Kurangnya diriku adalah aku terlalu takut ditipu orang lain, tapi dengan mudahnya akulah yang menipu diriku sendiri dan membiarkan hati ini sakit.
-Eunoia,8.11.21-
seen from T1

seen from Albania
seen from Germany

seen from Switzerland

seen from Bulgaria
seen from Türkiye
seen from T1

seen from United States
seen from France

seen from Switzerland
seen from Australia
seen from Italy
seen from United Kingdom
seen from Türkiye
seen from Yemen

seen from United States
seen from Japan

seen from United Kingdom
seen from Yemen

seen from United States
Kurangnya diriku adalah aku terlalu takut ditipu orang lain, tapi dengan mudahnya akulah yang menipu diriku sendiri dan membiarkan hati ini sakit.
-Eunoia,8.11.21-
Hampir Salah Pita
Malamnya laman Facebook ku penuh dengan notifikasi sana-sini. 'Wow' sekali bisa jadi bagian mereka yang kata orang "dapet tiket emas". Tapi hati sendiri memang hanya bersama Tuhan diketahui. Tekadku belum bulat, kalian tau sendiri kenapa. Orang tua juga tidak memaksa harus ini harus itu, semua keputusan kembali lagi kepada, aku.
Bisa saja saat itu ku coba untuk kabur dan percaya diri mencoba SBM saja, tapi itu masalahnya, percaya diriku semakin ciut setiap harinya. Ku pikir lagi, ku cerna lagi. Hingga tiba saat aku kembali mengingat do'a ku pada Tuhan kala itu.
"Ya Allah, Henni pengen lolos di UPI aja. Pengen kuliah di Bandung. Pengen lolos SNMPTN, biar gak repotin orang tua sama tes-tes an"
Aku sebut UPI, aku sebut juga alasanku, tapi tak ku sebut Pendidikan Biologi. Alih-alih makin penasaran dengan jurusan itu, ku pindah fokus ku menjadi, coba bersyukur, berterimakasih, dan berbahagia diri. Tak semua mendapatkan kesempatan hebat ini, lantas ego harusnya tak punya tempat sama sekali di sini.
"Bimbelnya gapapa lanjutin aja Teh, itung buang kesel di rumah, udah dibayar juga kan sampe lunas", bapak bilang gitu.
Tapi sengaja tak ku lanjutkan. Memilih menikmati hari-hari libur di rumah, siapkan diri juga mental menjadi mahasiswa baru di kota Bandung. Tak sedikit juga teman yang bilang,
"Selamat ya Hen, cita-citanya kesampean deh. Kuliah di Bandung, UPI. Mantap lah, calon guru Biologi masa depan!"
Aku balas dengan senyum.
***
Tiba di hari pendaftaran ulang mahasiswa baru. Peraturannya: Memakai seragam SMA.
Berkas-berkas pendaftaran di siapkan. Satu yang belum, pita warna (karena warna pita setiap fakultas beda-beda). Waktu itu ku yakin hendak membeli pita warna yang mewakili Fakultas Ilmu Pendidikan. Aa nanya:
"Emang IPAI masuk FIP teh?"
"Iya lah, masuk apalagi coba?"
"Cek dulu, nanti salah ribet loh"
Ternyata ada di Fakultas Sosial FPIPS. Terlihat ya, betapa tak pedulinya aku dengan jurusan itu. Andai IPAI itu ada di FPMIPA, mungkin gedung yang sedikit kurangnya dibangun atas kerjasama UPI dengan Jepang, gedung yang jadi ikon anak-anak lab, gedung yang gambarnya petantang-petenteng di halaman pertama buku catatan pribadiku selama di pondok, memang akan jadi gedung yang sangat aku tunggu-tunggu mendatanginya tanpa harus lagi ku lihat draft pedoman daftar ulang itu berkali-kali. Tapi kawan maaf, semua itu adalah "andai". Bagaimana pula ilmu ketuhanan dengan ilmu laboratorium bisa berada dalam rumpun yang sama, yang kita sebut fakultas (?).
Pagi-pagi sekali aku dan teman pondok (yang kebetulan lulus SNM juga) pergi ke kampus. Berdiri diantrian. Lama-lama risih juga jadi "pusat perhatian". Gimana tidak? Yang lain putih Abu-Abu (kayak lirik lagu wkwk) aku berpatung diri dengan baju hitam putih (100% seragam pondok). Gapapa, cobaan tahap pertama dari kiai pondok sepertinya.
Beres di bagian administrasi, lanjut ke pendataan jurusan. Pikirku santai saja, paling cuma tes baca Qur'an. Di sinilah kembali ku lakukan kecerobohan yang hakiki. Kating yang mewawancara:
"Dulu di SMA aktif ikut rohis?"
"Rohis apaan ka?"
Kating senyam senyum.
Rohis? Makhluk jenis apa itu? Setelah dijelaskan ku jawab saja,
"Tidak ada rohis ka di pondok kami. Semua kegiatan disana berbasis keislaman"
