Tujuh Hari Mencari Sahabat
Sabtu yang cerah, udaranya menembus masuk ke kamar Dessy yang kaca jendelanya terbuka begitu saja, di lantai dua rumahnya. Ia masih membongkar kardus-kardus dan menata isinya. Maklum, dia baru pindah rumah. Tetangga samping rumah Dessy, Velya juga baru pindahan. Velya menata kamarnya yang baru terisi setengahnya. Kedua keluarga baru di lingkungan itu memang sudah berkenalan semalam. Umur Dessy dan Velya pun sama, 10 tahun, dan mereka sedang mendaftar ke sekolah yang sama pada tahun ajaran baru kali ini, di SDN 205. Hari pertama sekolah baru di mulai dua hari lagi. Rencananya, setelah selesai sedikit merapikan kamar, Dessy akan mengajak Velya bermain bersama di rumahnya. Ya emang selesai ngerapiinnya sore, sih...
“Velya Ananditha,” Velya menjawab pertanyaan Dessy yang menanyakan namanya. “Kalau namaku, Dessy Rahmasari,” Dessy memperkenalkan. Velya duduk di tepi ranjang Dessy, di kamar Dessy. Kamar Dessy belum begitu rapi, masih banyak barang-barang berserakan, tapi meja belajar dan bangku sudah ditata dengan baik.
“Kamu daftar di SDN 205?” tanya Dessy. Velya mengangguk. “Kelas 5. Kamu?” Velya balas bertanya. “Kelas 5 juga,” jawab Dessy.
“Punya sahabat, Vel?” tanya Dessy.
“Sahabat di rumahku dulu pindah ke Bogor, dan aku pindah ke sini,” papar Velya. “Memang kamu punya?” tanya Velya.
“Nggak. Temenku memang banyak, tapi aku enggak punya sahabat,” sahut Dessy, “Aku padahal pingin banget punya sahabat, Vel.”
“Aku juga,” Velya mengangguk. Lama mereka terdiam.
“Gimana kalau kita berlomba? Lomba mencari sahabat!” ide Velya. “Ah, iya! Ide bagus! Tapi hanya dalam seminggu ini, ya!” sambut Dessy.
“Peraturannya...” kata Velya, “Tidak boleh memengaruhi orang agar tidak bersahabat dengan yang lain, sahabat yang didapat harus penghuni kota ini, dan...” kata-kata Velya terputus.
“Tidak boleh saling iri, bila sahabat sang pesaing lebih baik; tidak boleh saling bertengkar dan marah; tidak boleh curang... Kau mau tambah peraturannya, Vel?” Dessy melanjutkan peraturan dan bertanya.
“Ngg... Boleh! Harus bisa menerima apa adanya... Bagaimana jika kita rahasiakan lomba ini? Jangan beritahu calon sahabat kita!”
“Setuju!”
“Jangan minta bantuan orang lain bila peserta ongkang-ongkang kaki saja,” saran Dessy. “Setuju!” sambut Velya. “Aku mau tambah peraturannya... Kita tidak boleh mengundurkan diri...”
“Eh, Vel,” panggil Dessy. “Ya?” Velya menoleh.
“Kalau begini... Peraturannya susah dihapal, Vel,” keluh Dessy. “Bikin peraturan tertulis aja!” Velya mengambil kertas dan pulpen. Begini yang dia tulis:
LOMBA MENCARI SAHABAT DALAM WAKTU 7 HARI
Peserta : Velya Ananditha dan Dessy Rahmasari
Waktu : Sabtu, 14 Juli 2007-Malam Sabtu, 20 Juli 2007
KETENTUANNYA
1. Tidak boleh memengaruhi orang agar tidak bersahabat dengan pesaing.
2. Sahabat yang didapat harus seusia.
3. Sahabat yang didapat harus penghuni perumahan ini.
4. Tidak boleh saling iri bila sahabat sang pesaing lebih baik dan sempurna, dan tidak boleh saling bertengkar dan marah.
5. Dilarang keras melakukan pencurangan, dalam bentuk apapun.
6. Jangan bercerita pada siapapun tentang lomba ini, termasuk sahabat sendiri karena lomba ini rahasia.
7. Jangan minta bantuan orang lain selama peserta ongkang-ongkang kaki saja.
8. Karena sudah ikut dalam lomba ini, para peserta tidak boleh mengundurkan diri.
9. Calon sahabat tidak boleh terpaksa menjadi sahabat, dan tidak boleh memaksakan calon sahabat.
10. Siapa yang tercepat mendapat sahabat, ia yang menang.
11. Malam minggu para peserta berkumpul dan menunjukkan surat pernyataan.
12. Yang kalah harus optimis dan tetap mencari sahabat.
13. Melanggar ketentuan telah dinyatakan kalah, denda sebesar 1000 rupiah (tidak termasuk hadiah pemenang).
14. Yang kalah harus membayar 5000 rupiah pada pemenang.
15. Pemenang tidak boleh menyombongkan diri.
16. Selesai lomba, para peserta tidak boleh bertengkar, para peserta berteman seperti biasa.
Tertanda,
Velya dan Dessy
“Lalu kita buat dua lembar surat pernyataan, satu untukku, satu untukmu,” usul Velya. “Apa isi surat itu?” tanya Dessy. “Begini,” Velya mulai menulis:
Surat Pernyataan Persahabatan
Saya memiliki sahabat bernama ..........(*), yang juga bertanda tangan di bawah ini. Kami telah resmi menjadi sahabat, pada tanggal ......(**) Juli 2007.
Tertanda,
..........(***) dan ..........(****)
Velya membuat dua lembar. Satu lembar ia berikan pada Dessy, satu lagi ia pegang.
“Yang dimaksud ‘saya’ adalah kita, ‘bintang satu’ diisi nama sahabat kita. ‘Bintang dua’ tulis tanggal, ‘bintang tiga’ dan ‘bintang empat’ diisi tanda tangan kita dan calon sahabat kita. Kalau ia sudah menanda tangani, berarti ia resmi menjadi sahabat kita. Mengerti?” gaya Velya seperti seorang guru yang sedang menerangkan pelajaran.
Dessy mengangguk dan melipat surat itu dan meletakkan di meja belajarnya. Sedangkan Velya mengantonginya.
“Dimulai dari sekarang,” komando Dessy.
“Mari keluar,” Velya keluar kamar dan buru-buru menuju lapangan. Disana memang banyak anak-anak bermain. Dessy, ia menuju taman, tempat anak-anak bermain juga.
Hari Pertama: Sabtu, 14 Juli 2007
>Dessy
Taman, taman, duh, anak-anak yang main di sana anak-anak SMA semua! Aku malas sahabatan sama anak SMA! Ada Mbak Rosa, kakakku. Dia udah gede, kelas 1 SMA. Yang lainnya mungkin kelas 2 atau 3. Aku menghampiri Mbak Rosa.
“Mbak, Mama ke mana, sih? Kok tadi enggak ada? Di rumah cuma ada Tante Maya. Papa juga enggak ada?” tanyaku.
“Itu, Mama sama Papa mau daftarin Mbak di MA 92—“ kata-kata Mbak Rosa terpotong, karena aku keburu menyahut, “Kok nggak ikut?”
“Tadi udah, mereka berdua pergi ke rumah temennya Mama,” jawab Mbak Rosa. “Eh, kamu sendiri ngapain ke sini?” tanya Mbak Rosa. Aku gelagapan. “Ngg, nggak ngapa-ngapain, dadah!” aku langsung berlari meninggalkan Mbak Rosa, menuju stadion olahraga yang tak seberapa jauh, aku tahu hari ini ada jadwal bertanding, makanya aku mau ke sana. Dengan tak menghiraukan Mbak Rosa yang keheranan melihatku cuma ‘numpang lewat’.
Di stadion, aku langsung membeli tiket untuk menonton pertandingan sepak bola. Tiketnya, sih, cuma dua ribu, yang bertanding anak-anak kelas 5, dari kesebelasan terkenal di sini.
Aku mendapat nomor tempat duduk yang terletak paling depan. Ah, itu dia! Di sampingku duduk seorang anak perempuan seusiaku, sepertinya tetanggaku yang rumahnya di depan rumahku.
“Hai, kamu anak baru, ya?” tanya anak itu.
“Ya. Rumahmu di depan rumahku, kan?” tanyaku.
“Benar. Namaku Mira, kamu?”
“Dessy, aku baru daftar kelas 5 di SDN 205.”
“Oh, anak SDN 205? Aku anak SDN 205 juga,” Mira tersenyum ramah. Nah, inilah calon sahabatku! Bakal menang lomba, nih!
“Kamu seneng nonton sepak bola?” tanyaku.
“Lumayan. Karena lagi bosan aja aku nonton. Biasanya aku nonton sama kakakku. Tapi dia lagi les. Memang kamu senang, nonton sepak bola?” ia balik bertanya.
“Aku? Ng, gimana, ya? Senang aja mainnya, tapi nontonnya nggak begitu suka. Ngomong-ngomong, kamu tahu ini kesebelasan apa?” tanyaku berbasa-basi. Mira tersenyum dan mengangguk.
“Kesebelasan ini adalah Kesebelasan SDN 205, yang selalu memenangkan PORSENI, melawan Kesebelasan Garuda, dari SDIT Ar-Rahman. Mereka amat sangat tangguh, makanya aku semangat nonton ini. Seru, deh,” ceritanya. Pertandingan dimulai lima menit lagi. Para penonton mulai memadati stadion.
“Ini anak kelas berapa?” lebih banyak aku bertanya, aku akan semakin mengenalnya. Dan iapun mudah kujadikan sahabat!
“Lima pemain kelas 6, enam pemain lain kelas lima, sedangkan para pemain cadangan ada yang anak kelas 4,” jelas Mira.
Pertandingan dimulai. Aku dan Mira mulai serius menonton pertandingan.
> Velya
Setelah mengayuh sepeda selama 10 menit, akhirnya aku sampai juga di gedung kesenian. Bangunannya tampak kukuh walaupun tidak begitu mewah. Tampak beberapa anak yang sedang berlatih menari, drama, malah ada yang latihan pencak silat. Di depan pintu, terlihat seorang gadis yang sibuk melayani pengunjung gedung. Aku mendekatinya.
“Mbak, permisi, mau tanya, adakah kelas teater hari ini? Saya mau coba ikutan,” aku membuka pembicaraan. Gedung itu sederhana, bertingkat dua, luas dan lega. Langit-langitnya tinggi, lantainya dari keramik putih, temboknya yahng putih dihiasi beberapa piagam dan lukisan abstrak. Di lantai bawah ini, kira-kira ada tiga ruangan yang di depan masing-masing pintu di tuliskan ruangan apa itu. Lalu dua buah toilet, satu untuk perempuan dan satunya lagi untuk laki-laki. Anak-anak sebayaku keluar-masuk ruangan-ruangan itu.
“Tentu saja ada. Kalau kamu mau jadi anggota silakan daftar dulu di sana,” gadis itu menunjuk sebuah ruangan yang pintunya bertuliskan ‘Kantor’.
“Biaya pendaftarannya seribu rupiah, bayaran setiap bulan Rp. 15.000,00,” jelas si gadis.
“Saya hanya mau lihat-lihat, Mbak,” kataku manis (semanis gula yang di campur cokelat dan susu).
“Boleh. Temui saja Bu Lina di lantai atas, ia ada di kelas teater,” katanya.
