Merasa kembali menjadi Mahasiswa Baru (Maba) UI
Setelah membaca buku Meraba Dunia Maba karya teman saya, Muhammad Alfisyahrin, alumni Sosiologi/FISIP UI, saya berpikir bahwa buku ini penting dimiliki oleh para calon mahasiswa baru UI untuk mengetahui kehidupan mahasiswa baru UI, dan juga akan membahagiakan bagi para mantan mahasiswa baru UI maupun universitas lainnya untuk sarana bernostalgia masa-masa peralihan dari seragam abu-abu menjadi mahasiswa dengan jaket almamaternya yang baru. Gambaran kisah dan latar cerita yang ditulis lengkap mampu menggambarkan kehidupan mahasiswa baru UI khususnya fakultas sosial dan ilmu politik UI. Membaca bait per bait buku ini membuat saya kembali terdampar dalam kenangan masa maba saya lima tahun silam.
Sebentar-sebentar saya mengangguk-angguk tanda sepakat, berulang kali lengkungan senyum tampak di raut muka saya saat membaca peristiwa-peristiwa yang dikisahkan dengan jujur dan disertai analisis oleh penulis dari sudut pandang sosiologi. Banyak penggalan kisah yang kurang lebihnya juga saya alami dan rasakan, sama-sama merasakan noraknya jadi mahasiswa baru yang serba belum tahu ini itu, meng-add facebook senior-senior sehingga di kemudian hari kadang baru menyadari bahwa telah berteman di facebook sejak lama dengan senior yang bahkan orangnya tidak tahu yang mana, juga tentang segala rupa aktivitas dan parade istilah baru yang baru saya tahu semenjak kuliah sebagai mahasiswa baru. Dalam hati saya kerap berkata, kisah ini “gue banget”, sebagai sesama mantan mahasiswa baru, saya merasakan penggalan-penggalan kisah yang di tulis di bab-bab dalam buku ini telah berhasil membuat saya kembali menjadi mahasiswa baru. Haha.
Tentang pengalaman menjadi ketua kelas, tetang pengalaman menggunakan power point, tentang bagi-bagi tugas tanpa analisis menyeluruh terkait pokok bahasan. Haha. Seketika saya teringat dengan kenangan 4-5 tahun silam saat pertama kali menjejakkan kaki di UI sebagai mahasiswa baru FIK UI. Saya baru menyadari betapa selama ini saya hanya mengendapkan begitu saja kenangan itu, dan buku ini berhasil membuka kembali memori saya tentang dunia maba yang telah (hampir) terlupakan.
Saya jadi teringat masa-masa perkuliahan di Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) Universitas Indonesia. Di awal perkuliahan, saya dan teman-teman saya harus beradaptasi dengan metode Collaborative Learning (CL) dan Problem Based Learning (PBL) yang mengedepankan diskusi kasus dan diskusi materi bahan kuliah di dalam kelompok focus group, home group kemudian presentasi dan pemberian pemantapan dari fasilitator mata kuliah tersebut. Pada saat berada di focus group discussion (FGD), kami akan dibagi topik bahan kuliah atau dibagi satu kasus yang harus dibahas dari segi tinjauan materi hingga analisis kasusnya, namun pada kenyataannya, seringkali kami hanya membagi-bagi tugas dengan sesama teman sekelompok dan kemudian pulang, mengerjakan tugas sendiri-sendiri di rumah masing-masing dan janjian akan meng-compile tugas ke salah satu teman yang bertugas sebagai editor. Jadi, kalau nama kita keluar sebagai editor, syukuri saja, jangan meratapi nasib karena harus sabar menunggu, atau karena harus rajin mengingatkan teman sekelompok untuk mengirimkan tugasnya tepat waktu sesuai perjanjian. Akan lebih bingung lagi bagi yang namanya keluar sebagai presentan, karena akan sangat mungkin terjadi, di hari H presentasi, bisa jadi akan agak bingung dengan tata letak dan format slide yang berbeda-beda akibat hanya bagi-bagi tugas tersebut, tanpa adanya analisis secara menyeluruh dari materi yang sedang dibahas.
