, berusaha menjadi peran pendengar yang baik untuk segala kata yang keluar dari mulut gadis ini. Ia hanya mengedipkan matanya perlahan tanpa sekalipun memalingkan pandangannya dari Nisreen.
Mata gadis itu meredup. Ia menoleh pelan dan memandang Rishtan yang terlihat buram di matanya karena penuh dengan airmata. “Selama ini doa gue cuma satu; gue gak mau sendirian. Tapi kenapa semua orang pergi dan biarkan gue sendiri?”
Nisreen Kalula Attar memandang Rishtan yang hanya terdiam menatap gadis yang tengah berselimut airmata. Terlihat jelas banyak kesedihan ditumpuk rutinitas yang membebaninya. Tertutup manis bungkam bibir gadis di hadapannya. Tak pernah terkuak, tak pernah tumpah, dan tak pernah dibicarakan.
Tangan Rishtan hanya bisa terulur menepuk pelan gadis itu.
“Need a hug?” tanya Rishtan pelan.
Yang ada di kepala Rishtan saat ini hanya ingin memeluk gadis itu erat sembari menepuk-nepuk bahunya.
Tawarannya disambut hangat tubuh Nisreen yang berhambur memeluknya. Tangisannya semakin kencang, beradu riuh dengan ombak yang kian malam kian tinggi. Hoodie hitam yang dikenakan Rishtan basah akan airmata yang terus mengalir dari mata Nisreen.
Rishtan tak bicara lagi. Ia membiarkan Nisreen memeluknya, dan ia memberikannya pelukan. Jemari Rishtan mengusap pelan helaian surai gelap milik gadis Kalula ini.
Suara riuh ombak beradu dengan lagu milik Gloria Laing yang mengalun lembut dari mobil hitam milik Rishtan. Laki-laki itu masih memeluk Nisreen dengan hangat. Sampai akhirnya Nisreen melepas peluk, dan sedikit menjauhkan tubuhnya dari Rishtan.
Kepalanya mengadah, mata Nisreen menatap Rishtan yang tengah menatapnya juga. Sedikit airmata yang tergenang di mata gadis itu terlihat seperti binar karena terpantul cahaya lampu kecil jalanan.
Jemari laki-laki yang semula masih mengusap pelan rambut milik Nisreen, kini berjalan, menari-nari dengan lembut menuju bahu, dan berhenti di tengkuk gadis ini.
Mata mereka seolah terkunci. Tak ada satupun yang enggan mengalihkan pandangannya. Seolah tenggelam di dalam lautan yang tak pernah bertemu dasarnya.
Kali ini tak ada pertanyaan yang terucap dari mulut Rishtan. Laki-laki itu mengecup pelan bibir Nisreen yang sedikit terbuka. Ia kembali menjauhkan wajahnya dari wajah gadis itu, dan mengusap bibir Nisreen dengan ibu jarinya.
Gadis itu tak mengerti apa maksudnya. Ia tak menghiraukan gestur yang semula Rishtan lakukan, dan memilih untuk mengalungkan kedua tangannya pada leher laki-laki dengan hoodie hitam ini, dan balik menciumnya pelan.
Semakin dalam, dan tenggelam. Seolah mereka tak akan pernah bertemu lagi esok malam.
Sinar matahari memaksa menyeruak masuk melalui sela-sela ventilasi kamarnya.
Kejadian malam tadi masih membekas di pikiran Nisreen Kalula Attar. Jemari gadis itu menyentuh pelan bibirnya sendiri, lalu tersenyum seperti orang gila.
Ia dan Rishtan kembali ke rumah pada pukul dua malam. Dengan modal tangkai pohon di belakang rumahnya, Nisreen bisa masuk diam-diam melalui jendela kamar. Sedangkan Rishtan hanya menunggu di depan rumahnya untuk memastikan Nisreen masuk ke dalam rumahnya dengan aman.
Di hari sabtu pukul sembilan pagi gadis ini terbangun. Malam tadi seperti mimpi indah yang tak pernah Nisreen impikan. Perasaan lega sekaligus mendebarkan masih menyelimutinya hingga pagi ini.
Ia turun dari kamarnya menuju dapur untuk mengambil buah dan memakannya. Kakinya melangkah menuju pintu rumah, dan langsung dibuat bingung dengan apa yang matanya tangkap.
Rumah Rishtan dipenuhi oleh wartawan, dan garis polisi yang mengitarinya. Jendela dan kaca di rumah Rishtan pecah. Isi rumahnya berantakan bukan main. Corolla Altis hitam yang dikendarai Rishtan dengannya tadi malam terparkir dengan kaca yang pecah serta coretan kata-kata kasar di badan mobilnya.
Nisreen tak bisa mencerna apa yang ia lihat sekarang. Tadi malam laki-laki itu masih baik-baik saja.
Kemunculan Nisreen di depan rumahnya memancing para wartawan dan menghampirinya.
“Apakah saudari tahu bahwa ini tempat tinggal istri simpanan pengusaha kaya Tjahya Tanutama?”
“Benarkah putra dari istri simpanan Tanutama tinggal di sini?”
“Apakah saudari tahu tentang anak haram dari Tjahya Tanutama yang bernama Rishtan Tanutama?”
Kepala Nisreen hampir pecah mendengar serbuan pertanyaan yang ditumpahkan pada dirinya. Ia hampir panik, namun ayah angkatnya buru-buru menarik Nisreen agar masuk ke dalam rumahnya.
“Maaf, kami tidak mengetahui apapun. Terima kasih. Selamat pagi.” potong ayah angkat Nisreen pada wartawan seraya membawa Nisreen masuk ke rumahnya.
Sang ayah menutup pintu rumahnya rapat-rapat dan menguncinya. Ibu angkat Nisreen menggelengkan kepalanya, “Mereka akan terus melarikan diri, karena terror yang diberikan oleh istri sah nya tak akan pernah berhenti.” gumamnya pelan.
Ayah angkat Nisreen menghela napasnya, “Sudah lihat beritanya, kan? Ini karena Tjahya Tanutama hendak mempublikasikan anak dari istri simpanannya itu pada publik. Tentu istri sahnya tidak terima, karena ia hanya mau Tanu Company dipegang oleh anaknya.”
Nisreen yang masih berdiri di balik pintu mematung mendengar obrolan singkat kedua orang tua angkatnya. Lutut kakinya mendadak lemas, dan ia jatuh terkapar. Tangisannya pecah tiba-tiba, membuat ayah dan ibunya panik dan keheranan.
Setelah kejadian ini, Rishtan tak pernah muncul lagi di kehidupan Nisreen. Laki-laki itu tak pernah mengejeknya lagi ketika ia baru pulang dari segala kegiatan bimbelnya.
Rishtan Tanutama.
Laki-laki yang mengajarkan Nisreen bagaimana rasanya hidup meski hanya satu malam, itu menghilang, dan tak pernah kembali.
oh, i can’t see your face now
if i let you go, will you come back another time?
so i can look forward
we’re never done, are we, babe?
— Why Can’t I Have You by Gloria Laing
Di pinggiran kota, tepat di tepi pantai, terdapat sebuah rumah sakit mewah yang biasa dipesan oleh para konglomerat atau selebriti papan atas apabila membutuhkan tindakan medis. Bahkan, jika hanya untuk menghindari spotlight paparazi pun mereka berani mengeluarkan miliaran rupiah hanya untuk menyewa kamar dan menyamar sebagai pasien di sini.
Laki-laki ini bernama Emran Ali Kafka. Seragam yang tengah ia pakai adalah seragam tenaga medis atau perawat di rumah sakit ini.
Bukan, Emran bukan perawat sungguhan di rumah sakit ini. Ia hanyalah tenaga volunteer yang berkeinginan untuk menghabiskan beberapa bulannya untuk bekerja di sini. Selain karena volunteer diberi insentif, pemandangan laut yang biru menjadi bonus tambahan untuk Emran.
Di minggu kedua ia bekerja sebagai pekerja volunteer, Emran menarik kesimpulan bahwasanya ini bukan hanya rumah sakit mahal nan mewah, melainkan tempat pengasingan.
Kemarin, ia bertemu langsung dengan Ibu kandung salah satu selebriti papan atas di negara ini. Selebriti tersebut bahkan sudah menyebutkan kepada dunia bahwa ibu nya sudah meninggal dunia. Padahal jelas-jelas sang ibu berada di rumah sakit ini. Diasingkan dari dunia yang ia berikan susah payah dan penuh cinta untuk anaknya.
“Emran, mulai hari ini tugas kamu hanya menjaga dan melayani kebutuhan di kamar nomor 2314. Letaknya di lantai tujuh gedung ini ya.”
Hari ini, sesuai dengan instruksi dari Kepala Pelaksana Pelayanan rumah sakit, Emran hanya ditugaskan untuk menjaga satu kamar, kamar 2314. Entah keluarga dari kalangan selebriti mana lagi yang akan Emran temui. Atau jangan-jangan ia akan menemui koruptor yang sedang bersembunyi? Entahlah, Emran sampai berpikir yang macam-macam dan terkadang tidak masuk akal.
Pemuda ini menganggukkan kepalanya, “Baik, pak.” ujarnya.
“Bawakan handuk wajah yang ada di lemari, dan beberapa baju ganti.” instruksi sang kepala pelayanan. “Ah, dan kamu harus memanggilnya dengan sebutan ‘Nona’ ya.” lanjutnya.
Laki-laki itu mengangguk paham. Ia berjalan dengan troli besi serta setumpuk handuk wajah dan beberapa pakaian ganti bernuansa putih.