“Terimakasih,” ucapku sambil berlari ke tangga yang menuuju ke lantai atas. Lantai atas juga luas. Ada satu set sofa putih, dan telepon di sebuah meja. Ada 2 ruangan di sana. Kumasuki yang pintunya bertuliskan, ‘Kelas Teater’.
Lagi-lagi ruangannya luas dan lega. Beberapa anak memandangiku ketika aku masuk. Seorang perempuan muda berjilbab mendekatiku.
“Adik siapa? Ingin melihat kelas kami?” ia tersenyum ramah. Di tanda pengenal di dadanya memang ia bernama Lina.
“Saya ingin melihat saja kegiatan kelas ini, kalau boleh, soalnya saya penghuni baru,” kataku agak gugup.
“Boleh. Adik boleh ikut kelas ini, tapi sekali saja. Kalau mau jadi anggota harus daftar dulu,” kata Bu Lina. Lalu kami berkenalan dan mengobrol sebentar.
Akupun ikut kelas itu, dan berkenalan dengan murid-muridnya. Salah satu yang kukenal bernama Ira, ia ramah dan supel. Inilah calon sahabatku! Ira ternyata sekolah di sekolah yang sama denganku, SDN 205!
“Ra, kamu punya sahabat, nggak?” tanyaku di sela-sela latihan teater. Ira terdiam sebentar. “Aku punya lumayan banyak temen, tapi sahabatku lagi marahan sama aku, gara-gara aku minjem T-shirt dia, padahal aku udah bilang, tapi dia yang lupa. Dia kira aku ngambil T-shirt-nya dia. Aku udah minta maaf, tapi dia nggak mau maafin aku. Padahal aku udah balikin T-shirt dia. Kejadiannya baru kemarin, sih,” dengan sedih Ira bercerita.
“Kamu mau jadi sahabatku, Ra?” tanyaku to the point. Ira tampak kaget, namun ia tersenyum, dan ia... menggeleng!
“Bukannya aku sombong atau gimana, tapi aku mau punya sahabat yang cocok sama aku. Nggak harus sama segalanya, tapi aku nggak tau kamu cocok apa enggak jadi sahabat aku. Dulu aku pernah nerima orang yang mau jadi sahabat aku begitu aja, ternyata dia manfaatin aku. Akhirnya aku ketemu sahabat yang cocok, yang lagi marahan sama aku. Bukan aku nuduh kamu manfaatin aku, aku masih trauma karena orang itu. Maafin aku, Vel,” tutur Ira.
“Enggak apa-apa. Bukan salahmu juga, sih, karena aku memang penghuni baru di sini, wajar kalau kamu menganggapku orang asing. Tapi selama beberapa hari ini aku akan coba, biar kamu tau aku cocok apa enggak jadi sahabatmu,” aku pasrah saja.
“Maaf kalau aku agak sombong. Aku bukannya tidak mau bersahabat denganmu, hanya saja...”
“Sudahlah, aku mengerti,” aku menenangkan Ira. Sepanjang latihan kami banyak mengobrol. Wah, kayaknya, aku, nih, yang bakalan menang lomba! Ya, mudah-mudahan, pikirku girang. Kalau saja Ira merasa cocok denganku, aku akan jadi sahabatnya!
Kalau Dessy menemukan Mira sebagai calon sahabatnya, dan Velya mengenal Ira sebagai calon sahabatnya juga, dan mereka berempat sekolah di SDN 205, apakah Mira dan Ira saling mengenal? Satu kelaskah mereka? Velya belum tahu Ira kelas berapa, begitu juga dengan Dessy, ia tidak tahu Mira kelas berapa.
Dessy menghabiskan hari dengan bermain sepeda berdua saja, dengan Mira. Sedangkan Ira, ia menemani Velya mendaftar kelas teater.
> Malam harinya...
Malam haripun tiba. Dalam kamar Velya, semua barang sudah tertata rapi dan apik. Velya sedang mengisi buku hariannya.
14 Juli. Hari ini aku ikut lomba mencari sahabat, dan aku menemukan calonnya, Ira! Dia ramah dan supel, ya, mudah-mudahan aku menang, deh. Amin. Dessy, sainganku, aku nggak tahu kabarnya gimana. Tapi pas aku pulang tadi aku liat dia lagi main sepeda sama seorang anak sebayaku... Apakah itu calon sahabatnya Dessy? Wah, kalo gini, Ira harus cepet nanda tanganin surat pernyataan, deh. Ya udah, deh, aku udah ngantuk.
Velya menutup buku hariannya. Ternyata ia benar-benar mengantuk. Sepuluh detik kemudian, ia sudah pulas di tempat tidurnya.
Berbeda dengan Dessy. Ia masih berkutat di depan monitor. Jari-jari mungilnya bermain diatas keyboard. Ngapain, sih? Oh, dia lagi chatting ke saudaranya yang tinggal di London, kalau chatting itu, kan, harus dalam waktu yang bersamaan, jadi kalau di sini udah jam 8 malam, di sana masih jam 1 siang! Saudaranya itu dekat sekali dengan Dessy. Namanya Laura, lahir di Indonesia, namun ibunya berasal dari Inggris. Ini isi chatting mereka:
dessy_cantik: Laura, aku baru pindahan, aku juga punya tetangga baru yang baru tinggal di sini.
laura_cute: wah, seru, tuh! Eh, kamu udah punya bestfriend?
dessy_cantik: belum. Sama tetangga baruku itu, kami berlomba mencari sahabat dalam waktu seminggu.
laura_cute: Seminggu itu berapa lama? Aku agak lupa bahasa Indonesia, nih!
dessy_cantik: seminggu itu... a week.
laura_cute: Apa kamu yakin bisa cari best friend dalam a week itu? Apalagi di lingkungan baru. Don’t worry, aku selalu ngedukung selama kamu ngelakuin more hal positive.
dessy_cantik: Yakin! Aku udah temui calonnya, orangnya supel, ramah, sekolahnya sama, lagi! Do’ain aja, ya, biar aku bisa menang lomba!
laura_cute: Amin. Aku mau take a nap dulu. Dah...
dessy_cantik: Hah? Tidur siang? Ini udah jam 8 malam, tau! Waktunya sholat isya!
laura_cute: In my place masih jam 1 p.m. Assalamualaikum... Zzzz...
dessy_cantik: Wa’alaikumsalam... Hoah...
Dessy mematikan komputer dan sholat isya. Setelah itu? Ya tidur!
Hari Kedua: Minggu, 15 Juli 2008
Minggu pagi, banyak anak-anak berolahraga. Velya malah menuju gedung kesenian dengan sepatu rodanya. Ia mencari rumah Ira. Katanya di sekitar gedung, cari saja, Ira ada di depan rumah. Dessy bermain bulu tangkis dengan Mira, di lapangan. Keperluan sekolah besok sudah di siapkan oleh mereka.
> Dessy
Aku berlatih bulu tangkis dengan Mira. Ternyata, ia lumayan jago olahraga. Selang lima menit, ia mendapat nilai 19 poin. Mira yang jago apa aku yang payah, ya?
“Udah, yuk, Des, aku capek, istirahat dulu,” pinta Mira. Aku meletakkan raketku di sebuah bangku. Ia meneguk botol minum yang ia bawa dari rumah.
“Ra, kamu kelas berapa, sih?” tanya aku membuka obrolan.
“Aku? Kelas 5, di SDN 205 seperti yang kukatakan kemarin,” jawab Mira.
“Aku juga,” kata aku. “Des, kita sekelas!” pekik Mira girang.
“Benarkah? Aku nanti duduk sebangku denganmu, ya! Boleh, kan?” pintaku. “Tentu saja! Karena teman sebangkuku sekaligus sahabatku yang lama...” desah Mira. Aku memandang Mira penuh tanya.
“Ceritakan,” pintaku.
“Tiga hari lalu, aku mengeluh, T-shirt putihku hilang. Aku sampaikan keluhan itu pada sahabatku. Ternyata ia yang meminjamnya. Lalu aku marah, dan aku berkata, ‘Kok, kamu minjem asal minjem, nggak bilang aku, dulu?’, lalu ia mengaku, ia sudah pernah bilang waktu itu, tapi aku tidak mendengar. Saat ini aku masih marah besar padanya, walaupun ia telah mengembalikan T-shirt itu,” jelas Mira.
“Gimana cara ia mengembalikannya? Dengan ramah, atau marah juga?” tanyaku.
“Ia membungkus T-shirt itu dengan plastik bercorak lucu. Lalu didalam bungkusan itu ia memasukkan sekotak coklat putih kesukaanku, dan secarik surat yang kertasnya wangi. Dalam surat itu ia minta maaf sebesar-besarnya padaku,” kata Mira.
“Kamu nggak maafin dia?”
“Tentu saja enggak. Keenakan banget, dia! Dia, tuh, udah bikin salah berkali-kali, selalu ia minta maaf, lalu kumaafkan. Yang kubenci dari dia, kecerobohannya itu.”
“Berkali-kali? Separah apa kesalahannya?”
“Dari matahin pensilku, terus dia pernah minjem flash disk aku, isinya ada file aku, terhapus sama dia. Terus dia udah copotin tutup tempat pensilku, walaupun dia udah ngeganti sama tempat pensil yang sama dan sebatang pulpen, tapi aku tetap bersikeras!” papar Mira. Aku agak resah, kenapa Mira memutuskan hubungan persahabatan hanya karena itu?
“Mira, kamu nggak nyesel, marahan sama sahabatmu itu?” tanyaku.
“Nggak. Lagipula, aku punya banyak temen yang baik-baik, kayak kamu. Nggak kayak dia yang bisanya cuma ngerusakin barang orang,” ketus Mira.
“Ya nggak gitu, dong, Ra. Kamu emang dibuat kecewa sama dia, tetapi sebelumnya, pasti kamu juga pernah bikin dia kecewa, kan?” aku berusaha memancing Mira untuk berbaikan pada sahabatnya kembali. Mudah-mudahan, aku, Mira, dan sahabat Mira itu dapat saling bersahabat.
Mira terdiam. “Iya, sih, tapi...” ia menghentikan kata-katanya beberapa saat. Kuharap ia mau menerima saranku.
“Nggak! Kali ini kesalahannya besar, dan tidak hanya membuatku kecewa, ia membuatku marah, sedih, dan kesal. Aku resmi menjadi musuhnya!” seru Mira berapi-api. Jawaban yang membuatku kaget dan amat tak disangka.
“Kukira kau akan mendukungku, Dessy,” keluh Mira, “Tapi tak apa, tak masalah bagiku,” lanjutnya lagi. Aku merasa tak enak hati. Walaupun aku agak sebal karena Mira tidak mau menerima saranku, aku diam saja.
“Sudahlah, tak usah dipikirkan. Kita main lagi, yuk,” ajaknya ramah. Ia mengambil raket dan koknya lagi. Lalu kok ia lambung-lambungkan di udara hingga jatuh. Aku mengambil raketku dan mulai bermain.
>Velya
Setelah berputar-putar gedung seni, akhirnya aku menemukan juga rumah Ira.
“Vel, aku udah mutusin, aku nggak mau sahabatan sama dia!” semprot Ira tiba-tiba. “Dia siapa, Ra?” tanyaku.
“Mantan sahabatku. Yang sekarang aku lagi marahan sama dia,” kata Ira dingin. “Semalam aku telepon dia dan aku bilang, aku juga marah sama dia. Jadi kami resmi sebagai musuh,” cerita Ira. Hatiku miris mendengarnya. Sahabat menjadi musuh? Berapa kenangan yang dikorbankan? Pasti sebelum bermusuhan mereka sempat bercanda bersama puluhan kali dan tertawa bersama ratusan kali. Apa tidak terlalu sayang?
