Semasa langit masih diliput gelap, satu per satu ayam mulai berkokok, telinga-telinga yang tertidur mulai berdiri.
Subuh berkumandang lantang, pengeras suara sebuah musala pesantren yang bertanggung jawab atasnya.
Dari sebuah rumah panjang ke belakang berpenghuni tiga orang telah terdengar kasak-kusuk sejak setengah jam lalu. Suara guyuran air yang pecah di permukaan lantai. Suara bedebum pintu kamar kecil yang mulai memuai sedang ditutup, dan memang tak lagi bisa tertutup rapat. Suara gesekan kain, nampaknya telekung dan sarung saling beradu mengikuti gerakan empunya di atas sajadah tergelar; orang menyebutnya salat.
Matahari, tanpa sepengetahuan manusia, sedang mengendap-endap menuju tangga panggung pentasnya; pentas setiap hari, di kala orang lebih senang menyebutnya ‘pagi’.
Pada saat bersamaan, salah satu penghuni rumah panjang ke belakang sedang berada di musala pesantren yang bertanggung jawab atas kumandang lantang yang memberdirikan telinga-telinga tertidur tadi. Adapun dua penghuni sisanya tetap tinggal di rumah, berdiri dan bergerak-di-tempat di atas sajadah yang tergelar berdampingan.
Salam.
Kepala menengok ke kanan, menyapa santun penjaga pundak kanan.
Kepala menengok ke kiri, juga tak kalah santun pada penjaga pundak kiri.
Yang satu menyodorkan tangan kepada yang lain. Diciumnya tangan yang menerima sodoran tangannya itu. Terdengar bisik doa; berkat Allah atasmu-diikuti uluman senyum.
Sekira sepuluh detik berikutnya, mendadak raut wajah yang mengulum senyum itu berubah. Keningnya berkerut, sorot matanya mengatakan ada cemas di dalam hatinya. Pemantiknya, lagi-lagi, pengeras suara musala pesantren yang berkumandang lantang. Bukan panggilan, bukan lagi ajakan. Melainkan pemberitahuan.
Segala kan kembali kepada pemiliknya.
Itu pesan utamanya.
Siapa?
Kini giliran yang menyodorkan tangan tadi yang berdebar, rasa takut menyeruak di dalam dadanya. Takut mendengar hal yang tidak siap didengarnya, bila benar terjadi.
Sebab salah satu dari ketiganya masih berada di musala pesantren itu pula.
Mungkinkah?
Ini pagi menjelang pagi ke-enam-puluh-enam-tahun-nya.
Ini pagi di saat usianya semakin meninggalkan pagi.
Mungkinkah?
Senyap.
Yang tadi mengulum senyum sudah lebih dulu berlari ke pintu depan rumah, memastikan mendengar lebih jelas.
Yang tadi menyodorkan tangan masih mematung di tempat, duduk di atas sajadah tergelar, yakin telinganya telah bangun dan tersadar penuh; yang didengarnya takkan salah.
“Ibu Ema, usia 45 tahun.”
Pemberitahuan mengakhiri drama mencekam di dalam hati dan pikiran kedua penghuni rumah panjang ke belakang itu. Menerbitkan syahdu dan insaf; Dia ingin mengambil milik-Nya.
“Ayo sempatkan takziah. Rumahnya masuk ke gang lengkong itu, mentok. Nanti juga berjumpa keramaian.”
Sip. Bersama mama, aku beralas kaki menuju rumah duka.
Yang bisa ditemui ialah remaja putri dengan setelan kemeja dan tudung hitam, duduk tepekur dengan derai air mata. Tangannya bergetar, mencoba bertegar. Ibunya terkena serangan jantung, meninggalkan ia beserta kedua adiknya.
Memandanginya membuat hati kuyup. Sebelia ini perannya mengganda. Bagaimanalah jika subuhku tadi benar nyata?
Tanpa terasa mata pun mulai berkubang. Getar tangan remaja belia itu membuatku tersadar kembali akan keberadaan ibu berbadan gemuk di sampingku-mama-juga lelaki yang sesubuh tadi salat berjamaah di musala pesantren.
Keduanya masih di sini.
Entah kapan Yang Punya berkehendak mengambilnya.
Baktiku belumlah sepenuh jiwa raga.
Jikapun terjadi, satu yang ingin kupatri di ingatan dan di hati.
Dan hatiku kebas melantunkannya.
Syair Abul Atahiyah.
“Setiap musibah harus dihadapi dengan kesabaran
Ketahuilah bahwa manusia tidak ada yang kekal
Lihat sekelilingmu, banyak musibah terjadi
Bahkan kematian siap menantimu
Sadarlah, yang tertimpa musibah bukan Anda sendiri
Ingatlah kematian Muhammad Nabimu
agar musibahmu menjadi ringan.”