Ia menekan bel yang menempel pada kusen pintu. Lalu ia mengeluarkan kartu khusus yang berfungsi sebagai kunci dan menempelkannya pada mesin yang tersedia. Emran membuka pintu, sembari pelan-pelan mendorong troli besinya masuk ke dalam kamar dengan nomor 2314 ini.
“Selamat pagi — ”
Mulut Emran mendadak terdiam begitu yang ia lihat bukan seperti bayangannya.
Dengan asumsi di kepala Emran sebelumnya, ia berpikir bahwa pasien yang akan ia jaga adalah seorang lansia tua yang ternyata salah satu orang penting di negara ini. Atau bahkan bisa saja seorang tokoh penting yang dianggap publik sudah meninggal padahal masih hidup dan tengah mengasingkan diri.
Namun yang pemuda ini lihat adalah hanya seorang perempuan berbibir pucat yang rambutnya terurai lepas. Ia tengah berdiri menatap jendela kaca yang langsung memperlihatkan pemandangan pantai yang hangat, dengan segelas teh di tangannya.
“Orang baru?” tanya perempuan itu.
Emran kikuk bukan main. Aku gak salah masuk ruangan kan? Pikirnya dalam hati.
“Oh. Iya. Saya salah satu tenaga sukarelawan baru di rumah sakit ini. Saya Emran — ”
“Mana handuk wajah dan pakaian gantiku?”
Ucapan Emran dipotong oleh perempuan itu. Ia seperti tak peduli dengan kehadiran Emran, dan langsung meminta apa yang ia butuhkan.
“Ini, Nona.” Emran melipat beberapa handuk wajah dan ia simpan dengan rapi di dalam lemari berwarna putih di dekat pintu kamar mandi. Berikut dengan pakaian ganti yang dimintanya. “Apakah ada yang bisa saya bantu lagi, Nona?” tanya Emran. Ia memaksa ujung bibirnya untuk tetap tersenyum meskipun rasanya hari ini ia sedikit kebingungan.
Perempuan itu berbalik memandang Emran. Ia berjalan perlahan mendekati nakas, dan menyimpan segelas teh yang semula sedang ia minum.
“Bagaimana cuaca di luar hari ini?” tanya perempuan itu.
Emran sangat kebingungan. Ia rasa, perempuan ini tidak buta untuk melihat bagaimana cuaca di luar ruangan yang cerah dan sedikit berangin. Kaca yang begitu besar sedaritadi perempuan itu pandangi, mengapa ia masih bertanya kepada dirinya?
“Cuaca di luar cerah, Nona. Cuaca yang pas untuk menikmati hari.” jawab Emran seadanya. “Tapi sepertinya, sore nanti akan turun hujan.” lanjutnya.
Perempuan itu mengerutkan keningnya bingung. “Bagaimana kamu tahu itu?” tanyanya.
“Entahlah, hanya menebak-nebak.” Emran menjawab demikian. Ia menunduk, kemudian membawa keluar troli besi yang ia bawa. “Kalau begitu saya pamit, Nona. Bisa hubungi saya apabila ada kebutuhan yang lain. Selamat beristirahat.” pamitnya. Lalu keluar dan menutup pintu dengan sopan.
Gadis itu termenung, benarkah akan turun hujan di hari yang secerah ini?
“Aku gak mungkin salah lihat, Bang. Dia perempuan, dan aku yakin kalau dia gak jauh beda umurnya denganku. Bukan lansia seperti pasien pertamaku waktu itu.”
Juandra terkekeh mendengar Emran yang keheranan dengan pasien yang ia temui pagi ini. “Kamu gak tau ya, Emr. Katanya, di rumah sakit ini ada hantu perempuan muda yang gentayangan. Sepertinya itu yang kamu temui pagi tadi.”
“Bang Juan!” Emran memekik tinggi. Ia hampir melempar ketua tim nya ini dengan botol air mineral saking menyebalkannya Juandra hari ini.
“Ada ada saja kamu, Emran. Pasti bukan hantu dong, percaya aja.” omelnya. “Namanya Nona Dhia. Dhia Saba Hashmi. Sudah empat tahun ia tinggal di rumah sakit ini.” jelas Juandra.
Alis Emran naik. Ia penasaran ingin tahu lebih lanjut terkait perempuan di kamar pasien nomor 2314 itu.
“Dia cucu pemilik rumah sakit ini. Kedua orang tuanya meninggal lima tahun yang lalu, disusul sang kakak yang bunuh diri, dan ia ditinggal mati tunangannya.” Juandra yang tengah bersandar pada tembok ruang ganti ini menghela nafasnya. “Kamu tahu, Emran. Selama empat tahun Dhia tinggal di rumah sakit ini, tak pernah satupun ada yang menjenguknya bahkan kakeknya sendiri. Hanya psikiater yang mengunjunginya secara berkala, itu pun karena ia membutuhkannya. Dan ia juga tak pernah keluar dari ruangannya.” lanjut Juandra.
“Apa alasannya?” tanya Emran. “Alasan kenapa ia diasingkan ke sini, memangnya apa?”
Juandra menipiskan bibirnya sejenak sebelum menjawab pertanyaan Emran. “Karena ia merasa, orang-orang di sekitarnya mati karenanya.” ujar Juandra.
Emran terdiam. Rumah sakit mewah ini cukup banyak menyimpan misteri yang sangat banyak. Terkait pasien maupun orang di balik kesuksesan rumah sakit mahal ini.
“Lantas, apakah ia mengasingkan dirinya sendiri? Bukan diasingkan oleh kakeknya?” tanya Emran lagi. Teka-teki ini cukup rumit sampai ia sendiri kehabisan akal untuk memecahkan masalahnya.
“Tuan Besar hanya mengikuti apa keinginan Nona Dhia. Ia sendiri yang meminta untuk tinggal di sini.” jawab Juandra.
Helaan nafas terdengar begitu kencang di tengah-tengah kesunyian ruang ganti khusus perawat laki-laki. Terlebih Emran, yang kini mulai penasaran dengan perempuan bersurai putih yang semua orang memanggilnya dengan sebutan ‘Nona’.
“Kamu benar ternyata, sore kemarin turun hujan.”
Dhia bergumam sembari duduk di atas kasurnya. Matanya yang kosong memandangi pantai dengan ombak yang meninggi disertai air hujan yang tiada henti turun dari langit.
Emran yang tengah mengupaskan buah apel di kursi hanya tersenyum kecil. Ia mengupas apel dengan penuh hati-hati dan memotongnya berbentuk dadu.
“Bagaimana dengan besok? Apakah hujan akan turun juga?” tanya Dhia. Perempuan itu menoleh memandangi Emran yang masih sibuk mengupas buah.
“Hmm, besok?” Laki-laki itu bergumam pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari pisau dan buah apel yang tengah ia kupas, “Sepertinya tidak, Nona. Cuaca esok hari tidak secerah hari ini, tapi hujan tidak akan menampakkan dirinya juga.” jawabnya.
“Bagaimana kalau aku tidak percaya?” Dhia bertanya lagi.
Emran melirik ke arah Dhia, kemudian tersenyum kecil. “Nona akan percaya. Esok hari akan kita buktikan.” sahutnya percaya diri.
Dhia yang masih menatap Emran bertanya lagi, “Bagaimana jika perkiraanmu salah?”
“Perkiraanku tidak akan pernah salah, Nona.” kekeh Emran.
Perempuan itu ikut terkekeh mendengar jawaban Emran yang terkesan terlalu percaya diri. Dipikir-pikir, kapan terakhir kali ia mentertawakan obrolan remeh temeh seperti ini?
Dhia menyibukkan diri dengan memainkan garpunya. “Emran. Nama yang jarang kutemui.” gumam perempuan itu.
“Tentu saja, itu nama yang asing.” sahut Dhia lagi. Kemudian ia mengubah posisi duduknya menjadi bersandar tangan pada meja makan yang terpasang di atas ranjang rumah sakitnya. “Kamu pasti bertanya-tanya tentang keberadaanku di sini kan?” tanya Dhia pada Emran.
Laki-laki itu seperti kesetrum. Ia merasa bahwa sepertinya perempuan yang ia panggil Nona ini enggan membicarakan kisah hidupnya atau alasan mengapa ia berada disini.
Emran menggelengkan kepalanya. Berupaya terlihat bahwa ia sama sekali tak tertarik dengan kisah kehidupan perempuan ini. “Tidak juga.” sahut Emran.
Alis Dhia naik, “Oiya?” tanyanya. “Bagus kalau begitu. Kamu tidak perlu tahu.” lanjutnya.
“Ketua tim hanya memberitahu bahwa aku harus memanggilmu dengan sebutan Nona, dan memberitahu namamu.” jawab Emran sedikit bohong. Ia sudah tahu sekilas tentang siapa itu Dhia Saba Hashmi, akan tetapi ia berpura-pura sedang tidak tahu.
“Juandra hanya bicara sedikit tentangku?” pekik Dhia seperti bertanya kepada dirinya sendiri. “Aneh, biasanya ia paling getol menceritakan kisahku yang menyedihkan ini pada pekerja baru sepertimu.” ujarnya.
Emran tersenyum tipis, “Sejujurnya, ia hendak menceritakannya. Tapi aku enggan tahu.” jawabnya.
“Kenapa?” tanya Dhia.
“Karena pekerjaanku hanya menjaga Nona, merawat Nona, membawakan handuk dan pakaian ganti Nona setiap hari Selasa, dan menemani sore Nona sembari mengupas buah.” jawab Emran tanpa basa-basi.
