Ada yang menyalak di tengah hari. Menghentikan langkahmu. Mereka tak peduli seberapa keras kau mengangkat kaki, membuat langkah. Mereka tak benar-benar merasakannya, bagaimana membuat langkah yang baik seperti langkahmu. Langkah yang selalu diniatkan untuk kebaikan dan kau buat secara baik-baik. Setidaknya itu yang kutahu. Tapi lihatlah apa jadinya dirimu. Kau jadi ragu. Apalagi melanjutkan langkah, kau bahkan bingung kemana arah untuk pergi. Aku melihatmu merintih. Yang juga, di waktu yang sama, kau merutuki diri. Kau mengatakan dirimu sepertinya sudah salah, sudah salah sekali. Katamu, sepertinya benar yang dikatakan mereka, apa yang telah dilakukan tak cukup, tak pernah cukup. Kau menambahkan lagi, mungkin memang begini kemampuanmu, tak pernah bisa menjangkau.
Apa kau lupa, seberapa jauh kau telah melangkah? Bagaimana persistennya kamu melangkah, satu demi satu tapak. Bahkan yang satu satu itu membuat perbedaan terhadap dirimu. Usahamu menjadi orang yang lebih baik lagi, usahamu mencapai tujuan melalui langkahmu sendiri. Tak ada satupun makhluk Tuhan yang sempurna. Bahkan seorang yang terbaik diantara kita semua pernah membuat kesalahan. Bukan tugas kita untuk membandingkan diri dengan orang lain. Tak perlu untuk melakukannya. Bukankah yang sejati untuk kita adalah melihat langkah kita sendiri, adakah bedanya antara kemarin dan hari ini? Biar Tuhan yang menilai kita.
Mari kita buat permintaan kepada Tuhan. Tentang diri kita dan apa-apa yang kita perjuangkan. Bangkit lagi dan membuat langkah. Langkah yang baik, tentu saja. Dan kita tahu kita bisa melakukannya. Cepat-cepat atau perlahan, semua dengan keyakinan.