Dulu, kami kerap dilanda rasa bosan ketika dalam satu hari bisa saja ada 3 mata kuliah yang mana ketiganya punya deadline pengumpulan Lembar Tugas Mandiri (LTM) yang amat sangat akrab di telinga seluruh mahasiswa UI. “Kitab” tebal yang direkomendasikan oleh dosen kerap hanya dibuka ketika sedang mencari referensi dalam pembuatan lembar tugas mandiri, juga saat ujian, selanjutnya buku “kitab” tersebut akan menjadi bantal tidur ketika ketiduran di depan layar laptop atau saat ketiduran di tengah jalan belajar. Belakangan kami menyesal mengapa dulu tidak rajin-rajin baca buku ya, mungkin jika dulu saat mahasiswa baru sudah membiasakan diri untuk rajin membaca buku dan bertekad tidak akan ketiduran saat belajar, mungkin IPK akan bisa lebih melejit seperti roket dan ilmu yang didapat juga akan lebih dalam.
Telah menjadi rahasia umum bahwa anak FIK jadwal kuliahnya padat dari senin hingga jumat dan setiap harinya kami kuliah dari pagi pukul 08.00 dan kelas berakhir pukul 15.00 atau bahkan lebih, jika ada kelas tambahan, kelas pengganti, atau ada praktikum tambahan. Belum lagi jika ada pemberitahuan mendadak bahwa ada kelas yang dimajukan via sms berantai (jarkom: jaringan komunikasi, istilah ini juga baru saya tahu semenjak jadi mahasiswa baru UI, hihi).
Panggilan untuk hadir mengikuti kuliah di kelas sudah seperti “Panggilan Perang” yang bisa saja datang kapan saja di saat kami sedang apa saja dan yang paling parah, dikarenakan metode penyebaran beritanya dari sang ketua kelas kepada 20 orang sekelas adalah melalui pohon jarkom sms berantai, maka, bisa jadi sms jarkoman adanya kelas tersebut baru nyampe ke kita saat sudah H-30 menit jadwal yang telah ditentukan oleh dosen, atau bahkan saya pernah mengalami mendapatkan sms jarkom pemberitahuan ada kelas ketika kelas sudah 30 menit dimulai, sedangkan saya masih bersantai di kamar saya di F1 lantai 3 nomor 32, Asrama UI. What a day! Buru-buru saya sms ke nomor sang ketua kelas dan memberitahukan bahwa saya baru saja menerima sms “kelas jarkoman” sehingga saya akan sangat terlambat masuk kelas.
Sekali lagi saya tertawa kalau teringat masa itu, masa-masa dimana saya terpilih menjadi ketua kelas sebuah mata kuliah Keperawatan Dasar IV, sang ketua (harus) rela menyisihkan sebagian uang jajan untuk membeli pulsa sms (untuk menjarkom) setiap ada “titah” dari dosen untuk diumumkan kepada 19 teman lainnya yang menjadi anak buah, melalui sms berantai yang akrab di telinga anak UI sebagai “jarkoman”, sehingga kami sering menyebutnya “kelas jarkoman”. Orang terakhir di pohon jarkom berkewajiban menjarkom sang ketua kelas, sebagai tanda bahwa pada jalur dia, jarkomnya beres dan semua telah mendapat informasi. Yang paling menyebalkan adalah bilamana kami diberitahu buku atau tugas yang harus dibawa tetapi dikarenakan hp teman yg bertugas menjarkom nama saya sedang rusak-sehingga hp nya tak dapat menerima maupun meneruskan pesan-alhasil saya pun juga tak akan menerima pesan berantai tersebut, inilah yang kami sebut dengan “putus jarkom”. Kesel sih, tapi ya gimana lagi, anggap saja ini musibah. Untuk meminimalisasi kejadian missing information, biasanya sang ketua juga akan mengirim sms jarkom ke orang pertama dan orang terakhir di pohon jarkom. Menjadi ketua kelas memang dituntut (harus) lebih antisipatif, demi kemaslahatan umat. Haha.