Perempuan ini menatap Emran dengan masih bersandar pada meja makan di ranjangnya. Ada banyak beban tersembunyi yang Dhia lihat di pundak laki-laki ini. Ada luka, ada tangis, serta penyesalan yang begitu banyak.
Lelaki ini sama menyedihkannya dengan dirinya.
“Baguslah. Kamu tidak perlu tahu bagian yang menyedikan dariku.” gumam Dhia pelan sembari bangun dan mengubah posisinya menjadi duduk sembari menekuk lututnya.
Ditemani laki-laki asing, potongan apel dan hujan di sore hari.
Sudah berhari-hari perkiraan Emran selalu benar. Dhia selalu menemukan kebenaran di antara beban yang laki-laki itu pikul di bahunya.
Hari ini cerah, dengan mentari yang menyorot lembut dan ombak pantai yang menari bernyanyi. Sorot mata Dhia kosong menatap pesisir pantai yang sepi.
Suara pintu terbuka membuat perempuan yang tengah berdiri menatap jendela kaca yang sangat besar ini menoleh ke arahnya.
Senyuman hangat yang laki-laki itu berikan membuat Dhia sedikit tersipu. “Selamat pagi, Nona.” sapanya.
Emran menyimpan beberapa pakaian ganti dan handuk di atas nakas sebelah pintu kamar mandi di kamar pasien bernomor 2314 ini.
Diperhatikannya gerak-gerik lelaki itu oleh perempuan sayu berbibir pucat ini. Ia sangat rapi dan penuh hati-hati. Mata tajamnya fokus merapikan isi lemari yang seringkali Dhia acak-acak selagi emosinya sedang tidak stabil.
“Apakah ada yang bisa saya bantu, Nona?” tanya Emran ketika pekerjaannya sudah selesai.
“Bagaimana cuaca di luar?” Dhia balik bertanya.
Emran terdiam sejenak. Ia menatap jendela kaca yang menjadi spot yang paling sering Dhia pandangi. “Kali ini aku tidak bisa menebaknya dengan pasti. Tapi sore ini, Nona akan merasakannya sendiri.” jawab Emran.
Alis Dhia berkerut, “Apa yang tengah kamu bicarakan?” tanyanya. Suaranya kian meninggi.
“Apakah Nona mau menghabiskan sore bersamaku? Aku lelah mengira-ngira cuaca yang selalu Nona tanyakan. Nona bisa merasakannya langsung sore ini. Bersamaku.” ajak Emran.
Ada perasaan berkecamuk begitu Dhia mendengar ajakan dari laki-laki asing yang sudah menemaninya beberapa minggu terakhir ini.
Langkah kaki Dhia berderap. Ia melangkah mendekati Emran dan beberapa saat kemudian, sebuah tamparan mendarat di pipi kiri laki-laki ini. Mata Dhia berair. Ia seperti menahan tangisnya kuat-kuat. Sedangkan Emran hanya diam menatap Dhia.
“Sepertinya Juandra tidak mengajarimu sopan santun.” ujar Dhia dengan suara yang bergetar.
Emran masih terdiam. Ia meneguk salivanya, lalu sedikit menunduk seolah memberi hormat.
“Kalau begitu saya pamit, Nona. Bisa hubungi saya apabila ada kebutuhan yang lain. Selamat beristirahat.” pamitnya. Ia memutar tubuhnya dan menarik pergi troli besi yang ia bawa, lalu menutup pintu secara perlahan.
Dhia masih berdiri memperhatikan kepergian Emran di balik pintu yang sudah tertutup. Lutut perempuan itu lemas. Ia ambruk ditemani tangisan yang meraung-raung memenuhi ruangan.
Ingatannya kembali di mana semua orang pergi meninggalkannya. Orang tuanya yang meninggal, kakaknya yang bunuh diri, bahkan tunangannya sendiri yang mati tertabrak. Ia benar-benar merasa bahwa kematian orang-orang di sekitarnya adalah karenanya. Ini semua ulahnya.
Di luar pintu kamar dengan nomor 2314 ini masih berdiri Emran yang tengah bersandar pada daun pintu. Ia memegangi pipi kirinya yang memerah dan sedikit panas, sembari mendengar suara jeritan tangis yang meraung-raung dari kamar perempuan yang ia sebut Nona ini.
Kosong. Satu kata yang dapat Emran berikan untuk Dhia. Perempuan itu seperti vas bunga yang kosong. Kehilangan bunganya yang indah, kehilangan tanahnya yang subur, serta kehilangan cacing-cacing yang setia menemaninya.
Ada rasa bersalah yang bergelantungan dalam diri Emran selagi ia berkata demikian pada Dhia. Laki-laki ini tak marah begitu sebuah tamparan mendarat di pipinya. Ia pantas mendapatkannya atas ajakan sembrono yang ia ucapkan tadi.
Kini ia hanya bisa berdiri di balik pintu. Mendengarkan luka yang sedang perempuan itu raungkan di pagi yang cerah ini.
“Bagaimana cuaca di luar?”
Pertanyaan itu kembali mencuat. Emrran meneguk salivanya kaku. “Cuaca hari ini cukup cerah, namun agak sedikit berawan. Diperkirakan hujan akan turun malam nanti.” jawabnya sebisa mungkin.
Dhia yang tadinya sedang memunggungi Emran kini menolehkan kepalanya. Ia menatap Emran dengan matanya yang sayu dan wajahnya yang begitu pucat. Aura dingin yang menyedihkan berkerumun membalut perempuan itu.
“Mau temani aku untuk membuktikannya?” tanya Dhia tiba-tiba.
Mata Emran membelalak. Aku tak salah mendengar, kan? Pikir laki-laki itu.
Senyum kecil Dhia tampilkan di wajahnya yang pucat. Perempuan itu mengambil cardigan putih yang tersampir di ujung ranjang rumah sakit, dan berjalan mendekati Emran.
Laki-laki itu mematung. Ia bingung begitu Dhia berdiri di dekatnya.
Langkah kaki Emran mengecil. Ia membuka pintu dan melangkah keluar lebih dahulu. Akan tetapi Dhia seperti ragu untuk keluar ruangan.
Akalnya sibuk menepikan pikiran buruk terkait kematian orang-orang di sekitarnya. Ia merasa terlalu banyak dosa yang harus ia tebus hanya untuk melangkahkan kakinya keluar ruangan serba putih ini.
Emran melihat itu dengan jelas. Ia hanya bisa menunggu Dhia untuk melangkahkan kakinya keluar ruangan dengan usahanya sendiri.
Uluran tangan laki-laki bermata tajam ini menjuntai di depan Dhia. Perempuan ini menatapnya perlahan, lalu ia sambut dengan keraguan yang berusaha meruntuhkan keinginannya untuk bebas.
Ujung bibir Emran menukik begitu Dhia sudah berada di luar ruangan. Ia merasa ada kesenangan sendiri begitu melihat perempuan ini berhasil keluar ruangan dengan usahanya sendiri.
“Aku bisa keluar, aku bebas.” gumam Dhia pelan. Emran hanya bisa mendengarkannya dengan haru.
Pasir pantai yang hangat, terik matahari yang menyorot lembut, serta suara ombak yang menenangkan tengah Dhia nikmati.
Ia berjalan bertelanjang kaki dari ujung pantai dengan kedua kakinya yang gemetar hebat. Perasaan senang yang tak pernah Dhia rasakan lima tahun belakangan ini menyeruak ingin terbang bebas.
Dress putih panjang yang ia kenakan sedikit basah terkena air laut yang dingin. Emran berjalan di belakang perempuan itu. Menatapnya penuh rasa suka yang tumpah ruah.
Perempuan itu berbalik. Ia menghentikan langkahnya dan menatap Emran sembari tersenyum. “Terima kasih.” ucapnya.
“Nona tidak perlu berterimakasih.” Emran tersenyum lembut. “Asal nona tahu, kalau aku bisa terbang, aku sudah membawa nona kabur melalui jendela.” ujar Emran.
Kekehan tawa terdengar dari mulut Dhia. “Oiya?” Ombak kecil berderu kencang. Selagi air laut yang seolah menjilati kaki Dhia yang tak menggunakan alas kaki.
Emran mengangguk, “Aku sangat senang melihat Nona tersenyum siang ini.” ujar laki-laki itu.
“Kenapa kamu yang senang?” tanya Dhia.
“Entahlah. Ketika nona bertanya tentang bagaimana cuaca di luar, aku selalu berkeinginan untuk membawa nona langsung dan merasakannya sendiri.” Emran berjalan mendekat ke arah Dhia yang masih terpaku mendengar ucapan laki-laki itu.
Emran mendekatinya. Jarak di antara keduanya kian terkikis. Namun tiba-tiba percikan air terasa di wajah Dhia. Emran menyipratkan air laut ke wajahnya, lalu lari dengan bahagia menghindari balasan Dhia yang tak seberapa.
Perempuan ini refleks menyipitkan mata begitu cipratan air laut mendarat di wajahnya. Ia mengejar Emran yang sibuk melarikan diri seperti takut Dhia balas dendam.
“Emran, jangan lari!”
“Kalau bisa, kejar aku, Nona!” pekiknya dengan nada bahagia.
Keduanya saling kejar-kejaran menghindari cipratan air yang mereka hempaskan. Suara tawa dan ekspresi bahagia tak bisa mereka tutupi satu sama lain.
Emran tenggelam menikmati kebahagiaan yang tak hanya ia rasakan sendiri, melainkan dengan orang yang sepatutnya bahagia juga. Ia membagi bahagianya dengan perempuan yang selama tiga bulan terakhir ini ia panggil dengan sebutan Nona.
