Mengenal ChatGPT
seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
seen from Ecuador

seen from United States
seen from Iraq
seen from United States

seen from United States
seen from Singapore
seen from Pakistan

seen from Canada
seen from Spain

seen from United States
seen from China
seen from China

seen from Singapore
seen from China

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Argentina
Mengenal ChatGPT
Tugas 4 Analisis Regresi hal 106-107
Satuan Acara Pengajaran Mata KuliahHMAS600004 - Dasar-dasar Teori & Metode Penelitian Kebu PengajarDr. Lilie Mundalifah Roosman Dr Christina Turut Suprihatin S.S., M.A. Tujuan Perkuliahan Minggu Ke 1 Materi- Definisi Kebudayaan - Nilai-nilai kebudayaan - Kebudayaan dalam konteks - Kebudayaan dalam tataran: gagasan dan aspek sosial Media- Tampilan PP ReferensiReader Dasar-dasar Teori & Metode Penelitian Kebudayaan AktivitasCeramah & Diskusi Minggu Ke 2 MateriKebudayaan sebagai produk budaya (ekspresi & kreativitas) Media- Tampilan PP ReferensiReader Dasar-dasar Teori & Metode Penelitian Kebudayaan Aktivitas- Cearamah - Diskusi Kelompok - Tugas Kelompok Minggu Ke 3 MateriKebudayaan dalam tataran Media- Tampilan PP ReferensiReader Dasar-dasar Teori & Metode Penelitian Kebudayaan Aktivitas- Diskusi Kelompok Minggu Ke 4 MateriPosisi Ilmu Pengetahuan budaya alam relasi ilmu humaniora Media- Tampilan PP ReferensiReader Dasar-dasar Teori & Metode Penelitian Kebudayaan AktivitasCeramah & Diskusi Minggu Ke 5 MateriModel & Paradiigma Penelitian Budaya Media- Tampilan PP ReferensiReader Dasar-dasar Teori & Metode Penelitian Kebudayaan AktivitasCeramah & Diskusi Minggu Ke 6 MateriIlmu Budaya dalam pendekatan tekstual Media- Tampilan PP ReferensiReader Dasar-dasar Teori & Metode Penelitian Kebudayaan AktivitasCaeramah & Diskusi Minggu Ke 7 MateriIlmu Budaya dalam Pendekatan Etnografi Media- Tampilan PP ReferensiReader Dasar-dasar Teori & Metode Penelitian Kebudayaan Aktivitas- Ceramah & Diskusi Minggu Ke 8 MateriUTS Media ReferensiSAP mg 1-7 AktivitasUjian Esai Minggu Ke 9 Materi- Topik Penelitian - Rumusan Penelitian - Tujuan Media- Tampilan PP ReferensiReader Dasar-dasar Teori & Metode Penelitian Kebudayaan AktivitasCeramah & Diskusi Minggu Ke 10 MateriPenjaringan Data Media- Tampilan PP ReferensiReader Dasar-dasar Teori & Metode Penelitian Kebudayaan AktivitasCeramah & Diskusi Minggu Ke 11 MateriLatihan Menentukan topik dan menjaring data Media- Tampilan PP Referensi Aktivitas- Ceramah - Diskusi Kelompok Minggu Ke 12 MateriPenholahan Data Media- Tampilan PP ReferensiReader Dasar-dasar Teori & Metode Penelitian Kebudayaan AktivitasCeramah & Diskusi Minggu Ke 13 MateriLatihan Pengolahan Data MediaTampilan PP Referensi Aktivitas- Diskusi Kelompok - Presentasi Minggu Ke 14 MateriLatihan Menyususn laporan secara keseluruhan (topik, permasalahan, rumusan permasalahan, pendekatan) MediaTampilan PP Referensi Aktivitas- Diskusi Kelompok - Presentasi Minggu Ke 15 MateriRangkuman dan Umpan Balik Media- Tampilan PP Referensi AktivitasCeramah dan diskusi Minggu Ke 16 MateriUAS Media ReferensiBahan SAP 1-13 + mengumpulkan hasil laporan Aktivitas
Metodologi Penelitian Kebudayaan
Nov 27, 2013 by Fajar Muhammad Nugraha
Metodologi adalah sebuah sistem ilmu pengetahuan yang mempelajari metode. Sementara itu Metode merupakan cara yang dipakai untuk mengerjakan (melakukan) riset atau penelitian tertentu. Maka dari itu, pemahaman terhadap metodologi akan mustahil apabila penguasaan terhadap metode-metode penelitian diabaikan.
Sementara itu, objek-objek yang dapat diteliti secara ilmiah dan dapat diterima pada ranah akademik adalah objek-objek yang bersifat logis, artinya hubungan sebab-akibat yang jelas merupakan hal mutlak yang harus hadir di dalam sebuah penelitian (riset ilmiah).
Tulisan ini akan mengulas tentang kebudayaan, penelitian ilmiah di dalam ranah kebudayaan. Sebelum membahas lebih lanjut tentang penelitian ilmiah di dalam ranah kebudayaan, ada baiknya kita terlebih dahulu mengetahui apa itu kebudayaan.
Kebudayaan
Kebudayaan berasal dari kata dasar “budaya” yang sesungguhnya sangat sulit untuk didefenisikan. “Budaya adalah salah satu dari dua atau tiga kata-kata yang paling rumit di dalam bahasa Inggris….karena saat ini kebudayaan telah digunakan untuk konsep-konsep penting di dalam beberapa disiplin intelektual dan pemikiran” (Raymond William. 1976: 76-7). Hal ini telah terlihat di awal tahun 1950-an, saat itu Alfred Kroeber dan Clyde Kluckhohn (1952) telah mengumpulkan banyak definisi kebudayaan baik dari sumber-sumber populer, maupun dari sumber-sumber ilmiah.
