Masyarakat Adat Ammatoa: Menjaga Alam dalam Kesederhanaan
Senin, 16 januari 2017 saya berkunjung ke kawasan adat Ammatoa di Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba. Sebuah kunjungan tak terduga bersama kawan saya, Aira dan Kak Warsa. Awalnya keberangkatan kami dari Makassar pada hari sabtu, hanya direncanakan untuk mengunjungi kawan kami di Kabupaten Bantaeng. Tetapi rencana berubah, ketika seorang kawan bernama Tuti mengajak kami ke rumahnya di Dusun Benteng Riaja, dusun yang berbatasan langsung dengan kawasan adat Ammatoa. Mencuatlah niat untuk berkunjung pula ke kawasan adat tersebut. Mengunjungi dan bersilahturahmi dengan masyarakat adat Ammatoa yang terkenal dengan adatnya yang sangat menjaga alam, ialah satu dari sekian impian saya sejak semester awal perkuliahan. Apalagi Amma (kakek) Tuti yang bernama Puang Siba’ adalah salah satu pemangku adat Ammatoa, tentu kami dapat belajar banyak tentang adat Ammatoa dari beliau.
Masyarakat Ammatoa hidup dalam kesederhanaan dan memegang teguh adat-istiadat mereka. Saat hendak masuk kedalam kawasan adat, saya, Aira, dan Kak Warsa diberi baju pokko (baju adat) dan tope le’leng (sarung) oleh Amma dan Atu (nenek) Tuti, keduanya berwarna hitam. Kami sangat beruntung dapat mengenakan pakaian adat yang hanya digunakan oleh Amma dan Atu saat ada acara penting, dan sarung yang ditenun sendiri. Sebagai seorang laki-laki Kak Warsa juga memakai pasapu (ikat kepala) sebagaimana laki-laki dalam masyarakat Ammatoa.
Mengikuti adat masyarakat Ammatoa, kami masuk ke dalam kawasan adat bersama dengan Amma dan Tuti tanpa mengenakan alas kaki dan berjalan di atas jalan berbatu dan terkadang berjalan di atas tanah. Amma seorang kakek yang sering tersenyum dan sangat ramah. Sambil berjalan sesekali kami bertanya pada Amma tentang adat-istiadat Ammatoa. Amma merupakan salah satu pemangku adat yang bertugas menyampaikan pesan dari kepala dusun kepada pimpinan adat Ammatoa. Hari itu Amma akan menemui pimpinan adat untuk menyampaikan pesan bahwa ada masyarakat Dusun Benteng Riaja yang akan melangsungkan pernikahan. Kata Tuti ini kesempatan baik, kami dapat bertemu dengan pimpinan adat dan berdiskusi dengannya. Berjalan sekitar 100 meter, kami menemukan sebuah sumur yang dinamakan sumur jodoh. Menurut masyarakat Ammatoa, dengan membasuh wajah menggunakan air sumur jodoh, mereka yang memiliki keinginan untuk segera bertemu dengan jodohnya akan terkabulkan.
Tak jauh dari sumur jodoh, beberapa warga Ammatoa tampak duduk melingkar dan ditengah mereka terdapat berbagai jenis makanan. Ini keberuntungan kami berikutnya, ternyata beberapa warga tersebut sedang menggelar polesumaja (acara syukuran) untuk mengucapkan terima kasih kepada alam. Kami dapat bergabung dengan mereka. Kemudian kami dipersilahkan duduk di belakang lingkaran warga tersebut. Kurang lebih lima menit kemudian, ibu-ibu warga Ammatoa memberi kami makanan acara syukuran. Makanan itu di letakan di beberapa nampan. Satu nampan terdiri dari nasi (ada nasi dari beras putih dan ada nasi dari beras ketan), sayur kacang, dan lahara (makanan khas Ammatoa yang terbuat dari dari ayam bakar yang dicampur jantung pisang).
Meski telah mengenal mangkuk plastik untuk wadah makanan, beberapa jenis makanan masih diletakkan dalam tempurung. Kami pun menikmati makan siang di tengah hutan, di bawah pepohonan. Mereka makan sambil bercakap-cakap. Meski kami kurang paham dengan apa yang mereka bicarakan karena menggunakan bahasa konjo (bahasa yang digunakan masyarakat Ammatoa), senang rasanya menyaksikan semua bercakap-cakap menikmati makan siang. Di kota hal seperti ini sudah jarang terjadi. Biasanya momen makan bersama senyap dikarenakan semua orang makan sambil berpetualang dengan gadgetnya.
Makan siang kami diakhiri dengan minum air dalam tempurung. Amma menawari Kak warsa untuk minum air tua (air dari pohon nira). Ternyata bukan hanya kak Warsa yang ditawari, Amma juga menawari saya. Sempat terbesit niat untuk menolak, karena saya pernah mendengar itu adalah minuman yang mengandung alkohol. Tetapi saya beranikan juga meneguk air tua itu. Rasanya seperti air kelapa tetapi pekat dan hangat di tenggorokan. Sesekali minum air tua mungkin tak akan mengapa. Setelah itu kami kemudian melanjutkan perjalanan memasuki kawasan adat, menuju rumah pimpinan adat. Memasuki wilayah sesudah sumur jodoh, kami tidak diperbolehkan menggambil gambar.
