June 2010
Friendship highway adalah jalan/rute di dataran tinggi Tibet, yang meliputi bagian paling barat dari China National Highway no 318 dari sebelah barat Lhasa ke Lhatse hingga ke selatan ke Nepal, dan juga ujung selatan China National Highway 219 dari Lhatse hingga ke Ali di Tibet barat. Dikenal sebagai atap dunia, sebagian besar wilayah Tibet adalah dataran tinggi dengan ketinggian lebih dari 4000 m dan bahkan beberapa pass melebihi 5000m.
Perjalanan di Friendship Highway yang disebut sebagai ‘one of the world’s greatest rides’memberikan pemandangan yang sangat indah dan menarik.Keinginan untuk ke Tibet dan Nepal, sebenarnya justru dimulai dari keinginan untuk melakukan perjalanan di friendship highway ini, khususnya di sepanjang 865 km antara Nepal -Lhasa..Saya adalah orang yang menyukai bukan saja tujuan yang menarik ,tapi juga sepanjang perjalanan menuju ke suatu tempat. Jadi, sejak dulu saya sudah membayangkan trip ke Tibet, Nepal tidak akan lepas dari friendship highway. Saya tidak mau hanya terbang ke Tibet dan pulang lewat Cina lagi, atau terbang ke Nepal lagi. Pokoknya, kudu ada jalan darat kathmandu-lhasa atau sebaliknya. . Ini juga yang membuat saya menunda2 trip ini. Dengan perkiraan trip friendship hwy yang 8 hari, maka perhitungan untuk Nepal-tibet semuanya membutuhkan waktu sekitar 2 minggu. Tahun lalu saya hampir melakukannya, tp terbentur masalah waktu. Saya juga menunggu dan mencari teman perjalanan ke Tibet-Nepal ini, karena saya memperhitungkan masalah kemungkinan AMS (Acute mountain sickness) yang kerap ditakuti orang awam dalam trip ke Tibet. Kalau saya sendirian, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan saya. Itulah sebabnya sy masih berharap ada teman yang mau melakukan trip ini bersama saya. Tunggu punya tunggu, tidak ada juga teman yang sesuai hehe. Akhirya ketika saya berencana ke Laos dan Myanmar, saya terpikir untuk melakukannya.
Setau saya, untuk melalui jalur ini, yang banyak dan murah adalah Kathmandu-Lhasa, dan bukan sebaliknya. Selain masalah TTB permit (permit untuk masuk ke Tibet), trip di jalur ini yang tidak memungkinkan menggunakan kendaraan umum, membuat orang harus bergabung dengan ‘tour’. Setelah mencari2 di internet, yang saya dapatkan cukup murah karena mereka memiliki keberangkatan dengan jadwal yang pasti, selasa dan jumat. Ini termasuk budget tour, dengan peserta maks 20 orang dan pasti berangkat. Dengan harga 360$ untuk 8 hari/7 malam, sudah termasuk transportasi, penginapan, sarapan, tiket2 masuk ke obyek wisata, menurut saya, harga ini termasuk sangat wajar. Bandingkan saja dengan harga pesawat Kathmandu-Lhasa atau sebaliknya, yang saat itu adalah 410$/one way! Tentu saja karena skr saya punya waktu cukup, saya pilih overland dengan harga lebih murah plus bonus melihat pemandangan yang indaaah.
Saya kontak kembali salah satu tur operator yang pernah saya kontak tahun lalu. Saya tanya apakah mungkin untuk melakukan trip ini di bln juni. Pada prinsipnya, menurut mereka, cuaca dan situasi lain2 ok. Tp saya tidak menjanjikan satu tanggal pasti, krn saya akan join dengan tur ini setelah saya tiba di Kathmandu yang saya juga belum tau kapan! Saya hanya memiliki tiket pswt hingga ke Kolkata, India. Selebihnya, saya lihat aja nanti hehe. Begitu santainya dan tidak terencana dengan ketat, Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Saya mendengar beberapa teman mendadak gagal ke Tibet, atau gagal overland Nepal-Tibet karena berbagai sebab yang tidak terduga. Sekali lagi, Alhamdulillah, saya bisa melakukan perjalanan ini dengan lancar.
DAY 1 Kathmandu- Kodari(1750m)- Zhangmu (2100m)- Nyalam (3700m) : 153km
Berangkat dari Kathamandu pk 6 pagi, rombongan yang berangkat ada 16 orang. Hampir semua ‘bule’, kecuali 1 orang jepang yang bersuamikan bule,dan sepasang suami istri Thailand. Saya yang semula agak kuwatir dengan AMS, jadi lebih pede karena pasangan Thailand tersebut nampak jauh lebih tua daripada saya dan berpakaian seperti orang hendak ke kantor hehe. Maksud saya, bukan potongan pecinta alam, pendaki gunung dan sebangsanya. Saya masih kaget juga ketika melihat bis yang akan saya naiki adalah bis jeleeek gak ber ac juga. Saya pikir, selama 7 hari akan naik bis itu gimana rasanya yah. Tp ya sutralah, krn semua orang nampak pasrah. Namanya juga budget tour :D
Dari Kathmandu melewati Arniko Rajmarg (Arniko highway) menuju Kodari yang berjarak 115 km di perbatasan Nepal-Tiber sebelah timur laut Kathmandu. Berhenti untuk sarapan disuatu tempat yang cantik, kami mendapat penjelasan mengenai hal2 yang perlu dipersiapkan untuk pemeriksaan di perbatasan, terutama di sisi China. Dari sini, 4 orang bergabung kedalam rombongan sehingga semua berjumlah 20 org.Perjalanan melewati sungai dan lembah curam namun cantik. Sekitar jam 11 tiba di Kodari untuk pemeriksaan imigrasi. Di sana kebetulan ada entah demo atau gerak jalan hehe. Bis berhenti beberapa ratus meter sebelum gedung imigrasi.
