Garis Tepi
Deru ombak memecah keheningan yang sejak tadi menghujam. Lajunya ditemani matahari yang mulai menepi. Terang pun mulai tertelan sudut pandangan. Biru mulai tergantikan jingga, dan aku, hanya duduk bersandar pada pohon tak bersuara. Tak peduli berisik orang mulai menjauh dari sisi. Meninggalkan pasir dan dinginnya air. Sunyi diri berteman angin yang menyibak tak sopan. Angin ini sejak tadi mengajakku berangan. Melamunkan banyak hal tentang impian. Seolah terpasang layar lebar, lalu terputar kejadian yang kuinginkan. Asaku kian menggebu. Mendobrak pintu yang telah kukunci rapat-rapat atas segala citaku. Menghidupkan kembali bara yang dulu pernah kupadamkan sendiri. Kutemukan terang dalam gelap malam yang sunyi. Meski terkadang gundah menemani. Meski tak jarang goyah kutemui. Kali ini, aku memilih berjalan tanpa ingin menoleh kembali. Aku takut. Aku takut tak mampu melanjutkan lajuku. Aku takut langkahku terhenti karena tumpuanku.
Bagaimana mungkin aku memaksakan keadaan sedang keadaan tak pernah membantuku bertahan. Apa yang perlu kupegang dan apa yang harus kulepaskan atas segala penghidupan? Aku tak menemukan pegangan. Aku tak menemukan terang atas pilihan. Lalu bagaimana bisa aku berjalan gagap? Maka kubiarkan seluruh semesta yang menjawab kemana lajuku ini. Kuimbangi apa yang semesta ingin aku jalani. Kuusahakan sebaik mungkin atas apa yang Tuhan kehendaki. Dan kubiarkan takdir dan usahaku menentukan bagaimana masa depanku.
***
“Lulus dari sini apa kau akan melanjutkan lagi?” tanya Nurrah yang berjalan di sebelahku.
“Inginnya begitu. Aku ingin sekolah, Nur. Aku harus sekolah setinggi mungkin. Entah bagaimana, kupikirkan nanti.”
Aku masih ingat betul. Saat itu Nurrah bertanya tentang rencanaku selepas SMP. Semangat sekali waktu ku katakan aku ingin sekolah lagi. Namaku Aisha Nusaiba. Gadis pinggiran penuh mimpi. Ingin sekali sekolah tinggi, berilmu, berwawasan, dan hidup baik di masa depan. Bagiku, sekolah adalah gerbang terdepan agar aku bisa meraih impian.
Bagaimanapun, aku tidak dilahirkan dari keadaan yang memungkinkanku maju tanpa hambatan. Aku dididik untuk terus mengejar mimpi meski aku dihadang berbagai rintangan. Hidupku tidak pernah mendukungku bertahan. Kekuatanku adalah harapan yang kubangun di atas impian. Mimpi adalah hal yang perlu kuperjuangkan. Dan aku, gadis pinggiran yang hanya tahu mengusahakan.
***
Rintik hujan mulai mereda. Menyisakan bau tanah. Aku suka. Sedikit meyengat namun memiliki aroma yang khas. Segelas kopi menemaniku sore ini. Sedikit tugas membawaku duduk di sebuah kedai kecil di sisi timur kampus. Tempat yang cocok untuk sekadar mengerjakan tugas sambil bersantai.
Suara riuh pengunjung tak memengaruhi konsentrasiku. Kali ini aku harus segera menyelesaikan tugas ini dengan baik. Aku harus bisa mendapatkan beasiswa itu. Setidaknya, aku berusaha dengan benar untuk mewujudkan keinginanku.
“Jangan terlalu serius. Aku yakin kamu memiliki banyak kesempatan,” kata Nurrah.
“Aku senang melakukan ini. Tapi terima kasih sudah mengingatkan,”
“Ya sudah. Aku pergi dulu,”
- bersambung