Dalam perjalanan menuju rumah pimpinan adat, kami melewati beberapa rumah warga Ammatoa. Semua rumah di dalam kawasan adat sama persis ukurannya, dengan ciri khas dapur berada di bagian depan bangunan rumah. Menurut Tuti ketika seseorang bertamu di rumah warga Ammatoa, ia akan melihat apa yang dimasak oleh tuan rumah. Apa yang dimasak di dapur itu yang akan disuguhkan kepada tamu tersebut. Sepertinya warga Ammatoa senang berbagi makanan apapun dengan tamu yang datang ke rumah mereka.
Tak lama kemudian kami sampai di rumah pimpinan adat. Kami disambut dengan ramah dan dipersilahkan duduk di ruang tamu yang berhadapan langsung dengan dapur. Tuti berpesan untuk tidak melihat wajah pimpinan adat secara terang-terangan. Kami yang begitu penasaran dengan wajah pimpinan adat, tak begitu menuruti nasehat Tuti. Terkadang kami melihat wajahnya, dan menatap matanya saat ia berbicara dengan kami. Warga yang kami temui sedang melakukan polesumaja tak jauh dari sumur jodoh, datang pula ke rumah pimpinan adat. Mereka membereskan nampan yang berisi makanan, kemudian bergeges pergi ketempat lain untuk melakukan polesumaja lagi. Polesumaja memang dilakukan di beberapa tempat yang dianggap keramat (biasanya terdapat pohon besar ataupun batu besar).
“Salamaki antama ri kampong kamase-masea (Selamat datang di kampungku yang sederhana)” Ujar pimpinan adat memulai percakapan.
Pimpinan adat kemudian menceritakan bahwa masyarakat Ammatoa adalah masyarakat yang menjujung kesederhanaan dan persatuan. Kami dipersilahkan menyanyakan hal-hal yang ingin kami ketahui. Kami memulai diskusi dengan pertanyaan “mengapa warga Ammatoa berpakaian hitam-hitam dalam kehidupan sehari-hari?”
Pimpinan adat berkomukasi menggunakan bahasa konjo dengan kami. Tuti menjadi penerjemah kami. Pimpinan adat mengatakan bahwa menurut kepercayaan masyarakat adat Ammatoa, kawasan Ammatoa adalah tanah yang paling tua dari Sabang sampai Merauke. Warna hitam melambangkan kesederhanaan dan warna yang paling tua. Selain hitam, warga Ammatoa juga dapat menggunakan warna putih. Terdapat sebuah sekolah di perbatasan Dusun Benteng Riaja dan kawasan adat Ammatoa, yaitu SDN 351 Kawasan Amma Towa yang menggunakan pakaian seragam putih-hitam untuk menggantikan seragam putih-merah. Hal ini dilakukan karena mereka berusaha memegang teguh adat yang mereka yakini. Anak-anak dari masyarakat Ammatoa diperbolehkan mengenyam pendidikan formal. Saya begitu terpana melihat anak-anak dengan seragam putih-hitam menenteng sepatu mereka saat memasuki kawasan adat. Mereka telah mengenal sepatu sebagai alas kaki tetapi hanya digunakan saat di sekolah. Mereka adalah anak-anak Ammato yang gigih menjalankan adat masyarakat Ammatoa.
Pimpinan adat melanjutkan pembicaraan tentang posisi seorang pimpinan adat. Pimpinan adat dalam masyarakat Ammatoa adalah seorang yang kedudukannya sama dengan raja pada masa kerajaan. Seorang pimpinan adat harus memahami silsilah keturunan masyarakat Ammatoa, memahami adat-istiadat Ammatoa, dan mampu meramalkan apa yang terjadi kedepannya. Perihal ramalan masa depan, sebelum ada lampu yang mengunakan aliran listrik dan kendaraan bermotor, masyarakat adat Ammatoa telah meramalkan bahwa suatu saat manusia akan melihat dengan jelas dan besi dapat mengantarkan orang kemana saja. Hal ini terbukti dengan ditemukannya lampu dengan bantuan aliran listrik sebagai penerang sehingga orang melihat dengan jelas pada malam hari, dan ditemukannya kendaraan bermotor sebagai alat yang membantu manusia bepergian. Meski telah mengetahui tentang listrik dan kendaraan bermotor, masyarakat di kawasan adat Ammatoa tidak menggunakan keduanya. Untuk penerang di malam hari mereka menggunakan lampu pelita, dan kendaran yang mereka gunakan untuk bepergian adalah kuda. Biasanya jika tidak menggunakan kuda, mereka akan berjalan kaki tanpa alas ke tempat yang mereka tuju.
