“Kau suka membaca?. Jika kau suka membaca buku, seharusnya kau sudah bisa menulis. Apapun”. –Plackeinstein
“Coba kau tuangkan bacaanmu dalam tulisan, substansi yang ada di pikiranmu, agar bisa dirimu ketahui bahwa dimana manuskrip itu berhenti, itulah kelemahanmu”. –Things Apas
Membaca adalah mengisi bahan bakar…., Seperti halnya “Transportasi”. Bisa terus berjalan dan jika habis, kau bisa mengisinya kembali. Membaca akan meneruskan perjalananmu ketika sewaktu-waktu kau merasa di marjinal-kan. Aku tidak mau tau siapa pelakunya, tapi yang jelas kau harus bisa melawan –Sebelum ia menyerang, jika ia terlanjur menyerang…, Tugasmu hanya mempertahankannya. Jika tidak, bukan hanya fisikmu yang hancur, harapanmu juga. Bertahan dan Menyeranglah dengan Fakta.
Menulis adalah berbagi, kebaikan yang kau lakukan sama halnya untuk mempersiapkan anak cucumu di masa yang akan datang, tidak ada ruginya menulis……, Bahkan Paman Pramoedya berkata :“ Kenapa aku sayangi kau lebih dari apapun, karena kau menulis, suaramu akan abadi, sampai jauh –Jauh di kemudian hari”. Kurang nikmat rasanya jika jemariku ini tidak menuliskan apa-apa yang ada di pikiranku. Aku jadi teringgat qouetes-nya Paman Prem Rewet lewat seminarnya yang menjelaskan tentang “Peace” yang di mulai dari hati diri sendiri. “kau tau anarkisme?”, banyak orang yang salah mendefinisikannya. banyak orang yang menganggap Ia berseberangan dengandemokrasi, ia bukan yang membuat rusuh, Sabotase, Ricuh dan pembuat Onar. sebagaimana orang “Political” bercakap. Tapi yang jelas jika anarkisme di larang, Indonesia tidak akan merdeka. Anarkisme adalah wujud perlawanan terhadap penjajah, “ Apa gunanya?”. Pertanyaan yang bodoh. Huh. Tentu saja untuk membebaskan Indoensia dari si “Brengsek” penjajah. Tapi nyatanya Indonesia masih di jajah orang orang luar sana. Ya, Tapi bukan fisiknya. Ideologi- Nya, maka dari itu membaca dan menulis sangat di perlukan. “Tidak percaya ?” Terserahlah.., Biar dirimu gampang di Provokasi.
“The Question” is adalah dimana aku menuangkan pemikiranku?! Ya, di social media. Aku memanfaatkan pelbagai sosial-media sebagai fasilitator yang “Gratiss”. Haha. Medsos yang meraja lela aku manfaatkan buat sesuatu hal yang berfaedah ; line, Instagram, blogger, Word press, facebook dan twitter. Merekalah yang menemaniku setiapkali aku –Memberontak (Menulis). Biar mahluk yang bernama netizen-lah yang memberikan saran dan kritikan tulisanku. Karena itu aku akan sangat berterima kasih telah membacanya.