#baweljadicerita #dirumahaja
Refleksi Sebagai Umat Islam Dalam Menyikapi Wabah Covid-19
Bagaimana wabah Covid-19 itu?
Virus Covid-19 pertama kali ditemukan di Wuhan, China pada akhir 2019 lalu. Covid-19 atau lebih di kenal dengan nama corona adalah sebuah virus baru yang berasal dari binatang liar (tikus,kelelawar, dan anjing). Virus ini berawal dari negara China kota Wuhan di sana terdapat pasar tradisional yang menjual berbagai macam binatang. Banyak masyarakat China yang mengkonsumsi binatang dari pasar tersebut khususnya warga kota Wuhan. Pasar ini sangat terkenal sebagai pasar tradisional, layaknya pasar tradisional yang sangat minim dari kata higenis. 19 Desember 2019 dunia di gemparkan berita bahwa ada virus baru berasal dari china yang kabarnya membahayakan lebih berbahaya dari SARS dan MERS, SARS dan MERS pun juga virus dari negara tersebut. Penyebaran virus yang belum ditemukan penawarnya itu hingga kini tak terkendali. Sudah 200 lebih negara di dunia melaporkan adanya kasus terpapar virus corona.
Pada Senin (02/03/2020), Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo merilis dua WNI di Indonesia asal Depok (Jawa Barat) yang positif terjangkit virus corona alias Covid-19. Menurut pak Presiden, dua WNI tersebut sempat kontak dengan warga negara Jepang yang terdeteksi virus corona setelah meninggalkan Indonesia dan tiba di Malaysia. Namun sayang, belum terlihat peran negara yang benar-benar serius melindungi warganya. Terbukti, akhirnya Indonesia tidak Zero Corona Virus. Tentu saja, kebijakan lamban pemerintah terhadap mewabahnya Covid-19 ini, menjadi salah satu penyebab masuknya virus corona di Nusantara. Sejak awal, pemerintah harusnya melakukan langkah tegas. Seharusnya pemerintah menutup kran ekspor-impor barang masuk dari negara-negara terdampak, menutup sementara masuknya wisatawan asing terutama dari negara yang terkena wabah dan tidak lagi memasukan migran atau TKA dari Cina. Pemerintah harusnya serius menyikapi ini sejak awal agar melindungi warganya dari ancaman virus corona. Sebagai negara yang mayoritas penduduknya muslim. Pemerintah seyogyanya melirik bagaimana Islam mengatasi wabah penyakit menular. Karena Islam memiliki seperangkat solusi dalam mengatasi wabah pandemi. Islam selalu menunjukan keunggulannya sebagai agama sekaligus ideologi yang lengkap. Ia mengatur semua hal tak terkecuali di bidang kesehatan.
Bagaimana seharusnya kita merespon pandemi ini dengan pandangan Islam?
Dalam Islam, kesehatan dan keamanan disejajarkan dengan kebutuhan pangan. Ini menunjukan bahwa kesehatan dan keamanan statusnya sama sebagai kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Mengatasi pandemi, tak mungkin bisa melepaskan diri dari performa kesehatan itu sendiri. Sebagai orang Islam wajib mempercayai segala sesuatu baik atau buruknya datangnya dari Allah, merupakan rukun Iman ke-6. Hal ini menjadi sikap terbaik yang harus kita miliki ditengah menyebarnya virus corona dikalangan umat manusia. Keimanan terhadap takdir dan kehendak Allah yang harus diperkuat, bahwa tidak ada yang akan menimpa kita baik itu kebaikan ataupun keburukan, kecuali hal itu telah digariskan Allah kepada kita. Sebagimana nasehat Rasullah kepada Abdullah bin Abbas. Abdullah bin ‘Abbas menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. Tirmidzi & Imam Ahmad).
Dijelaskan pula bahwa keimanan “ aalimaanu huwaa al iqror wa tasdiq “ , mengucapkan dengan lisan dan membenarkan dalam hati. Iman pula dapat diartian sebagai keyakinan yang kuat akan prinsip agama islam. Karena perihal pandemi ini kita tidak begitu memahami mengapa ini bisa terjadi menjangkit hampir seluruh dunia hingga memusnahkan jutaan jiwa, hendaklah selalu bersikap memilih jalan tengah dengan tidak menyalahkan ataupun terlalu beranggapan tentang kebenaran sesuatu yang kita dapat jika memang itu masih samar adanya. Allah sudah mengingatkan kita dalam surat al Isro ayat 36
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“ Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya “.
Sungguh indah al-Qur’an dalam memberi petunjuk, memberikan pelajaran agar manusia tidak semata-mata memenangkan egonya lantas memberikan pernyataan yang bukan hak nya dengan kemauan egonya. Segala yang kita perbuat lewat anggota badan akan dimintakan pertanggung jawaban. Perlu kita ingat juga, segala sesuatu dilangit dan dibumi ini merupakan ciptaan Allah SWT. Dan Allah menciptakan segala sesuatu tidak serta merta tanpa memiliki hikmah. Seperti yang diketahui, akibat virus ini, disamping korban yang terus berjatuhan yang mana angkanya telah mendekati hampir ratusan ribu jiwa baik yang meninggal ataupun yang terinfeksi, jutaan manusia lainnya terancam terkena wabah mematikan ini. Di samping itu, tercatat ratusan kota diisolasi, ribuan jalur penerbangan ditutup, bahkan secara khusus Negara Arab Saudi menghentikan sementara kedatangan jamaah umroh guna mengantisipasi tersebarnya wabah ini di dua tanah suci.
