Catatan Sebelum Sidang (4)
Hampir saya lupa menceritakannya, ada satu hal ajaib yang saya alami ketika memasuki kelas kuliah yang baru itu. Masih ingat si anak mami yang duduk di sebelah ku waktu awal datang ke kampus ini? mulai dari awal masuk kuliah sampai saat ini dia jadi salah satu sahabatku. Kami salah dua the bego bego itu. Ajaibnya adalah, ternyata apa yang dipikiran sahabatku waktu pertama saling bertemu adalah; “ini rapper norak tersasar dari mana ini...” begitulah persahabatan rapper norak dan anak mami akhirnya langgeng sampai sekarang.
Dalam kehidupan kampus – dan saya harus syukuri ini – saya tidak sekedar belajar dan kuliah. Saya terlibat di dalam organisasi-organisasi. Banyak dogma yang disampaikan, baik saat masa penerimaan tempo hari, maupun masa bimbingan yang mengajarkan kami untuk menjadi orang yang memaksimalkan potensi diri agar bermanfaat bagi orang banyak. Kami kuliah disubsidi, lalu mengapa tidak memberi manfaat walau hanya secuil bagi negeri ini?
Ada satu organisasi yang dari waktu SMA saya sudah terpikir untuk bergabung ke dalamnya. Namun ternyata takdir berkata lain, entah mengapa saya jadi tidak tertarik bergabung ke dalam organisasi itu. Badan eksekutif itu. Saya malah jadi ‘anak masjid.’ Ya, untuk kesekian kalinya. Sejak SMP saya bergabung ke dalam rohis. Di sekolah saya yang terakhir, saya pindah haluan ke OSIS. Dan ketika kuliah kembali menjadi ‘anak masjid’, saya rasa ini bukan sebuah kemunduran, cuma mengabai kejenuhan dengan memilih di mana saya akan tumpahkan tenaga muda saya.
DKM Al-Amanah nama organisasi itu. Konon dia ini organisasi rohis fakultas tertua kedua di kampus ini. Umurnya kira-kira seumur denganku sekarang, 24 tahun. Tua betul dia. Sudah banyak betul kadernya yang lulus dan bangga pernah lahir dari rahim didikannya. Maka saya rasa pilihan ini tidak salah. Kelak pada tahun keduanya saya bergabung saya membuat suatu hal yang meninggalkan kesan sampai saat ini, setidaknya bagi saya pribadi.
Waktu itu baru saja berakhir ‘penerimaan anggota muda’ lagi di kampus kami ini. Terdengar kabar yang sangat menggelisahkan dalam pikiran saya pribadi; panitia menampar anggota baru itu. Belum pernah ini terjadi pasca masa penerimaan. Ini kemunduran bagi kami yang memahami tidak seharusnya masa penerimaan seperti itu. Dia yang ditampar itu dulu adik kelasku di SMA, di Depok. Ternyata kami kuliah di fakultas yang sama.
Waktu itu hari sebelum hari jumat. Saya menyebut diri saya ‘tukang koran’-nya DKM Al-Amanah. Menjelang itu, saya sudah biasa meminta tulisan-tulisan para aktifis dan kader DKM untuk saya muat di Buletin Jumat. Waktu kesempatan itu, wakil ketua BEM tahun itu saya mintai. Dia setuju. Kami masih bingung tema tulisannya. Tapi akhirnya ia berani berkata; ‘saya mau tulis tentang Penerimaan Anggota Muda.’ Saya setuju. Dia menulisnya, saya memuatnya jumat hari berikutnya.
Ternyata tulisan itu membuat panas banyak orang. Terutama mereka yang biasa mendidik anggota baru dengan versi mereka itu. Buletin itu habis dalam waktu beberapa menit saja. pun juga saya sebar lewat jejaring internet. Tulisan itu mendobrak kemapanan yang telah terbangun bertahun-tahun. Maka, kemudian penulisnya waktu itu dipanggil oleh mereka-mereka yang merasa ‘ini perlu diklarifikasi.’ Kejadian itu jelas padahal. Korbannya mengaku, pelakunya merasa. Mereka hanya mengintervensi. Namun akhirnya ditebarlah maaf oleh penulisnya, hingga terbaca oleh alumni maaf itu. Makin geger kejadian itu.
