seen from United States
seen from China
seen from Yemen
seen from China
seen from United States
seen from China
seen from Germany
seen from China
seen from United States
seen from China

seen from Germany
seen from Yemen
seen from United States
seen from Singapore

seen from Germany
seen from United States

seen from Bangladesh
seen from China
seen from China

seen from Germany
Amalan bagus di penghujung Malam Jumat 🌃
Lidah Mu jangan kau biarkan menyebut kekurangan orang lain sebab kaupun punya kekurangan dan orang lain pun punya lidah
-Imam Syafi’i
Malam Jum'at ini pada ngapain? #malamjumat #styleblogger #rahmarahayu1976 #qotd #tanteseksi https://www.instagram.com/p/B7qzK2OnJll/?igshid=1u4rsxtj7xlqs
Piring ke 13
“Pyarr..” Sebuah piring putih dengan gambar bunga berwarna merah melingkar pada tepiannya meluncur dari tanganku yang licin karena busa sabun. “Apa yang pecah Fa?” selidik ibu tiriku yang sepertinya mendengar bunyi itu dari dalam kamar. “Piring bu, piring putih ibu yang ke 13”. Jawabku agak pelan sambil ketakutan. Sebab seperti yang sudah-sudah jika aku memecahkan piring ibu, ibu selalu memukulku dengan gagang sapu sambil terus memarahiku tanpa henti. Ya meski begitu aku tetap saja memecahkan piring putih kesukaan ibu itu setiap kali aku mencuci lagi yang lainnya. Kali ini kuyakin jawaban lirihku akan tetap terdengar oleh ibu, dan seperti biasa ibu mulai memarahiku.
“Kamu ini gimana sih Fa, setiap kali mencuci piring selalu saja ada satu yang pecah. Itu pun selalu piring putih koleksi ibu. Ada apa dengan tanganmu itu? Apa sebenarnya kamu tidak ikhlas membantu ibu mencuci piring? Kalau begitu kenapa kamu tetap mencucinya? Atau mungkin kamu memang sengaja melakukannya, iya? Ibu sudah tidak tahan lagi Fa. Habis sudah piring kesayangan ibu. Habis sudah kesabaran ibu. Sekarang puas kamu, Hah!!” Sederet pertanyaan sekaligus omelan ibu memburu telingaku dengan suara yang sangat keras, namun kali ini tanpa beranjak dari kamar dan membawa sapu. “Tifa ikhlas kok bu, beneran deh. Tapi ga tau kenapa selalu saja piring kesukaan ibu yang Tifa pecahkan. Maafkan Tifa bu”.
Aku baru ingat, ibu hanya mempunyai 13 buah piring putih yang sama dan kini semuanya sudah aku pecahkan. Astaga, aku juga baru ingat. Bukankan ibuku telah tiada satu minggu yang lalu. Ya, ibu terkena serangan jantung saat memarahiku ketika memecahkan piringnya yang ke 12. Lalu siapa yang mengomeliku tadi? Bulu kudukku seketika berdiri. Lalu saat aku menengok ke belakang, sebuah sapu bergagang bambu sudah melayang-layang di udara kemudian dengan keras menghantam kepalaku. “Bukk” seketika darah segar mengucur dari pelipis kananku lalu akupun terjatuh ke lantai. Dan ketika aku membuka mata, ternyata aku sedang tidur di kamarku. Kusentuh pelipis kananku yang tadi terluka, tetapi tidak ada apa-apa di sana. Semua normal dan tidak ada bekas darah ataupun luka. Ah, rupanya aku hanya bermimpi saja, syukurlah.
Belum selesai aku menghembuskan nafas lega, tiba-tiba terdengar bunyi dari dapur “Pyarr..” Apa itu yang pecah? Bergegas aku pergi ke dapur untuk memeriksanya. Di wastafel tempat mencuci piring kulihat pecahan-pecahan piring putih dengan gambar bunga berwarna merah melingkar pada tepiannya berserakan di sana. Itu piring ibu yang ke 13. Kembali aku disergap rasa ketakutan.
Kemudian kurasakan kakiku seperti menginjak benda cair. Saat kulihat ke bawah, betapa terkejutnya aku. Ternyata itu adalah darah. Darah segar yang mengucur dari pelipis kanan seorang gadis yang memakai baju persis sepertiku. Mungkinkah itu aku? Apakah ini berarti aku sudah mati? Aku masih tidak percaya. Lalu saat aku menengok ke belakang, sebuah sapu bergagang bambu sudah melayang-layang di udara kemudian dengan keras menghantam kepalaku. “Bukk” seketika darah segar mengucur dari pelipis kananku lalu akupun terjatuh ke lantai.
