Cobalah Menjadi Berani #Kolaborasi4
Eps 8
Tangan Alif gemetar, hatinya menolak memberi namun rasa takutnya menguasai. Matanya memandang ke arah pintu, terlihat Bu Anis masih berbicara dengan seseorang di telepon. Bagaimana ini? Kalau aku bertukar jawaban pasti akan ketahuan dan nilaiku mungkin tidak akan bagus, tapi kalau tidak kulakukan nanti Beno marah padaku, kata Alif dalam hati.
Masih ada cukup waktu untuk menukar jawaban, namun hati Alif masih dipenuhi keraguan. Tiba-tiba. . .
“Bu, saya sudah selesai mengerjakan. Boleh saya kumpulkan?” kata Alif.
“Taruh saja di meja ya,” kata Bu Anis. Beliau pun melanjutkan berbicara di telepon.
Alif berdiri dan melangkah menuju meja Bu Anis. Terlihat tatapan tidak suka dari Beno kepadanya. Namun, Alif tetap melangkah maju. Tekadnya mengalahkan rasa takut pada Beno. Sikap jujur dia junjung tinggi meski dia tahu ada risiko yang menanti.
***
Seharian penuh Alif dipenuhi rasa was-was. Dia takut jika Beno akan datang dan memukulnya di sekolah. Jelas saja Beno pasti marah kepadanya, tapi dia tak ingin terus menjadi penakut. Sampai pada pulang sekolah . . .
“Alif! Kamu sekarang sudah berani ya melawan aku! Ayo ikut aku,” kata Beno sambil menarik tangan Alif. Mereka terus berjalan sampai di samping sekolah.
“Maaf Beno, tapi aku tidak bisa menukar jawabanku untukmu. Kita bisa belajar bersama kalau kamu mau.”
“Aku tidak mau belajar. Belajar pun aku tak akan bisa. Kamu sih memang pintar, tapi aku? Jangan mentang-mentang kamu pintar ya . .” Tangan Beno sudah siap memukul Alif. Tapi mendadak terhenti.
Tatapan Beno tak lagi terarah pada Alif. Ada raut kaget bercampur takut tergambar dari wajahnya. Entah kenapa Alif terkadang merasa kasian pada Beno, dia itu pengecut, hanya berani padanya yang miskin dan lemah. Tapi menyebalkan sekali ketika dia ingat perlakuan tak menyenangkan Beno padanya.
“Sudah berani memukul teman ya sekarang,” kata seseorang dari balik punggungku. Kurasa aku mengenalnya.
-bersambung @hudanabil