Kata budaya yang dalam bahasa Inggris disebut “culture” sering diasosiasikan dengan kata “cultivation” yang memiliki arti “budidaya”. Asosiasi ini memperlihatkan segala tindak tanduk manusia dalam kemampuannya mengolah alam sekitar sebagai bentuk dari peningkatan kecerdasan manusia dan peningkatan skil manusia dalam “menaklukan” alam sekitarnya untuk tujuan bertahan hidup (survival). Seiring dengan berjalannya waktu, istilah budaya juga mengacu kepada peningkatan skil seseorang di dalam masyarakat secara keseluruhan, jadi tidak hanya terkait dengan hal-hal “penaklukan” alam dan lingkungan sekitarnya. Hal ini seringkali dianggap sebagai sinonim dari muatan nilai di dalam peradaban (civilization). Jadi pada periode ini istilah budaya erat kaitannya dengan peradaban, dan orang yang dianggap berbudaya adalah mereka yang dianggap telah beradab hidupnya. Contoh yang diambil oleh masyarakat Eropa pada saat itu untuk membedakan orang yang berbudaya/beradab adalah dengan membandingkan orang Eropa dengan orang Afrika yang saat itu di antara keduanya terdapat perbedaan teknologi, moral, dan sikap. Mereka berpendapat saat itu bahwa orang Eropa adalah orang yang berbudaya/beradab terkait dengan kemampuannya dalam menaklukan alam dan lingkungan sekitar (kemajuan teknologi), dan juga terkait dengan moral dan sikap dalam menjalani kehidupan di dalam masyarakat. Sedangkan pada masa Romantisisme pada saat revolusi industri, istilah budaya juga mulai dikaitkan dengan perkembangan spiritualitas seseorang dan untuk membedakan perkembangan psiritualitas tersebut dengan perkembangan infrastruktur semata di dalam masa-masa perkembangan teknologi industri. Kemudian di akhir abad ke-19 muncullah infleksi yang menekankan bahwa tradisi dan kehidupan keseharian merupakan dimensi budaya. Hal ini tercermin di dalam ide budaya rakyat (folk culture) dan budaya nasional (national culture).
Menurut Williams (1976: 80) pergantian masa sejarah kehidupan manusia direfleksikan ke dalam kegunaan-kegunaan dari istilah “budaya”:
Untuk menunjukkan perkembangan intelektualitas, spiritualitas, dan estetika dari individu, kelompok, atau masyarakat.
Untuk membidik cakupan intelektualitas dan aktifitas-aktifitas artistik dan produknya (filem, seni, dan teater). Kegunaan budaya di sini bersinonim dengan kata “kesenian” (the arts), untuk itu kita bisa menyebut “Kementrian Budaya”.
Untuk menunjuk keseluruhan cara hidup, aktifitas, kepercayaan, dan kebiasaan individu, kelompok, dan masyarakat.
Kegunaan budaya yang pertama dan kedua adalah yang paling sering digunakan dan disintesakan di dalam ranah-ranah intelektual. Sedangkan kegunaan budaya yang ketiga diperjuangkan oleh banyak Antropolog dan menjadi pusat dari keilmuannya.
Kroeber dan Kluckhohn (1952) mengidentifikasi enam pemahaman utama tentang budaya berdasarkan kegunaanya yang ketiga:
Definisi deskriptif: cendrung melihat budaya sebagai totalitas komprehensif yang membentuk kehidupan sosial dan mengklasifikasikan berbagai bidang yang membentuk budaya.
Definisi sejarah: cendrung melihat budaya sebagai sebuah warisan yang diwariskan dari waktu ke waktu dan dari generasi ke generasi.
Definisi normatif: membentuk dua bentuk. Bentuk pertama: menyarankan budaya sebagai aturan hidup yang membentuk pola-pola dari kebiasaan dan aksi konkrit. Bentuk kedua: menekankan peran dari nilai-nilai tanpa mengacu pada perilaku.
Definisi psikologis: menekankan peran budaya sebagai alat pemecahan masalah, memungkinkan orang untuk berkomunikasi, belajar, atau untuk memenuhi kebutuhan material dan emosional.
Definisi struktural: “interelasi aspek-aspek budaya yang terorganisasi” (Tylor: 61)
Definisi genetik: menentukan keberadaan budaya dan kelanjutan eksistensinya. Hal ini sedikit terkait dengan biologi. Jadi, budaya merupakan kemunculan interaksi manusia sebagai produk dari transmisi intergenerasi.
Walaupun ide-ide dari Kroeber dan Kluckhohn ini sangat populer, namun pemahaman tentang budaya senantiasa bergerak secara halus di dalam bidang teori kebudayaan. Perkembangan pemahaman budaya di dalam bidang teori kebudayaan dapat dipahami sebagai berikut:
– Budaya cenderung bertentangan dengan materi, teknologi, dan sosial struktural. Walaupun secara empiris relasi antara budaya dengan materi, teknologi, dan sosial struktural itu dapat ditelusuri, namun ada baiknya untuk melihat budaya sebagai sesuatu yang lebih abstrak dari sekedar “cara hidup”.
– Budaya dilihat sebagai dunia dari ide, spiritualitas, dan non-material. Hal ini diperlukan dalam pemahaman tentang kepercayaan, nilai-nilai, simbol-simbol, tanda-tanda, dan wacana.
– Penekanan diberikan pada “otonomi budaya”. Ini membuktikan bahwa budaya tidak hanya bisa dijelaskan melalui dasar kekuatan ekonomi, distribusi kekuasaan atau kebutuhan sosial struktural belaka.
– Usaha-usaha dibuat untuk tetap menjadi nilai-nilai yang netral. Studi budaya tidak hanya terbatas pada Kesenian, tetapi juga meliputi segala aspek dan tingkatan dalam kehidupan sosial.
Tahapan Kebudayaan
Van Peursen membagi tahapan kebudayaan ke dalam tiga bagian:
Tahapan mitis, yaitu sikap manusia yang merasakan dirinya terkepung oleh kekuatan-kekuatan gaib sekitarnya, yaitu kekuasaan dewa-dewa alam raya atau kekuasaan kesuburan, seperti dipentaskan dalam mitologi-mitologi yang dinamakan bangsa-bangsa primitif.