Dhia tak bisa bohong. Dadanya seperti ingin meledak saking bahagianya ia sekarang. Tawanya tak kunjung reda. Ia masih tertawa melihat tingkah kocak Emran, ataupun keisengannya.
Sampai-sampai ia gelisah sendiri karena ia benar-benar kegirangan menikmati momen ini. Berdua, bersama laki-laki asing yang sudah menemaninya selama kurun waktu tiga bulan belakangan ini.
Ia gelisah, ia takut kebahagiaan ini akan habis tenggelam ditelan air laut. Ia gelisah, ia takut meninggalkan Emran yang tengah diselimuti kehangatan itu sendirian. Ia gelisah, karena ia takut esok hari rasa kegelisahan akan kebahagiaan yang ia rasakan ini sudah tidak dapat ia rasakan kembali. Ia gelisah, ia takut hanya bisa memberi kesedihan untuk bahagia yang laki-laki itu beri kepadanya.
Emran tersenyum sembari mendorong troli besi nya menuju kamar nomor 2314. Nomor kamar yang sudah ia hafal di luar kepala.
Handuk wajah, pakaian ganti, serta beberapa bunga dan permen yang manis ia siapkan untuk perempuan yang kemarin berhasil ia ajak keluar ruangan serba putih ini.
Ia menekan bel yang terpasang di kusen pintu. Lalu menempelkan kartu yang berfungsi sebagai kunci, dan begitu ia masuk, yang ia temukan adalah keramaian dan bau darah yang menyeruak, memaksa masuk ke dalam hidungnya.
Di ruangan ini terdapat beberapa orang dengan seragam kepolisian dan tim forensik yang tengah melakukan tugasnya untuk mengkonfirmasi kasus ini dan mencari tahu sebabnya. Serta beberapa kali suara jepretan kamera terdengar oleh Emran.
Kening Emran berkerut. Kebingungan berkerumun di sekitarnya. Kepalanya mendadak sakit, seperti menyempit disertai tungkainya yang kian melemas.
Cengkraman tangannya pada troli besi yang ia bawa hampir lepas. Ia menatap laki-laki yang ia kenal, Juandra, dengan tatapan kosong yang tak tahu harus diartikan apa.
Perempuan yang selama tiga bulan terakhir ini ia panggil Nona, tergeletak mengenaskan di lantai kamar pasien dengan nomor 2314 ini dengan luka sayatan lebar di lehernya.
Cangkir yang selalu dipakai Dhia untuk meminum teh nya pecah, dan pecahannya ada di genggaman perempuan itu.
“Sepertinya ia bunuh diri malam tadi.” ujar Juandra yang sudah berada di ruangan ini sebelum Emran masuk.
Mata Emran berair. Ia tak bisa berdiri dengan kuat karena kakinya terlalu lemah. Dadanya sesak, paru-parunya seperti menyempit. Tak mampu lagi menghirup udara sebanyak-banyaknya karena perempuan yang kemarin ia buat tersenyum itu tergeletak tak bernyawa di hadapannya.
“Bang Juan, ini aku lagi sakit ‘kan, ya? Aku lagi berhalusinasi ‘kan, ya?” Emran berulang-ulang mengatakan seperti itu kepada Juandra. “Dhia gak boleh sendirian, Bang. Aku harus temani dia!” serunya berteriak.
Laki-laki bernama Juandra itu hanya bisa memeluk Emran dan membawanya keluar ruangan. “Kamu akan menemuinya lagi di ruang pemakaman. Sekarang, lebih baik kamu menunggu Nona di luar kamar saja ya.” ujar Juandra sembari hendak menutup pintu dan membiarkan Emran sendirian di luar kamar nomor 2314 ini.
“GAK MAU, BANG!!!” Emran berteriak. “Tugasku menemaninya, aku gak mau biarin Nona sendirian. Dhia butuh aku, TOLONG BUKA!” jerit Emran sembari terus berteriak.
Juandra hanya bisa terdiam sembari menutup pintunya.
Sedangkan Emran masih tak percaya dengan apa yang ia lihat. Kemarin siang, Dhia bahagia. Bersamanya. Dhia tertawa riang bersamanya kemarin. Bahkan suara renyah tawanya masih hangat terdengar lagi di telinga Emran.
Kepala laki-laki ini ia benturkan berkali-kali ke pintu jati kamar nomor 2314 ini. Tangisan Dhia meraung-raung kala itu, ia rasakan sendiri. Emran meraung, menangis pilu dengan rasa tak percaya yang masih menghantuinya.
Perempuan itu terlalu kosong untuk pergi begitu saja, dan Emran belum sempat mengisi vas nya dengan kebahagiaan yang ia bisa berikan.
“Kau sibuk menikmati semuanya. Sementara aku gelisah karena kegirangan bisa berdua denganmu. Di ujung-ujung waktu ini, di sisa-sisa kebahagiaan yang hampir habis.”
Sisa Kebahagiaan by Payung Teduh
Setelah mereka berdua menghabiskan waktu bersama karena berada di satu kelompok praktik prakarya, sejak itu hubungan Samudra dan Yejira bisa dibilang... lebih baik daripada sebelumnya.
Mereka seringkali bercanda, sesekali Yejira memilih untuk duduk bersama di meja Samudra dan menghabiskan waktu istirahatnya daripada ke kantin.
Pokoknya, setelah itu hubungan Yejira dan Samudra membaik.
Hari ini matahari panas mentereng begitu terik, dan sebuah keajaiban panas-panas gini 11 IPS 1 ada jam kosong! Yuuhuuu!
Sang ketua kelas alias Haikal sudah nihil keberadaannya. Of course dia pergi ke belakang kantin atau gudang bersama Ilham dan Eric. Ngapain lagi selain nyebat? Huuu, jangan ditiru ya!
Beberapa siswi di kelas ini berkumpul menjadi segerombolan di dekat pintu. Entah membicarakan apa. Saluna dan Hwallendra ada di kursi dekat jendela. Ah, serasa dunia milik berdua deh pokoknya!
Sedangkan Yejira dan Samudra duduk bersebelahan di meja Samudra dan Ilham. Yejira memperhatikan Samudra dengan fokus sembari sesekali menganggukkan kepalanya.
"Lu tau gak? Abis itu kuncinya dilempar! Real dilempar. Lu bayangin kunci dilempar anjir? Kunci gymnasium lu tau kan segede apaan tau tuh!"
Yep, mereka sedang bergosip ria membicarakan insiden lempar kunci yang dilakukan oleh Jena si atlet renang kenamaan Garuda kepada Abe si pengurus OSIS yang dikenal sebagai penanggungjawab gymnasium Garuda. Kalau mau tahu kisah mereka, ada di sini ya!
Yejira meringis pelan, "Tapi ada alasan deh kayaknya dia begitu." ujarnya pelan. "Apa dia lagi masa-masanya rebel kali ya?" ia menebak-nebak.
"Bukan rebel lagi, Ra. Lu liat sendiri kan rambutnya aja oren!" Samudra menambahkan dengan semangat menggebu-gebu.
"Tapi Abe cemen banget dah! Lawan kek kalo digituin, jir?" tambah perempuan itu.
"Ah gua juga kalo jadi Abe mah kagak berani. Ngeri ah pentolan Garuda."
"HEH, TEMENS SEBANGKU ELO LITERALLY PENTOLANNYA JIR???"
"MANA ADA??? PLENGER GITU JIR IAM???"
Keduanya malah bergosip ria di belakang. Ilham yang baru saja datang hendak mengambil tumbler-nya langsung mengurungkan niat begitu melihat Samudra dan Yejira yang asyik bergosip ria dengan seriusnya.
"Gak nyangka gua kalo gosip akan menyatukan dua bocah kagak danta itu." gumam Ilham pelan sembari menggelengkan kepalanya.
Pemersatu Yejira & Samudra: Gosip!
"Jantung gua mau copot, Ra."
Samudra berusaha mengatur napasnya. Jujur, sebetulnya Samudra bukan tipikal pemuda yang mudah akrab dengan orang asing. Cenderung tertutup, dan lebih memilih menyendiri. Meskipun aslinya kalau udah kenal ya tetap cengengesan terus sih. Asbun pula!
Tapi hari ini, Samudra yang tinggi semampai itu dipercaya menjadi salah satu pemain basket di classmeeting SMA Garuda semester ini. Tentu saja Samudra mengiyakan karena skill basketnya pun lumayan, tingginya juga pas banget. Sayangnya, sifat Samudra yang agak tertutup membuat dia mudah nervous.
Padahal cuma classmeeting, tapi deg-degannya kayak mau adu panco sama The Rock tuh!
Melihat Samudra yang agak grogi, Yejira buru-buru menepuk kedua bahu Samudra sembari memandang lurus ke arah wajahnya.
"Inget ya, ini cuma classmeeting. Lo gak usah panik, gak usah serius banget. Pokoknya kalo emang lo gak sanggup, atau lawan udah main kasar, pass!" Yejira memberi intruksi bak pelatih.
Samudra menyipitkan matanya, "Lu nyuruh gua begini karena lawannya kelas MIPA 3 'kan?" ia meragukan integritas Yejira.
Buru-buru Yejira mengetok kepala Samudra dengan kepalan tangannya. "Maksud lo apaan, sial?" serunya.
"Lah, laki lu maen kan?" Samudra menoleh ke kumpulan kelas MIPA 3 yang sedang duduk bersiap. "Gua mau liat, se keren apaan sih tuh laki." gumamnya pelan.
"Lo macem-macem gue tempeleng bolak-balik ya, Sam."