Terkadang, kalau aku bermusuhan dengan seseorang, yang terlintas di benakku hanyalah kenangan manis bersama orang itu. Ketika mengenang, aku berpikir, sayang sekali puluhan kenangan manis ditukar dengan permusuhan selama-lamanya? Rugi, dong! Kalau sudah mengingat hal itu, aku segera berbaikan dengan orang yang kumusuhi itu.
“Ra, kamu nggak sayang, kehilangan sahabat sebaik sahabatmu itu hanya karena perkara kecil?” tanyaku.
“Itu bukan perkara kecil, Vel. Terus, buat apa aku kasihan sama dia, bodo amat. Aku punya banyak teman, termasuk kamu. Tinggal cari saja yang mau bersahabat denganku,“ tutur Ira. Hah, Ira, Ira.
Ira mengajakku berlatih teater di kamarnya. Katanya, bulan depan akan ada pertunjukkan teater, ia ingin terpilih sebagai tokoh utama. Aku juga.
“Ra, coba mainkan naskah Bu Lina yang ‘Mimpi Putri’ itu,” pancingku. Kemarin aku mendapat naskahnya, cukup panjang, 10 lembar folio.
“Aku akan memainkan bagian Putri Sissy yang bagian paling pertama,” sahut Ira, ia mulai memainkan bagiannya, sesekali melihat naskahnya. Selesai berakting, ia balik memintaku berakting di bagian manapun yang kusuka.
“Ra, sahabatmu itu satu kelas, kan denganmu?” tanyaku seusai berakting.
“Ia bukan sahabatku, tapi mantan sahabatku,” tegasnya.
“Terserahlah. Tapi ia sekelas denganmu, kan?” tanyaku lagi. Ia mengangguk. “Biasanya aku duduk sebangku dengannya, tapi sepertinya tidak untuk kali ini. Aku nggak akan mau sebangku dengannya, dan akupun tahu ia juga tak mau sebangku denganku. Kupikir kita bisa sebangku kali ini, Vel,” kata Ira. Aku hanya tersenyum. “Boleh,” sahutku. “Aku senang punya teman sebangku seperti kamu,” kataku.
Kami mengobrol banyak sekali, tentang sekolah, hingga kami bertukar alamat e-mail, nomor handphone, dan kami berjanji besok akan berangkat sekolah bersama.
> Dessy
Selesai bermain bulu tangkis, kami tak kehabisan kegiatan. Aku dan Mira akan mengunjungi panti asuhan yang tak jauh dengan rumahku, besok. Hari ini kami menyortir pakaian yang akan disumbangkan.
Mula-mula pakaianku. Aku membongkar seluruh isi kardus (pakaian-pakaianku belum tertata di lemari, masih dalam kardus) yang berisi pakaian. Kami tertawa riang, saling bercerita.
“Ra, aku boleh bilang sesuatu, nggak sama kamu?” tanyaku hati-hati.
“Apaan?” Mira menatapku penasaran. Lalu aku menyodorkan selembar kertas Surat Pernyataan Persahabatan yang siap ditndatangani.
“Apa ini?” tanya Mira heran. “Baca saja,” sahutku.
“Aku ingin punya sahabat, dan aku ingin kau yang mengisinya, karena aku ingin bersahabat denganmu,” paparku. Mira tersenyum. “Tapi, kenapa? Kenapa mesti tanda tangan di sini? Aku jadi sahabatmu, ya, jadi saja, tak usah tanda tangan surat pernyataan kayak gini. Emang kenapa?” tanya Mira.
“Begini, sebenarnya, aku...” tiba-tiba aku teringat sesuatu. Pasal nomor tujuh, tentang ketentuan lomba, yang berbunyi, “Jangan bercerita pada siapapun tentang lomba ini, termasuk sahabat sendiri karena lomba ini rahasia”, berarti aku tidak boleh menceritakannya ke Mira.
“Em, Ra, aku cuma pingin punya surat kayak gitu aja, biar aku selalu ingat persahabatan kita,” sahutku berargumen.
“Ya udah. Tapi aku nggak bawa pulpen, Des. Besok aja, ya, di sekolah?” kata Mira. Aku mengangguk. “Tapi suratnya aku yang pegang, besok aku bawa, deh,” janjiku.
“Besok kita berangkat bareng, yuk,” ajak Mira yang langsung kusambut ceria. Dan kami menyortir pakaian sambil bercengkrama. Aku berhasil mengumpulkan daster, kaos, celana, dan rok. Setelah itu kami menyortir pakaian Mira. Di lemarinya yang besar, berjejalkan berbagai macam pakaian (banyak baju kekecilan dan celana kependekan). Setelah disortir, untuk sumabangan Mira memberikan piama, daster, kaos, celana, dan rok. Juga koleksi buku Mira yang sudah menumpuk, tapi jarang dibaca, kami berhasil mengumpulkan 20 novel anak dan 15 komik. Melelahkan memang namun menyenangkan.
> Velya
Aku belum tahu gimana kabar Dessy. Tapi aku punya banyak kegiatan hari ini. Ira mengajakku mengunjungi perpustakaan kota dengan bersepeda (jarak perpustakaan dengan rumahku hanya sekitar 1,5 km), lalu sorenya kami ada kelas teater lagi. Wah, kayaknya nggak sempat minta Ira tanda tanganin surat pernyataan, nih. Besok aja, deh.
Setelah kami mengambil sepeda, dan bersepeda selama 15 menit, akhirnya sampailah kami di perpustakaan anak yang cukup besar dan ber-AC. Kami masuk dan mulai memilih buku. Rencananya kami akan meminjam beberapa buku, tidak membaca di perpustakaan. Sepuluh menit kemudian, aku sudah dapatkan 5 komik dan 7 novel. Ira ternyata hobi membaca, ia meminjam 3 komik, 4 majalah, 10 novel, dan 5 kumpulan cerpen.
Aku diberi kartu anggota perpustakaan, yang ternyata Ira sudah punya. Aku akan mengembalikan buku-buku itu dalam jangka waktu 2 minggu, sedangkan Ira hanya seminggu!
Dalam perjalanan pulang aku bertanya pada Ira.
“Ra, kamu suka baca, ya? Borong buku segitu banyaknya, cuma seminggu, lagi,” kataku sambil mengayuh sepeda.
“Nggak juga. Cuma aku ingin melupakan mantan sahabatku. Dia itu tidak suka membaca, dan kalau aku tidak membaca aku akan selalu ingat dia. Makanya aku borong buku banyak, biar kalo aku baca, aku ngelupain dia. Selain itu, hehehe, aku ngambil buku sekaligus banyak, kan, kalo minjem banyak dapat diskon! Terus, aku cuma minta seminggu, karena biaya, bila jangka waktu semakin lama, kan, semakin mahal, Vel. Kamu tadi bayar berapa?” jawab Ira yang diiringi bertanya padaku.
“Dua minggu 2000 rupiah. Satu buku 500 rupiah, kalo pinjam 10 buku ke atas diskon 15%. Jadi Rp. 5100,00. Semuanya... Rp. 7100,00,” hitungku.
“Kalau aku, seminggu 1000 rupiah, 20 buku ke atas, kan, diskon 25%, jadi...” Ira diam dan menghitung-hitung, tetapi masih mengayuh sepedanya.
“Rp. 8250,00 + Rp. 1000,00 = Rp. 9250,00,” seru Ira.
“Aku meminjam buku hampir 2x lipat banyaknya darimu, tetapi aku hanya bayar sekitar 1,3 kali lipat darimu,” serunya girang. Aku hanya tersenyum. Aku merasa ini saatnya memberitahukan Ira perihal surat pernyataan. Aku berhenti mengayuh. Ira ikut berhenti. Aku merogoh saku, mengambil surat pernyataan. Ira tampak agak heran.
“Ng, Ra, aku tahu kamu emang nggak mau nerima sembarang orang untuk jadi sahabat kamu, dan setelah kamu kenalan sama aku, pasti kamu tau gimana sifat aku. Aku mau kamu nanda tanganin ini,” jelasku sambil menyodorkan surat pernyataan.
Ira diam membaca. Lalu ia tersenyum.
“Vel, aku sebenarnya mau aja jadi sahabat kamu, tapi kamu harus ngedukung permusuhan aku sama mantan sahabatku,” kata Ira. Mendukung permusuhan?!?! Wah, gimana, ya? Aku resah banget, nih!
“Gini aja, deh, lihat besok saja, aku belum bisa bikin keputusan sekarang, Ra. Maaf, ya,” ujarku halus.
“Nggak masalah,” sahut Ira akhirnya.
> Sedikit cerita...
Besok hari Senin, hari pertama tahun ajaran baru SDN 205. Di malam ini, Dessy sedang menulis agenda hariannya.
15 Juli 2007. Diary, hari ini aku ketemu calon sahabatku, Insya Allah aku bisa menang lomba. Besok hari pertama sekolah, dan dia akan menanda tangani surat pernyataan! Aku emang belum tau gimana kabar Velya, tapi tadi dia SMS, kalau dia udah temuin calonnya, tapi belum tanda tangan surat. Lihat saja besok. Masih ada waktu 6 hari lagi. Aku balas SMS dulu, ah...
Dessy meraih HP-nya. Ia mengetik sesuatu.
Kamar Velya yang hangat membuat Velya hampir tertidur, kalau tidak ada dering HP-nya. Segera ia membuka pesan yang baru masuk.
“Hai, aku juga udah ketemu calon sahabatku, tunggu aja, lihat siapa pemenangnya! From: Dessy”
Velya tersenyum. Ia tidak jadi tidur, ia ingin menulis diari dulu. Kita lihat apa yang ia tulis.
15 Juli. Hari ini aku sama Ira pergi ke perpustakaan, kami meminjam banyak buku. Baru satu judul buku yang aku tamatkan, ‘Sang Idola’, karangan Alline. Sisa buku lainnya akan kubaca besok. Soal lomba mencari sahabat. Insya Allah, Velya Ananditha akan jadi pemenangnya! Kalaupun Ira nggak mau menanda tangani surat pernyataan, aku bisa cari sahabat yang lain. Masih ada waktu 6 hari lagi, tenang saja. Apalagi besok aku sekolah. Aku bisa cari sahabat sebanyak-banyaknya!
Velya menghempaskan pena ke meja belajarnya,dan meletakkan buku hariannya di rak buku. Ia menyempatkan diri untuk membalas SMS Dessy.
“Besok calon sahabatku akan menanda tangani surat pernyataannya, kamu belum, kan?” ketik Velya. Beberapa saat kemudian terdengar HP berdering, Dessy membalas.
“Zzz...”
Hari Ketiga: Senin, 16 Juli 2008
Inilah hari pertama tahun ajaran baru SDN 205. Murid-murid baru—murid kelas satu dan anak yang pindah sekolah—tampak tegang karena asing dengan sekolahnya yang baru. Tapi tidak begitu dengan Velya dan Dessy. Mereka tampak senang karena masing-masing yakin akan mendapatkan sahabat dalam waktu dekat ini.
>Dessy
Mira menjemputku pukul 06.30. Ternyata sekolah baruku masuk pukul 06. 45. Padahal sekolahku yang dulu pukul tujuh tepat. Aku senang sekali, Mira akan menanda tangani surat pernyataan. Walau terakhir kali aku melihat Velya dua hari lalu bersama seorang anak sebayanya, aku yakin itu calon sahabatnya dan menurut SMS-nya sang calon sahabat akan menanda tangani suratnya hari ini. Memang aku agak was-was, takut kalah. Tapi aku yakin bisa menjadi sahabat Mira. Ya, aku selalu berdo’a biar aku menang.
