Jika Pilihannya adalah Kota dan Seberang
DUA puluh dua tahun lalu, saya belum kenal Roma, London, atau Paris. Saya cuma tahu Samarinda Kota. Sebuah tempat di mana saya bisa mendapatkan apa saja, segala macam mainan dan hiburan yang tidak tersedia di daerah saya tinggal yaitu Samarinda Seberang. Untuk segala urusan itu, Jembatan Mahakam menjadi penyambung yang selalu ada dan tidak goyang ketika dilintasi kendaraan.
Sewaktu saya pikir semestinya keluarga saya segera pindah dan tinggal di Samarinda Kota. Sudah sepatutnya orang tua mendekatkan anak-anaknya dengan berbagai macam hal yang menyenangkan. Namun, itu hanya pikiran masa kecil: Lugu dan tidak matematika. Karena ternyata seiring bertambahnya umur, saya merasa lebih cukup dengan tinggal di Samarinda Seberang. Samarinda Kota terasa penuh dan saya tidak terlalu suka keramaian.
Walaupun sejak dua puluh dua tahun lalu, tidak ada yang benar-benar berubah. Samarinda Seberang masih kalah banyak hal dari Samarinda Kota. Orang-orang Kota masih menyebut daerah saya sebagai benua lain—karena perjalanan yang melelahkan dan cuaca yang sering kali berbeda. Sementara orang-orang di Samarinda Seberang tetap masih pergi ke Samarinda Kota, tidak peduli seberapa jauh, untuk menjumpai hal yang menyenangkan. Di sana ada banyak kafe, mal, atau diskotek yang hidup semalam suntuk.
Warga Samarinda Seberang pergi meninggalkan daerahnya dan kembali lagi nanti. Di sini hidup selalu menunggu untuk beradu.
Candu terhadap Samarinda Kota memang tidak bisa lepas. Paling tidak untuk sekarang. Banyak urusan yang mau tidak mau memang baru bisa selesai jika kita memilih Samarinda Kota. Entah untuk urusan belanja atau administrasi, semua terletak di sana. Belakangan tahun beberapa toko, kafe, atau minimarket membuka cabangnya di Seberang. Biasanya kalau sudah begitu akan ada obrolan sesama orang Seberang yang memberi tahu, “Di Seberang sudah ada toko anu! kayak Samarinda Kota.” Sementara banyak dari kami tidak sepenuhnya siap.
Antara Samarinda Kota dan Samarinda Seberang dipisah sungai dan disambungkan oleh Jembatan Mahakam yang panjangnya 400 meter. Saya sendiri setiap kali harus melintasi Jembatan Mahakam kerap merasa takjub.
Dari ketinggian itu, saya bisa melihat Kota sudah tumbuh demikian pesat. Di sana pembangunan berjalan dengan semestinya. Apakah jika tinggal di Samarinda Kota hidup bisa terasa lebih baik? Bagaimana dengan segala permasalahan seperti macet dan banjir, apakah kita bisa baik-baik saja? Kenapa untuk menatap matahari terbit warga-warga Kota harus menghadap ke Seberang?
Beruntung selepas urusan selesai di Kota, saya masih bisa kembali ke Samarinda Seberang. Di sini tidak mudah dan membosankan, tapi jauh lebih pas bagi saya dan orang-orang lainnya. Layaknya hidup di Jawa dan di non-Jawa.