Manusia Setengah Singa
Sore ini angin bertiup sangat kencang. Cukuplah untuk menggoyangkan dahan pohon yang agak besar dan menerbangkan tumpukan daun kering yang baru saja selesai disapu menjadi kembali beserakan. Kukayuh sepeda merahku menyusuri jalan kecil di tepi hutan yang sore ini sangat lengang. Kemanakah orang-orang yang biasanya berlalu lalang? Mungkin mereka malas keluar karena angin sedang kencang- kencangnya. Sebenarnya akupun malas untuk keluar. Tapi mau bagaimana lagi, aku harus pulang. Tak mungkin juga aku menginap semalaman di tempat kerjaku yang terletak di ujung desa. "Wuusss" angin bertiup kencang membuat sepedaku menjadi oleng, aku tak mampu menyeimbangkan diri dan "bukk" akupun terjatuh. Kemudian dari arah atas kulihat beberapa ranting pohon berhambur seperti hendak menyerbuku yang kini tengah terbaring di bawah mereka. Gelap. Kudengar dari kejauhan teriakan nyaring seorang perempuan yang seolah memerintahku. "Lari" "Apa?" "Cepatlah lari!!" "Siapa?" "Kamu. Cepat, tak ada banyak waktu. Dia akan segera datang." "Dia? Siapa?" "Aaaaaaaaaaaa... Toloooong.... Jangan makan aku....." Tiba-tiba suara itu menjerit dan menghilang meninggalkanku bersama kebingungan. Hening. "Dia? Siapa Dia? Mengapa pula aku harus lari menghindarinya? Mengapa suara itu berteriak aneh sekali? dan mengapa tiba-tiba suara itu menghilang?" Belum puas aku bertanya pada diriku sendiri, tiba-tiba kulihat sesosok makhluk berwujud manusia setengah singa berlari mendekat menghampiriku. Semakin dekat semakin terlihat jelas garis wajahnya yang sangat mengerikan. Di sekitar mulutnya menempel bercak-bercak darah seperti ia habis memakan daging mentah yang masih segar. Semakin dekat semakin aku dapat menangkap apa yang dia ucapkan. "Bersiaplah menjadi hidangan penutupku, Asih." "Aku? Hidangan penutup?" Seketika aku disergap ketakutan yang besar. Benar kata suara tadi, kurasa sekarang saatnya aku harus berlari. Tidak ada banyak waktu. Namun ketika aku hendak menggerakkan kakiku untuk pergi, tiba-tiba kaki kananku terasa begitu berat seperti ada yang mengekangnya. Aku kebingungan. Aku hanya bisa menangis dan berteriak. "Aaaaaaaaaaaa... Toloooong.... Jangan makan aku....." Gelap. Kudengar dari kejauhan suara adzan maghrib sayup-sayup menyadarkanku. Kudapati diriku tergeletak di jalanan dipenuhi reruntuhan ranting pohon dengan kaki kanan tertimpa badan sepeda. Angin masih berembus kencang, bertemankan langit jingga yang mulai menghitam. Keadaan jalanan masih sama seperti tadi, sangat sepi. Hanya ada aku, sepedaku dan daun-daun gugur yang terbang berserakan membuat bulu kudukku berdiri menegang. Aku membersihkan diri dari reruntuhan ranting dan mencoba menolong diriku sendiri menggeser badan sepeda yang menindih kaki kananku. Kemudian aku bangkit. "Ah, sakit sekali". Tapi syukurlah ternyata kejadian tadi hanya sebuah mimpi di alam bawah sadarku. Aku bergegas menaiki sepeda merahku, ingin segera pulang. Kali ini sebelum kukayuh pedal sepedaku aku berbisik dalam hati "bismillahirrahmaanirrahiim". Tidak seperti tadi saat hendak ku kayuh sepeda dari tempat kerjaku -aku lupa berdo'a-
Mbah Munah
Pagi tadi aku dibangunkan oleh siaran kabar duka dari pengeras suara di masjid-masjid juga musholla sekitar rumahku. Nama yang disiarkan itu seperti tidak asing lagi. Maemunah, 72 tahun. Ya itu adalah nama seorang nenek yang tinggal tepat di depan rumahku. Mbah Munah, begitu beliau kerap disapa. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Padahal sepulang kerja malam tadi aku sempat menyapa beliau yang sedang duduk di kursi kayu depan rumah beliau. Kursi itu sengaja diletakkan di sana menghadap ke arah rumahku sebagai tempat favorit Mbah Munah untuk bersantai. Dan beliau masih sehat-sahat saja. Seperti biasa tempo hari saat disapa, Mbah Munah selalu tidak menjawab atau sekedar balik melempar senyum kepada si penyapa. Beliau memang terkenal galak dan tidak ramah. Namun selayaknya tetangga, aku selalu menyapa jika lewat dan kebetulan beliau sedang duduk di sana. Menghormati orang tua, begitu ibuku kerap menasihati. Malam ini seperti biasa aku pulang dari tempat kerja pukul 20.00 malam, aku bekerja di sebuah butik yang terletak di kota dan cukup jauh dari rumahku. Sehingga butuh waktu cukup lama atau sekitar empat puluh lima menit untuk sampai ke