"Nyenyenye—"
"SERIUS IH!" Yejira memotong nyinyiran Samudra yang super tengil itu. "Gue takut lo kenapa-kenapa ya, tau!" lanjutnya.
Sebetulnya Samudra ingin sekali mengejek ucapan Yejira barusan yang terdengar seperti wanti-wanti agak tidak bermain kasar karena takut ayangnya alias Abian terluka.
Tapi tatap mata Yejira berbeda kali ini.
Mata tajam yang kecil itu justru meneduh seperti betul merasa khawatir takut terjadi hal yang tidak diinginkan kepada Samudra.
Melihat raut wajah serta tatap mata Yejira yang meneduh, Samudra dibuat kaget sekaligus terkesima. Baru ini ia melihat sisi baru Yejira yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Meskipun terlihat galak dan super duper jutek, ternyata Yejira peduli juga.
Pemersatu Yejira & Samudra: Sisi tersembunyi seorang Yejira Titania.
"Sam, elo lagi di mana?"
Jam dua belas siang di hari Sabtu.
Berhubung akhir pekan, terutama hari sabtu, tentu saja Samudra bangun siang. Jam dua belas siang pun ia belum juga terbangun. Padahal niat hati ia ingin melanjutkan tidurnya sampai sore, tapi mau tidak mau harus terbangun karena telepon masuk dari Yejira.
Sembari mengusap-usap matanya yang masih terasa berat, pemuda itu menempelkan handphone hitamnya di telinga. "Gua di rumah, Ra." jawab Samudra dengan suaranya yang parau.
"Baru bangun lo?" tanya Yejira lagi.
Samudra refleks mengangguk sembari bergumam pelan. Padahal Yejira mana tau dia ngangguk atau enggak? Belum nyambung nih otak Samudra.
"Lo bisa ke sini gak, belakang angkringan Mas Gan?"
Samudra semakin bingung. Ngapain ke angkringan siang bolong begini? Lagian, mana buka Mas Gan siang-siang? Pikirnya bingung.
"Hah?" pekik Samudra masih setengah sadar. "Mas Gan kok buka siang-siang?" tanyanya.
"Ck, belakang angkringan Mas Gan bukan di angkringannya, bodoh!" maki Yejira.
"Ah elah panas, Raaaaa." rengek Samudra sembari menengok keluar jendelanya.
Di sebrang telepon, Yejira berdecak sebal.
"Pokoknya gak mau tau lo harus ke sini. Gue tunggu di dekat Alfamart. Bawain kebab, dua." perintah Yejira.
"Ra, asli ini lagi panas banget loh cuaca—"
PIP!
Sambungan telepon diputus oleh Yejira dan Samudra hanya bisa menghembuskan napasnnya.
Bukan kali pertama Yejira begini terhadapnya. Pernah suatu hari Yejira menelepon Samudra sembari menangis. Tanpa bicara apa-apa, tanpa memberitahu apa-apa. Samudra panik? Sangat. Karena hari itu keadaan sudah malam dan terdengar sayup-sayup suara kendaraan dari teleponnya. Otomatis otak Samudra menyimpulkan ada sesuatu yang buruk menimpa Yejira di jalan 'kan?
Setelah melacak lokasi Yejira, Samudra tancap gas bersama vario hitamnya menuju tempat Yejira berada.
Tahu di mana?
Di depan komplek apartment. Berjongkok sendirian.
Samudra panik. Kala itu buru-buru ia memarkirkan sepeda motornya asal, lalu dengan cepat memeluk tubuh Yejira yang meringkuk di tepi jalan.
Tapi kok... lama-lama kenapa seperti ada yang menusuk ke dalam kulitnya ya?
Tahu apa yang terjadi?
Sehabis pulang dari kerja kelompok bersama Saluna dan Hwallendra, Yejira menemukan anak kucing di depan komplek apartment mewah. Sebagai pecinta hewan, Yejira tak kuasa dan entah kenapa saat ia hendak menceritakan ini kepada Samudra via telepon, ia justru malah menangis.
Saat itu Samudra memeluk Yejira yang sedang memeluk anak kucing. Mending cuma satu, ini LIMA!
Samudra berusaha meluruskan akal sehat Yejira yang ingin membawa kelima-limanya anak kucing tersebut ke rumah. Tapi mana mungkin Samudra berhasil. Ia hendak mencari kardus bekas untuk membawa kucing-kucingnya ini, eh ternyata kucing tersebut ada induknya.
Gak jadi dibawa pulang deh.
Sepele 'kan? Nyebelin banget alasannya.
Tapi apakah setelah itu Samudra kapok dan enggan datang jika sewaktu-waktu Yejira meneleponnya lagi? Tentu saja tidak. Ia terus datang, meski seringkali alasannya bodoh. Sungguh bodoh.
Seperti siang hari ini.
Samudra mencuci wajahnya. Mengoleskan sunscreen seadanya, lalu membawa helm cadangan untuk Yejira pakai.
Betul teman-teman, pemuda satu ini betul mendatangi Yejira dengan pakaian tidur yang belum ia ganti. Masih mengenakan kaos putih bergambar teddy bear dan celana abu-abu bergaris. Ia menggunakan sepatu converse hitam yang diinjak belakangnya, plus wajahnya yang kusut bukan main.
Yejira yang tadinya duduk di kursi depan Alfamart otomatis berdiri dan berjalan ke arah Samudra yang baru saja memarkirkan vario hitamnya.
Sedikit terharu karena permintaan bodohnya kali ini masih juga pemuda itu turuti.
Samudra melepas helm dari kepalanya. Ia berdecak sebal, "NGAPASIIIII?!" serunya kesal.
Yejira tidak merasa bersalah. Ia justru tersenyum puas begitu melihat Samudra ada di hadapannya sekarang.
Perempuan itu memajukan tubuhnya, refleks meraih rambut Samudra dan mengacak-acaknya pelan. "AHAHAHA!!!" matanya menyipit sembari tertawa. "Eh, gue pikir elo boongan loh bilang baru bangun tidur." ujarnya.
"Lu liat aja anjir, bentukan gua masih kayak bantal begini udah lu suruh-suruh." gerutu Samudra menahan kesal.
"HEHEHEHE!!!" Yejira justru terkekeh. Ia memandangi Samudra dari kepala sampai kakinya. "Mana kebabnya?" tanyanya.
"Noh, di motor." ia menunjuk ke arah motor dengan dagunya. "Ah, elu mah aneh-aneh aja, Ra." ia masih sebal. Kemudian memilih untuk duduk di kursi yang di sediakan depan Alfamart. "Lu ngapain sih, Ra? Siang-siang begini nongkrong di depan Alfamart?" tanya Samudra bingung.
"Gabut." Yejira menjawab singkat. "Lo liat dong, Sam. Gue sama elo sama-sama masih pake baju tidur, dan sama-sama pake converse belel tau!" serunya semangat.
Samudra mulanya tidak memperhatikan itu. Ia memandangi Yejira yang masih berdiri dekat motornya, lalu melihat ke arah dirinya sendiri. Sontak, ia refleks terkekeh.
"Ada banget tololnya kita hari ini." gumamnya pelan.
Yejira melambaikan tangannya, "Gak apa-apa elahhh! Malu sama siapa sih lo?" serunya, kemudian duduk di sebelah kanan Samudra.
Pemuda itu menoleh ke arah perempuan di sebelahnya yang kini santai membuka plastik berisi kebab pesanannya. Telunjuknya terangkat, lalu ia mendorong pelan kepala Yejira.
"Elu, malu-maluin." ejeknya.
"HEH!!!" Yejira tidak terima. Tapi kemudian ia baru teringat. "Ihhh beliin minum dulu dong!" tambahnya.
Samudra terperanjat begitu Yejira memukul pelan pahanya. "Astaga naga api?!" serunya. "Apa lagi, Raaa! Ya ampun?!"
"Elo ke dalam. Beliin lasegar. Dua." Yejira menunjuk toko Alfamart. "Gue yang jeruk loh!" ingatnya.
Mau tidak mau Samudra bangun dari duduknya, lalu berjalan masuk ke dalam toko.
"IYE IYE!!!"
Pemersatu Yejira & Samudra: Kebab, Lasegar dan Converse belel.
Satu kelas 11 IPS 1 serempak berteriak begitu seorang pemuda yang tak asing di SMA Garuda (terutama di angkatan mereka) muncul di depan pintu kelas saat jam istirahat berlangsung.
Biasanya, anak-anak IPS 1 langsung berpencar. Ada yang ke kantin, ada yang nongkrong di belakang gudang untuk merokok diam-diam (jangan ditiru ya teman-teman!), ada yang ke UKS menikmati Wi-Fi gratis setiap kali istirahat berlangsung, ada juga yang memilih untuk tidur di perpustakaan. Aduh, ini juga jangan ditiru!
Bisa dibilang, kelas 11 IPS 1 sangat amat jarang berkumpul di dalam kelas ketika jam istirahat atau jam kosong berlangsung. Tapi hari ini pengecualian karena Haikal memberi intruksi kepada teman-teman satu kelasnya untuk stay karena harus menghias kelas.
Hari Senin nanti akan diadakan lomba K3 Kelas (Kebersihan, Keindahan, Kerapihan) dan tentu saja mau tidak mau membuat satu kelas harus ikut berpartisipasi.
Setidaknya jangan bodo amat banget deh. Ada kontribusinya walau sedikit. Contohnya Ilham. Gitu-gitu dia jago gambar graffiti loh! Hari ini tugas Ilham membuat graffiti di dinding belakang kelas.
