It’s Okay
“Kalau tidak bisa pulang bagaimana, Al?”
“Hng. Sudah tahu resikonya sejak masuk militer, kok.”
“Sungguh?”
“Amsel, siapkan saja perlengkapanmu.”
“Hei, Al.”
“Hm?”
“Aku janji kita akan pulang bersama lagi. Aku tidak akan meninggalkanmu.”
Pergi ke luar dinding bukan hal yang baru bagi Alphaerio Arcanus. Berurusan dengan monster bernama “titan” pun adalah pekerjaannya. Resiko yang menghantui? Mudah saja; kematian. Menjadi makan siang monster-monster itu seperti suatu kewajaran, salah langkah sedikit, wajar kalau kau menjadi kudapan segar bagi titan-titan yang tak berotak itu. Bukan hal baru pula melihat rekan satu timnya direnggut oleh tangan raksasa haus darah itu, dikunyah perlahan seiring jeritan pilu yang terhenti seketika.
Resikonya hanya mati.
Lantas, untuk apa Alpha takut hari ini? Lagi-lagi, sang komandan menjadwalkan ekspedisi rutin. Pergi menuju bagian selatan, katanya, dan temukan daerah yang dikuasai para titan. Oh. Tentu yang bisa dilakukannya hanya hormat dan mengiyakan. Seperti biasa, tugasnya adalah melakukan sweeping, yang paling akhir pulang setelah misi. Seperti biasa.
Seperti biasa pula, ia akan bersama Ludwig Amsel dalam menjalankan tugasnya itu.
Seperti biasa, ia akan banyak-banyak menoleh ketika Amsel luput dari pandangannya. Seperti biasa.
“LUDWIG!”
Hal begini pun biasa terjadi, ketika para titan itu mulai berlarian dan menangkapi satu per satu anggota ekspedisi, Alpha dengan sigap menyelamatkan mereka satu per satu. Membunuh satu, dua, tiga--banyak titan yang terus muncul. Ia bergeming ketika berhasil menumbangkan titan dengan pedangnya, ia bergeming ketika gagal menyelamatkan seorang anggota muda yang berakhir remuk dalam genggaman satu titan setinggi empat belas meter.
Namun Alpha tak bisa tenang ketika Ludwig hilang dari pandangannya.
“LUDWIG AMSEL!” Serunya, sambil melompat di antara pepohonan raksasa. Menghindari titan-titan yang tak kunjung kenyang.
Tinggal mereka berdua di sini. Evakuasi ekspedisi telah dilaksanakan, dengan dua korban jiwa, lagi. Alpha harusnya sudah bisa kembali ke pos, kembali ke gerbang bersama tim lainnya. Namun Ludwig masih lenyap. Jantungnya berdegup tak keruan, pikirannya seperti benang kusut, matanya nyalang mencari sosok laki-laki berambut hitam, bertubuh tinggi, dan biasanya berayun dengan 3DMG-nya tak jauh dari Alpha.
Di mana?
Di mana Ludwig Amsel sialan itu?
“LUD--!”
SRAAAAKKK
Detik berikutnya, yang ia tahu adalah pucuk pohon yang makin menjauh. Kakinya tak memijak ranting lagi. Jatuh. Ia jatuh dengan cepat, ditarik gravitasi. Alpha bisa mendengar suara-suara titan di bawah sana.
BRUUUKH
“Khh--sial,” ia mendarat di atas tanah, tepat di dekat kaki titan. Ia jatuh menumpu pada sisi kanan tubuhnya. Mungkin lengan kanannya patah. Pun kakinya. Terbukti dari sulitnya ia menggerakkan tubuhnya, terutama tangan kanannya. Pedangnya terlempar jauh dari jangkauan. Alpha menahan nafas ketika titan itu mulai berbalik.
Beginikah, akhirnya? Titan di atasnya melenguh, seolah begitu senang menemukan makan siang gratis. Alpha beringsut, berusaha bergerak menjauh.
“ALPHA!”
Alphaerio tidak ingat jelas mana yang lebih dulu terjadi; apakah tangan titan berhasil merenggutnya, atau tangan kasar, tangan yang kerap ditariknya tiap berlatih dulu--tangan Ludwig Amsel yang menariknya.
***
“Jangan berjanji kalau tidak bisa menepati, Amsel.”
“Kapan aku pernah melanggar janjiku padamu, Al?”
“Kalau begitu, berjanjilah padaku untuk tetap hidup, berjanjilah kita akan pulang bersama.”
“Tentu saja. Mati pun aku ingin bersama denganmu saja Alpha sayang~”
“...berisik.”