Setelah melewati friendship bridge menyeberangi sungai Bhotekosi , tibalah di imigrasi Cina. Memang jelas sekali bedanya, terutama dari fisik gedung yang jauh lebih besar dan bagus daripada di Nepal. Pemeriksaan di sini sangat ketat. Semua barang dikeluarkan, diperiksa satu per satu oleh hanya 2 orang petugas. Namun seperti kata guide, yang diteliti lebih dalam adalah buku atau barang cetakan. Beberapa jenis tulisan dilarang keras dibawa. Tidak jarang beberapa orang terpaksa pulang kembali ke kathmandu karena akhirnya dilarang masuk ke Tibet. Rombongan saya lolos semua dari pemeriksaan meskipun memakan waktu cukup lama. Kami dilarang keras mengambil foto apapun sampai mencapai bis yang diparkir sekitar 500 m setelah imigrasi. Alhamdulillah, bis telah berganti menjadi bis Cina yang bagus, ber AC dan bersih. Bahagianya hehe…
Perjalanan dilanjutkan ke Zhangmu, 7 km dari Kodari untuk makan siang. Teng ting tong. Petualangan toilet dimulai :D. Sebelum berangkat, semua nasihat mencegah AMS adalah minum air sebanyak2nya. Saya gak keberatan minum air sebanyak2nya. Tapi masalahnya, saya punya problem sering buang air kecil, apalagi jika banyak minum. Perjalanan ditempat relatif terpencil di Cina, membuat masalah saya menjadi lebih berat karena kondisi toilet yang parah. Perlu diketahui, ketika pertama saya ke Cina 3 thn lalu, saya tidak mengeluh masalah ini sama sekali. Prjalanan kedua ke China, dimana saya naik bis umum melewati pedesaan antara Chengdu- Jiuzhaigou, baru meninggalkan ‘kesan’ mendalam mengenai toilet di Cina. Sekarang, setiba di Tibet, baru memakai toilet di gedung imigrasi yang megah itu saja saya sudah agak shocked. Kejutan berikutnya terjadi ketika berhenti makan siang di kota kecil Zhangmu ini. Semua orang yang memakai toilet mengumpat2. Ya Allah, berikanlah saya kekuatan… :D
Dari Zhangmu, memasuki China National highway 318 yang membentang hingga ke Shanghai. Jarak yang hanya sekitar 30 km, ditempuh dalam waktu 1.5 jam.Bis melewati jalan2 sempit di tepi jurang yang menyeramkan tapi luar biasa indah dan menakjubkan. Mirip seperti di Taroko gorge di Taiwan, tapi di sini lebih curam lagi, apalagi jalanan juga jelek karena seringnya longsor. Disepanjang jalan juga ditemui beberapa air terjun yang lumayan indah. Sayangnya, saya tidak duduk di depan sehingga tidak bisa mengambil foto yang bagus. Meski agak kurang jelas, foto2 yang saya ambil dari dalam bis, menunjukkan betapa menyeramkannya jalanan yang kami lalui. Alhamdulillah tiba di Nyalam dengan selamat. Sebagaimana telah diingatkan oleh tour operator, penginapan di hari pertama dan kedua adalah basic, sekamar berbanyak orang.. Saya gak keberatan dengan sharing kamar berbanyak orang, secara saya juga cuma sendirian. Tapi hal2 lain menurut saya parah banget. Di penginapan ini juga menginap rombongan banyak orang yang hendak ke Mt Khailash, yang jumlahnya sekitar 100-an orang. Segitu banyaknya orang, cuma ada 2 toilet wanita, 2 toilet pria,yang masing2 toilet berisi 3 lubang. Tidak ada kamar mandi/shower sama sekali. Puciiinnng…
Day 2 : Nyalam- Lhatse (4050m) : 285km
Ketika sarapan dengan roti Tibet dan dadar telur super tipis, saya mengetahui ternyata kenalan yang orang Thai itu sudah pusing hebat dan tidak bisa tidur sejak semalam. Saya,Alhamdulillah tidak apa2, bahkan tidur cukup lelap. Namun diingatkan, hari ini akan cukup berat karena perjalanan cukup jauh, 285km dan akan melewati 3 pass yang lebih tinggi dari 5000m. Pemandangan kontras dibandingkan hari pertama yang masih hijau dan dominasi lembah dan jurang. Hari ini, bukit2nya sudah bukit pasir yang gersang dan sebagian berupa dataran pasir yang gersang juga.Berhenti pertama di Nyalam Pass, yang ini masih pemanasan hehe. Pass pertama diketinggian lebih dari 5000 m adalah Lalungla Pass (5050m). Disini, Alhamdulillah cuaca