Aku sampai di sekolah pukul 06.40. Velya sudah datang rupanya. Benar apa yang ia katakan, aku melihatnya mengobrol dengan seseorang!
“Hai, Vel! Ngapain?” tanyaku menghampiri Velya.
“Eh, kamu, Des!” kata Velya, lalu berbisik, “Ini calon sahabatku, sekolah di SD ini juga, sekelas dengan kita.” Wah, sekelas?
“Aku juga, Vel. Calon sahabatku juga sekelas dengan kita. Berarti kita berempat sekelas!” bisikku senang. Tiba-tiba seseorang yang dari tadi bersama Velya mendekati kami.
“Ayo, Vel,” sahutnya keras dengan nada tidak suka. Ia menarik Velya ke lapangan upacara. Velya tersenyum padaku. Aku membalasnya. Mira yang tadi kutinggal di taman tiba-tiba datang.
“Kamu ngomong sama siapa, sih?” tanya Mira.
“Oh, itu, Velya. Rumahnya disamping rumahku. Kenapa?” aku balas bertanya. Mira terlihat merengut. Wajah mungilnya jadi memerah. Lalu ia menyeretku ke taman sekolah.
“Dessy!” ia membentakku tiba-tiba.
“Kamu nggak tau siapa Velya itu?” gertak Mira. “Aku tau, apa kamu yang nggak tau?” sahutku.
“Aku emang nggak begitu tau tentang dia, tapi aku melihat, dari tadi ia berjalan bersama Ira, musuhku! Kalau kamu mau jadi sahabat aku, kamu nggak boleh temenan sama teman-temannya Ira!” Mira berteriak-teriak.
“Udahlah, Ra... Maafin aku, aku, kan nggak tau...” kataku membela diri.
>Velya
Hari ini hari pertamaku di sekolah baruku... Ira menjemputku pukul 06.25, untung aku sudah siap! Kami mengobrol banyak di perjalanan, tentang hobi masing-masing. Sampai di sekolah, baru sekitar 5 anak kelasku yang baru datang. Aku meletakkan tas di pojok, baris kedua dari depan. Ira meletakkan tasnya disampingku. Lalu menggandengku ke teras sekolah.
“Vel, aku, sih, mau aja sahabatan sama kamu, tapi... ya, kayak yang aku bilangin kemaren, kamu harus ngedukung permusuhan aku sama Mira, musuhku. Kalau kamu setuju, nanti aku tanda tanganin suratnya pas istirahat. Gimana?” tanya Ira. Aku yang berjalan santai langsung berhenti. Semalam aku belum memikirkan ini. Aku nggak mau kehilangan sesuatu yang ada di depan mata setelah dicari, tapi aku juga amat enggan mendukung permusuhan.
“Ng...” aku terdiam. Pandanganku menerawang ke gerbang sekolah, lalu ke lapangan upacara, ke pintu kelas, dan ke taman... Wah, Dessy ada disana! Ia duduk bersama seorang anak yang sepertinya calon sahabatnya. Kami beradu pandang, dan ia menghampiriku!
“Hai, Vel! Ngapain?” tanya Dessy. Aku berlari menghampirinya. Meninggalkan Ira yang menatapku bengong.
“Eh, kamu, Des!” kataku, lalu berbisik, “Ini calon sahabatku, sekolah di SD ini juga, sekelas dengan kita.”
“Aku juga, Vel. Calon sahabatku juga sekelas dengan kita. Berarti kita berempat sekelas!” bisiknya senang. Wah, kami satu kelas! Tiba-tiba Ira menghampiriku.
“Ayo, Vel,” sahutnya keras setengah memaksa. Ia menggandengku ke arah lapangan upacara. Aku tersenyum kepada Dessy, ia membalas.
“Vel, kamu tau siapa dia?” gertak Ira. Aku mengangguk
“Dia tetanggaku, namanya Dessy, satu kelas dengan kita. Ia sama sepertiku, anak baru,” jelasku singkat.
“Siapapun namanya, jangan dekati ia! Kalau tidak, aku tidak mau menanda tangani surat kamu!” bentaknya. Wajah putihnya memerah karena marah.
“Kenapa?” tanyaku tak mengerti.
“Dari tadi aku lihat si Dessy itu, ia bergandengan dengan seseorang. Kamu tau siapa dia?” tanyanya. Aku menggeleng.
“Dia Mira, musuhku! Kalau kamu tidak sahabatku, jangan bermain sama siapapun yang berinteraksi dengan Mira!” serunya ketus. Aku tambah bingung. Jika aku memusuhi Dessy, berarti aku melanggar pasal nomor empat tentang ketentuan lomba. Kan, nggak boleh musuhan...
“Lalu, kalau misalnya aku bermain dengan orang-orang yang berinteraksi dengan Mira, apa yang kau lakukan...?” tanyaku lirih.
“Aku ikut memusuhimu!” sahut Ira ketus. Glek! Bagaimana ini? Apa aku harus mencari sahabat lagi? Rasanya... Daripada kena denda, aku bisa cari sahabat lagi, kan? Tapi aku harus bilang apa sama Ira? Jujurkah?
“Ra...” panggilku takut-takut. Ira menoleh.
“Aku... Aku kayaknya... Maaf, Ra, tapi aku nggak bisa ngedukung permusuhan kamu... Aku... Aku nggak bisa marahan sama Dessy, Ra, walaupun Dessy sahabat Mira...” sauaraku seperti tercekat di tenggorokan.
“Ya sudah, sana! Pindahkan tasmu dari bangkuku!” bentaknya keras. Aku segera menuju kelas, buru-buru memindahkan tasku dari meja Ira ke meja paling belakang, pojok kiri kelas. Setelah memindahkan tas, aku berputar-putar di koridor sendirian. Seorang gadis berjilbab menyapaku.
“Kamu kelas 5, ya?” tanya anak itu. Aku mengiyakan. “Kamu?” tanyaku.
“Sama. Aku murid baru di sekolah ini. Aku sudah lama tahu sekolah ini, karena kakakku, alumninya, bersekolah di sini. Adikku juga. Tapi aku enggak. Aku sekolah di MI 92, dekat, kok, dari sini. Aku pindah dari sini karena aku mengincar mutu kurikulum di sekolah ini,” ceritanya singkat.
“Aku juga. Aku murid baru juga, ngg... aku pindah karena lingkungan di sini nyaman, lebih nyaman dari tempat tinggalku dulu yang di rumah susun, eh, emang di MI 92 mutu kurikulumnya nggak bagus?” ceritaku sambil bertanya.
“Bagus, sih. Tapi tentu lebih bagus di sini. Kalau di sana, agama terus.”
“Kamu bosan?”
“Enggak, sih, tapi aku udah banyak pengajian, setiap malam di masjid, lalu setiap minggu di rumahku, dan setiap bulan di rumah nenek, sekalian acara kumpul keluarga. Ajaran di pengajianku lebih berbobot daripada di sekolahku, karena pengajianku setara dengan kurikulum agama MTs. Karena mutu kurikulum yang lebih bagusan sekolah ini, aku ke sini. Ini semester pertamaku,” jelasnya. “MI 92 dimana sih, eh...?” aku hampir menyebut namanya, sepersekian detik kemudian aku sadar, aku tak tahu namanya!
“Oh, hai, kita lupa berkenalan!” kata gadis itu seolah berpikiran sama denganku. Jilbabnya tertiup angin.
“Aku Rara,” katanya sambil menyodorkan tangannya padaku.
“Velya,” aku menyambut uluran tangannya, “MI 92 dimana, sih, Ra?”
“Dekat. Tiga blok dari sini. Kalau kau mau kesana, pulang sekolah kuantarkan. Tempatnya bagus. Ada outbound, warnet, perpustakaan dengan 5000 naskah cerpen dan 100 buku agama, lapangan 20m x 12m, aula, mushola, bangunannya tingkat tujuh, besar, mewah, megah, dan kokoh. Karena, selain MI, ada MTs dan MA-nya.
TEEET!
Bel berdering. Rara mengajakku ke lapangan unntuk berbaris.
Kulihat lautan anak-anak di lapangan. Kutaksir, ada sekitar 200-250 murid sekolah ini, dan 15-20 orang dewasa berseragam biru tua. Kata Rara, mereka para guru. Aku mengambil barisan di belakang, sebaris dengan Dessy. Rara berbaris di depan karena ia agak pendek. Kupikir-pikir, bila Ira tersingkir dari gelar ‘calon sahabat’-ku, mungkin akan kuincar Rara. Lama aku melamun sendiri dalam upacara, hingga ketika bagian penaikan bendera, aku tidak ikut menyanyikan lagu ‘Indonesia Raya’, padahal aku lumayan suka lagu itu. Akibatnya, seorang guru melihatku tidak bernyanyi, menegurku. Hhh, rasanya malu sekali ditegur. Padahal aku jarang kena tegur, apalagi aku murid baru.
Dengan jelas aku mendengar protokol upacara bendera berkata, “Amanat pembina upacara, barisan diistirahatkan!”
Lalu kulihat Pak Walid, kepala sekolah, maju ke podium, mengucapkan salam dan kata-kata pembuka.
“Bagi para anak kelas 1, dan anak-anak pindahan, selesai upacara bendera jangan langsung masuk kelas. Kalian ke aula dulu. Anak-anak lain langsung masuk kelas, dan tahun ini masing-masing kelas ada sepasang guru. Untuk guru Bahasa Inggris, Sejarah, Olahraga, Agama, Geografi, Kimia, dan Komputer ada masing-masing guru untuk keenam kelas,” begitu kata-katanya. Beliau tinggi tegap, tubuhnya yang berotot tampak gagah, seperti remaja. Padahal sebagian kepalanya yang dipenuhi uban menunjukkan bahwa ia berusia lebih dari kepala empat. Tak lama, beliau mengucapkan salam.
Pemimpin upacara berujar, “Seluruh barisaaaaan! Siaaap, grak!”
Setelah menyanyikan lagu ‘Padamu Negri’—masih lagu favoritku, memang semua lagu wajib aku suka, kecuali beberapa—lalu berdo’a, upacara selesai. Kami, para anak baru, sesuai perintah Pak Walid, kami menuju aula.
> Dessy
Aku nggak boleh melanggar nomor empat yang tidak membolehkan aku dan Velya bermusuhan. Lalu... apa yang kulakukan? Kucoba bicara baik-baik saja dengan Mira, agar boleh tetap berteman dangan Velya.
“Ngg, Mir, ngg... Aku boleh, nggak temenan sama si Velya, yang dari tadi bareng si Ira itu...” kataku lirih.
“Ha? Apa? Maaf, aku tidak mendengar,” kata Mira. Rupanya ia sibuk membersihkan bangku taman yang penuh dedaunan.
“Gini, Ra, tapi ka mu jangan marah, ya...” sahutku takut-takut.
“Memang apa yang mau kau bicarakan? Kok pake takut aku marah segala? Tenang, aku nggak akan marah.”
“Benar, ya, apapun masalahnya?” aku mencoba meyakinkan.
“Ya, ceritakanlah, jangan ragu!”
“Ra, aku... Aku boleh, kan, tetap temenan sama si Velya itu? Yang sama Ira terus.”
