Kalimat sederhana yang diucapkan Mas Gun kepada mbak Apik yang ditulis di buku Melangkah Searah di halaman 55. Aku sedikit tertegun dan berpikir. Untuk seseorang yang belum menikah dan baru secuil ilmu yang kudapat dari beberapa buku yang kubaca dan beberapa kajian pranikah, tampaknya aku sepakat dengan prinsip itu, kalimat yang jelas datang dari sudut pandang laki-laki. Bagaimana mungkin seorang laki-laki menikahi perempuan yang tidak memperlakukan keluarganya dengan baik? Bagaimana mungkin seorang laki-laki menikahi perempuan yang tidak bisa menghargai dan menghormati keluarganya? Dari sini, dari berpikir satu kalimat tadi, aku berani menyimpulkan jika menentukan pasangan dilihat dari bibit dan bobot itu penting. Jika melihat bibit, berasal dari keluarga yang dibesarkan seperti apa ia? Bukan tentang keluarga yang sekaya apa, tetapi lebih kepada hal-hal mendasar, perihal potensi kebaikan-kebaikan yang bisa dimunculkan selama proses pernikahan, dan selama itu kita yakin, bahwa orang yang kita pilih adalah ia yang memiliki potensi kebaikan itu. Kebaikan yang diajarkan orang tuanya, didikan yang seperti apa, bahkan ia yang tumbuh menjadi seseorang dengan pemahaman baik, menghadapi sesuatu dengan hati-hati dan tenang. Ia yang berbobot adalah mereka yang memiliki kualitas dalam dirinya, berkualitas tidak harus cantik pun tampan, bukan. Yakinlah jika setiap hati yang baik, ia sudah pasti cantik dan tampan dengan sendirinya. Pemahaman agama adalah hal mendasar yang harus kita gali dari potensi-potensinya, bahkan dimunculkan pada seseorang yang dinikahi, kupikir itu pondasi paling penting yang perlu dijadikan sebuah patokan ketika kita sudah mulai berani menentukan, karena jika pemahaman agamanya baik, insyaaAllah, lainnya akan mengikuti. Lalu, sejauh apa ia memandang setiap masalah, bagaimana cara ia memperlakukan orang lain, bagaimana ia memposisikan diri dalam berbagai kondisi. Mungkin itu hal-hal sederhana, tetapi sederhana itu bisa menjadi besar jika kita belum bisa sabar, belum lapang, dan belum paham. Tapi tetap harus diingat bahwa setiap orang tidak diciptakan menjadi sempurna, tanpa cela pun salah, mau bagaimanapun kita adalah manusia yang terus belajar. Agama yang baik tentu akan mengarah kepada kecakapan perilaku atau dalam bahasa jawanya "unggah ungguh", bagaimana ia menghadapi ibumu, bagaimana ia menghormati ayahmu, pun bagaimana ia menjalin hubungan layaknya saudara kandung dengan adik dan kakakmu, bahkan keluarga besarmu. Canggung akan selalu ada, tetapi bukan berarti meniadakan mereka. Setiap proses adalah belajar, dan selama proses itu kita terus belajar. Di luar sana, banyak sekali cerita. Mertua yang baik mendapatkan menantu yang belum bisa menghargai mereka. Pun menantu dengan segala bentuk upaya selalu berbuat baik tetapi belum mendapat senyum dari mertua. Jangan takut, selama kita menebar kebaikan, tentu akan kita ambil buah kebaikan itu, entah waktunya kapan, entah di dunia pun di tempat kekalnya kita tinggal. Selamat memperbaiki dan terus memperbaiki. Semoga kita dijodohkan dengan laki-laki pun perempuan yang baik, yang tidak hanya mencintaimu, tapi juga mencintai keluargamu, dari hati.