MANENG (Mari Merenung) - Bagianmu, mana?
Ketika dalam kondisi jatuh dan terpuruk -sebut saja terkena musibah, seseorang sering menyemangatiku dan berkata bahwa 'musibah' itu ada untuk membuatku menjadi lebih kuat. Dan aku dengan sombongnya juga selalu mengatakan bahwa 'kekuatan itu tidak penting, aku tidak butuh itu! Yang kubutuhkan adalah hidup bahagia!'
Perjalanan kembali membawa banyak pelajaran hingga akhirnya aku sampai pada muara kesadaran bahwa aku lupa diri sejatiku, dimana keterpurukan itu hanyalah sebuah jalan cerita dari peran yang sedang aku jalani. Menangis saat jatuh dan terpuruk hanyalah bagian dari adegannya.
Mungkin, aku lupa berbagi cerita pada pemeran lainnya. Aku terlalu malas untuk menceritakan drama-Nya yang diberikan padaku dan terlalu sibuk 'menonton' drama yang diberikan pada orang lain. Di tambah, terlalu asyik menikmati 'kulit luar' sampai lupa dengan 'isi'nya. Padahal, drama yang aku perankan itu juga seru. Ceritanya amat menarik dengan isi yang terbaik! Tentu saja, itu karena penciptanya adalah Sang Maha Sempurna, sehingga Dia hanya membuat cerita yang sempurna saja.
Kalau direnungi, kekuatan yang Tuhan salurkan lewat peran itu, mungkin saja berguna untuk orang lain dalam menjalankan peran dariNya, kan? Itulah kenapa 'kekuatan' itu terasa tidak berguna ketika aku memeluknya sendirian. Terlalu besar! Terlalu kuat! Aku perlu membaginya pada orang lain -orang banyak.
Jadi, kalau kamu merasakan hal yang sama, mungkin satu hal yang perlu kamu lakukan adalah membagikan kekuatan itu pada orang lain. Menceritakan pelajaran yang bisa kamu ambil dari peranmu. Menyalurkan isi yang kamu dapat dari ceritamu. Ah, bukankah itu juga bagian dari peran manusia?
- Sastrasa
Minggu/ 4 Desember 2022