Tahapan ontologis. Ontologis merujuk kepada hal yang sifatnya “being” / “asal muasal”. Jadi, tahapan ontologis di dalam kebudayaan adalah sikap manusia yang tidak didominasi sepenuhnya oleh kekuasaan mitis, tetapi dengan sadar mengambil jarak terhadap segala sesuatu yang dirasakan oleh panca inderanya. Ontologi mengalami perkembangan yang cukup hebat pada kebudayaan masyarakat kuno yang sangat dipengaruhi oleh filsafat dan ilmu pengetahuan.
Tahapan Epistem. Di dalam filsafat ilmu, epistemologi dapat didefenisikan sebagai sebuah pembahasan mengenai perolehan pengetahuan. Pembahasan tersebut meliputi: sumber, hakikat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan, probabilitas perolehan pengetahuan oleh manusia, dan kedalaman manusia dalam menganalisis dalam memperoleh pengetahuan.
Bagian-bagian Dasar Kebudayaan
Secara mendasar, kebudayaan memiliki tiga komponen utama, yaitu:
Asumsi dasar (mentalité)
Nilai dan norma
Tingkah laku, teks, dan artefak
Jika digambarkan, maka bagian-bagian mendasar di dalam kebudayaan akan terlihat sebagai berikut:
Penelitian Kebudayaan
Penjabaran singkat tentang komponen-komponen penting dan penjelasan tentang arti kebudayaan pada bagian-bagian sebelumnya secara eksplisit menunjukkan bahwa untuk mendapatkan hasil riset yang bagus dan objektif dalam ranah kebudayaan diperlukan dua pendekatan, yaitu:
Pendekatan intrinsik, yaitu peneliti ikut tinggal di lingkungan objek kebudayaan yang ingin diteliti dan mengikuti semua pola kehidupan di sana, sehingga secara kasat mata terlihat bahwa si peneliti adalah bagian dari kebudayaan tersebut.
Pendekatan ekstrinsik, yaitu pandangan dan peniliaian peneliti dari kacamata netral. Situasi ini menempatkan peneliti berada di luar dari kebudayaan yang akan diteliti dan peneliti dituntut untuk dapat melihat dan menilai objek yang akan diteliti sebagai sesuatu yang bukan merupakan kebudayaan si peneliti itu sendiri.
Dua pendekatan ini sangat dibutuhkan dalam memenuhi tahapan epistemik di dalam tahapan kebudayaan menurut Van Peursen. Tidak hanya itu, di dalam setiap metodologi – khususnya metodologi kebudayaan – harus mencapai tahapan ontologis dan epistemik.
Di dalam penelitian kebudayaan, terdapat beberapa metode yang dapat digunakan, di antaranya yang paling sering digunakan adalah:
1. Metode deskriptif, yaitu sebuah totalitas komprehensif kebudayaan yang digambarkan untuk mendapatkan nilai (value) dari kebudayaan yang diteliti.
2. Metode defenisi logis, terbagi ke dalam dua cara, yaitu:
Secara historis, yaitu metode yang menjelaskan tentang warisan untuk generasi baru dari objek kebudayaan yang akan diteliti.
Secara normatif, yaitu metode yang digunakan untuk mengetahui: 1. aturan/jalan hidup obejk budaya yang diteliti, 2. Nilai (value) yang mengacu pada nilai tertentu juga.
Jika kita sekali lagi membaca penjelasan tentang metode deskriptif dan metode defenisi logis di dalam penelitian kebudayaan, maka kedua-duanya berbicara tentang nilai (value). Ini berarti peneliti di bidang kebudayaan dituntut untuk memiliki pengetahuan dan kemampuan yang bagus di bidang hermeneutika supaya tidak terjadi salah tafsir dalam memaknai nailai-nilai yang ada di dalam sebuah kebudayaan. Hermeneutika kembali dipopulerkan pada abad ke-20 oleh seorang filsuf asal Jerman yang bernama Hans-Georg Gadamer (1900-2002).
Hermeneutika Gadamer merupakan proses produksi, bukan reproduksi. Hal ini erat kaitannya dengan fusi cakrawala (fusion of horizons), yaitu peleburan cakrawala pembaca (vorhabe, vorsicht, dan vorgiff) dengan cakrawala penulis melalui “teks”[1] yang telah ditulisnya untuk memaknai esensi yang terkandung di dalam suatu “teks”. Dengan demikian, pemakanaan suatu “teks” tidak berarti mencari ide-ide penulis yang dituangkan di dalam teks yang ditulisnya saja (proses reproduksi), melainkan setiap pembaca bisa memperoleh esensi suatu “teks” yang berbeda-beda sesuai dengan peleburan cakrawala setiap pembaca dengan cakrawala si penulis “teks” tersebut melalui “teks” yang ditulisnya. Di samping itu, cakrawala pembaca terhadap “teks” itu sendiri juga dileburkan pada tahap ini. Maksudnya adalah, kapan sebuah “teks” ditulis, oleh siapa sebuah “teks” ditulis, dan bagaimana kondisi masyarakat di saat “teks” itu ditulis juga menjadi bagian yang ikut dileburkan oleh pembaca dalam proses peleburan cakrawala ini untuk mendapatkan esensi dari sebuah “teks”. Jadi, suatu “teks” dipahami tidak untuk mencari tau ide-ide si penulis saja (proses reproduksi), melainkan suatu sintesa (proses produksi) dari proses peleburan cakrawala (fusion of horizons) yang dilakukan oleh pembaca “teks” tersebut.
Di samping penguasaan hermeneutika yang bagus, seorang peneliti di bidang kebudayaan juga dituntut untuk memiliki pemahaman estetika yang bagus, hal ini disebabkan karena estetika merupakan sebuah nilai (value) yang memegang peranan cukup sentral di dalam setiap penelitian pada ranah kebudayaan. Menurut Mudji Sutrisno:
“estetika merupakan paparan yang lebih mau menekankan pengalaman si subjek mengenai yang indah tanpa mau mencermati apakah asalnya dari objek kesenian alami (natural object) atau dari karya cipta manusia (artificial object).”