Kurasa dia cukup puas. Harus dong! Kalau kamu ngerti apa yang aku maksud, harusnya kamu ngangguk, atau ketawa ketiwi karena tau kenapa saya emosi sekali menjawab pertanyaan kaka tingkat itu.
Ini baru awal, bagaimana kedepannya?
Kita liat besok...
@adhit21 @mathmythic @sekotenggg @fadhila-trifani @gugunm
Jika lara akan tersembuhkan oleh waktu...Maka rindu hanya akan tersembuhkan oleh temu namun sayang aku dan kamu telah terpisah oleh ruang dan waktu.
-EUNOIA 05.11.21-
Kamu Mau Hidup Dengan Elegan Tolong Resapi Kata Kata Ini.
Isyarat Mentari
Berdiri meninggalkan arogansi
Melangkah tanpa Ekspresi
Berucap tanpa sensi basi
Mandiri dengan visi misi
-EUNOIA 27.10.21-
Hujan, telah mengajarkanku betapa pentingnya sebuah kehangatan tapi hujan juga telah mengisyaratkan kepadaku bahwa kedamaian itu hadir secara sederhana...
-Eunoia 28/11/2021-
Untuk kamu yang baru kenal aku
"Aku orangnya gagitu kok...Tapi yang bisa gitu pasti cuma aku"
Diantara Dua Senja
Aku bersama dia melangkah diantara dua senja yang mengitari kisah kami berdua dengan kedamaian cinta yang terlukis di atas secangkir harapan.
Aku bersama dia duduk diantara dua senja yang membayangi perasaan cinta yang mengungkap rasa sayang yang tergambar di atas canvas rindu.
Lalu aku dan dia terduduk termenung melihat sang senja melambaikan tangan berganti dengan malam yang hangat dan berkata kami selalu mencintai ketika waktu berada diantara dua senja.
Kayak Apa yang Pernah Temen Lama Gue Bilang, Tiap Orang Punya Timeline-nya Masing-masing
Pake "gue" biar makin kerasa gimana bar-bar nya gue di tengah para akhi dan ukhti 😗
Lu tau? Waktu gue nangis di bawah pohon cuma ada rasa marah bertubi-tubi. Kayaknya setan pohon depan fakultas gue juga ngedukung apa yang gue lakuin. Gue terima-terima aja kalau orang nilai diri gue karena emang sifat murni dari diri gue. Yang gak bisa diterima itu, kenapa harus bawa-bawa pondok gue sih WOY!
Gak tau kenapa di sana gue ngerasa ancur banget. Terlalu alay emang, tapi ya gimana? Ngehina pondok gue berarti juga ngehina guru-guru gue yang selama ini udah ngasih banyak ilmu. Nambah nyeseknya lagi adalah ketika gue tau alasan mereka ngehina pondok gue adalah karena, gue. Langsung detik itu juga mikir, apa gue perlu beneran berubah. Seenggaknya demi khidmat gue ke asatidz dan pondok tercinta? Aelah tercinta amat. Tapi emang bener.
Setelah kejadian itu, gue pantang pake style itu lagi setiap ketemu anak jurusan. Masuk kuliah? Jangan ditanya. Tapi ya, masih gue colong-colong tuh kalau gue ada acara di luar gue pake style apa adanya aja. Gak jarang juga sih gue kepergok, tapi ya easy going aja. Biar mereka terima gue sebagai, gue.
Kecemasan itu mulai menghilang seiring gulirnya waktu. Gue mulai sibuk sama berbagai aktifitas yang gak jarang mengharuskan gue malah makin tenggelam di tengah-tengah para akhi ukhti ini. Jadi ketuplak penyambutan mahasiswa baru buat adik tingkat (cielah gak kerasa udah tingkat dua ekekekek), ngonsep acara ospek jurusan sampe lima bulanan, dan sebagainya lah. Intinya gue lagi seneng banget kalau beres kuliah dikelas ada yang teriak "Hen rapat". I really enjoy it. Gak ada alasan jelas karena emang gue suka aja. Bekel di pondok yang lumayan sering gue ikut ribet-ribet ngurusin kepanitiaan marhalah ngurusin MMS tiap taun, jadi p3 (panitia pergantian pengurus) yang di ospek nya hampir kayak orang gila, ngurusin kholasoh tiap taun juga, disuruh manage paskibra cewe angkatan gue yang jadwal ngibar dua minggu sekali (lumayan mejeng wkwk) pengurus angkatan, panitia tambahan lainnya, sampe malem sebelum marhalah gue haflah aja, masih gue ngurusin surat-surat cinta buat orang tua santri. Ah luar biasa. Tapi tanpa disadari emang itu cara pondok ngajarin gue buat tetep bisa up walau di bawah tekanan yang gak manusiawi, termasuk di dunia kuliah.
Sepanjang kesibukan itu gue mulai ngerasa orang-orang udah gak masalah sama penampilan gue itu. Apalagi ngeliat gue yang seneng banget wara-wiri ngurusin kegiatan. Ya walaupun masih ada aja satu dua orang yang kayak gitu, tapi gue gak peduli.