Beberapa siswi sibuk gunting menggunting kertas untuk bahan materi mading kelas.
Sedangkan Samudra yang tidak memiliki keterampilan hias menghias, hanya ikut bersama Ilham di belakang. Sesekali melakukan apa yang Ilham suruh kepadanya.
Tapi perhatiannya langsung teralihkan ketika satu kelas berteriak 'cie' secara kompak dan bersamaan. Ia menoleh ke arah pintu masuk kelas, terdapat seorang pemuda yang berdiri dengan senyum sopan di wajahnya.
"Raaaa, diapelin tuh!" seru Camelia dari pojok depan kelas. Ia dan Cici tengah sibuk menggunting origami.
Samudra refleks menoleh cepat pada Yejira yang sedang mencampurkan cat tepat di sebelah kirinya. Perempuan itu menyimpan peralatan catnya, lalu tanpa banyak bicara langsung berjalan ke arah pintu kelas guna mendatangi pemuda itu.
Wajahnya yang biasa terlihat jutek dan galak abis, di mata Samudra terlihat sedikit... hanya sedikit lebih bersemu. Telinganya sedikit memerah, dengan pipi bulatnya yang tak kuasa menahan senyum.
Mata Samudra tidak bisa berpaling. Ia terus memperhatikan gerak-gerik Yejira dari ia melangkahkan kaki menuju ke arah pemuda itu, sampai tiba di depan pintu, di hadapan pemuda yang satu Garuda pun mengenalnya.
Yep, Abian Sadajiwa. Sang Ketua OSIS.
Memang akhir-akhir ini terdengar sayup-sayup gosip yang tersebar di Garuda bahwa Abian sedang dekat dengan seorang perempuan. Ya, awalnya Samudra sih enggan peduli. Tapi begitu tahu kalau perempuan yang dekat dengan Abian adalah Yejira, jujur ia agak shock.
Yejira sama si ketua OSIS? Serius nih? Pikir Samudra.
Karena di kepala Samudra, dua orang itu berbanding terbalik. Yejira cinta kedamaian, ketentraman, tidak suka dengan khalayak ramai dan spotlight berlebihan. Sedangkan Abian tentu saja hidup di tengah-tengah spotlight. Semua murid memandanginya, semua orang di Garuda bahkan. Ia punya jabatan menterang yang otomatis menjadi pusat perhatian setiap harinya.
Kok bisa sih? Dua orang itu?
Ilham yang semula memunggungi Samudra, menoleh ke belakang. Alisnya naik begitu melihat Samudra malah fokus melihat ke area depan pintu di mana ada Yejira dan Abian sedang mengobrol, sedangkan tangannya yang memegang kuas malah mengecat asal di atas grafitinya.
"WEY WEY WEEEEY!!!" Ilham buru-buru merebut kuas cat dari tangan Samudra. "Elu mah malah ngacak-ngacak, anying?!" gerutunya.
Samudra refleks menoleh ke arah Ilham. "Eh, eh! Sorry, Am. Asli, kagak sengaja gua." ia meminta maaf pada Ilham yang agak bete karena karyanya sedikit dirusak oleh Samudra.
Ilham berdecak sebal, "Mata lu ngeliat ke pintu mulu lagian." omelnya. "Ngapa si? Kepo lu ama Si Kutu?" celetuknya asal.
Samudra merenyitkan kening, "Si Kutu?" tanyanya.
"Ketos, ketos." Ilham menjawab tanpa menoleh ke arah Samudra. "Kata anak-anak, kita panggil dia Si Kutu." lanjutnya, lalu tak lama malah terkekeh sendiri.
Anak-anak yang di maksud Ilham tentu saja anak tongkrongan Warung Kopi Teteh dan Angkringan Mas Gan. Coba deh, mampir ke Hidden Diary dan Oh! Sherin. Pasti tau deh siapa pentolannya.
Samudra menganggukkan kepalanya paham. "Bukan, bukan Si Kutu." ia kembali menoleh ke arah pintu kelas. "Tapi Yejira." gumamnya pelan.
Gumaman Samudra terdengar oleh Ilham. Masih fokus dengan kuas catnya, Ilham bertanya lagi. "Ngapa emang Yejira?" tanyanya.
"Jadi tuh, gosip yang katanya ada anak IPS lagi deket ama Si Kutu tuh Yejira?" tanya Samudra. Jangan tanya tau gosip darimana, tak lain dan tak bukan dia nyari sendiri.
Ilham menganggukkan kepalanya. "Iye, mereka." jawabnya.
Mata Samudra membelalak, "Nyet, serius?" tanyanya lagi. Memastikan kembali ini Ilham salah ngomong kali ya? Pikirnya.
"Lah, bener!"
"Bukan anak kelas lain?"
"Kalo anak kelas lain mah ngapain tuh kutu nemplok di sini, gila?!"
Samudra menipiskan bibirnya mendengar ucapan Ilham. Tanpa sadar, ia menggigiti bibirnya, kebiasaannya ketika sedang gelisah.
Mata Samudra tidak bisa berhenti untuk melirik ke arah pintu kelas. Kali ini Yejira tertawa, entah menertawakan apa tapi tergambar di wajahnya yang seringkali tanpa ekspresi itu bahwa ia sedang senang.
Tak lama Abian pamit, lalu pergi dari pintu kelas. Yejira berbalik, masuk kembali ke dalam kelas dengan tas kain berwarna hitam kecil di genggamannya.
Seraya Yejira berjalan ke area belakang kelas, Samudra buru-buru memutar badan dan pura-pura sibuk membantu Ilham. Padahal kerjaannya daritadi cuma kepoin Yejira tuh!
Tanpa bicara apa-apa, Yejira menyimpan tas kain berwarna hitam yang Abian berikan kepadanya di atas meja Samudra dan Ilham. Lalu kembali mengambil kuas guna membantu menyelesaikan grafitinya Ilham.
"Cie, di apelin." ejek Samudra tiba-tiba.
Yejira melirik ke sebelah kanannya, "Apaan sih?" gumamnya pelan. "Iri bilang." ia balik mengejek Samudra.
Alis Samudra terangkat. Ia berdecak meremehkan. "Idih, ngapain juga gua iri." sahutnya cepat.
Yejira hanya menggelengkan kepalanya, enggan meladeni ejekan Samudra lagi. Tapi pemuda bersurai hitam kecokelatan itu masih gatal ingin terus mengejek Yejira.
Matanya melirik ke arah tas kain hitam kecil yang diberikan oleh Abian untuk Yejira tadi.
"Dibawain apaan tuh ama ayang?" tanyanya dengan nada mengejek.
Yejira yang masih fokus mengecat grafiti di tembok tidak menoleh ke arah Samudra. Tapi ia paham dengan apa yang di maksud oleh Samudra.
"Buka aja." jawabnya cuek.
Samudra mengiyakan. Ia beranjak dari sebelah Yejira untuk mengambil dan membuka tas kain berwarna hitam yang Abian berikan kepada perempuan bermata sipit itu.
Alis Samudra berkerut, tak lama ia refleks menahan tawanya.
"PFFFFFTTTT!!!" pemuda itu menutup mulutnya dengan tangan, menahan tawa.
Ilham yang mendengar itu refleks menoleh ke meja Samudra. "Ngapa oy?" tanyanya.
Tanpa basa-basi, tiba-tiba saja Samudra memperlihatkannya kepada Ilham.
Memangnya apa sih yang Abian berikan kepada Yejira?
Ilham ikut tertawa setelah melihat apa yang Samudra tunjukkan. "YAELAHHH!!!" pemuda itu berteriak. "Ra, bocah PAUD lu dibuatin bento ala-ala Pucca segala?!" seru Ilham tak pikir panjang.
Yejira menoleh cepat ke arah dua begundal itu. Ia menyimpan kuas yang semula ia pakai untuk mengecat dinding, lalu dengan cepat merebutnya dari tangan Samudra.
Yep, Abian membuatkan bento untuk Yejira. Bukan sembarang bento, melainkan bento karakter Pucca yang kalau kata Abian sih... mirip Yejira.
Ini serius seornag Abian Sadajiwa, Ketua OSIS SMA Garuda membuatkan Yejira bento ala-ala bocah gini? Terlebih, Yejira, seorang Yejira Titania yang imej nya fierce itu mau-mau aja dikasih bento Pucca begini?
Shock!
Tanpa banyak bicara, Yejira malah mengambil dua potong sosis dari bento-nya lalu menyumpal mulut Samudra dan Ilham satu persatu secara bergantian.
Samudra dan Yejira berusaha mematahkan opini tua di masyarakat tanpa mengetahui bahwa sesuatu telah tumbuh, tanpa kata, tanpa bicara, tanpa isyarat di antara mereka.
*** check Pancaka Mantra: Guide Book first if you're still confused about the face claims.
Kelas 11 semester pertama di SMA Garuda.
Hari ini adalah hari pertama Samudra Noa Salendra atau yang akrab disapa Samudra duduk di bangku sekolah kelas 11 SMA.
Masa-masa kelas 10 nya dulu yang masih naif, masih malu-malu masih terbawa sampai sekarang. Karena pasalnya, ia sendiri merasa asing dengan murid-murid di kelas 11 IPS 1 ini.
Waktu kelas 10, belum ada pembagian jurusan. Semua mata pelajaran dipelajari baik MIPA maupun IPS. Dan sekarang tepatnya di kelas 11 adalah pembagian jurusan.
Samudra memilih IPS sebagai jurusannya dikarenakan ia sama sekali tidak menemukan minatnya di jurusan MIPA. Entah kenapa.