Hal ini sejalan dengan bagian-bagian kebudayaan yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya. Bagian kebudayaan nomor tiga terkait dengan artefak yang merupakan karya cipta manusia.
Kesimpulan
Ranah kebudayaan tidak hanya mencakup manusia sebagai subjek yang mengobjekkan hal, dan aktifitas lainnya di dalam suatu kebudayaan. Namun demikian, manusia itu sendiri bisa mengisi posisi objek di dalam sebuah penelitian kebudayaan.
Tiga bagian dasar kebudayaan dapat dijadikan acuan untuk menentukan objek yang akan diteliti di dalam sebuah penelitian kebudayaan.
Kemudian, untuk menghindari subjektifitas peneliti di dalam meneliti kebudayaan, maka diperlukan dua pendekatan yang digunakan di dalam penelitiannya, yaitu pendekatan intrinsik dan pendekatan ekstrinsik.
Metode deskriptif dan metode defenisi logis di dalam penelitian kebudayaan terkait dengan nilai-nilai (values) yang ada di dalam kebudayaan yang akan diteliti. Oleh karena itu, pemahaman di dalam bidang hermeneutika dan estetika juga menjadi penting bagi peneliti kebudayaan agar nantinya tidak terjadi salah tafsir di dalam melihat nilai dan memberikan penilaian terhadap sebuah kebudayaan.
Bibliografi
Berry, Peter. (2010). Beginning Theory: Pengantar Komprehensif Teori Sastra dan Budaya. Jakarta: Jalasutra.
Hoed, Benny H. 2011. Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya. Depok : Komunitas
Bambu.
Smith, Philip. (2001). Seri Cultural Theory, An Introduction. U.K.: Blackwell Publishing Ltd..
Sutrisno, Mudji. (2011). Ranah-ranah Hermeneutika. Yogyakarta: Percetakan Kanisius.
Sutrisno, FX. Mudji & Hardiman, F. Budi (ed.). (1992). Para Filsuf Penentu Gerak Zaman. Yogyakarta: Percetakan Kanisius.
[1] Teks tidak hanya berupa tulisan, tetapi apapun yang bisa menjadi objek penafsiran.
METODE, TEORI, TEKNIK PENELITIAN KEBUDAYAAN IDEOLOGI, EPISTEMOLOGI, DAN APLIKASI (SEBUAH REVIEW BUKU KARANGAN SUWARDI ENDRASWARA)
14 April 2015
· by
jusmanjas
· in
Tak Berkategori
. ·
By: Maizola Anggraini
Ketika seseorang akan melakukan penelitian kebudayaan , maka sadar atau tidak sadar akan di hadapkan kepada tiga istilah yaitu, penelitian kajian, dan studi budaya. Sepintas tiga istilah ini memang mirip. Bahkan ketiganya sering di gunakan bersaman-sama sehingga menimbulkan kerancuan. Memang ketiganya memiliki ideology yang kurang lebih sama. Dalam buku penulis menjelaskan tentang penelitian menurtnya, penelitian adalah menjelaskan fenomena budaya yang menggunakan kelengkapan dan langkah-langkah strategis.
Kelengkapan perangkat dan langkah-langkah itu akan di lalui seperti penyusna proposal, menentukan masalah, menentukan fokus, menyiapkan metode, pengumpulan data, analisis, serta kesimpulan. Namun perangkat ini tidaklah terlalu utama sehingga ada yang dapat di hilangkan, dan ini tidak mengurangi makna budaya , artinya langkah penelitian kebudayaan memang suatu hal yang fleksibel dan bukan harga mati. Fenomena budaya adalah mendeskripsikan fenomena tertentu.
Dalam buku ini di jelaskan, penelitian budaya tidak jauh bedanya dengan kajian budaya. Artinya penelitian dan kajian sebenarnya memiliki esensi yang sama. Keduanya memerluka langkah-langkah yang dalam implementasinya. Hakikat dari kajian adalah meneliti sebuah fenomena secara analitis. Jadi sesnungguhnya penelitian dan kajian adalah dua istilah yang tidak harus di pertentangkan dalam khasana deskripsi budaya. Yang penting bagi peneliti, pengkaji,dan penganalisis budaya tidak perlu ragu lagi memasuki wilayah permaknaan budaya, ketiga hal ini sebenarnya tidak mengupayakan tercapainya makna budaya yang signifikan.
Penelitian budaya memiliki filosofi yang cukup detil. Namu juga tidak berarti penelitian budaya serba sulit. Penelitian budaya tidak harus di lakukan oleh antropolog, arkeolog, budayawan dan sebagainya. Penelitian budaya bisa di lakukan oleh siapa saja. Yang penting dalam penelitian budaya penguasaan atas metode dan metodologi. Kedua hal ini adalah pegangan penting yang tidak bisa di tawar lagi sebelum melanjutkan untuk meneliti budaya. Keduanya memiliki makna yang berbeda. Motodologi penelitian budaya adalah penelitian filosofi yang membahas konsep teoritik berbagai metoda, kelebihan dan kelemahannya. Sedangkan metode penelitian budaya mengemukakan secara teknis tentang strategi yang di giunakan dalam penelitian budaya. Metodologi penelitian budaya akan menasari gerak metode. Metodologi adalah ilmu tentang sejumlah metode penelitian budaya.
Metodologi adalah ilmu tentang metode tentang penelitian, yang meletakkan dasar-dasar kajian. Metodologi jauh lebih luas di bandingkan metode. Karena di dalamnya di jelaskan bagaimana metode tertentu harus di tetapkan, menentukan kelemahan dan kelebihan masing-masing metode. Metode penelitian budaya, lebih banyak berbicara mengenai langkah-langkah penelitian secara oprasional. Metode berbeda dengan metodologi yang biasanya membicarakan aspek-aspek filosofis penelitian budaya. Di dalamnya menimbang kekurangan dan kelebihan salah satu metode.
