the Beginning
Jum'at, 5 Feb 2021.
Time for him to go home. Everything was going as it seems, sampai beberapa waktu berlalu ada pesan masuk di telepon selulernya, lalu dia berkata pelan:
Dek, si A positif.
😶
Sejujurnya di masa pandemi covid-19 ini, sudah bukan hal yang asing lagi mendengar si A, B, C.. teman sejawat kami, tetangga, atau saudara yang positif. Tentunya bukan positif yang lain, tapi terkonfirmasi positif covid-19 melalui pemeriksaan usap tenggorok PCR. Kala itu tidak ada pikiran apapun di benakku, karena sebelumnya kami pun sudah pernah ikut tracing alias penelusuran karena ada salah seorang di lingkungan kami masing-masing yang terkonfirmasi. Saat itu hanya berpikir pendek,
yasudah, segera swab mandiri juga ya. di lab swasta aja biar lebih cepat hasilnya.
Hari Sabtu keesokan harinya, berangkatlah suami menuju sebuah lab swasta di daerah jalan Kaliurang, ternyata masih kepagian, harus datang lagi pukul 9-an. Baiklah. Akhirnya swab selesai, tinggal menunggu hasil.. yang karena weekend, jadilah baru hari Senin hasilnya keluar. Yaa Rabb.. lamanyaaa ><
Senin pagi, belum ada tanda-tanda hasil dikirim melalui kontak yang dicantumkan. Akhirnya sekitar jam 9-an saya sudah tidak sabar lagi, kupencet lah nomor kontak Whatsapp lab tempatnya swab Sabtu kemarin, jawabnya sudah bisa diduga: kami cek dulu.
Baiklaah.. melanjutkan pekerjaan di ruangan seperti biasa, ruangan VIP beres, beranjak ke ruang bedah anak.
TRING.
notifikasi telepon selulerku berbunyi.
Hasil sudah kami kirim ke nomor WA 081xxxxxxxx ya bu.
Itu nomor telepon suamiku. Tidak lama kemudian ada pesan masuk dari suami, isinya file pdf yang buru-buru saya buka untuk melihat hasilnya.
Laa haula walaa quwwata ilaa billah.
Positif.
Rasanya denyut nadi langsung meningkat, lutut rasanya lemas. Walau ini hal yang biasa terjadi sekarang-sekarang ini, tapi tidak pernah akan jadi biasa kalau yang mengalami adalah orang terdekat.
Beberapa menit waktu rasanya membeku. Riuh rendah di ruangan bedah anak siang itu rasanya senyap di kepalaku.. baru setelah itu terlintas: oke, jadi selanjutnya adalah mengisi form online tracing internal untuk karyawan, harapannya segera mendapat jadwal swab untuk memastikan keadaan.
Sore harinya, karena sudah tidak sabar lagi menunggu jadwal swab keluar, apalagi di rumah ada ibunda yang punya comorbid diabetes, kami memutuskam untuk swab antigen dulu yang hasilnya bisa langsung diketahui saat itu juga, dan lebih sensitif daripada rapidtest antibodi. Alhamdulillah.. ternyata hasilnya negatif, dan suami pun tidak ada keluhan berarti, hanya kadang-kadang batuk malam hari.
Selasa, keesokan harinya..
Jadwal swab keluar. Alhamdulillaah dapat jadwal swab hari ini. Langsung siapkan baju ganti dan fotokopi KTP. Bismillaah.. sampai hari ini saya masih tidak ada keluhan sama sekali. Batuk pilek, anosmia, ageusia, sesak, demam.. alhamdulillah tidak ada.
Rabu pagi, dini hari..
Ada pesan masuk dari seorang kenalan perawat poli tempat swab kemarin pagi. Buru-buru saya pindah ke lantai 1 bersama suami, karena di lantai 2 masih ada ibu yg swab antigennya negatif kemarin ><
Masih belum percaya, karena saya benar-benar tidak ada gejala klinis apapun.. alhamdulillah. Siangnya, mbak perawat itu mengirimkan foto hasil swab resmi:
alhamdulillah 'alaa kulli haal..
Dikasih waktu istirahat dan we time bersama suami sama Allah 🙈 yang mana agak sulit kami dapatkan dalam waktu lama di hari biasa.
Selain itu..rupanya ada efek psikologis positif ketika kami sama-sama terkonfirmasi positif, jadi tidak merasa 'sendiri' dan bisa lebih mendukung satu sama lain secara holistik.. *ehemmm
tapi ternyataa.. sorenya ada berita bahwa untuk karyawan tempat saya bekerja, wajib isolasi mandiri di RS Lapangan untuk OTG dan gejala ringan. Awalnya kami lebih nyaman di rumah dan tidak berpindah-pindah, sehingga kami menunggu hasil swab PCR ibu. Bila negatif, maka fix sudah kami harus ke RSL , sedangkan bila positif, maka mungkin kami akan mempertimbangkan untuk isolasi mandiri di rumah dan harus membuat surat pernyataan.
Keesokan harinya, ternyata hasil swab ibu negatif. Baiklaah.. kami langsung mengisi gform dari RSL, sorenya kami langsung berangkat ke sana naik motor berdua.
Bismillaah..semoga hingga akhir masa isolasi sehat-sehat semua dan tetap tanpa gejala :')