cerah sekali sehingga bisa melihat barisan pegunungan, antara lain Mt.Sisapangma(8013m), Mt Makalu (8464m), Mt Lhotse(8516m), Mt Cho Oyu(8200m) dan Mt Everest(8848m). Perjalanan dilanjutkan hingga tiba di Thongla Pass (5100m). Disini juga saya masih segar bugar ketawa ketiwi hehe. Di sepanjang perjalanan Mt Everest dan kawan2nya masih terlihat jelas karena cuaca hari itu memang cerah sekali. Sayangnya, di beberapa tempat, pemandangan gunung ini terganggu oleh tiang listrik. Jika ingin memotret tanpa tiang listrik, harus jalan lumayan jauh (cukup lelah di ketinggian 5000m), sehingga saya memilih motret dari jarak jauh aja utk menghemat tenaga :D . Kata guide, kami beruntung sekali karena cuaca cerah sehingga kami bisa melihat puncak Everest beberapa kali. Berdasarkan pengalamannya, tidak sering rombongannya bisa melihat Everest karena cuaca. Bahkan, meskipun sudah di Everest Base Camp sekalipun, belum tentu bisa melihat.
Setelah makan siang, perjalanan dilanjutkan dan tiba di pass yang paling tinggi, Gyatsola Pass (5200m).Ada yang menuliskan lebih dari itu, yaitu sekitar 5500. Entahlah, tapi saat itu saya sudah merasa agak lelah. Ketika berhenti di pemeriksaan oleh petugas keamanan, saya sempat ke toilet umum, yang membuat saya mual. Padahal biasanya saya cukup kebal krn sudah terlatih berada dalam kondisi yang kurang menyenangkan. Saya amat sangat jarang merasa mual kecuali ketika sakit berat. Dengan yang saya alami selama dua hari, rupanya pertahanan saya jebol hehe. Pengalaman satu ini cukup membuat saya ‘terluka’ dan trauma hehe. Sampai2 ketika malam hari ditanya oleh kenalan saya orang thai, apakah saya mau mengulang trip ini lagi, bahkan andai dibayarin. Saya jawab, tidaaakkk... :D. Saya juga menjadi manusia tak berbudaya setelah kejadian hari ini. Setiap kali saya harus buang air kecil, apabila dari jauh sudah tampak parah, saya bahkan tidak punya keberanian mengecek kondisi di dalamnya. Di sana kan gak ada pohon atau semak2 untuk sembunyi. Di tepi jalan ya datar aja. Sesekali ada cerukan kecil yang terlindung, masih bisa saya manfaatkan. Kalau tidak ada,maka yang saya lakukan adalah buang air kecil di pasir, di belakang bangunan, di belakang bis (asal tidak terlihat teman2 satu bis, meskipun terlihat bis lain yang lewat hehe). Saya mengelus dada, kenapa saya menjadi barbar begini yah hehe...
Perjalanan menuju lhatse sempat terhambat 1.5 jam berhenti di jalan karena ada truk kecelakaan kemarin. Pada saat itu alat berat yang berupaya mengangkat truk dari jurang melintang di jalan sehingga menghalangi kendaraan yang lalu lalang. Penantian ini cukup menyebalkan bagi banyak anggota rombongan kami, karena kondisi yang sudah lelah, tidak ada toilet umum, dan berhenti di ketinggian pula! Akhirnya, ketika tiba di penginapan di Lhatse, yang masih basic juga, kebanyakan langsung istirahat di kamar. Tetap, tidak ada kamar mandi dan hanya ada beberapa toilet untuk berame2 :D. Beberapa teman mengalami pusing hebat. Anehnya, saya tidak merasa pusing sama sekali, tapi lemaaas. Berjalan sedikit saja sudah ngos2an. Kalau menurut analisa teman saya sih, itu bukan gejala AMS, tapi gejala malas hehe.... Saya juga merasa haus yang amat sangat, sehingga dalam semalam saya bisa minum sekitar 2liter air. Suhu udara tidak terlalu dingin, sehingga saya cukup memakai jaket tipis saja.
Dengan kontrasnya pemandangan di hari pertama dan kedua, serta pengalaman melihat Mt Everest secara langsung, maka perjalanan di hari pertama dan kedua trip ini menurut saya adalah yang paling unik dan indah di sepanjang trip Kathmandu-Lhasa. Meskipun saya gak pernah dan gak hobi naik gunung, melihat gunung tertinggi di dunia merupakan pengalaman yang menarik buat saya. Berada di ketinggian lebih dari 5000 meter meskipun dengan naik bis, juga sesuatu yang ruarrr biasa buat saya...