“Apa?! Kamu...” hampir saja amarah Mira meledak, kalau saja aku tidak menahannya.
“Maksudku... Ya, terserah kamu, kalau nggak boleh juga nggak apa-apa, kok. Tadi, kan, kamu juga udah janji nggak akan marah,” aku berusaha meredakan amarahnya.
“Ya sudah! Boleh saja!” kata-kata Mira yang membuatku sedikit lega... Tapi... “Tapi, pindahkan tasmu dari meja yang sama dengan mejaku!”
Hhhfff... Aku mendesah. Aku segera kembali ke kelas. Memindahkan tasku ke bangku yang lain. Aku tidak melihat bangku yang kosong, kecuali bangku milik Ira, aku tahu dari tas merah mudanya. Aku tak mungkin duduk di sana, Mira akan memusuhiku nanti. Tapi ada bangku di paling belakang, di sebelah pojok. Memang sangat pojok, karena itu di pojok kanan, dan meja guru di pojok depan kiri.
TEEET!
Bel sekolah! Aku buru-buru menuju lapangan untuk berbaris. Aku berbaris di barisan belakang. Velya juga, karena kami sama-sama tinggi.
Saat guru berpidato, kami mendengarkan dengan baik.
“Bagi para anak kelas 1, dan anak-anak pindahan, selesai upacara bendera jangan langsung masuk kelas. Kalian ke aula dulu. Anak-anak lain langsung masuk kelas, dan tahun ini masing-masing kelas ada sepasang guru. Untuk guru Bahasa Inggris, Sejarah, Olahraga, Agama, Geografi, Kimia, dan Komputer ada masing-masing guru untuk keenam kelas,” begitu kata-kata kepala sekolah, namanya Pak Walid. Pak Walid memiliki seorang anak yang, kata Mira, sekelas denganku. Dari air muka Pak Walid yang bersahabat, ramah, dan penyabar itu sudah ketahuan bagaimana sifat anaknya itu, karena, masih kata Mira, sifat Pak Walid sama dengan anaknya itu. Wah, anak itu akan kuincar jadi calon sahabatku.
“Shh, shh, Des, shh,” panggil Velya dengan berbisik. Aku menoleh.
“Hei, udah tanda tangan?” bisiknya. Aku menggeleng.
“Aku nggak bisa ngobrol di sini. Istirahat nanti temui aku di taman dekat kantin, kita bahas soal lomba,” bisikku takut ketahuan guru.
Setelah upacara usai, aku dan beberapa anak baru langsung menuju aula. Kulihat Velya berada dibelakang barisan, menggandeng seorang gadis berjilbab. Apa itu sahabatnya? Lalu, bagaimana dengan Ira, sahabatnya? Ah, entahlah.
Aku memasuki aula. Langit-langitnya tinggi lega. Lantainya dilapisi keramik marmer mahal. Warnanya keemasan, dindingnya berlapis wallpaper putih dengan strip merah ditengahnya. Ada panggung kecil, 5m x 2m, tingginya setengah meter, dilapisi karpet merah. Beberapa kursi lipat warna merah berjejer tidak teratur di lantai marmer. Mewah dan modern. Sekilas seperti ruang dansa. Anak-anak lainnya tampak mengagumi aula mahal ini.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” sapa Pak Walid, berdiri di panggung kecil itu sambil memegang mikrofon.
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab anak-anak.
“Silakan duduk di kursi yang tersedia...” kata Pak Walid. Anak-anak berebutan mencari kursi. Aku mengitarkan pandangan, berlari menuju kursi di belakang kursi Velya.
“Anak-anak, SDN 205 ini terkenal dengan kehebatan murid-muridnya dalam seni. Selain itu, lulusan kelas 6 kemarin memiliki nilai UN yang tinggi, rata-rata 8,75, dan 99% murid dapat naik kelas dengan rata-rata 8,00. Kalian melakukan seleksi ketat sekali, hingga 500 pendaftar hanya 50 anak yang diterima, setelah itu...” Pak Walid memulai dengan menceritakan kehebatan murid-muridnya, tentang sekolah kami yang mendapat beasiswa untuk membangun sekolah, termasuk beasiswa untuk membangun aula mahal ini.
Selama tiga puluh menit kami mendengarkan Pak Walid berbicara, tentang sekolah, letak-letak kelas dan ruangan lain, dan yang paling utama, ia menghimbau kami untuk belajar terus.
“Shh, Dessy,” panggil Velya. Ia menoleh ke belakang, karena aku duduk di belakangnya.
“Apa?”
“Mana sahabatmu?”
“Ia... Ah, sudahlah. Kamu sendiri? Mana Ira?” tanyaku
“Ira? Ia... Nanti kuceritakan. Bagaimana dengan Mira?” ia menanyakan hal yang sama. Aku menggeleng. “Untuk itu butuh waktu. Tidak disini,” kataku, “Itu siapa, Vel?” tanyaku, menanyakan sang gadis berjilbab.
“Dia? Rara,” jawabnya singkat. Ia mencondongkan badan ke belakang.
“Kenapa nggak bareng Ira? Kulihat tadi Ira seperti menjauhimu.”
“Sudahlah. Untuk menceritakannya butuh waktu. Tidak disini,” Velya mengikuti kata-kataku. Sang gadis berjilbab memanggilnya. Ia kembali duduk. Lalu tampak mengobrol dengan si Rara.
Sepuluh menit kemudian, aku kembali ke kelas. Aku berjalan menuju bangku belakang. Sendiri. Tapi... Achi didepanku! Achi anak Pak Walid! Wah, ini calon sahabatku. Achi, rambutnya ikal panjang, tergerai ke punggung. Kacamata yang ia pakai lucu, berbentuk persegi panjang, bingkainya setengah.
“Hai, boleh kenalan, nggak?” Achi menoleh ke belakang. Aku tersenyum.
“Tentu boleh! Aku Dessy, kamu Achi, kan?” tanyaku senang.
“Kamu tahu darimana?”
“Dari Mira!”
“Oh, dia. Mira itu sepupuku! Sepupu jauh, sih, tapi kami lumayan dekat. Tahu, nggak, Mira punya sahabat, namanya Ira. Biasanya berdua terus. Mereka kok, tumben, jauh-jauhan duduknya. Kamu tahu kenapa?”
“Lho, kok, tanya ke aku?” aku menghindar memberikan jawaban.
“Abis, tadi aku liat kamu bareng Mira terus!” sahutnya sedikit mendesak.
“Mereka marahan,” jawabku datar. Achi tampak kaget. “Wah, nggak bisa dibiarkan! Mira kalo marah meledak-ledak, bisa gebrak-gebrak meja dia, apalagi Ira, ia bisa mengatakan apa saja yang melukai hati orang, sekeras apapun hatinya,” kata Achi. Dari tadi ia tersenyum sambil berbicara tiada henti.
“Dulu aku pernah marahan sama Mira,” cerita Achi. Aku setengah tidak percaya. “Tapi aku nggak tahan, akhirnya aku tulis surat, di suratnya itu ada puisi. Mira luluh dengan puisiku. Kami akhirnya berbaikan.”
“Kamu seneng nulis puisi?” tanyaku. “Ya, begitulah. Aku pernah menang lomba puisi se-kelurahan. Eh, bukannya aku sombong, ya, tapi aku seneng banget nulis puisi. Puisiku yang dimuat di media ada 5, di komputerku aku menyimpan file dengan 10 puisi, aku nggak tahu itu bagus apa enggak, terus di diariku ada 20-an puisi,” Achi tidak berhenti bicara. Sepertinya ia tidak akan berhenti kalau tidak dihentikan.
“Eh, Chi, aku juga seneng, lho, nulis puisi,” sahutku. Achi melirikku.
“Benarkah? Kalau gitu, ntar siang kerumahku, yuk, kita bikin puisi bareng,” senyum Achi. Ia memang ramah seperti Pak Walid, tapi tidak sewibawa Pak Walid. Ia supel dan agak cerewet. Tapi aku suka.
“Oke. Aku punya sekitar 20-an puisi dan 5 cerpen. Belum pernah di publikasikan, bagaimana kalau kita edit besar-besaran karya kita itu?” tanyaku.
“Ya! Dan kita mengirimnya ke penerbit! Atau kita bacakan bulan depan, saat pensi tiba!” seru Achi bersemangat. Murid-murid lain mengobrol semua. Termasuk teman sebangku Achi, ia mengobrol dengan dua teman depannya. Aku memerhatikan kalau-kalau ada guru yang masuk kelas kami.
“Pensi?” tanyaku. Sekolah lamaku mengadakan pensi hanya ketika perpisahan murid kelas 6. Sekarang saja bulan Juli, berarti pensinya Agustus... Pensi apaan di bulan Agustus?
“Iya, pensi sekalian menyambut 17-an,” jawab Achi. Kami mengobrol hingga guru masuk kelas dan memberitahukan jadwal mata pelajaran.
> Velya
Setelah upacara, aku memasuki aula. Wah... mewah sekali...
“Tahu, nggak, Vel, aula sekolah 92 nggak semewah ini...” Rara berdecak kagum. “Aulanya kayak ruang dansa, ya.”
Seperti biasa, Pak Walid memberikan himbauan agar kami belajar semaksimal mungkin, karena masuk sekolah ini dilakukan seleksi ketat sekali. Hanya 10% yang diterima dari keseluruhan murid-murid yang mendaftar.
Ketika ke kelas, aku mencari tempat duduk Rara. Rupanya ia tidak dapat bangku! Aku mengajaknya sebangku denganku. Ah, akhirnya aku punya teman sebangku juga... Kami mengobrol banyak, hingga sepuluh menit kemudian guru kelasku yang bernama Bu Milla. Ia memberikan jadwal mata pelajaran, jadwal piket, dan nomor absen.
Pukul 9 tepat bel istirahat berbunyi. Aku segera menuju taman, menunggu Dessy. Sambil mengitarkan pandangan, mana dia?
“Velya!” panggilnya. Aku menoleh.
“Hai, Des!” aku balas menyapanya.
“Gimana Ira?” tanya Dessy sumringah.
“Ia marah karena aku berteman denganmu. Karena kau sahabat Mira. Mereka ternyata sedang musuhan,” jelasku.
“Aku juga. Padahal siang nanti kami harus ke panti asuhan. Dia marah karena aku tadi mengobrol denganmu, sedangkan kamu sahabatan sama Ira. Aku mungkin bisa saja memusuhi Ira, tapi aku nggak bisa memusuhi kamu. Ingat pasal nomor empat tentang ketentuan lomba? Aku, kan, nggak mungkin melanggarnya. Tapi aku sudah menemukan calon sahabat lain. Kami juga nggak bisa tanda tanganin suratnya sekarang,” jelas Dessy.
“Aku juga dapat calon sahabat! Namanya Rara. Dia baik. Sekolah lamanya di madrasah,” kataku sambil menyeruput jus mangga yang dibawakan mama.
“Madrasah? Madrasah mana?”
“MI 92,” jawabku. “Kakakku di MA 92 juga!” pekik Dessy girang.
“Sudahlah. Sahabatmu sendiri siapa?” tanyaku.
“Achi. Anak Pak Walid. Dia ramah, supel, dan cerewet. Baru lima menit kenal ia sudah mengundangku ke rumahnya. Ramah sekali, bukan? Jadi, nanti siang aku ada jadwal, ke rumah Achi,” Dessy mengunyah batangan wafer coklat yang baru ia beli, sebelum ke taman.
