Malsi : Jarang Ngobrol Sama Diri Sendiri
“Semenjak kerja, gua jadi jarang ngobrol sama diri gua sendiri, Sen.”, Sore tadi, saat sekedar berkirim pesan dengan Malsi --teman yang sebesar apapun dia nanti, tetap menjadi teman kecil-- di sela-sela kesibukan kita masing-masing. Terkadang, iseng untuk sekedar bertanya sudah makan, sudah minum, atau sekedar menasehati jaga kesehatan, sekaligus pesan yang paling dalam adalah ‘jangan lemah menghadapi wanita, ya!’. Pfh. Semoga semesta mendapat tugas untuk menolong kita, Mal.
Terkadang, kita memang tidak jelas. Setiap orang di dunia ini pun pasti punya teman yang setidak jelas apapun yang mereka lakukan juga katakan, ia tetap mendapat predikat teman. Karena megingat jasa-jasanya yang telah menemani kita bermain, berbicara, atau bercerita, tentang apa saja. Bercanda, tertawa, dan ketidakseriusan-ketidakseriusan yang berharga, sebab ia bukan mematikan hati, melainkan membuatnya merenungkan.
Sepotong pesan asal tulis dan asal kirim ala Malsi --yang ternyata kalo di balik, namanya menjadi Islam-- ini, terkadang berhasil menghentikan waktu saya sedetik, untuk sekedar berpikir, dan berkata “Iya, benar” di dalam hati. Jarang ngobrol sama diri sendiri, barangkali banyak juga orang yang merasakan hal yang serupa. Begitupun saya.
Berinteraksi dengan tempat baru, membuat saya akhir-akhir ini melupakan mengabadikan hasil ritual kontemplasi tentang hal apa saja yang ada di sekitar. Sedang seringkali menceritakannya langsung kepada orang lain sebagai bahan bicara, tentunya untuk mengisi jeda obrolan-obrolan asing kita.
Berinteraksi dengan tempat baru, ia bisa jadi menguntungkan, dan menjadi kesempatan hijrah kita, sebab kita bisa merubah sikap yang buruk menjadi sikap baru yang lebih baik, tanpa harus berhadapan dengan tuduhan ‘pencitraan’, sebab seringkali banyak orang yang memilih menyibukan diri untuk menuduh ‘pencitraan’ daripada menggunakan waktunya untuk berbenah.
Jadi, wahai teman lama yang tau betapa buruknya sikap kita. Maafkanlah kita yang memilih jalan ini untuk hidup dalam tempat baru.
Berinteraksi dengan tempat baru, ia bisa jadi tantangan, sebab kita bisa saja menjadi lebih buruk dari lingkungan sebelumnya, memilih larut dalam dunia tempat barunya, dan melupakan jati diri yang selama ini telah dibentuk dengan sebaik-baiknya.
Berbicara dengan diri sendiri, tidak hanya membuat hal yang ada di depan mata terdengar oleh telinga yang ada di kepala, juga masuk ke dalam telinga, yang ada di dalam dada.