Ketika akan melakukan penelitian kebudayaaan maka kita akan di hadapkan oleh masalah perspektif dan paradigma penelitian. Dimana kedua ini sering memberikan warna terhadap bagian penelitian budaya. Persepektif merupakan poin of view yang barangkali lebih mendekati realitas. Jika di pikirkan tidak satu perspektif pun dapat menangkap keseluruhan realitas yang di amati. Jadi, sat perspektif bersifat terbatas dan mengandung bias, karena hanya memungkinkan peneliti budaya mengkaji satu sisi saja dari “realitas” di luar sana. Paradigma ,menjelaskan dan meramalkan suatu fenomena budaya. Akhirnya dapat di simpulkan bahwa paradigma adalah kumpulan longgar tentang asumsi yang secara logis di anut bersama, konsep, atau proposisi yang mengarahkan secara berfikir dan dan cara penelitian. Orientasi atau perspektif teoritis adalah cara memandang dunia, asumsi yang di anut orang tentang sesuatu yang penting dan apa yang membuat dunia bekarja.
Setalah paham tentang perspektif dan paradigma, biasanya peneliti budaya masih sering di hadapkan pada aspek pendekatan dan model. Dari berbagai pendekatan yang di tawarkan bagi peneliti budaya itu, menunjukan bahwa pendekatan memang cukup luas. Ada sekian banyak ragam penelitian budaya, yang masing-masing tentu memiliki kelemahan dan kelebihan. Acuan munculnya ragam pendekatan pun bermacam-macam. Apabila penelitian di tafsirkan berdasarkan kaidah tertentu biasanya di pandng obyektif. Berbeda jika penafsiran di lakukan oleh seorang peneliti, akan memunculkan subyektivitas. Penyebutan istilah etik dan emik juga memilki impilkasi pada aspek pemaknaan fenomena budaya.
Ideologi merupakan gagasan yang merujuk pada perwujudan pemikiran tentang bagaiman penelitian budaya harus di lakukan. Penelitian budaya adalah sentral aktivitas penliti yang akan menentukan langkah-langkah mana saja yang harus di tempuh terlebih dahulu. Pilihan tersebut sebenarnya berangkat juga dari tataran ideology. Yakni seluruh hal berada dalam pemikiran atau gagasan.
Realita berupa fakta dan fenomena. Fakta adalah kejadian yang muncul dalam kotak budaya di masyarakat. Fakta adalah realita yang benar-benar terjadi atau ada. Pemahaman realitas budaya seharusnya berpegang teguh pada aspek rasionalistis. Rasionalistis akan membangun sebuah wilayah tersendiri. Di samping itu pula ada yang di kenal juga dengan dunia fantasi (yang tidak masuk akal) dan dunia empirik. Masing-masing paham ini dalam penelitian budaya memiliki wilayah yang kadang-kadang bersebrangan. Fakta dapat dapat di amati dan mendukung hadirnya realita. Sedangkan realita dapta benar-benar terjadi, akan, dan sedang terjadi. Realita bersifat ilmiah sehingga wujudnya bersifat apa adanya. Sehingga realita dan rakta akan memunculkan sebuah fenomena. Jadi, tugas penelitian budaya adalah mengolah fenomrna menjadi sebuah data yang akurat.
Epistemologi adalah ilmu yang menjadi dasar filosofi penelitian budaya. Penelitian buday memerlukan ke ilmuan yang luas dan mendalam. Ilmu yang terkait dengan perangkat penelitian, patut di pahami agar peneliti tidak terjebak pada masalah-masalahyamng sebenarnya tidak perlu. Epistemology terkait juga dengan penggunaan idiomatik (istilah) penelitian budaya yang kompleks. Idiomatic adalah hal ihwal tentang idiom. Istilah idiom biasanya memanfaatkan diksi (pilihan) kata dalam berbagai aspek penelitian.
Masalah yang tidak kalah penting yang sering hadir dalam penelitian budaya adalah obyektivitas dan subyektivitas. Pembahasan ini kadang-kadang menjadi pembicaraan yang tidak kunjung habisnya di kalangan penelitian budaya. Hal ini karena adanya pendapat bahwa penelitian budaya yang cendrung memanfaatkan penelitian kualitatif , di anggap kurang objektif. Berbeda dengan paradigma penelitian kuantitatif yang serba ilmiah dan terkontrol. Dan hal ini pun tidak di tolak oleh para peneliti budaya.
Objektivitas-ilmiah dan subjektivitas-tidak ilmiah sebenarnya memang telah lama ada pada penelitian budaya, terutama hadirnya peneliti budaya tafsir. Hadirnya penelitian budaya ini telah memunculkan beberapa keberatan, jika di kaitkan dengan ikhwal objektivitas dan subyektivitas. Hal ini barangkali memang gejala baru, terutama karya etnografi sebagai karya sastra, akan menghadirkan dilematis bagi peneliti budaya itu sendiri. Yakni, penelitian budaya itu sebuah ilmu atau seni. Kemudian jika etnografi di pandang sebagai sastra, maka sampai di mana kita akan memperlakukannya sebagai su ber data untuk membangun teori “objektif” tentunya.
Di satu sisi pemahaman seseorang dan budaya, juga sangat menarik, seperti halnya harus memahami perbedaan antara subjektif dan objektif. Di mana persoalan ini akan terkait pula dengan soal ilmiah dan tidak ilmiahnya dan juga humanistik atau science,akademik atau puistis, ilmiah atau bernada sastra. Dalam kajian budaya(antropologi), istilah objektif dan subjektif sering juga di analogikan dengan pendekatan etik, (dari luar) dan pendekatan emik (dari dalam). Seperti di kemukakan Allport, studi emik bertujuan untuk meneliti makna cultural dari “dalam” ; analisisnyA cendrung bersifat idiografik ( bertujuan merumuskan proposisi-proposisi yang sesuai dengan kasus yang di teliti).