Tahun-tahun setelahnya makin banyak yang gue rasain, khususnya tentang perubahan pola pikir dan cara pandang gue. Emang mungkin ini do'a pimpinan prodi di awal mukaku jurusan waktu gue maba yang becanda sambil bilang
"Buat kalian yang merasa salah jurusan, bersyukurlah karena kalian dijerumuskan oleh Tuhan ke jalan yang lurus"
Tapi semesta emang punya jalannya sendiri buat ngarahin penghuninya. Satu persatu rasa gak nyaman gue sama penampilan gue saat itu muncul. Ntah dari kerudung yang mulai gue pake lebih rapih dan gak di linting-linting lagi, lebih sering pake rok atau kulot, atau coba nyari baju-baju sepanjang lutut buat bisa dipadu sama jeans. Sampe gue akhirnya beraniin beli gamis (heboh satu angkatan coy gue pake gamis hahaha kampret emang) bahkan udah gk ada lagi celana jeans yang diem di lemari, gue milih ganti jadi celana bahan. Gue gak tau perubahan itu muncul sejak kapan, tapi emang kuliah yang tiap harinya ngebahas norma agama ini ya kayak di pondok, hampir tiap harinya "diceramahin" sedikit banyak mulai pengaruhin cara pikir gue. Makin ke sini nya makin mikir gue gimana kalau gue gak bisa amanah sama apa yang udah Tuhan kasih. Gimana kalau gue gak bisa jadi amal jariyah buat orang tua sama guru-guru gue dari zaman SD dulu, gimana kalau gue gak mampu ngelahirin kebaikan kedepannya. Ya tahun-tahun akhir kuliah itu emang mulai agak krisis sih hidup gue. Banyak pertanyaan sejenis yang muncul, emang mungkin karena diri juga yang masuk zona dewasa. Ntah gimana yang gue pelajarin waktu itu cuma satu, gue gak bisa ubah mereka ataupun dunia, karena satu-satunya yang bisa gue kontrol adalah diri gue sendiri. Kalaupun bukan lewat tampilan fisik gue, seenggaknya ada hal lain yg bisa mereka liat bahwa pondok gue gak pernah salah ngajarin gue.
Pada akhirnya gue cuma bisa bilang terimakasih sama Tuhan. Mungkin kalau waktu itu gue maksa minta buat jadi mahasiswa di Pendidikan Biologi diri gue makin ombang ambing. Tuhan tau gue masih butuh dibimbing makanya di masukin lagi ke jurusan yang 11,12 sama pondok gue. Mungkin juga kalau itu kejadian, gue sampe detik ini belum di wisuda dan malah jadi mahasiswa tua di kampus karena otak gue gak bisa ngejar materi mipa lainnya. Mungkin gue juga gak bisa sebebas gue bisa aktif di organisasi sana sini karena kepikiran tugas dan praktek lab yang sangat gak manusiawi itu. Mungkin juga gue gak akan pernah sadar buat apa gue hidup (gilee filsafatnya muncul wkwkwk). Ya bener lagi kata orang bijak. Kalau berdo'a itu yang detail mintanya sama Allah. Biar Allah tau kalau kamu itu sungguh-sungguh mintanya. Bukannya mau ngedikte Allah, karena emang Allah gak perlu didikte. Tuhan semesta alam emang punya jalannya sendiri buat ngajarin hambanya. Tugas kita ya mau diajar dan belajar. Emang udah jalannya kalau yang lain diuji mentalnya untuk hadapi materi kuliah dengan orang-orang baru, kalau gue diuji buat hadapi diri sendiri 😌
Haiii gak kerasa tema pertama udah beres hahha. Waktunya flashback udahan deh. Tulisan setelahnya mungkin lebih beda genre, biar gak stuck di zona aman :)
Terimakasih sudah mau membaca apa-apa yang jarang gue buka ke publik. Semoga kalian suka. The last for this theme,
"Beberapa perubahan sering kali buat manusia kaget. Tanda dia belum siap, tanda dia belum bisa terima. Tapi itu gak masalah karena tiap insan punya jatah jadi manusianya masing-masing, dan Tuhan gak pernah lupa itu. Cukup ikuti dulu mau Tuhan apa, bilang aja "Iya" dulu. Karena tanpa kita sadari Tuhan emang paling tau apa yang ngebuat hati yakin atau ragu. Dan di sana semesta mulai bekerja buat bantu kita sampai di ruang kita bisa menjelma menjadi kebermanfaatan bagi sesama. Semua hanya soal waktu"
Jadi, kalau ditanya gue pernah salah jurusan? Iya. Tapi kalau ditanya gue salah jalan/tujuan? I don't think so. Biar cita-cita gue dulu jadi dokter atau ahli biologi bisa diterusin sama orang lain, anak gue nanti? Atau murid gue? Gue bimbing mereka lewat agamanya aja :)
@fadhila-trifani @gugunm @sekotenggg @adhit21 @mathmythic