“Aku juga! Nanti aku mau ke MI 92, diajak Rara. Siapa tahu ketemu calon sahabat yang lebih baik daripada Rara,” kataku. Jus manggaku tinggal sepertiganya. Aku menawarkan Dessy. Ia ganti menawarkanku wafernya.
“Ira marah sama kamu, Vel?” tanya Dessy. Aku mengangkat bahu, “Kamu sendiri? Mira marah sama kamu?”
“Aku nggak tahu. Tapi, kalo dia ngeliat kita ngobrol dia bakal marah, Vel. Mira sensitif banget dengan keegoisannya. Ehm, bukan aku ngomongin orang, ya, tapi dia emang gitu. Ntar ke pantinya gimana, ya?”
“Bahan sumbangan ada di siapa?”
“Mira,” jawab Dessy lirih.
“Kamu bilang saja kalau—“ kata-kataku terpotong oleh pekikan senang Dessy, “Ah, ya! Sepupunya Achi itu Mira! Aku nitip aja ke dia gimana, ya? Good idea, kan?” Dessy sumringah. Aku hanya mengiyakan. Tiba-tiba Rara memanggilku. Aku duluan pergi ke perpustakaan bersama Rara, meninggalkan Dessy sendiri yang melangkah ke kantin.
“Ra, ntar jadi, kan, ke sekolah lamamu?” tanyaku.
“Oh, ke Madrasah 92? Tentu. Langsung, ya, sepulang sekolah. Eh, tadi itu siapa, Vel?” Rara menyeruput habis es buah jajanannya.
“Dessy, tetanggaku. Dia anak baru juga disini,” aku melangkah ke ruang perpustakaan. Lumayan besar, ada belasan rak buku tinggi-lebar, penuh sesak berisi buku. Di pojok ruangan terlihat seorang guru, mungkin guru piket, duduk sambil menulis-nulis sesuatu di meja kayu. Ada bangku rotan panjang, terlihat beberapa anak sedang membaca buku di bangku rotan itu. Ada juga sepetak karpet merah, untuk membaca sambil lesehan.
Aku mengambil sebuah ensiklopedia besar dan mulai membacanya. Rara sendiri mengambil novel komedi.
Pukul 12, aku pulang. Sesuai janji, aku langsung ke madrasah dulu.
Sesampainya disana, aku terkesima. Bukan sama bangunannya yang megah dan besar, bukan juga sama taman-tamannya yang berwarna-warni bunga, bukan pula dengan lapangannya yang diberi batu blok putih yang halus, tapi sama sebuah pengumuman yang dipajang di depan gerbang.
“Setiap anak Madrasah 92, wajib berbaik hati dengan saudara seiman. Semua saudara seiman adalah sahabat kalian, dimanapun kalian berada. Karena sahabat itu juga penting. Seribu sahabat amat sangat kurang sekali, tetapi satu musuh amat banyak. Maka anggaplah seluruh warga di sekitar kalian adalah sahabat,” kata-kata yang terpajang di pengumuman itu.
“Baca itu, ya? Aku selalu terkenang dengan kata-kata itu. Karenanya, untuk mengabadikan itu di hati aku menganggap seluruh muslim, dimanapun mereka berada, siapapun mereka, itulah sahabatku,” senyum Rara. Aku tersenyum.
“Termasuk aku?” tanyaku ragu.
“Termasuk kamu,” jawab Rara tegas. Aku seakan melambung, aku senang sekali, karena sanagat mudah mendapatkan sahabat setelah ditinggal Ira. Alhamdulillah, setelah Ira tidak menganggapku sahabatnya, Raralah calonnya. Tunggu saja besok. Rara akan menanda tangani surat pernyataan!
> Dessy
Sepulang sekolah, aku langsung pulang, terburu-buru makan, mengemas segala buku-buku sastraku, diariku, dan flash disk ke dalam tas selempang kecil putihku. Aku akan ke rumah Achi! Setelah sholat zuhur, aku bergegas ke rumah Achi dengan bersepeda. Katanya ia menunggu di lapangan basket belakang rumah. Ketika aku kesana, Achi sudah menunggu.
“Yuk, langsung saja,” ajak Achi. Dia memimpin bersepeda ke rumahnya. Aku mengekor di belakangnya.
“Di rumah ada Pak Walid, Chi?” tanyaku sekedar basa-basi.
“Enggak. Bapak lagi rapat guru. Pulang sore. Habis itu langsung menuju Aqua Fantasi-nya,” jelas Achi.
“Aqua Fantasi? Apa itu?” tanyaku.
“Aqua Fantasi, itu, Bapak bikin usaha kecil-kecilan dengan membuat kolam renang di Bogor, kami punya tanah disana. Lumayan, keuntungannya bisa buat bayar kontrak rumah,” cerita Achi berseri-seri. Aku hanya ber-O panjang.
Tampaklah kontrakan Achi. Mungil, asri, dan cerah. Mungil karena rumah itu sederhana, asri karena banyak bunga dan rumput di taman sempit Achi, dan cerah karena cat kuning pucat bersinar di pagarnya. Dindingnya putih bersih, bingkai jendelanya dari kayu, pintunya di cat cokelat tua.
“Masuk, Des,” Achi mempersilakan. Aku memandang ruang tamu kecilnya. Karpet merah digelar di depan televisi, ada rak buku kecil berisi buku-buku kuliahan, mungkin buku Pak Walid.
“Duduk aja. Maaf, kami nggak punya sofa,” kata Achi. Aku tersenyum. “Nggak apa-apa. Mulai aja, deh,” kataku ramah. Kami dengan serunya membahas sastra. Hingga aku berpikir, Achi sangat cocok jadi sahabatku! Apakah ia akan menolak?
> Velya
Aku yakin sekali aku akan menang, tentu saja Rara sudah memegang teguh prinsip Madrasah 92 itu. Tinggal minta dia tanda tangan, apa sulitnya? Besok kami ada jadwal eskul. Aku mengambil teater, sama kayak Rara! Gadis itu ternyata senang teater! Ia bercerita, ia memiliki beragam piagam penghargaan dalam bidang drama teater.
Sore ini kami berangkat ke rumah Bu Nanda. Kami akan berlatih teater di rumahnya. Beliau orang yang sangat baik, beliau membuka kelas teater gratis, kaos teater gratis (maksudnya kaos bertuliskan kelas teaternya), sarana gratis, malahan kadang ia membuat drama, lalu beberapa anak disuruh memerankannya. Setelah itu, permainan terbaik akan diberi hadiah, kadang tas sekolah, tempat pensil, alat tulis, dan lain-lain. Bu Nanda seorang figuran pada sebuah film yang diputar di sebuah stasiun televisi swasta, makanya beliau hebat dalam bidang teater dan kaya. Walau begitu, beliau tidak sombong, lho!
“Velya, pulang, yuk. Aku sudah capek, nih,” keluh Rara. “Ya udah, ayo. Kita pamit dulu sama Bu Nanda,” aku menghampiri Bu Nanda, untuk berpamitan.
“Ra, ngg, ada yang mau aku omongin. Tapi kamu mau, ya?” kataku di perjalanan.
“Apa?” sahut Rara pendek.
“Aku punya ini, dan aku mau kamu menanda tanganinya,” aku merogoh saku, mengambil surat perjanjian yang selalu kukantongi.
“Apa ini? Kalau aku jadi sahabatmu, ya, kita bersahabat! Tidak usah seperti ini, ngapain pake tanda tangan segala?” tanya Rara heran.
“Tapi, apa salahnya, cuma tanda tangan?” kataku mengelak.
“Jawab dulu buat apa, baru aku tanda tangan,” kata Rara.
“Nggak bisa diceritakan, Ra. Ini... rahasia. Pokoknya tanda tanagn aja, nggak ada rahasia teramat penting, kok.”
“Kalau nggak ada yang penting, ngapain di rahasiain?” tanyanya mengejar. Aku kebingungan.
“Gini aja, kita sahabatan tanpa tanda tangan segala, kamu mau, kan?” tanyanya lagi, makin membuatku bingung. Apa yang kukatakan?!?! Dessy tidak akan percaya padaku, jika di surat pernyataan, tidak ada nama sahabat. Mungkin aku bisa saja berbohong, tapi, itu dilarang keras.
Akhirnya, diperempatan jalan aku berpisah. Apakah aku harus mencari sahabat lagi?!?!
Aku butuh sahabat, yang tulus dan perhatain. Bukan yang egois seperti Ira atau yang posesif seperti Rara. Hhh, cari kemana lagi, ya?
Hari Keempat: Selasa, 17 Juli 2008
> Dessy
Pagi ini aku dan Achi satu regu dalam permainan basket perempuan, ketika pelajaran olahraga. Kami bermain penuh energik, melawan regu Velya, Ira, Mira, Rara, dan Myftha.
“Dessy, oper kesini!” teriak Achi.
“Mira, kamu jaga di posisi Achi,” teriak Miftha.
Aku mengoper bola ke Achi... ah sayang, bolanya mendarat di tangan Mira, “Siska... Rebut bolanya dari Mira!” perintahku kepada Siska, teman sereguku yang sedang lengah. Siska segera berusaha merebut bola. Ia berhasil! Ring milik regu Velya tinggal dua meter.
“Rara, jaga gawang yang benar! Velya, kamu rebut bola dari Siska,” perintah Mira.
“Baik,” kata Rara singkat. Velya mendekati Siska. Ia merebut bola. Karena Velya panik, dribble-nya jadi kacau. Dan basket itu memantul ke... perut Siska. Gadis itu terjatuh, agak meringis.
“Siska! Ya Allah...” Achi mendekati Siska setelah guru olahraga meniup peluit. “Kamu nggak apa-apa? Ayo, kita ke UKS, Sis,” ajak Achi.
“Sis, ya Allah, maaf, aku nggak sengaja, udah, Chi, biar Siska aku anterin ke UKS,” kata Velya menyela.
“Aduh...” gumam Siska. Velya memapahnya. Anak-anak lain kembali ke kelas. Kecuali aku dan Achi.
“Siska kasihan, ya, pasti perutnya sakit banget, kena bola, eh, ke kantin, yuk!” ajakku.
“Ayo!”
“Oke, lah! Masa’ oke dong! Pisau aja buat membelah, bukan membedong. Hahaha...” kami tertawa bersama. Lalu kami melangkah ke kantin.
“Mbak Dina, mie ayamnya dua, ya. Es tehnya satu, mm, kamu mau apa, Des?” Achi bertanya. “Aku... teh botol aja, deh! Sama teh botol satu, ya, Mbak! Ini uangnya. Makasih,” kataku sambil menerima pesanan. Kami lalu mencari bangku dan duduk.
“Des, kata bapakku, lusa aku pindah sekolah. Baru kamu yang aku kasih tau, anak-anak lain belum,” cerita Achi tak terduga. Aku hampir tersedak. Secepat itukah? Aku kehilangan calon—lagi-lagi. Berarti aku harus mencari yang baru... Ah, malasnya...
>Velya
Pagi ini pelajaran pertamaku adalah olahraga. Sudahlah, hari ini aku pasrah. Aku akan mencari calon sahabat yang baru lagi. Selain Rara. Siapalah yang mau menandatangani surat perjanjian tanpa ba-bi-bu lagi.
Tetapi pagi ini aku masih bersama Rara. Satu regu di permainan basket. Kami bermain dengan serunya hingga aku merebut bola. Dan aku sangat gugup, terlalu panik dan kaget. Dimana gawangnya...? Lha kok aku jadi tulalit begini, masa’ gawang lawan sendiri nggak tau...
