Bahagia: Definisi ala Medsos
Hidup itu sederhana. Pun dengan bahagia. Tapi terkadang pikiran kita yang rumit mendefinisikan kebahagiaan. Padahal sesederhana dengan bersyukur aja lho. Tapi dasar manusia nggak pernah puas, kayaknya nggak ada tantangan kalo hidupnya gitu-gitu aja. Jadi lah kita seringkali terpancing untuk mencari definisi lain akan kebahagiaan. “Gue bahagia kalo udah begini begini begini.” Dan akhirnya, kita melihat kehidupan orang lain sebagai patokan kebahagiaan.
Terlebih di usia produktif yang lagi serba bergejolak ini, rasanya sisi kompetitifnya susah dibendung. Nggak akan cukup kalo belum melebihi pencapaian si anu, misalnya. Di sisi lain, ada bagusnya sih, selama pencapaian itu positif semisal mencari ilmu setinggi-tingginya, atau beramal shaleh sebanyak-banyaknya, nggak masyalah. Malah positif kan.
Tapi kalo pencapaian itu berupa #relationshipgoals, #lifegoals, #siblinggoals, dan goals lain berbentuk hashtag yang ada di medsos, rasanya hampa. Ini subjektif menurut saya sih, yang merasa apa yang disuguhkan di medsos itu fana. Dunia aja udah fana, lha apalagi medsos yang cuma miniatur dunia. Wkwk.
Sebagai pemerhati pola, saya suka memprojeksikan pola-pola yang saya tangkap tersebut, ke dalam otak. Dalam hal medsos, yang saya tangkap, pola penyebab kebahagiaan yang modusnya paling tinggi (kalo nggak mau dibilang mainstream), kira-kira seperti ini:
Banyak traveling ke tempat baru
Banyak makan enak di cafe lucu
Menikah muda dan dikelilingi bridesmaid kece yang sebelumnya mengadakan bridal shower super asyik
Punya anak yang lucu dan pintar
Mendapatkan beasiswa sekolah di luar negeri
Menghadiri event yang kece, misalnya acara musik, festival ini, festival anu, olahraga bareng, dll
Itu yang berhasil saya kerucutkan hingga bisa ditarik garis besarnya bahwa itulah kebahagiaan yang umum dimunculkan di medsos – kalo ada yang nggak kesebut, berarti saya lupa, atau memang luput dari perhatian saya, hehehe. Hal ini pun berlaku di medsos saya lho, wkwkwk. Nggak dipungkiri, saya pun generasi milenial yang sering latah ikut-ikutan apa yang lagi musim. Tapi belakangan saya mikir, “Duh, kalo gini mah, di mana letak keunikan saya. Di mana state of the arts-nya?!” Kekekeke.
Dan yang nggak kalah penting (tapi ganggu – wk!), saya sering merasa rumput tetangga lebih hijau setelah melihat medsosnya. Jadi di otak berkecamuk deh pikiran-pikiran rumit. Saya mohon maaf ya kalo ternyata isi medsos saya yang malah begitu. Masih latihan buat mengontrol nih. Syulit. Apalagi saya bukan tipe orang yang cool. Ehehehe excuse, lau! Karena pikiran-pikiran rumit itu, akhirnya malah lupa mensyukuri hal-hal yang ada di depan mata. Hasilnya jadi lupa bahagia karena fokus bahwa bahagia itu adalah produk, bukan prosesnya. Duh duh duh.
Sedikit cerita, kemarin seorang teman bercerita banyak hal tentang liburannya. Karena teman dekat, saya iseng nyeletuk,
“Asyik bener lo, lagi menikmati hidup banget kayaknyaaa..”
“Ahaha, iya nih. Tapi, Tuuul, kebanyakan liburan malah bikin gue hampa sesudahnya. Kayak timpang gitu loh bedanya selama lagi liburan dan sehari-hari.”
“Bahahaha, paradoks gitu ya. Setelah rame-rame jadi sepi lagi.”
Yak. Jadi contoh-contoh kebahagiaan yang didefinisikan oleh medsos itu semu. Sifatnya sementara aja. Setelah berhasil direngkuh, malah menciptakan paradoks, mungkin karena saat mencapainya dilakukan dengan menggebu-gebu. Semua energi ditransformasikan menjadi antusiasme di awal. Begitu selesai, energinya berkurang secara eksponensial. Ahahaahaha~ It’s perfectly rhymed, btw!
Jadi, sewajarnya aja dalam menyikapi kebahagiaan ber-hashtag itu, karena sungguh dia itu fana. Sedangkan, kebahagiaan yang hakiki, yang nggak fana, yaitu saat hati kita penuh. Dan kepenuhan hati nggak akan bisa dicapai kalo hati kita dipenuhi oleh hal selain Yang Menciptakannya. Alih-alih mengejar kebahagiaan yang sifatnya sementara, lebih baik kita mengejar ridha-Nya. Coba deh kita renungin lagi seberapa bahagia kita lewat pertanyaan-pertanyaan turunan ini.
Udah bersyukur belum hari ini?
Udah menerapkan keikhlasan di setiap tindak-tanduk yang dilakukan belum? (Biasanya kalo ikhlas nggak bakal bilang-bilang sih, cukup diri sendiri dan Allah aja yang tau)
Kalo semuanya bisa kita jawab “udah”, insyaAllah kebahagiaan akan mudah dekat dengan kita. Yuk ah, semoga kita bisa selalu bahagia setiap harinya tanpa terpaku pada definisi yang tercipta karena modus tipe kebahagiaan (temennya mean dan median, bukan modus yang satunya) yang muncul di medsos. Bismillah. Biidznillah.
Mutul yang masih terus belajar