rumah. Sesampainya di depan rumah, kudapati kursi favorit Mbah Munah tetap berada di posisi biasanya, namun kini ia kosong sebab yang biasa duduk di sana kini telah beristirahat tenang di pembaringan terakhirnya. Pintu depan rumah Mbah Munah masih terbuka lebar dengan lampu yang terang menyala, di ruang tamu terlihat beberapa bapak-bapak mengenakan sarung dan peci yang masih asik Mengobrol santai, sepertinya beliau-beliau baru selesai mengaji tahlil untuk almarhumah Mbah Munah. Aku langsung merebahkan diri di kamar setelah sebelumnya mencuci kaki terlebih dahulu. Kebetulan aku sedang kedatangan tamu bulanan, jadi bisa langsung tidur sepulang kerja karena badan rasanya pegal semua. Kumatikan lampu kamar dan akupun tertidur pulas di atas kasur sambil memeluk guling kesayanganku. Tiba-tiba kurasakan ada sedikit hembusan angin dingin dari arah guling yang sedang kupeluk. Lalu guling itu seolah bergetar dan memanggil-manggil namaku lirih. Aku merasa takut sekaligus penasaran, lalu kuberanikan diri untuk membuka sedikit mataku dan "bukk" kulemparkan benda yang sedang kupeluk itu sampai membentur dinding. Lalu aku berteriak keras memanggil-manggil ayah dan ibuku namun tak bisa, tenggorokanku seolah tercekat, suaraku tertahan tak mampu dikeluarkan. Akhirnya aku hanya bisa memejamkan kembali mataku sambil menangis dan beristighfar dalam hati. Guling yang kupeluk tadi berubah menjadi pocong Mbah Munah yang menyeramkan. Lalu sesaat kemudian kurasakan ada yang menepuk-nepuk kakiku sambil memanggil namaku dengan nyaring. Kubuka mataku dan ternyata itu adalah ibu yang berusaha membangunkanku. Guling pun masih ada dalam pelukanku. Ternyata aku hanya bermimpi buruk. Mungkin aku terlalu memikirkan kepergian Mbah Munah yang tiba-tiba itu sampai terbawa ke dalam mimpi. Keesokan harinya seperti biasa aku berangkat kerja pukul 13.00 siang. Saat kukeluarkan sepeda motorku dari dalam garasi sekilas aku melihat ada sosok tua berjalan membungkuk sambil membawa tongkat kayu masuk ke rumah Mbah Munah. Sontak aku kaget, itu seperti sosok Mbah Munah. Namun segera kutepis ketakutanku "ah mungkin hanya halusinasiku saja". Lalu bergegas aku mengendarai sepeda motorku ke tempat kerja, aku terus fokus ke jalanan di depan sambil membaca sholawat dalam hati, berusaha mengalihkan pikiran yang tidak-tidak tentang Mbah Munah. Ternyata hari ini aku mendapat jatah lembur, mau tak mau aku harus pulang dari sini pukul 21.30. Artinya akan sangat larut ketika sampai di rumah nanti. Untung saja aku selalu membawa jaket tebal sehingga tidak perlu khawatir kedinginan saat di jalan terkena angin malam. Aku sampai di depan rumah pukul 22.15 yang langsung dikagetkan oleh sosok yang memperhatikanku dari kursi favorit Mbah Munah. Sosok nenek tua bungkuk dengan tongkat kayu yang dipegangnya terus menatapku yang tengah memperhatikannya dengan wajah takut dan keheranan. Kuperhatikan lebih lama wajah nenek itu sama persis dengan wajah Mbah Munah. Kini ia berdiri seperti hendak berjalan menghampiriku. Seketika bulu kudukku berdiri. Aku sudah hampir berlari saat sebuah suara terdengar nyaring dari dalam rumah Mbah Munah, sepertinya itu suara Mbak Ratna cucu Mbah Munah. "Mbah mau kemana? Masuk mbah sudah malam, nanti mbah bisa masuk angin terkena angin malam". Mendengar ucapan itu aku semakin bingung dibuatnya. Berarti aku sedang tidak berhalusinasi. Sosok tua itu benar ada. Dan siapa Mbah yang dipanggil Mbak Ratna itu? Apakah benar Mbah Munah seperti yang kulihat? Tapi.. Dengan segenap kebingungan yang kubungngkus rapi kumasukkan sepeda motorku dan langsung memastikan semua pintu rumah terkunci rapat. Bergegas aku mencari ibu ingin segera menceritakan apa yang barusan kulihat dan kudengar. Kuceritakan sosok tua yang kulihat tadi siang dan malam ini, serta ucapan Mbak Ratna yang membingungkan tadi. Ibuku hanya tersenyum kecil mendengarkanku lalu berkata " Ooh, itu Mbah Minah, saudara kembar Mbah Munah yang tinggal di Jakarta. Mbah Minah ingin berada di sini sampai tujuh hari ke depan untuk mendoakan saudara kembarnya yang tak lain adalah Mbah Munah." Jelas ibu singkat namun bisa melenyapkan seluruh kebingungan dan ketakutanku. Seketika akupun ikut tertawa geli. Pantas saja wajahnya sama persis. Ternyata Almarhumah Mbah Munah punya saudara kembar. Mbah Minah dari Jakarta.