Dribble-ku jadi kacau. Tiba-tiba saja, aku men-dribble-nya terlalu ditekan, jadi bola itu memantul ke perut Siska, lawanku. Siska terjatuh dan meringis. Aku buru-buru mendekatinya.
“Sis, ya Allah, maaf, aku nggak sengaja, udah, Chi, biar Siska aku anterin ke UKS,” kataku menyela, saat Achi berusaha membantu Siska berdiri.
Akupun memapah Siska ke UKS. Beberapa temanku yang mengikuti, dicegah oleh guru olahraga.
“Anak-anak, maaf, kalian tak boleh masuk UKS. Hanya Siska dan anak baru yang tadi itu. Semuanya kembali ke kelas. Siska, pelajaran pertama kamu Bapak beri izin. Tapi pelajaran kedua kamu harus masuk lagi, ya? Jangan terlambat. Tapi kalau kamu benar-benar merasa sakit, kamu pulang saja. Anak-anak, sepuluh menit lagi kita latihan atletik, jadi kalian harus ada disini setelah sepuluh menit istirahat,” katanya berpidato singkat.
“Siska, maaf, ya...” aku meminta maaf.
“Sudahlah, aku nggak apa-apa. Lagipula kaum kan nggak sengaja...” katanya. Aku membuka pintu UKS. Tampak dua anggota PMR yang piket sedang mempelajari prakteknya.
“Eh... Siska! Kamu kenapa?” sahut satu anggota PMR itu.
“Mm, kena bola. Perutnya,” kata Siska sambil berbaring di kasur yang disediakan. Anggota PMR yang lain mengambilkan balsem anak-anak yang tidak panas. “Ini, Kak,” katanya.
“Makasih,” sahut Siska perlahan.
“Kak Amara, tadi Kakak dipanggil Pak Yudha, ditunggu di perpustakaaan,” kata Siska pada orang yang tadi menyapanya. “Baik, aku segera kesana. Fitrah, ikuti aku. Kau jaga Siska,” katanya memerintahku. Dua orang petugas piket UKS itu pergi. Tinggal kami berdua.
“Siska... Maafkan aku. Aku tak sengaja,” kataku lagi.
“Sudahlah, Vel. Kamu memang tak salah,” kata Siska sambil mengoleskan balsem di perutnya yang terkena bola. Aku mendesah, “Mau aku buatkan teh?” tawarku hangat. Siska mengangguk pelan. “Terimakasih,” katanya tulus.
“Sama-sama,” aku mulai membuat teh.
Selama 15 menit di UKS kami mengobrol dengan asyiknya. Sakit di perut Siska mulai menghilang. Jam pelajaran kedua masih 20 menit lagi. Lagipula, kami berdua dibolehkan bolos pada jam pertama.
“Vel, aku boleh curhat nggak sama kamu?” tanya Siska ragu.
“Ya bolehlah, masa’ ya boleh dong! Jeruk aja dibelah, bukan dibedong!” candaku. “Iih, kamu! Aku serius!” seru Siska.
“Yah, tadi kan aku sudah jawab, ceritalah,” aku menggeser posisi dudukku.
“Begini, sebulan lalu aku punya sahabat, namanya Hani. Kami sudah sangat dekat, hampir tiap hari kami bermain bersama. Kadang di rumahnya, kadang di rumahku, atau di rumah saudaraku atau saudaranya. Kami pernah menginap bersama, pokonya kami dekat sekali. Hingga bulan lalu ia pindah ke Jakarta. Aku berkali-kali menelepon ke HP-nya tapi tak diangkat. Saat aku menelepon ke HP ibunya, aku bilang ‘Mama Hani, bisa bicara dengan Hani?’, lalu ia memanggil Hani. Aku mendengarnya. Lalu terdengar jeritan kecil Hani di telepon, suara yang sangat kukenal dan kurindukan, namun kata-katanya...” Siska berhenti bercerita. Ia menundukkan kepala. Menahan sedih.
“Lalu apa?” kejarku ingin tahu.
“Katanya... Ia bilang, ‘Hai Siska! Aku sudah benci denganmu! Janganlah sok telpon-telpon aku lagi dan bilang kangen atau segala macam! Huh! Dasar orang sok perhatian! Nggak tahu kesibukan orang apa ya?’ begitu katanya,” cerita Siska. Airmatanya menetes. Ia meneguk teh manis yang aku buat.
“Lalu aku bertanya, ‘Hani, kamu kenapa? Kok kamu jadi kasar begini?’ dan ia bilang, ‘ Suka-suka! Terserah aku dong! Lagipula, disini aku sudah dapat teman yang lebih baik daripada kau disana yang kampungan!’ katanya pedas. Saat itu aku hampir menangis. Walau kita tidak tinggal di kota besar, bukan berarti kita kampungan, kan? Ya, setelah itu juga aku mengiriminya e-mail, di e-mail itu aku lampirkan foto-foto kami berdua, gambar sepasang sahabat dari internet, gambar kado, pokoknya gambar yang banyak. Di akhir pesan, aku menulis ‘balaslah e-mailku secepatnya’, dan benar, lima menit kemudian dia membalas. Rupanya dia sedang online. Tahukah kau balasannya?” Siska bertanya. Tangisnya sedikit reda.
“Apa? Dia mengajak chatting? Atau dia membalas dengan ucapan minta maaf?” kejarku lagi. Aku berharap Siska mengangguk. Tapi ia malah menggeleng. “Katanya... Dia sudah tidak mau lagi bersahabat denganku... Aku tak tahu kenapa. Padahal, dulu dia begitu lembut, ramah, tapi sekarang...?” Siska mulai menangis lagi.
“Vel... Aku tak biasa sendirian. Tiap siang aku selalu bersama Hani. Ke kantin bersamanya, berangkat sekolah bersama, pulangnya demikian, aku... aku tak pernah sendirian. Maukah kau jadi sahabatku, Vel?” tawar Siska yang mengagetkanku. Sahabat?!?!? Aku tak menyangka akan secepat ini mendapatkan sahabat. Hah, alhamdulillah... Allah memang baik. Izinkan aku memenangkan lomba sederhana ini, ya Allah...
Ya, jadi tanpa pikir panjang langsung saja kuterima tawaran Siska. Minta tanda tangan untuk surat pernyataan adalah hal yang mudah, pikirku. Itu urusan nanti.
“Tentu saja! Asal... jangan ada syarat tertentu, ya?” aku menyambut tawaran Siska.
“Tapi, Vel... Aku punya syarat, yaitu—“ belum selesai Siska bicara aku sudah memotongnya, “Kalau begitu maaf, Sis, aku nggak bisa.” Aku menjawab dengan perasaan sedih. Sudah senang-senang dapat sahabat, kok, malah kabur lagi? Capek nyarinya, tau!
“Vel, dengar dulu, syaratnya adalah, kamu nggak boleh bersikap kayak Hani. Setuju?” tawar Siska lagi.
“Ah, yang ini, mah, aku bisa! Insya Allah aku nggak akan kecewain kamu! Setuju!” sambutku ceria. Siska tersenyum Alhamdulillah! Aku akan jadi pemenangnya! Dan aku tak khawatir ia akan pergi lagi seperti Mira atau Rara! Mendengar ceritanya saja, sepertinya dia sudah sangat setia dan menerima sahabat, siapapun, orang kaya atau miskin, cantik atau buruk, pintar atau bodoh, ah Siska... Terimakasih!
“Tanpa syarat lain?” aku meyakinkan.
“Kamu harus bersedia berbagi denganku dan dibagi olehku!”
“Tentu bisa! Ada lagi?” aku menantang.
“Kamu harus temenin aku jajan, ke toilet, seminggu sekali kita jogging bareng, dan kita selalu bersama!” pekik Siska girang. Aku segera mengangguk setuju.
“Kalau kau melanggar, aku tak mau bersahabat denganmu!”
Aku Tapi aku tak tahu, arti dari perkataan Siska sangat besar.
> Dessy
Siang ini setelah bel pulang sekolah, aku langsung ke rumah Achi.
“Achi, kita, kan, baru kenal. Lagipula, aku ingin bersahabat denganmu,” kataku penuh sesal setibanya di kamar Achi. Achi langsung merapikan pakaian-pakaiannya dan ia kmas didalam koper hitam besar.
“Sudahlah, kita masih bisa berhubungan. Lewat telepon, surat, atau e-mail. Kamu punya e-mail, kan? Aku juga punya,” kata Achi sambil menyerahkan kartu namanya. Aku menerimanya setengah hati.
“Bukan, bukan itu maksudku,” ujarku.
“Lalu?” Achi melipat seragam batik sekolah kami.
“Maksudku... Ehm, kamu pindah ke mana?” aku menguasai diri.
“Ke Aceh. Memang jauh, tapi kendala jarak tak masalah, bukan? Seperti yang kubilang tadi, kita masih bisa berkomunikasi...”
“Tapi, ah, kau takkan mengerti,” aku menunduk. Kota yang amat jauh. Melanggar persyaratan lomba, pasal kedua. Achi menimang seragam batiknya, sebelum dimasukkan ke koper seperti seragam Achi yang lain.
“Kamu udah beli batiknya 205?” tanya Achi. Aku menggeleng.
“Sayang kalau dibuang. Bajuku ini buatmu saja, ya. Baru sebulan, kok. Lagipula, terlalu besar di tubuhku. Di tubuhmu mungkin pas. Kan, tubuhmu agak besar,” kata Achi sambil menyerahkan batik khas SDN 205. Aku mengangguk, “Makasih, ya.”
Achi membungkus batik itu dengan plastik. Aku masih saja memikirkan dimana lagi aku mencari sahabat.
“Aduh, Dessy! Kamu dari tadi kok diem melulu? Ayo bantu aku!” seru Achi. Ia merapikan rak bukunya. Mengeluarkan semua buku.
“Des, kamu tolong pisahin jadi 3 tumpukan. Tumpukan novel dan majalah, buku tulis dan diari, yang terakhir buku pelajaran dan album foto. Makasih, ya,” kata Achi.
“Lalu kamu sendiri ngapain?” tanyaku seraya menjalankan perintah Achi.
“Aku membareskan baju,” katanya, “Kenapa? Kamu keberatan? Kalau begitu kamu tak usah ikutan.”
“Sudahlah, tidak apa-apa,” sahutku pelan.
“Des? Kamu kenapa? Kamu marah sama aku? Ya Allah, maaf... Aku aku nggak bermaksud begitu,” Achi merangkul bahuku. Aku tersenyum. Sebenarnya aku cuma malas mencari calon sahabat lagi, hehehe... Terus cari kemana, yah?
“Hei! Kok kamujadi sensitif gitu, Chi? Ceria, dong! Aku tadi cuma rada mulas, soalnya tadi pagi belum sarapan, hahaha!!!” tawaku keras. “Ah, kamu!” jerit Achi sambil melemparkan bantal ke arahku. Kemudian ia ikut tertawa.
“Ah, sudah, sudahlah... kita makan siang, yuk,” tawar Achi setelah beberapa menit tertawa (lama, ya?).
“Tidak usah, terimakasih,” aku tersenyum sambil memandangi 3 tumpukan buku yang sudah setinggi lututku. Aku membaca tiap-tiap judul majalah. Bobo, Anak Saleh, Bee Magazine, Kreatif, Kuark, dan beberapa lagi. Ada majalah bahasa Inggris juga.
