Ke Rumah-Nya
Ada fase dalam hidup ketika lelah tidak selalu datang dari banyaknya aktivitas, tapi dari hal-hal yang entah sejak kapan terbiasa dipendam sendirian.
Aneh sebenarnya. Kita dikelilingi orang. Punya keluarga. Punya rumah. Tapi tetap saja ada hari-hari ketika isi kepala terasa penuh, dan pertanyaan yang muncul: talk to who?
Bukan karena tidak ada yang peduli. Namun justru karena terlalu tahu siapa yang paling peduli.
Orang tua, misalnya.
Bagiku, mereka adalah definisi rumah yang paling nyata. Tempat pulang yang rasanya selalu ada. Tempat di mana kita diterima, bahkan saat dunia terasa… complicated.
Tapi semakin dewasa, ada rasa sungkan yang ikut tumbuh. Tidak semua resah terasa enak untuk dibawa pulang. Tidak semua lelah terasa ringan untuk diceritakan.
Bukan menjauh. Hanya… enggan merepotkan cinta yang sudah terlalu tulus. Jadi kita memilih diam. Terlihat baik-baik saja— setidaknya dari luar. Menata wajah sebelum masuk rumah.
Sampai di satu titik lelah yang sulit dijelaskan, aku mulai mengerti— bahwa ada satu tempat pulang yang tidak pernah direpotkan oleh cerita seberat apa pun. Tempat di mana riuh di kepala tidak harus disusun rapi dulu. Tempat di mana air mata tidak perlu dibendung agar terlihat kuat.
Kepada Allah.
Dan di antara doa-doa yang kupanjatkan lirih, ada satu rindu yang terus kembali: ingin lebih dekat, ingin pulang dengan cara yang berbeda.
Umroh.
Bukan sekadar perjalanan, tapi keinginan untuk bernafas lebih tenang, meletakkan lelah tanpa perlu berpura-pura, dan merasa pulang… dengan cara yang paling utuh. Semoga Allah mampukan untuk menuju ke rumah-Nya.
•••
:: 4 Ramadan 1447H