Sebaliknya pendekatan etik bersifat nomotetik (bertujuan menggeneralisasikan kasus kepada populasi). Jadi pendekatan emik cendrung memanfaatkan persepektif kualitatif, paradigma naturlistik, dan model etnografik, serta memanfaatkan kajian idiografik. Hal ini bisa saja penelitian budaya di lakukan denga perspektif kualitatif namun datanya di ambil secara objektif. Data yang di peroleh ketika peneliti turun ke lapangan sebenarnya juga suda mempunyai bayangan atau asumsi-asumsi tentang permasalahan yang akan di angkatkan. Tinggal saja bagaimana sumber atau data itu di dapatkan apakah bersifat objektif dengan ketentuan-ketentuan yang tertentu atau bersifat subjektif berdasarkan kategorinya.
Dasar-dasar Teori dan Metodologi Penelitian Kebudayaan >.<
October 21, 2013
annisarah
Huwooow minggu ini bakalan jadi minggu yang cukup berat di kampusku…minggunya UTS di seluruh penjuru! Well, exam fills the air…dimana-mana tercium aroma belajar untuk ujian. Kamukah salah satunya? :D
Nah, besok pagi adalah jadwalku untuk mengikuti UTS Dasar-dasar Metodologi Penelitian dan Kebudayaan, matkul wajib FIB UI yang ada di semester 5. FYI, matkul ini adalah matkul yang membahas tentang cara penelitian, terutama penelitian bertemakan sosial budaya karena FIB adalah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Matkul ini termasuk matkul yang penting banget sebagai bekal penulisan skripsi kelak.
By the way, seperti biasa, aku belajar dengan cara membaca, lalu menghapal, lalu aku tuangkan dalam rangkuman. Biar gak bosen-bosen amat, sembari ngeblog deh…siapa tau bermanfaat untuk teman-teman lainnya. Yuk deh cus, silahkan baca :)
Penelitian
Penelitian adalah…
•Proses menjawab suatu masalah yang menjadi perhatian peneliti dengan menggunakan metodologi yang sesuai•Upaya sistematis untuk menemukan jawaban atas masalah/pertanyaan mengenai suatu fakta/objek yang menjadi perhatian.Tujuan dari penelitian yaitu:•Menemukan solusi atas sebuah masalah•Menjelaskan sebuah fenomena baru•Menghasilkan pengetahuan baru•Mensintesiskan hasil-hasil penelitian yang sudah ada•Mengkaji ulang penelitian yang sudah ada•Menguji sebuah teori•Dsb.Sedangkan penelitian ilmiah adalah penyelidikan yang sistematis, terkontrol, empiris dan kritis terhadap fenomena-fenomena alami dengan dipandu teori dan hipotesis-hipotesis tentang hubungan yang diduga terdapat di antara fenomena-fenomena tsb.
Perbedaan antara penelitian ilmiah dengan penelitian bukan ilmiah terletak padateorinya. Penelitian ilmiah selalu berlandaskan pada teori , sebaliknya, penelitian bukan ilmiah tidak memerlukan teori.
Oleh karena itu, kita perlu tahu nih syarat-syarat suatu penelitian dapat dikatakan ilmiah (Ciri-ciri Penelitian Ilmiah):
•Bertujuan menjawab masalah, kemudian hasilnya digunakan untuk…
a. untuk pengembangan ilmu, maka disebutpenelitian murni
b. untuk pengambilan keputusan, maka disebut penelitian terapan
•Sistematis
artinya, menggunakan kerangka berpikir yang terstruktur, hubungan antara bagiannya logis dan saling ketergantungan.
•Objektivitas
Analisis data harus objektif, berdasarkan fakta aktual, bukan emosional.
•Kritis
Hasil penelitian terbuka untuk dikritik, diuji ulang dan ditelaah, serta menggunakan parameter yang dapat diterima.
•Empiris
Berdasarkan fakta yang ada, berdasarkan realitas.
•Generabilitas
Hasil penelitian tsb sama jika diterapkan pada populasi yang lebih luas, dapat menyamakan dan menangkap konsep yang sama untuk lingkup yang lebih luas.
•Replikabilitas
Hasil penelitian dapat menjadi acuan untuk penelitian selanjutnya, terbuka untuk diteliti ulang oleh orang lain
•RasionalDapat diterima oleh akal sehat.Lantas, apa aja kegiatan dalam penelitian ilmiah? Nah ini dia kegiatannya…•Menentukan masalah penelitian yang bersumber dari suatu teori tertentu•Membuat rancangan penelitian (penetapan kerangka teoritis dan metode yang digunakan)•Mengumpulkan data•Menganalisis data•Menarik kesimpulan teoritisBegitu kompleksnya suatu penelitian, membuat penelitian terbagi-bagi nih, Sob. Pertama, berdasarkan tujuannya, penelitian dibagi jadi dua, yaitu:a. Penelitian dasar (basic research)Yaitu penelitian yang bertujuan untuk pengembangan ilmu. Penelitian ini sifatnya memberikan gambaran yang lebih jelas terhadap suatu fenomena tanpa mempertimbangkan aspek penerapannya, jadi fokusnya ini mendukung teori yang sudah ada, Penelitian ini disebut juga pure research atau theoretical research.Contoh: penelitian yang menunjukkan bahwa kualitas fisik buku dipengaruhi suhu penyimpanannyab. Penelitian terapan (applied research)Yaitu penelitian yang bertujuan untuk menjadi dasar tindakan/pengambilan keputusan. Penelitian ini sifatnya memberikan pengetahuan praktis untuk langsung diterapkan dalam keidupan sehari-hari.Contoh: (masih nyambung sama contoh sebelumnya) penelitian cara pengaturan suhu penyimpanan buku yang baik dan benar untuk menjaga kualitas fisik buku tsb.Penelitian terapan ini dibagi lagi dalam 3 jenis, antara lain:-Penelitian Evaluasi, digunakan untuk menilai, mengukur suatu program, kinerja atau kebijakan. Contoh: penelitian seberapa efektifkah OPAC membantu pengguna dalam menelusur informasi di perpustakaan.