Malam Minggu bentar lagi
Sore di saturday
seen from Germany

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Argentina

seen from Germany
seen from Russia

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Netherlands

seen from Russia
seen from Morocco
seen from Russia
seen from United States
seen from United States

seen from United States
Malam Minggu bentar lagi
Sore di saturday
Malam Minggu
[Jurnal Ilmyah: Hari #14]
Seperti biasa, Bandung bersuhu dingin. Apalagi kontrakanku searah dengan Lembang. Bagi yang terbiasa dengan tempat yang suhunya panas, kemungkinan besar kalian akan mengalami gangguan kondisi badan. Flu mejadi penyakit yang mungkin singgah di dirimu ketika pertama kali datang ke sini. Bandung boleh dingin, tapi semoga tidak dengan dirimu. Semoga kamu tetap hangat untuk kutatap. Mudah-mudahan kamu tetap menunjukkan kepedulian yang dalam tentang apapun yang ada kaitannya dengan diriku. Aku tidak minta kamu menunjukannya secara terang-terangan. Cukup kamu lakukan saja, aku sudah senang.
Tak seperti pasangan muda-mudi lainnya, aku tak pernah merasakan malam minggu yang selalu dielu-elukan sebagai malam yang dikhususkan untuk makin mengenal pasangan masing-masing secara lebih dalam. Malam minggu selalu dilewati begitu saja seperti malam biasa. Seolah tidak mengandung momen terbaik untuk memperkokoh sebuah ikatan.
Tidak ada kata-kata puitis yang kuobral kepada lawan jenis. Itu kalau secara langsung. Sementara diam-diam aku mengalamatkan tulisan-tulisan pengharapan yang kadang kupublikaskan atau kusimpan saja untuk kukonsumsi sendiri. Kalau merasa sudah tepat, kulemparkan ia ke dunia maya. Barangkali ada yang merasa terwakili. Semoga itu jadi amal baik. Tidak hanya sia-sia berjam-jam duduk di depan layar laptop.
Malam minggu bagiku tak lebih panjang dari malam-malam selainnya. Apa yang harus kulakukan di malam ini selain nonton televisi, baca buku atau sesekali keluar dari kontrakan. Menatap rembulan yang tak selalu purnama. Nasib masih sendiri memang begini. Luntang-lantung tidak karuan. Itu hanya sesekali sih. Ketika penyakit rindu sedang kambuh saja.
Sering aku ingin menjadi seperti orang lain. Mereka mendapat kesenangan A, aku pun panas. Ingin sepertinya. Namun setelah aku ada di fase seperti mereka, ternyata rasanya terkadang tidak seenak yang dibayangkan. Aku jadi belajar bahwa cara terbaik untuk menyikapi ketidakpuasan hidup adalah dengan cara berterimakasih atas setiap yang sudah didapati.
Barangkali kesendirian ini adalah hal yang mesti kusyukuri. Setidaknya untuk saat ini. Hidup hanya masalah waktu. Aku percaya bahwa kita akan ada di posisi seperti orang lain. Begitupun sebaliknya. Orang lain pun akan merasakan berada di posisi kita tepat pada waktunya. Aku sekarang sedang ada di posisi seorang diri. Kamu pun sedang di posisi yang sama denganku. Aku sering berdo’a semoga kebersamaan yang kuharapkan di masa depan adalah aku bukan dengan orang lain. Tapi dengan kamu yang juga pernah mengangankan tidak lagi sendiri. Do’amu terkabul. Aku perantaranya.
Oh iya, sebenarnya siapa sih pencetus bahwa malam minggu harus pergi ke rumah kekasih? Diskriminasi sekali orang itu. Kasihan yang di malam minggu harus kerja keras sementara di hari-hari aktif lainnya punya lebih banyak waktu luang. Meski masuk akal juga sih, kalau selain Sabtu malam orang-orang sibuk dengan segudang aktivitasnya. Ada yang bekerja, belajar di sekolah, mengurusi Negara, atau sekadar menghabiskan sisa kehidupan untuk menemukan makhluk bernama kebenaran. Dan tentu minoritas harus manut sama yang jumlahnya lebih banyak. Itu sudah jadi sebuah pola yang susah diubah. Mesti terkadang kupikir hukum alam semacam itu tidak adil pada beberapa hal. Lalu apa maksudnya coba malam minggu dijadikan malam istimewa buat para manusia-manusia yang sudah menjalin hubungan? Kasihan kan orang-orang yang belum menemukan kunci bagi gemboknya masing-masing.
***
Sebagai informasi, tidak semua yang kutuliskan adalah pengalamanku. Seiringkali ini hanya gurauan. Kadang pula hasil pengalaman atas persoalan yang membelit kisah percintaan temanku, atau temannya temanku atau orang lain yang sama sekali tak kukenali. Penulis bisa menjadi siapa saja. Hati-hati membedakan mana tulisan yang bersumber dari peti hal-hal yang telah dialami sendiri dan tulisan yang berasal dari perenungan juga sebuah pengembaraan imajinasi. Seperti bunglon, pecinta kata-kata memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi. Dan itulah alasan kenapa aku mencintai pekerjaan menulis ini.
Di malam minggu ini, semoga hujan turun dengan deras. Itu kalau do’a para jomblo. Tapi bagi para muda-mudi yang tengah dimabuk asmara, doanya begini, “Semoga kencan saya lancar jaya.” Silakan mengamini do’a yang sesuai hati nurani. Kalau aku sih pilih do’a yang pertama. Wong masih sendiri. Buktinya malam minggunya hanya di kamar saja. Menuliskan jurnal ini.
Selamat menunaikan ibadah malam minggu bagi yang melaksanakannya. He. Semoga kita dijauhkan dari perbuatan-perbuatan sia-sia dan tak mendatangkan manfaat. Aamiin.
Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 14 Januari 2017
#salammagrib #malaminggu #sepanjanghidup #akubersyukurkaudisinikasih #kaucahayahati #kauhadirubahsegalanya #hinggaakhirwaktu #seiringwaktuakubersyukurkinidanselamanya #kauhadirsempurnaknhidupku #kinidanselamanyaakumilikmu (at Kampung Parit Satu)
Jika menunggumu seperti ini, rasanya aku ingin cepat-cepat tidur agar malam cepat berakhir. Biarlah, aku dukung apapun yang kau lakukan selama positif dan terbaik untukmu tuan.