Kerap diri ini dan juga teman-teman se-fakultas keperawatan iri dengan teman kami yang juga mahasiswa di rumpun sosial humaniora UI (seperti FH UI, FPsi UI, FISIP UI, FE UI, FIB UI) yang kuliahnya hanya sedikit jam nya dan satu mata kuliah hanya sebentar sekitar 1,5 atau 2 jam setiap hari, betapa merasa sangat “tersiksanya” kami, tapi pada akhirnya kami pun (mencoba) menjalaninya tanpa komplain, tapi lebih sering kami gagal untuk tidak komentar. Hehe, sangat manusiawi ketika merasa kesal jika baru tahu ada kelas pengganti pas udah jalan 1 jam perkuliahan. Walau begitu, kami tetap ada yang berusaha manut mencoba menjalani nasib, namun ada juga beberapa teman yang kemudian mengikuti tes SNMPTN Tertulis dan mengikuti tes masuk perguruan tinggi lainnya di tahun berikutnya untuk pindah kuliah, keluar dari FIK UI. Hal ini berkaitan dengan seberapa kuat mimpi dan cita-cita kita untuk menjadi perawat profesional, dan daya tahan kita. Karena harus diingat, kita anak Keperawatan UI harusnya bersyukur telah terpilih dan berkesempatan belajar menjadi perawat profesional di Fakultas dan Universitas yang merupakan nenek moyang Keperawatan di Indonesia, yang hingga kini menjadi kiblatnya Keperawatan di Indonesia.
Setelah kelas usai, kami berhamburan dari pintu kelas, atau dari ruang laboratorium, saling berebut agar dapat keluar ruangan terlebih dulu dan bergegas menyelesaikan urusan berikutnya. Ada yang masih sibuk membantu merapikan peralatan dan perlengkapan di kelas, ada yang masih sibuk menjual sebagian sisa makanan danusan, ada pula yang setengah berlari ke arah temannya yang sudah menanti di depan pintu sedari tadi, ada yang bergegas segera ke arah halte bis kuning untuk pulang, ada yang mampir dulu ke sekretariat lembaga kemahasiswaan dan unit kegiatan mahasiswa (UKM), ada juga yang berjalan tenang menuju tempat yang mendamaikan: musholla, bersiap untuk memenuhi panggilan sholat.
Begitulah agenda yang kami jalani hari demi hari, hingga masuk hitungan pekan dan berganti bulan, hingga tanpa sadar 4 tahun pun berlalu, saatnya kami menjemput toga sarjana! Bukan tanpa halang rintang kami menyelesaikan 4 tahun kuliah di FIK UI, kerap kami saling berkeluh kesah tentang sulitnya soal ujian pagi itu, atau tentang menumpuknya berbagai tugas LTM dan presentasi yang disebabkan oleh kebiasaan buruk kami menunda pekerjaan, atau berkaitan dengan masalah-masalah yang dialami sebagai seorang aktivis mahasiswa dalam menyeimbangkan antara kuliah dengan aktivitasnya di organisasi dan kegiatan lainnya.
Sesudah 4 tahun kami berkuliah, kami mendapatkan gelar sebagai Sarjana Keperawatan, namun ternyata perjuangan tidak selesai sampai disitu, kami masih harus menempuh kuliah Profesi Ners selama satu tahun agar kami dapat memperoleh gelar sebagai Ners yang professional. Di lain kesempatan saya akan bercerita tentang fase ini, in syaAllah.
-Istiqomah Nur Khasanah, FIK UI 2010