-Penelitian Pengembangan, digunakan untuk pengembangan produk atau proses-proses efektif di masyarakat. Contoh: penelitian untuk mengembangkan sarana perpustakaan, tak hanya menyediakan ruang baca, tapi juga menyediakan ruang karaoke (gebleg si Sarah ini mah.hehe)-Penelitian Tindakan, hasilnya digunakan sebagai solusi untuk pemecahan masalah. Contoh: penelitian untuk mencari solusi agar masalah hilangnya koleksi di perpustakaan dapat diatasi.Nah itu baru berdasarkan tujuannya loh…sekarang yang kedua, jenis-jenis penelitianberdasarkan sifatnya, yaitu:a. Penelitian Historis (historical research), yaitu penelitian yang merekonstruksi masa lampau secara sistematis dan objektif untuk menegakkan fakta yang sedang diangkat. Contoh: sejarah perpustakaan Kekhalifahan Turki Ustmani yang gemilang membuat peradaban Turki menjadi salah satu peradaban yang tinggi di dunia.b. Penelitian Deskriptif (dexcriptive research), yaitu penelitian yang menggambarkan fakta-fakta atau sifat-sifat populasi di daerah tertentu secara akurat, faktual dan sistematis. Contoh: penelitian sifat-sifat pengguna perpustakaan di daerah yang beriklim dinginc. Penelitian Perkembangan (developmental research), yaitu penelitian yang menyelidiki pola perurutan pertumbuhan/perubahan suatu objek. Contoh: penelitian mode pada wanita berulang polanya tiap satu dekade.d. Penelitian Kasus dan Lapangan (case study and field research), yaitu penelitian yang menyelidiki latar belakang dan interaksi suatu unit sosial secara langsung. Contoh: Penelitian interaksi antara pengguna perpustakaan dan pustakawan laboratorium perpus JIP UI :Pe. Penelitian Korelasional (corelational research), yaitu penelitian yang mendeteksi sejauh mana variasi-variasi dari suatu faktor berhubungan dengan variasi-variasi dari faktor lainnya. Contoh: sejauh mana masalah pribadi mempengaruhi kinerja karyawan.f. Penelitian Kausal Komparatif (causal comparative research), yaitu penelitian yang mencari hubungan sebab akibat melalui pengamatan, atau mencari kembali faktor-faktor yang mungkin menyebabkan sebuah fenomena. Contoh: penelitian menunjukkan disebabkan pustakawan jarang tersenyum, mengakibatkan pengguna enggan untuk berinteraksi lebih lama.g. Penelitian Eksperimental Sungguhan (true-experimental research), sama seperti jenis penelitian sebelumnya, penelitian ini juga mencari hubungan sebab akibat namun dengan cara yang berbeda. Dalam penelitian ini, hubungan sebab akibat diselidiki lewat manipulasi terkontrol dimana salah satu objek dikondisikan tertentu, kemudian dibandingkan dengan obejk lain yang tidak dikondisikan apa-apa. Contoh: tanaman A diberi pupuk, tanaman B tidak diberi pupuk, kemudian tanaman A lebih subur, oh…jadi sebabnya tanaman A subur itu karena diberi pupuk.h. Penelitian Eksperimental Semu (quasi-experimental research). Penelitian yang bertujuan mencari informasi yang dapat jadi perkiraan untuk eksperimen sungguhan yang manipulasi objeknya sulit untuk dikontrol. Contoh: Diperkirakan dengan semakin maraknya e-book, buku kertas akan semakin tersingkir. Objeknya adalah pembaca, yang mana dari segi perilaku, selera, kecenderungannya sulit untuk dikontrol dalam suatu eksperimen. Tidak seperti tanaman dalam contoh sebelumnya. Hehehe.i. Penelitian Tindakan (action research), bertujuan untuk mengembangkan keterampilan atau cara pendekatan baru dalam menyelesaikan masalah dengan penerapan langsung.Metode dan MetodologiMetode adalah…•Prosedur untuk mencapai tujuan•Prosedur/tahapan yang sistematis dan terorganisir untuk mencapai tujuan penelitian•Cara yang teratur dengan baik, sistematis untuk memudahkan kegiatan penelitian guna mencapai tujuan penelitian berdasarkan teori yang dipakaiDi dalam metode terdapat istilah teknik, yaitu…•Penjabaran dari metode à bagaimana menerapkan sebuah metode dalam kegiatan penelitian•Mencakup saat menjaring data, mengumpulkan data, mengolah data, menganalisis data, dan menyajikan hasil analisis dataContoh: Metode kualitatif, maka teknik yang dilakukan dalam mengumpulkan data adalah dengan wawancara.Nah itu baru metode, sekarang kita bahas tentang metodologi. Metodologi adalah…•Ilmu yang digunakan untuk mendekati sesuatu atau seseorang yang sedang kita teliti untuk dibandingkan dengan teori•Studi yang logis dan sistematis mengenai prinsip-prinsip dasar yang akan mengarahkan penelitian•Mencakup: pemabahasan teoritis meteode-metode yang ada, kelebihan dan kekurangannya, serta pemilihan metode yang akan digunakan.Trus, gimana sih kaitan antara metode, teknik dan metodologi? Biar gampang jelasinnya aku kasih contoh langsung aja ya…
Contoh kasus–> penelusuran di perpustakaanMetode: – manual (menggunakan katalog kartu)
-otomatis (menggunakan katalog online)
Teknik: -cara menelusur koleksi lewat katalog kartu
-cara menelusur koleksi lewat OPAC
Metodologi:
-pembahasan kedua metode, kelebihan dan kekurangannya
-pemilihan metode yang sesuai dengan perpustakaan dan penggunanya
Secara garis besar, metode ada dua jenis, yaitu:1. Metode Kualitatif, gampangnya metode ini ciri-cirinya:•Memusatkan perhatian pada gambaran mengenai suatu hal berdasarkan pandangan manusia yang diteliti•Tidak dapat diukur dengan angka•Data yang dihasilkan mengandung makna•Bersifat induktif2. Metode Kuantitatif, dengan ciri-ciri:•Memusatkan perhatian pada objek yang secara nyata•Dapat diukur dengan angka•Data yang dihasilkan mengandung variabel-variabel•Bersifat deduktifMacam-macam pendekatan dalam metodologi penelitian, antara lain:•Pendekatan jauh. Contoh: menggunakan kuesioner•Pendekatan setengah jauh. Contoh: menanyakan lewat kertas dalam lingkup levih sedikit, lalu dikumpulkan•Pendekatan setengah dekat. Contoh: wawancara•Pendekatan dekat. Contoh: interaksi langsung, hidup bersama dengan objek penelitian
Selain itu, ada juga yang disebut instrumen, yaitualat yang digunakan dalam metodologi. Contoh: daftar pertanyaan, angket, dsb.