Ia benar-benar duduk sendirian di belakang kelas dengan earphone hitamnya yang menyumpal rungu pemuda bersurai agak panjang itu. Sampai akhirnya seorang pemuda bermata sipit duduk tiba-tiba di kursi sebelah kanannya yang kosong.
Samudra melirik sejenak pada pemuda asing itu, sedangkan pemuda itu malah menyunggingkan senyumnya.
"Kosong 'kan ya?" tanyanya.
Samudra mengangguk, "Iya, kosong. Gua duduk sendiri." jawabnya.
"Mantap dah kalo gitu." sahut pemuda ini lagi. Kemudian ia melepas jaket putihnya dan menjulurkan tangan di depan Samudra.
"Btw, gua Ilham." ujarnya memperkenalkan diri.
Samudra menyambut jabatan tangan pemuda bernama Ilham ini.
"Samudra."
"Gue Cantika."
"Lah gue juga Chantika?"
"HAH?!"
Haikal Sukma, ketua kelas dadakan yang tiba-tiba ditunjuk anak sekelas mendadak pening sendiri begitu satu kelas ini tengah saling berkenalan.
Masalahnya di kelas ini ada dua orang yang memiliki nama yang sama; Cantika dan Chantika.
Hanya beda tulisan. Pelafalannya sama. Persis.
Hwallendra yang ada di barisan tengah ikut pusing sendiri. "Pake nama panggilan deh. Kalo dua-duanya Cantika ribet gini jadinya." usulnya.
Saluna mengangguk menyetujui usul sang pacar, "Iya dong, ribet banget jatuhnya kalo ada dua gini."
Ilham yang berada di pojokan kelas tiba-tiba nyeletuk, "Yang satu Caca yang satu Cici aja." sahutnya.
Kemudian ketika semua perhatian anak kelas tertuju kepadanya, ia menunjuk gadis berpipi chubby bernama Chantika ini.
"Yang pipinya kayak ikan buntel tuh dipanggilnya Cici. Cocok dah kayak bakpao featuring ikan buntel itu pipinya."
Samudra yang tadinya gak mau ikut campur langsung terkekeh mendengarkan usulan Ilham yang asal nyeletuk.
"Eh diem aja deh lo yang kayak pocky!" maki Chantika balik mengejek Ilham yang memang kurus itu.
"Halah bakpao!"
"POCKY!"
Setelah melewati banyak cekcok gak jelas, akhirnya resmi Chantika dipanggil Cici, sedangkan Cantika dipanggil Caca.
Meski Chantika berontak abis-abisan gak mau dipanggil Cici, tapi tetap saja kalau ada yang panggil dia dengan sebutan itu dia nyahut.
Oh, perlu diketahui lagi. Selain ada Caca dan Cici, disini juga ada empat orang gadis yang (katanya) paling hits seangkatan mereka.
Suka jadi incaran kakak kelas. Bukan buat di-bully, malah dikecengin. Saluna, Sherin, Camelia dan Yejira.
Saluna ini paling terkenal. Dia tajir melintir, ditambah pacarnya aja seorang Hwallendra Alantha, yang ke sekolah bawa BMW.
Nah kalau Sherin, dia terkenal karena menjadi Wakil Ketua OSIS. Galaknya bukan main, tapi tetap pakai 'aku-kamu'. Jadi kadang kalau lagi negur cowok-cowok berandal, malah cowok-cowoknya yang gemes. Idih!
Kalau Camelia, dia seru parah orangnya ke sana-sini nyambung. Jeleknya, kalau ada yang ngomongin dia udah gak pake ba-bi-bu lagi langsung labrak.
Ckckck, serem betul.
Terakhir, ada Yejira. Dibanding ketiga itu, Yejira paling jarang ikut berkelompok bersama mereka. Seringkali memisahkan diri. Entah apa alasannya, tapi Yejira memang tidak terlalu suka jika dikenal banyak orang.
Tapi kenyataan bicara lain. Justru itu yang buat Yejira seringnya disukai sama anak cowok karena terkesan 'misterius'.
"Kalo mau ngecengin tiga di antara empat orang itu, lu kudu punya nyali dewa."
Samudra tersentak begitu Ilham bicara berbisik demikian padanya ketika ia tengah memperhatikan Saluna dan ketiga gadis itu di kelas.
Pura-pura tertarik, Samudra ikut berbisik pada Ilham.
"Kok tiga?" tanya Samudra. Kemudian ia membuka mulutnya seolah-olah terkejut. "Oh jadi Saluna beneran pacarnya Hwallendra yang bawa BMW itu?" tanyanya lagi.
Ilham mengangguk, "Iye pacarnya pak bos. Jadi jangan macem-macem lu kalo masih mau sekolah di Garuda."
Samudra menanggukkan kepalanya seolah paham.
"Lu emangnya ada niat mau ngeceng Saluna, Sam?" tanya Ilham.
Samudra menggeleng, "Kagak! Gua kagak ada niat mau ngeceng keempat-empatnya."
Mata sipit Ilham membalak, "DEMI?!" tanyanya hendak teriak tapi tertahan.
Masalahnya sekarang jam pelajaran PPKn diberi tugas untuk menganalisa sebuah kasus hukum yang ada di buku paket masing-masing. Bodohnya dua pemuda ini malah berjulid ria.
Samudra menipiskan bibirnya sembari hendak memukul Ilham karena suaranya terlalu kencang.
"Berisik goblok!" makinya. "Iya, gua gak tertarik sama mereka."
Ilham menggelengkan kepalanya tak mengerti, "Demi apa sih lu sama sekali kagak tertarik?" tanyanya lagi. Buset nanya mulu.
Samudra hanya mengangguk.
Kemudian ia balik bertanya, "Lu sendiri gimana? Tertarik?"
Ilham mengangguk semangat, "Kalo gua sih Camelia ya." Ilham tersenyum malu. "Anaknya tuh kagak jaiman, bener-bener tipe gua banget lah." jawabnya bangga.
Suara dehaman sang guru membuat kedua pemuda ini buru-buru membuka bukunya. Pura-pura sibuk membaca kasus padahal otaknya masih ke cewek.
Disela-sela keheningan itu, Samudra malah menyenggol lengan Ilham. "Sama Cici aja lu mah, Am." celetuk Samudra asal.
Yejira dengan rambut hitam panjangnya yang terurai langsung bangkit berdiri begitu sang guru olahraga memanggil namanya.
Begitu juga dengan Samudra.
"Ambilkan matras dan dua bola kecil ya." suruh sang Pak Gio sang guru olahraga.
"Oke, Pak."
Kebiasaan setiap hendak memulai pelajaran olahraga adalah siswa dan siswinya diacak sesuka hati sang guru untuk mengambil perlengkapan olahraga.
Kadang Samudra suka berpikir, kenapa sih gak dia aja yang ambil sendiri? Tapi kalau dia ungkapkan dan dia tanya itu ke Pak Gio, guru olahraganya, bisa-bisa nilai Pendidikan Jasmani Samudra di bawah KKM.
Ketika keduanya sampai di depan ruang olahraga, baik Yejira maupun Samudra malah saling berpandangan. Samudra yang berdiri tepat di depan pintu ruang olahraga malah menyunggingkan senyumnya canggung.
"Hehehe, kuncinya lupa minta." kekeh Samudra.
Yejira menghela nafasnya kasar.
Baru saja Samudra hendak berlari menuju lapangan guna meminta kunci. Tapi langsung ditahan oleh Yejira yang mengeluarkan sebuah gelang dari sakunya lalu menyodorkannya pada Samudra.
"Nih, buka." suruhnya.
Kening Samudra berkerut, "Kok lu pegang?" tanyanya.
"Buka pintunya. Kalo kelamaan gak enak sama anak-anak yang lain." sahut Yejira tak menjawab pertanyaan Samudra.
Helaan nafas super jengkel keluar begitu saja dari hidung Samudra Noa Salendra ini.
Idih, cewek macam apa ini? Jutek bener! Batinnya. Pantes aja dari auranya juga udah keliatan paling beda di antara ketiga temannya yang lain. Seenggaknya lebih friendly deh yang lain, gak kayak yang ini. Pikir Samudra ngomel-ngomel.
Ketika sudah di dalam ruang olahraga, Yejira sibuk mencari bola yang dimaksud di keranjang khusus bola. Gak tau lagi deh ini bola ada berapa banyak.
Sedangkan Samudra tengah mengambil matras yang letaknya berada di pojok ruangan. Di antara kesunyian itu, tiba-tiba saja Samudra berdeham.
"Ekhm, gua boleh nanya gak?" tanya Samudra sembari memisahkan matras satu dengan matras yang lainnnya yang bertumpuk.
Belum juga Samudra menyelesaikan pertanyaannya, Yejira lebih dahulu memotong pertanyaan Samudra.
"Gak." sentaknya. "Gue gak mau jawab."
Samudra membelalakkan matanya begitu Yejira malah memotong pertanyaannya yang belum usai. Kemudian ia hanya menutup rapat-rapat bibirnya sembari terus berusaha mengeluarkan matras yang bertumpuk.
"Lo kayaknya orang ke seribu yang udah nanyain temen gue dua bulan belakangan ini." seru Yejira tiba-tiba.
Samudra yang sudah berhasil mengeluarkan matrasnya menoleh pada Yejira yang malah duduk di atas keranjang bola yang besarnya kayak apaan tau itu.
"Gue tuh kayak The Duff nya mereka tau gak sih." keluh Yejira. "Yang ditanyain pasti Camelia, Sherin atau bahkan Saluna yang jelas udah punya cowok." ia lanjut berbicara. "Kayak... apaan sih, kalau suka ya deketin aja langsung gak usah tanya gue." sentaknya lagi.
