Lima hari yang lalu 2 peserta diklat SAR Mapala gugur dalam masa pendidikan. Gugurnya dua peserta diklat diduga disebabkan sera gan heat stroke. Heat stroke merupakan cidera parah dari cidera panas. Ada dua bentuk heat stroke yaitu :
• Exertional Heat stroke (EHS) : pada umunya terjadi pada usia muda yang menjalani aktifitas berat dalam jangka waktu yang lama di lingkungan yang panas / ekstrem.
• Non Exertional Heat stroke (NEHS) : pada umunya dialami seseorang pada usia tua, atau yang memiliki penyakit kronis (adanya disfungsi organ)
Dari kedua bentuk tersebut pada dasarnya heat stroke sama sama teruadi akibat ketidakmampauan tubuh merespon lingkungan, khususnya pada lingkungan yang ekstrim. Namun secara umum heat stroke disebabkan oleh dua hal yaitu :
• Peningkatan suhu panas. Peningkatan suhu panas bisa disebabkan karena peningkatan metabolisme (infeksi, radang otak, obat perangsang, dll) dan peningkatan aktifitas otot (latihan, kejang, tetanus, dll)
• Penurunan ‘proses kehilangan panas’. Secara normal seseorang perlu proses kehilangan panas berupa keringat melalui pori-pori kulit, penguapan air dalam tubuh, penguapan lemak, menjaga lebar otot dan saraf kardiovaskular (lebar sempitnya pembuluh darah) yang mana hal ini berhubungan dengan regenerasi sel dalam tubuh. Penurunan ‘proses kehilangan panas’ ini dapat diakibatkan oleh :
2. Berkurangnya respon sistem saraf
3. Berkurangnya cadangan kardiovaskular (pembuluh darah menyempit)
4. Faktor lingkungan berupa tingginya suhu dan kelembapan
5. Berkurangnya kemampuan tubuh untuk menyesuaikan diri
Tanda tanda sesorang terkenan serangan heat stroke antara lain :
1. Suhu dubur di atas 40,5 derajat celcius
3. Status mental (disorientasi, histeria, koma, dll)
4. Berkurangnya kemampuan untuk menurunkan suhu tubuh (berhenti berkeringat, kulit menjadi panas)
5. Tanda tanda yang mengancam jiwa : pendarahan dari saluran intra vena, luka memar, endema paru, tanda acut renal failure (ARF)
Gejala gejala yang dialami seseorang yang terserang heat stroke antara lain kelelahan, pusing, mual, dan muntah.
Faktor – faktor yang mempengaruhi seseorang terserang heat stroke secara umum dibedakan menjadi dua berdasarkan sumbernya. Yaitu :
1. Diluar lingkungan (dari pribadi seseorang)
a. Dehidrasi. Seseorang yang mengalami dehidrasi dapat dilihat dari warna urine, ataupun perubahan berat badan dari sebelum dan sesudah latihan yang dilakukan. Gejala dan tanda dari dehidrasi adalah: merasa haus, merasa tidak nyaman secara umum, kulit yang memerah, kecemasan berlebihan, kram, apatis, malas, sakit kepala, muntah, nausea, merasa panas di tangan dan leher, kedinginan, dan dispnea.
b. Terhambatnya penguapan tubuh
d. Riwayat sakit (pernah terkena heat stroke)
e. Tebal tipisnya lapisan lemak. Orang gemuk cenderung lebih beresiko terserang heat stroke
f. Fisik yang tidak terlatih
g. Ketidakmampuan fisik menyesuaikan dengan iklim (ketidakseimbangan elektrolit)
Pada saat suhu lingkungan melebihi suhu kulit, atlet dapat menyerap panas dari lingkungan dan bergantung sepenuhnya pada penguapan untuk melepaskan panas. Kelembaban yang relatif tinggi menghalangi pelepasan panas dari tubuh melalui penguapan.
Faktor lingkungan yang mempengaruhi resiko dari cedera panas termasuk suhu udara di sekitar, kelembaban yang sedang (jumah dari penguapan air di udara) pergerakan udara, dan jumlah radiasi panas dari matahari atau sumber lainnya.
Cedera heat stroke dapat dicegah dengan cara: memberikan waktu yang tepat untuk dapat menyesuaikan diri dengan iklim (10-14 hari); melakukan latihan pada waktu yang paling dingin dari hari latihan (pagi hari atau sore hari); membatasi atau menunda latihan jika terlihat gejala stress terhadap panas pada zona dengan resiko tinggi; Mencukupi kebutuan cairan sebelum latihan dan mengganti cairan yang hilang selama latihan. Memantau berat badan yang berubah dengan teliti setiap hari, karena dapat menggambarkan kekurangan air akut; Menggunakan pakaian yang berwarna terang dan longgar, serta membiarkan lebih banyak area kulit yang terkena matahari untuk meningkatkan penguapan.
Dari sedikit penjelasan ini bisa menjadi referensi ketika mengadakan kegiatan, khususnya kegiatan di alam bebas yang memang sulit untuk diprediksi. Meski begitu kembali lagi bahwa alam punya caranya untuk menyampaikan bahasanya, semua kembali ke diri masing-masing maukah untuk belajar mengenal alam.
Iso, Saharun, dan Ade Tobing. 2016. PRINSIP UMUM PENATALAKSANAAN CEDERA OLAHRAGA HEAT STROKE. Jurnal Olahraga Prestasi, Volume 12, Nomor 2. Hal 9 - 60.