Well, sebenarnya tidak ada metodologi yang terbaik, hal itu kembali disesuaikan pada objek dan tujuan penelitian ya Sob.
Penelitian Kebudayaan
Sebelum kita tahu kayak gimana penelitian kebudayaan, kita kudu tahu dulu…
Teori Kebudayaan, yaitu salah satu bidang yang bertujuan memberikan pemahaman tentang prinsip-prinsip konseptual yang melandasi disiplin-disiplin ilmiah yang dicakupi budaya.
Kebudayaan, yaitu keseluruhan gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri dengan belajar.
So, bisa disimpulkan…
Pusat perhatian Ilmu Pengetahuan Budaya adalah pada manusia. Artinya, memandang manusia sebagai mahluk budaya, bukan mahluk biologis. Sehingga, fokus utama penelitian kebudayaan adalah pada manusia nya, mencakup:
-apa yang terdapat dalam diri manusia sebagai mahluk individu dan mahluk sosial
-apa saja dalam diri manusia dan hal-hal terkait dirinya dari luar yang mendorongnya dalam berperilaku/bertindak.
Kerangka Teoritis
Secara garis besar kerangka teoritis adalah…•Kumpulan teori dan model literatur yang menjelaskan hubungan dalam masalah tertentu.•Seperangkat teori yang menjadi alur berpikir untuk mencapai tujuan penelitian•Menjelaskan bagaimana teorisasi hubungan faktor-faktor yang dianggap penting dalam suatu masalah•Biasanya disajikan secara ringkas, tidak mendetail•Hubungan antara konsepnya setaraLalu, apa saja fungsi kerangka teoritis?•Mendefinisikan/menguraikan masalah-masalah dan variabel-variabel yang terdapat dalam objek penelitian•Membatasi penyelidikan•Memberikan dasar teoritis dalam mengajukan masalah penelitian•Menjadi panduan untuk membentuka tahapan berpikirKerangka konseptualnah lho…kalau kerangka konseptual apa lagi tuh?•Peta yang menghubungkan konsep-konsep serta menunjukkan dimana, kapan dan bagaimana konsep-konsep tersebut saling terkait•Struktur alur pikir yang logis menjelaskan pentahapan teoretis dan metodologis suatu penelitian•Jadi, tak hanya sekedar teori, kerangka konseptual juga memaparkan metode yang dipakai dalam penelitian.•Hubungan antara konsep-konsepnya bertahap/sistematis
Sebenarnya fungsi kerangka konseptual dengan kerangka teoritis istilah fung ini rada-rada mirip, bedanya pada kerangka konseptual juga menjelaskan metodologi apa yang digunakan. Fungsi-fungsi kerangka konseptual:
•Memberikan gambaran yang jelas mengenai tahapan penelitian yang dilakukan•Memberikan petunjuk mengenai teori dan metode yang digunakan dalam penelitian•Memberikan petunjuk tentang pokok-pokok analisis yang perlu dilakukan hingga mencapai tujuan penelitian•Membatasi agar tahapan penelitian tidak menyimpang dari tujuan penelitian•Menghindari tahapan penelitian yang tidak diperlukanFungsi-fungsi dalam PenelitianSelain itu ada juga nih Sob fungsi-fungsi dalam penelitian. Mungkin istilah-istilah fungsi ini sudah akrab juga di telinga kamu. Berikut ini aku uraikan lebih pengertiannya ya..KonsepApa itu konsep? Konsep adalah…•Abstraksi dari fenomena sosial yang ditarik dengan cara generalisasi terhadap karakterisitik peristiwa/fenomena sosial tertentu.•Sejumlah pengertian atau ciri-ciri terkait berbagai objek, perisitiwa, kondisi, dsb.•Definisi singkat mengenai fakta-fakta dan gejala yang menjadi pokok perhatian penelitiAsumsiKebenaran ilmiah yang sudah tak perlu dibuktikan lagiHipotesis•Dugaan ilmiah yang perlu dibuktikan•Dugaan sementara mengenai gejala, perilaku dan keadaan sebagaimana yang diungkapkan dalam rumusan masalah•Pernyataan adanya hubungan antara variabel-variabel yang digunakan.•Sifatnya sementara, dapat berubah jika ada kebenaran baru di kemudian hari.Fungsi dari hipotesis sendiri antara lain…•Menegaskan tujuan penelitian•Membantu menetukan arah penelitian•Membatasi penelitian agar tidak menyimpang jauh dari tujuan penelitianTeoriSeperangkat pengetahuan (asumsi, hipotesis, hukum, proposisi) yang telah teruji kebenarannya dan memberikan pemahaman secara sistematis terhadap suatu fakta. Fungsinya antara lain:•Menjelaskan•Menata•Memberikan fokus•Mengamati•MengendalikanProposisiProposisi ya…bukan preposisi. Hehehe. Proposisi ialah…•Pernyataan hubungan antar konsep•Hubungan antar konsep dalam suatu teori•Secara formal dirumuskan dalam bentuk implikasi: Jika….maka….
Nah, itulah seluruh materi mata kuliah ini sampai UTS. Semoga bermanfaat
Etika, Akhlaq, dan moral. Ketiga hal ini memiliki kesamaan dalam objek materil, yaitu sama-sama tentang perbuatan baik. Namun juga berbeda pada objek formal pada sudut pandang, pandangan filsafat hidup, dan sumber.
belajar perkedel itu seru ya ternyata. benar-benar pelajaran menuju tahapan tersebut...