Saya pun demikian. Saya dipanggil sebagai orang yang menerbitkan tulisan itu. Saya ingat perkataan guru, ketua, sekaligus kakak saya di DKM Al-Amanah waktu saya menanyakan tentang telanjurnya keberanian saya menerbitkan tulisan itu, maka jawabnya adalah; “ah, tak apalah. Sesekali menerbitkan sesuatu yang kontroversi.” Sampai saat ini saya kagum dan sepakat dengan keberanian beliau itu. Maka ketika kami – saya dan tim – dipanggil oleh mereka, saya katakan dengan nada yang biasa; “kami melakukan apa yang kami lakukan. Kami ini pers. Kami kontrol sosial.” Mereka sebetulnya tidak berkutik, tapi akhirnya kami berdamai. Sampai kini saya begitu puas membalas budaya feodal yang saya terima dulu dengan jalan seperti ini.
Di organisasi ini, saya mengenal banyak orang hebat yang seangkatan. Maka kami tergabung ke dalam kader DKM Al-Amanah 2008. Sampai detik ini, belum pernah kami kehabisan semangat persaudaraan dan dakwah. Sampai detik ini. Sampai detik ini.
Dalam beberapa kesempatan lain, saya terlibat dalam beberapa organisasi. Di fakultas saya terlibat di Pers Genera. Lembaga pers mahasiswa tingkat fakultas yang baru saja dibangkitkan dari tidur panjangnya selama beberapa puluh tahun. Waktu itu saya terlibat dalam membangkitkan organisasi itu sebagai salah satu pimpinan. Walau akhirnya saya tidak begitu fokus lagi. Atau dalam lain waktu saya juga terlibat dalam panitia khusus pembentukan wadah program studi kami. Saya yang menyebar isu pentingnya wadah ini ke kepala-kepala mahasiswa satu program studi, melalui selebaran-selebaran. Program studi kami – agroteknologi namanya – merupakan leburan dari jurusan-jurusan di fakultas ini. Belum ada organisasi yang mewadahi kami mahasiswa agroteknologi untuk mengekspresikan bakat dan intelektualnya secara mandiri. Akhirnya teman saya yang kader DKM Al-Amanah juga yang menjadi ketuanya se-Indonesia. Tuhan bermurah hati, inisiasi kami di tingkat fakultas di universitas disambut dengan inisiasi di tingkat nasional.
Di masa yang lain lagi saya terlibat di organisasi tingkat universitas, Padjadjaran Intelectual Research namanya. Lagi-lagi ini organisasi baru. Dan lagi-lagi saya kebagian di media. Budaya dan teman-teman di PIR (singkatan) mengajari saya banyak hal tentang yang dari dulu saya idamkan; berpikir dan bekerja dengan landasan intelektual.
Pada tahun keempat sebagai mahasiswa saya bergabung ke dalam Forum Komunikasi Dakwah Islam Fakultas – Unpad. Ini organisasi yang menghimpun belasan Lembaga Dakwah Fakultas semacam DKM Al-Amanah. Saya diminta menjadi kepala sektor membersamai departemen mentoring, HRD, dan Public Relation. Sampai pada kepengurusan satu bulan terakhir, ketua yang panutan kami itu lulus. Mudah-mudahan bukan kecelakaan, karena saya diminta menggantikan dalam kurun sebulan terakhir itu. He he he.
Waktu sekarang menunjukkan 5.45. ini ditulis mulai pukul 12.40an tadi pagi. Pukul 12 teng saya tidak bisa tidur, dan tulisan selalu bisa mengobati pikiran yang melanglang buana. Alhamdulillah setelah laptop saya mengalami Blue Screen pukul 2.00 pagi tadi, saya bisa tidur. Makanya baru pagi ini bisa dilanjutkan tulisan ini. Saya cukupkan Catatan Sebelum Sidang sampai di sini. Pukul 9.00 nanti saya akan disidang baik-baik oleh dosen-dosen cerdas itu. Mudah-mudahan saya tidak kalah cerdas, insya Allah. Terima kasih yang sudah menyimak dari awal. Penting-tidaknya, mudah-mudahan jadi sebuah catatan yang akan terus saya ingat, jika mungkin membawa manfaat.
Untuk semua sahabatku di kampus Padjadjaran tercinta, terima kasih untuk hari-hari yang hebat!