Pemuda bersurai hitam gelap ini meneguk salivanya.
"Itu, Yejiraㅡ"
"Dah ah, capek!"
Yejira lebih dulu pergi meninggalkan Samudra di ruang olahraga sembari membawa dua bola yang disuruh oleh sang guru.
Sedangkan Samudra hanya bisa terdiam sembari kebingungan. Kenapa coba tuh anak? Pikirnya.
Sejak hari itu, setelah terjadi kesalahpahaman antara Samudra dan Yejira, hubungan mereka semakin buruk dan Samudra semakin takut kalau-kalau Yejira marah kepadanya.
Setiap kali mereka berpapasan di kelas, setiap kali mata tajam Yejira melihat ke arahnya, rasanya jantung Samudra seperti terkoyak. Ada rasa takut, bingung, sekaligus rasa tidak enak dalam diri pemuda itu.
Pertama, hubungan yang bahkan belum mereka mulai sudah rusak. Kedua, dipelajaran Prakarya hari ini dan dua minggu ke depan, mereka malah berada di satu kelompok yang sama.
Dengan Caca, Ilham, Haikal, Cici dan Yejira.
Samudra bingung, tidak tahu harus bersyukur atau malah sedih dan takut karena kedapatan satu kelompok dengan Yejira Titania yang masih mendeklarasikan perang dingin dengan dirinya.
Sore ini, kelompok prakarya yang diketuai oleh Haikal (tentu saja) sudah ada di kediaman Haikal. Tepatnya di teras belakang rumahnya yang terhubung dengan dapur.
Cici dan Ilham berantem cekcok di dapur karena rebutan siapa yang mau memasak adonan kue lumpur buatan mereka. Haikal dan Caca tidak di tempat karena harus membeli bahan untuk adonan mereka yang ternyata kurang. Sedangkan Samudra dan Yejira ditugaskan untuk mengupas kentang yang hendak direbus.
Keadaannya berbanding terbalik dengan yang berada di dapur. Di sini, di teras luar, hawa dinginnya Yejira seperti menusuk sukma Samudra saking dinginnya. Sesekali ia merinding karena diamnya Yejira seperti hendak melahapnya saat ini juga. Tiap Yejira bergerak, Samudra tak kuasa ingin segera angkat kaki dan lari.
Tentu saja Samudra merasa bersalah perihal kesalahpahaman mereka kemarin. Mungkin saja Samudra tidak sadar bahwa ada perkataannya yang tidak disengaja menyinggung perasaan Yejira. Keinginan untuk meminta maaf kepad Yejira sebetulnya ada, banyak. Tapi entah kenapa Samudra terlalu ciut begitu melihat gerak-gerik Yejira yang sedang memegang pisau sembari mengupas kentang.
Tidak ada pembicaraan di antara mereka. Satu persatu kentang yang harusnya mereka kupas pun sisa satu. Yejira melirik ke arah Samudra, begitupun pemuda itu.
Tapi buru-buru Samudra mundur perlahan sembari menyimpan pisau lalu melepas sarung tangan plastiknya. Membiarkan Yejira mengupas kentang terakhir.
Sambil menekuk kakinya, Samudra terus memperhatikan Yejira yang duduk di sebrangnya. Mata perempuan itu seperti rubah, agak tinggi di ujungnya. Bibirnya tipis, kecil. Mungkin karena itu wajahnya terlihat agak galak dan jutek abis? Samudra seperti sedang mengobservasi.
Di sela-sela kegiatan observasi yang dilakukan oleh Samudra, tiba-tiba saja Yejira melirik ke arahnya. Samudra mati kutu. Ia langsung melengos seolah tidak terjadi apa-apa.
Sedangkan Yejira berusaha mengatur air mukanya agak tidak canggung.
"Emangnya siapa?" tanya Yejira tiba-tiba.
Samudra menoleh cepat. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali karena tidak mengerti dengan pertanyaan Yejira barusan.
"Apa tuh yang siapa?" Samudra balik bertanya.
"Temen gue." sahut gadis bersurai hitam pekat nan cantik ini. "Siapa temen gue yang mau lo deketin?" tanyanya.
Samudra diam sejenak, berusaha mencerna ucapan Yejira. Otaknya berputar, me-rewind kejadian apa yang terjadi antara dirinya dan Yejira sampai perempuan itu tiba-tiba bertanya demikian.
Sampai otaknya sudah ter-click dengan baik, Samudra membuka sedikit mulutnya, paham dengan apa yang Yejira maksud.
"Ah itu," ia membasahi bibirnya sejenak. "Bukan siapa-siapa." jawab Samudra. "Maksudnya, gua kagak ada niatan mau deketin temen lu sama sekali."
"Tempo hari, yang mau gua tanyain tuh sebetulnya gini; 'temen-temen lu ada yang tertarik sama Ilham gak?' gitu." jelasnya.
Yejira menghentikan sejenak kegiatan mengupas kentang terakhirnya. Ia menatap Samudra penuh tanda tanya, dengan wajahnya yang tampak bingung.
"Maksudnya?" tanya Yejira lagi.
Samudra menipiskan bibirnya. Ia betul-betul menghadapkan tubuhnya pada Yejira. "Gua kagak mau deketin temen lu, tapi mau bantu Ilham. Katanya dia suka sama salah satu temen lu itu." lanjutnya.
"Lo sendiri?" Yejira kembali memotong penjelasan Samudra. "Lo juga pasti ada niat buat deketin temen gue kan, makanya lo nanya ke gue?" ia kembali mencecar Samudra dengan pertanyaan yang memang biasa ditanyakan oleh para lelaki di SMA Garuda.
Buru-buru Samudra menggelengkan kepalanya, "Kagak, kagak!" ia buru-buru menolak kesimpulan yang barusan Yejira katakan. "Begitu lu kemarin marah ke gua dan bilang kalau lu tuh merasa seperti The Duff di antara teman-teman lu, jujur aslinya gua bingung tuh, Ra." Samudra langsung berkata sejujurnya.
Yejira sedikit kaget begitu Samudra menambahkan kata 'Ra' di akhir kalimatnya. Tapi buru-buru ia potong kembali ucapan Samudra. "Ngapain bingung?" tanya Yejira. "Faktanya gue emang The Duff-nya temen-temen gue kok."
Samudra menggeleng sembari menggerakkan tangannya, "Kagak, kagak. Sebelah mananya lu The Duff?" ia tidak setuju dengan ucapan Yejira. Perempuan itu terdiam sembari menunggu Samudra melanjutkan bicaranya. "Gini ya, masing-masing orang tuh punya pesonanya sendiri. Insecure pasti, gak mungkin kagak. Tapi itu bukan alasan buat memandang diri lu sendiri lebih rendah daripada teman-teman lu." lanjutnya. Ia mengubah posisinya menjadi bersandar pada pilar tembok yang berada di belakangnya. "Lagian sebelah mananya sih lu The Duff? Lu kagak ugly, kagak fat juga." suaranya kian mengecil. Ia melihat ke arah Yejira sembari menggelengkan kepalanya, tidak setuju dengan ucapan Yejira yang men-claim dirinya adalah The Duff bagi teman-temannya.
Baru kali ini Yejira mendengar ucapan tersebut dari orang lain, selain Camelia, Sherin, dan Saluna tentu saja.
Selama ini, dua bulan belakangan ini, setelah ia berada di kelas yang sama dengan ketiga teman cantiknya itu, memang tiada henti Yejira mendapatkan 'titipan salam' dari para lelaki gembel seantero Garuda untuk teman-temannya. Tidak ada untuk dirinya.
Jujur, ia tidak masalah. Sama sekali. Tapi, bisa gak sih langsung aja sampaikan tanpa harus melalui dirinya?
Yejira merasa muak terus menerus menjadi 'tukang pos' untuk salam-salam aneh yang menjijikan (bagi Yejira) dari lelaki Garuda untuk teman-temannya.
Tapi apakah Yejira membenci ketiga teman cantiknya itu? Tentu saja tidak. Sama sekali. Ia justru membenci laki-laki di Garuda yang memang sialan dan gak punya nyali untuk langsung bicara dengan teman-temannya sampai-sampai harus membuatnya repot sendiri.
Baru kali ini, setelah berada di kelas 11, ia berbicara dengan laki-laki yang tidak memiliki kepentingan untuk 'titip salam' kepada teman-temannya.
Yejira tahu ini hal kecil, sungguh kecil. Tapi entah kenapa hatinya merasa hangat sore itu. Berkat ucapan Samudra.
Ujung bibir Yejira terangkat, ia tersenyum tipis tanpa menoleh ke arah Samudra. Justru ia malah lanjut mengupas kentang terakhir di tangannya.
Rambut Yejira diikat cepol asal. Beberapa helai rambutnya berterbangan menggelitik wajah cantik perempuan ini.
Samudra memperhatikan raut wajah Yejira, meskipun menunduk, ia bisa melihat jelas bahwa ujung bibir perempuan itu terangkat. Ia tersenyum tipis.
Melihat hal itu, Samudra sedikit kaget dibuatnya. Mata sipit perempuan itu seperti bulan sabit ketika tersenyum, meskipun hanya tersenyum tipis. Pipinya membulat lucu, dengan sedikit kerutan di ujung matanya.
Oh, wow.
Sore itu, Samudra seperti terserang pesona yang baru ia lihat dari perempuan berwajah bak rubah di hadapannya. Dadanya menghangat, dan debaran jantungnya jadi lebih cepat.