Magic Beyond Words: The J.K. Rowling Story
Magic Beyond Words: The J.K. Rowling Story menceritakan perjalanan Rowling sebagai penulis. Saat ia remaja, ia mendapatkan beberapa teman yang menjengkelkan. Kebiasaan Rowling menumpahkan imajinasinya pada buku catatan saat jam pelajaran berlangsung, membuatnya harus berhadapan dengan beberapa kawan yang selalu mencoba mengusiknya. Hingga berakhir dengan mendapatkan bullying dari teman-temannya. Walau tak melarang kebiasaan Rowling menggambar dalam kelas, gurunya pun sering menegurnya untuk sementara berhenti saat jam pelajaran. Seperti layaknya seorang sahabat, buku yang penuh imajinasinya itu sangat di jaga dengan baik olehnya. Bahkan, saat bukunya direbut oleh teman-teman yang menjengkelkan itu sampai mereka terlibat dalam perkelahian. Masa remaja yang ia habiskan sangat berwarna. Beranjak dewasa, ia mengalami kekerasan dalam rumah tangga dengan suami pertamanya di depan bayi perempuannya. Kemaitan ibunya saat ia masih bertumbuh pasca lulus kuliah pun, membuat kondisinya semakin prustasi. Namun, karena kesedihan itulah fokusnya pada pembuatan seri Harry Potter berkembang.
What's the story?
J.K. Rowling tahu dari usia muda ia sangat dan ingin menulis. tapi itu menjadi tahun sebelum ia menghasilkan seri yang akan menjadi buku terlaris dalam sejarah. Di sini saya melihat awal yang sederhana sebagai anak yang beranjak dewasa sebelum waktunya. Perjalanannya sebagai remaja canggung, dan tekad yang luar biasa sebagai seorang ibu tunggal yang peduli pada kesejahteraan bayinya, yang dilain sisi ia berjuang untuk mengembangkan dirinya sebagai penulis dan membuat waktu untuk menemukannya “suara” nya sebagai penulis, telah menjadikan dirinya sebagai wanita tangguh.
Is it any good?
MAGIC BEYOND WORDS: THE J.K. ROWLING STORY mengisahkan dengan tepat semua kekayaan Rowling dalam perjalanan hidupnya sebagai penulis. Saya melihat Rowling sebagai anak kecil yang suka bermain peran sebagai penyihir bersama teman-temannya, kemudian ia tumbuh menjadi seorang remaja dengan sahabat berambut merah yang menjadi tempat Rowling curhat pada setiap momen yang ia hadapi. Bahkan sahabatnya hadir saat ia ingin sekali kuliah sastra namun tidak diperbolehkan oleh orangtuanya. Serta tumbuh sebagai seorang wanita muda kala naik kereta ia memimpikan seorang penyihir muda. Disinilah imajinasi liar Rowling hadir.
Perjalan panjang menggunakan kereta saat itu tepat beberapa bulan setelah kematian ibunya. Rowling melihat lowongan mengajar menjadi guru bahasa inggris di Portugal pada koran edisi pagi hari itu di kantor redaksinya.
Singkat cerita, ia memutuskan untuk mengajukan diri sebagai guru bahasa inggris dan mendaftar untuk mengajar di salah satu sekolah di Portugal. Dalam perjalanannya menggunakan kereta, ia beristirahat sejenak dan bermimpi memimpikan masa lalunya saat ia bermain peran sebagai penyihir bersama kedua rekannya. Akan tetapi, ada keanehan yang ia alami pada mimpi itu. Tiba-tiba ada seorang anak laki-laki yang tak ia kenal berdiri menatapnya tanpa berkata sepatah katapun.
Seketika ia terbangun. Persis di luar jendela kereta yang ia naiki, melintas seekor burung hantu dan seketika itu pula ia teringat pada mimpi yang baru saja ia alami yang pada akhirnya terucaplah sebuah nama pada mulutnya “Harry Potter”.
Sesaat setelah ia sampai di rumah, ia langsung menuliskan “Harry Potter” dan melanjutkannya menjadi sebuah novel berseri yang paling keren sepanjang sejarah.
“Pada proses kesuskesannya, JK Rowling sangat menginspirasi. Ia menjadi salah satu penulis sederhana yang paling berpengaruh di dunia dan menjadi gadis imajinatif muda yang canggung, dimana ia juga telah kehilangan ibunya di saat ia remaja. Serta dengan segala prosesnya itulah asal-usul Harry Potter yang fenomenal”. –Arif Voyager
Foto : www.hogwartsite.net









