Entah aku harus berkata apa, rasa salam pun tak patut ku ucap, telah kutinggalkan kamu untuk waktu yang cukup lama, lalu kini, ketika aku sepi, aku kembali singgah, berharap kamu bisa sekedar mendengarkan aku atau mungkin bisa mengeluarkanku dari kondisi yang teramat sulit, teramat sakit, sekarang.
Seenaknya ya? Ya aku datang dan pergi, datang lalu menyimpan, pergi lalu lupa, kemudian tidak ada yang tahu aku akan tetap disini. Kamu memang ada untuk menjadi pelampiasanku atas dunia yang sudah tidak ramah, menjadi saksi bisu atas apa yang terasakan.
Semoga kamu masih sudi untuk menyimpan beberapa paragraf yang akan kutuliskan setelah ini. Terimakasih. Aku lelah, aku sakit, aku lemah, aku berdarah tapi aku bersyukur masih ingat kata sandimu. Sehingga aku bisa masuk dan kembali memainkanmu. Wahai Tumblr, tetaplah ada dan setia.
Jakarta, tanggal 1 februari. Tepat sebulan setelah aku merasakan patah yang pertama, memang kini aku merasakan kekosongan yang teramat sangat bolong, kesedihan yang teramat sangat sedih, juga kesakitan yang teramat sangat perih. Aku tetap menahan hujan yang turun dari dalam tubuh, meskipun diluar tubuhku yang dapat ditengok dari jendela, hujan turun dengan deras, aku tetap menahan.
Tanyakan saja pada kepompong bagaimana rasanya jika dia berubah menjadi ulat, atau tanya pada kupu-kupu bagaimana cara dia melupakan bunga, karena ia kini hanya kepompong, yang hanya bisa mengantung, semoga saja tidak jatuh.
Waktu terus berputar putar, selain aku menjadi kepompong, aku pun part time menjadi mesin, bukan karena aku anak teknik, tapi sungguh, kini aku berada jutaan mesin-mesin lain di sebuah pabrik. Mesin itu seperti tunduk pada putaran waktu, ia memiliki durasi 8.5 jam setiap harinya yang dinyalakan pukul delapan pagi dan dimatikan pukul setengah lima petang. Kemudian setelah mesin tersebut mati, aku kembali menggantung. Menjadi si kepompong, tidak kemana2 namun dalam dirinya bergejolak. Mari kita doakan, semoga kepompong itu menjadi kupu-kupu atau bahkan ulat yang hanya akan menggerogoti daun-daun. Nampaknya kita setuju, dan aku tidak mau menentang semesta, kepompong ya harus jadi kupu-kupu, yang akan kembali mengepakan sayapnya yang sempat ia titipkan namun rusak, dan waktu tetap berputar