Ajaran islam merupakan ajaran universal, mengajarkan bagaimana cara menyikapi keadaan yang sedang dihadapi, membimbing manusia agar sesuai dengan fitrohnya, tidak menyulitkan manusia, menyeimbangkan kehidupan manusia dunia akhirat. Sehingga sebagai umat muslim, saat kita dihadapkan dengan kondisi pandemi saat ini, merupakan musibah yang diturunkan kepada manusia. Musibah dalam kehidupan manusia apalagi bagi orang beriman. Musibah merupakan satu keniscayaan untuk melihat potensi keimanan yang ada pada dirinya. Tidak ada sesuatu apapun yang menimpa setiap manusia kecuali itu atas izin dan kehendak Allah. Begitupun dengan sebuah penyakit yang menimpa setiap orang, itu adalah merupakan takdir dan ketentuan Allah.
Menyikapi epidemi global ini, sebagai seorang muslim dalam menghadapi musibah hendaklah kita kembali kepada ajaran-ajaran agama kita. Dan berikut ini beberapa kiat-kiat yang dapat kita tempuh sebagai seorang muslim dalam menyikapi wabah virus corona yang sedang mewabah saat ini:
1. Senantiasa meminta perlindungan kepada Allah
Hendaknya kita banyak berdzikir kepada Allah.
2. Berikhtiar dengan melakukan pencegahan
Di samping berlindung kepada Allah, tentunya sebagai seorang manusia kita juga harus berikhtiar dengan melakukan usaha-usaha pencegahan agar virus ini tidak menular kepada diri kita atau kepada orang-orang yang kita sayangi. Pencegahan diri seperti anjuran pemerintah untuk tetap #dirumahaja maka alangkah baiknya kita mengindahkan aturan ini.
3. Bertawakkal kepada Allah
Setelah melakukan ikthtiar-ikhtiar yang ada, maka pada akhirnya semua kita serahkan kepada Allah. Kita tawakkalkan diri kita kepadaNya. Karena hidup dan mati kita sebagai seorang hamba semua berada di tanganNya. Dan perlu kita ketahui bahwa seorang hamba akan tetap hidup bilamana memang ajalnya belum datang, bahkan bila virus corona ataupun virus lainnya yang lebih ganas daripada itu menjangkitinya, namun bila memang sudah ajalnya, jangankan virus corona atau yang lebih dari itu, bahkan digigit semut pun seseorang bisa mati jikalau memang ajalnya telah tiba. Ajal seseorang pasti datang, namun pertanyaannya adalah apakah yang telah kita persiapkan dari amalan shaleh menyambut ajal tersebut? Semoga Allah menutup hidup kita dengan husnul khotimah.
4. Muhasabah dari Kemaksiatan
Sikap yang kedua yang harus kita miliki adalah muhasabah dan evaluasi diri dari segala perbuatan dan kemaksiatan yang telah kita kerjakan. Dengan wabah ini seharusnya lebih membuat kita sadar dan takut kepada Allah serta kembali kepada-Nya. Lebih semangat dan gigih lagi dalam melakukan amalan ibadah serta memenuhi hak-hak Allah dan menjauhi segala larangannya. Hal yang paling penting juga kita evaluasi adalah perbuatan-perbuatan dosa dan kemaksiatan yang telah kita kerjakan. Bahwa, dosa yang kita lakukan secara personal dan berjamaah, bisa menjadi sebab datangnya setiap penyakit dan musibah yang menimpa setiap kaum.
Pada intinya, semoga dengan penyebaran wabah ini, menjadi pengingat dan penyadar bagi kita semua agar lebih mendekatkan diri kepada Allah, bertaubat atas segala dosa dan maksiat yang telah kita kerjakan. Serta melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Dan menjadi jalan untuk kita kembali kepada Allah dengan menjalankan segala perintahnya dan menjauhi larangannya.
Dalam pandangan Islam, ikhtiar sangatlah dibolehkan. Kita di ajarkan agar berusaha menjaga diri kita dari berbagai bentuk perbuatan yang dapat mencelakakan tubuh kita. Sebab itu saat kondisi seperti ini, di tengah pandemi, hendaklah dengan berbagai usaha dan ikhtiar kita lakukan untuk mencegah wabah tersebut menimpa diri kita dengan menjaga kebersihan, memperbanyak doa, dzikir, tadhoru’ kepada Allah agar diselamatkan baik badan kita, keluarga, rekan, sahabat, dan orang-orang terdekat agar dijauhkan dari virus yang berbahaya ini. Dan semoga pandemi ini lekas berakhir agar kehidupan berjalan kembali seperti sedia kala. Aamiin.