Yang Dipilih untuk Dilihat
Aku membuka media sosial dan bertanya pelan: apa sebenarnya yang sedang kita anggap penting?
Linimasa penuh oleh hal-hal yang ringan. Siapa berkata apa. Siapa berseteru dengan siapa. Siapa salah ucap, lalu diseret berhari-hari. Semuanya cepat, riuh, dan selalu berhasil menyita perhatian.
Sementara itu, persoalan yang jauh lebih berat berjalan di latar belakang. Tentang hidup yang makin sulit. Tentang keputusan negara yang berdampak panjang. Tentang hal-hal penting yang tidak sensasional, maka jarang dibicarakan.
Bukan karena tak ada masalah, melainkan karena masalah itu tidak cukup menarik perhatian.
Aku tidak anti hiburan. Tertawa tetap perlu. Namun ada yang terasa ganjil ketika hal-hal remeh dibahas tanpa henti, sementara urusan yang menyentuh hidup banyak orang hanya lewat sebentar, lalu hilang ditelan topik berikutnya.
Media sosial tidak memaksa kita peduli. Ia hanya menunjukkan apa yang kita pilih untuk berhenti dan lihat lebih lama.
Dan dari pilihan-pilihan itu, pelan-pelan terbentuk kebiasaan. Kita tahu banyak tentang kehidupan orang lain, namun sering tertinggal soal hal-hal yang memengaruhi hidup sendiri.
Yang paling melelahkan bukan ramainya linimasa, melainkan rasa bahwa perhatian kita sering diarahkan ke tempat yang salah.
Tulisan ini bukan penghakiman. Hanya catatan kecil dari seseorang yang mulai muak menatap layar dan berharap bisa lebih sadar tentang apa yang sebenarnya layak diperhatikan.
Mungkin bukan kita nggak peduli, cuma terlalu sering terdistraksi.