Masyarakat adat Ammatoa begitu menjaga hutan yang ada dikawasan adat. Kata pimpinan adat, hutan adalah penjaga adat dan paru-paru lino (dunia). Pohon di kawasan adat tidak boleh ditebang sembarangan. Jika ada yang menebang pohon di kawasan adat, akan dikenakan hukum adat yatu denda 12 real (12 juta rupiah). Dengan denda sebesar itu, kecil kemungkinan orang menebang pohon dalam kawasan adat. Menurut kepercayaan Ammatoa, di dalam hutan ada pohon, bambu, lebah, dan udang yang harus dijaga untuk kelangsungan hidup mereka. Mendengar hal ini saya berkesimpulan masyarakat adat lah yang paling pantas disebut pencinta alam dibandingkan para petualang yang mendaki gunung, menjelajah hutan, dan mengeksplor pantai yang bepergian untuk sekedar berfoto lalu mengunggahnya di sosial media agar terlihat keren.
Pernahkah kita berpikir bagaimana menjaga alam tetap lestari? Pernahkah kita mendiskusikan sampah yang ditinggalkan para pendaki yang merusak ekosistem? Pernahkah kita membincangkan penebangan pohon secara illegal yang menyebabkan hutan gundul dan memicu banjir? Pernahkah kita mencari solusi atas rusaknya terumbu karang di peraiaran? Kita lebih sibuk memikirkan caption apa yang cocok untuk foto kita di depan alam yang agung. Seperti kata Butet Manurung pendiri Sokola Rimba bahwa kita hanya lah penikmat alam bukan pecinta alam.
Selain mengandalkan hutan untuk bertahan hidup, masyarakat Ammatoa juga telah mengenal usaha membudidayakan tanaman. Mereka membudidayakan padi, jagung, cengkeh, dan lada. Hasil tanaman yang dibudidayakan dikonsumsi untuk kehidupan sehari-hari ataupun dijual di luar kawasan adat. Uang hasil penjualan digunakan untuk membeli kebutuhan yang tidak mereka dapatkan dari hutan seperti garam ataupun rokok. Bagaimanapun kehidupan dunia di luar masyarakat adat perlahan-lahan telah masuk ke dalam kawasan adat. Kebudayaan masyarakat Ammatoa mungkin akan terkikis perlahan-lahan pula. Tetapi hal ini bergantung pada kegigihan masyarakat Ammatoa mempertahankan adat-istiadatnya.
Seringkali masyarakat di luar masyarakat adat yang menganggap dirinya mulia karena mengikuti pola hidup modern, melabeli masyarakat adat dengan kata primitif hanya karena mereka memilih hidup sederhana bersama alam. Tetapi karena kesederhanaan mereka itulah hutan masih terjaga dan kita masih dapat menghirup oksigen. Mengapa kita merasa mulia hanya karena memiliki rumah berdinding beton ataupun memiliki dua mobil, padahal kita masih buang sampah sembarangan.
Sebuah pasang ri kajang (pesan) dari masyarakat Ammatoa,“lemo sibatu bulo sipappa, manyu’ siparampe tallang sipahua lingu sipainga”. sebuah pesan yang memiliki makna persatuan dan gotong royong, jika ada yang hanyut saling menolong, jika ada yang tenggelam dibantu naik, dan saling mengingatkan. Selain kesederhanaan, persatuan dan saling menolong adalah hal yang dijunjung tinngi masyarakat Ammatoa. Persatuan masyarakat adat tercemin dari proses pasitte accarita (musyawarah) yang akan diadakan untuk membicarakan sebuah masalah secara bersama-sama antara pimpinan adat, pemangku adat, dan masyarakat.
Pemangku adat adalah mereka yang membantu pimpinan adat. Terdapat 26 pemangku adat dengan tugasnya masing-masing. Mereka akan bahu-membahu, gotong royong, jika ada sebuah acara (misalnya pernikahan ataupun kematian), membangun rumah, dan kegiatan lainnya yang akan dilakukan. Di kota kebiasaan gotong royong mulai tergerus. Manusia saling berkompetisi menjadi lebih unggul dari yang lain. Tak peduli pada mereka yang tergusur, tak peduli pada mereka yang lahan pertaniannya menjadi pabrik semen, tak peduli pada mereka mendapatkan tindakan kekerasan hanya karena menyampaikan pendapatnya, sebab kita sibuk mengumpulkan harta, mengejar kekuasaan, mendapatkan keuntungan untuk terlihat unggul. Maka benar adanya jika kita yang mengaku modern adalah manusia egois yang hanya peduli pada diri sendiri.
Setelah selesai berbincang-bincang dengan pimpinan adat, kami segera kembali ke rumah Tuti di Dusun Benteng Riaja. Pemimpin adat berpesan kepada kami bahwa kunci kehidupan adalah kejujuran. Perjalanan sehari di kawasan adat Ammatoa memberi kami begitu banyak pelajaran tentang kehidupan, tentang kesederhanaan, juga tentang persatuan. Semoga ada kesempatan untuk kembali belajar di tanah Ammatoa.