“Sudahlah, makan saja dulu. Tadi katanya mulas,” kata Achi sambil mengambil satu majalah yang berada di tumpukan paling atas, mulai membolak-baliknya.
“Nanti saja. Kita main-main saja dulu,” aku ikut-ikutan mengambil majalah, tapi yang berbahasa asing.
“Ini majalah apa, Chi?” tanyaku keheranan membaca judul majalah itu.
“Itu? Itu majalah berbahasa Thailand, aku mengerti, kok, sedikit. Ini judulnya berarti fantasi, dan majalah ini membahas tuntas segala penemuan terbaru di dunia. Majalah ini sudah tersebar di dunia, lho. Aku beli di toko buku besar di Jakarta. Harganya belasan kali lipat majalah Bobo, padahal ukurannya sama, tebalnya cuma 2x lipat, dan halamannya kertas HVS, bukan koran seperti Bobo. Isinya juga bagus. Aku dibacakan oleh tetanggaku yang pernah kerja disana. Mau aku bacakan?” tawar Achi. Aku mengangguk dan tersenyum.
“Ini salam pembuka,” jelas Achi, “katanya; selamat membaca kembali, episode kali ini akan membahas robot kecil buatan seorang anak kelas 4 SD di Jepang sebagai tema hari ini. Eksperimennya adalah membuat alarm banjir, dan artikel lainnya tentang konsep laptop masa depan... ini susah diartikan, jadi selanjutnya saja, ya. Dan...”
Dan akupun melupakan masalahku yang telah kehilangan calon sahabat...
Saat pulang kerumah, perutku sudah kenyang sekali. Aku disuruh menghabiskan porsi milik Pak Walid dan Bu Walid yang ternyata ada halangan untuk makan di rumah. Mereka pergi ke rumah sakit, menjenguk saudara, dan makan siang disana. Porsi makan Pak Walid saja 2 kali porsi makanku, sedangkan porsi Bu Walid sedikit lebih banyak. Dan itu ditambah lagi jatah makanku dirumah... pasti nggak ada yang mau percaya kalau perutku mau meledak, dan lambungku akan pecah (berlebihan banget, nggak sih? ).
“Assalamualaikum,” sapaku ketika membuka pintu depan. Tak ada yang menjawab. Aku mengulang salamku sekali lagi. Kali ini ada suara yang menjawab, seperti suara anak-anak, namun suara itu tidak kukenal.
“Wa’alaikum salam...” pemilik suara itu muncul. Ha? Myftha? Ngapain dia disini, ya?
“Ngapain, Tha?” tanyaku sambil merebahkan diri di sofa. Myftha mengikuti. Ia tersenyum misterius. Aku semakin heran.
“Orangtuaku ada kerjaan,” katanya rada nggak nyambung.
“Aku bukan nanya orangtuamu kerja apa enggak, aku tanya kenapa kamu kesini?” aku semakin heran. Tapi Myftha malah tertawa.
“Kamu nggak suka?”
“Mm, ya kalo alasannya nggak masuk akal kayak tadi kamu nggak boleh main disini!”
“Alasannya orangtuaku mendapat panggilan kerja di Brazil, keduanya. Jadi aku sendirian dirumah. Abangku yang biasa nemenin udah pindah sekolah di Jakarta, bareng tanteku. Jadi intinya rumahku kosong, dan aku dititipkan di rumah nenekku, dan tahukah kamu dimana rumah nenekku? Samping rumahmu! Seru, kan?” cerita Myftha tanpa titik-koma. Itu tadi ada titik-komanya aku lho yang bubuhin sendiri, hehehe...
“Tunggu... Lalu, kemana ibuku?” tanyaku heran.
“Ibumu ada urusan dengan temannya, ia meninggalkan rumah dan menitipkannya padaku. Jadi, ya, masa’ mau aku tolak? Jadi kuterima saja tawarannya. Baru empat, lima, ng... ya, kira-kira… enam koma tujuhpuluh tiga menit lalu. Ya, kamu nggak marah, kan, sama aku, Des?” tanya Myftha meyakinkan.
“Ya enggaklah, masa’ gitu doang aku marah… Aku, kan, nggak sensitif, hehehe…” tawaku pelan.
“Kamu udah makan, Tha?” tanyaku. Myftha mengangguk.
“Kalau kamu masih lapar, ambil saja nasi dan lauknya. Aku tadi sudah makan di rumah Achi. Tadi setelah pulang sekolah aku langsung main kesana, habis Achi…” desahku sedih. Ia belum tau Achi mau pindah.
“Kenapa?” tanyanya heran. Aku menggeleng sedih.
“Nanti kau juga tau, kok. Eh, main ke kamarku, yuk!” ajakku ramah. Segera Myftha mengiyakan.
Selama 10 menit kami asyik mengutak-ngatik kotak-kotak stikerku. Aku hobi mengumpulkan stiker. Aku punya buku stiker sebesar buku gambar A3, 10 halaman, terisi penuh oleh stiker-stiker lucu. Dan buku stikerku yang lain, sebesar layar komputer pada umumnya, 20 lembar, hampir penuh terisi. Belum lagi dihitung dengan berlembar-lembar stiker kartun anak yang sering kubeli.
“Kamu tau, kira-kira berapa jumlah stiker kamu, semuanya maksudku?” tanya Myftha sambil membolak-balik halaman buku stikerku.
“Aku mendatanya disini,” aku menyerahkan buku tebal pada Myftha.
“Hm, semuanya…. Sudah puluhan lembar kamu mendatanya, berapa, ya, kira-kira?” Myftha berpikir.
“Hm, kemarin kuhitung 580-an, tapi itu jumlah 2 bulan lalu. Sekarang mungkin sudah 600 lebih.”
“Sejak umur berapa kamu ngoleksi ini?”
“Mm, sekitar 7 tahun. Berarti, sudah 3 tahun….” gumamku.
“Aku juga punya koleksi sebanyak ini. Kusimpan di peti kecil, jumlahnya mungkin sudah lebih dari 800, tapi itu tidak begitu banyak, soalnya aku mengoleksi dari 4 tahun. Itu juga berdua dengan kakakku.”
“Aku sering dimintai stiker oleh teman-temanku, tapi kadang mereka tukar dengan stiker milik mereka,” kataku.
“Eh, Des, besok aku kesini lagi, ya, bawa koleksiku,” Myftha menyedot es jeruk yang kusediakan.
“Hm, boleh, boleh!!!” aku mengangguk senang.
“Kamu punya binder? Kalau disini, kami menyebutnya file dan kertasnya disebut kertas file. Aku punya dua di rumah. Keduanya sudah sangat tebal dan hampir-hampir tidak bisa dibuka, lho! Aku hobi ngoleksi kertas file juga! Kamu tau, nggak, uang jajanku paling hanya bersisa seribu rupiah setiap minggu. Aku ngabisin jajan bukan buat beli makanan. Makanya aku kurus gini. Uangku habis buat beli stiker, kertas file, dan aksesori. Aku hobi ngoleksi ketiganya, lho! Aku juga hobi ngoleksi kartu kwartet bergambar Winnie The Pooh, Pink Hana, Sailormoon, Spongebob Squarepants, dan Ben 10. Udah banyak, sih. Yang Winnie The Pooh ada 3, Pink Hana 5, Sailormoon 2, Ben 10 1, dan yang paling banyak Spongebob Squarepants, aku punya 7!! Selain kwartet, aku punya kelereng berwarna-warni yang aku taruh di baskom kaca. Ih, lucu, deh! Jadi bagus buat pajangan. Kelerengku udah ratusan. Baskom kaca mininya ada 2, dan lucuuu banget!” cerita Myftha tanpa memberiku kesempatan bicara.
“Kamu cerewet banget, sih!!!!!!!!” aku mencubit pipi Myftha gemas.
“Ya, itulah aku. Cerewet, suka makan, rada boros… untuk kenal lebih dekat, ketik ‘reg’ spasi ‘Myftha’, kirim ke 1234, dan kamu akan mendapatkan info terbaru dari saja, plus wallpaper saya! Tarifnya hanya 1500 rupiah per-SMS. Ayo cepetan kirim!!!!!!!!” Myftha bernarsis ria.
“Pede abiss!!” aku mencubitnya lagi.
“Aduh, iya, deh, sekalian ketik ‘reg’ spasi ‘Dessy’, kirim ke…”
“Diam!!!” aku menimpuknya dengan bantal sambil tertawa.
“Yayaya… Aku cerewet. Oh, ya tadi aku nanya apa?”
“Kamu nanya, aku punya binder apa nggak. Dan sekarang aku jawab. Aku punya,” aku mangambil binderku yang berbentuk kupu-kupu, dan motifnya juga.
“Cuma satu. Aku tak suka mengoleksinya,” aku memberikan pada Myftha.
> Velya
Hari ini aku bermain terus sama Siska. Kami jajan bareng, ke perpustakaan bareng, ke taman bareng, dan… pulang bareng! Meskipun di pertigaan kami harus berpisah, tapi Siska sangat setia, ia mengantarkanku sampai rumah! Dan beberapa menit kemudian, ia meneleponku! Ah, aku yakin, ia tak akan melepaskanku dan mudah bagiku meminta tandatangannya nanti, bukan?
“Vel, aku boleh curhat sama kamu, nggak?” tanya Siska seria.
“Apa saja! Aku bisa jaga rahasia, kok, walaupun kita musuhan,” aku meyakinkan.
“Walaupun kita musuhan?”
“Walaupun kita musuhan!”
“Aku…” lalu meluncurlah ceritanya. Karena aku ingin jadi sahabat yang baik, maka aku akan merahasiakannya dari siapapun. Dan dari kalian. Hehehe…
Malam hari, Velya membuka komputernya, seperti biasa. Ternyata… Siska posesif sekali. Ia mengajak Velya chatting dari sore hingga hampir tengah malam. Sedangkan Dessy, seperti biasa, ia asyik menulis diari…
Dear, diary, hari ini aku kedatangan Myftha, setelah aku kehilangan Achi. Memang baru kehilangan, tapi Allah memang baik. Tanpa berusaha… Myftha sudah datang sendiri. Dia orangnya bersahabat banget, ramah, terbuka, dan rame. Terus dia juga suka main-main gitu. Cocok, deh sama aku. Jadi kami bisa jalan-jalan tiap siang, dong. Ke perpustakaan, ke taman bermain, nonton sepakbola, nonton film, main bulu tangkis, berenang, dan segudang kegiatan lain yang seru yang bisa kami lakukan berdua. Dan kayaknya aku nggak usah ragu lagi, Myftha memang pantas dijadikan sahabat! Mungkin tinggal kumintai tanda tangannya untuk surat pernyataan! Yak, selesai sudah! Oke, aku bersiap untuk tidur. Alhamdulillah, aku udah shalat isya. Jadi tinggal tidur, gitu lho!
Dessy menutup diarinya. Ia segera merebahkan diri ke atas ranjang berkelambu merah muda itu. Sebelum terlelap, ia melihat sekilas ke arah jendela yang terletak disamping tempat tidurnya. Tepat di sebrang jendela itu, terlihat jendela kamar Velya, yang terletak di lantai dua. Tirainya terbuka, lampunya menyala. Jendelanya juga terbuka.lebar. dari jendela itu, Dessy dapat melihat Velya asyik berkutat dengan komputernya. Ia sedang sibuk mengetik sesuatu.
“Velya!” panggil Dessy pelan. Dalam kesunyian malam, tentu suara jernih Dessy terdengar ke kamar Velya, apalagi jarak jendela mereka hanya 3 meter. Velya menoleh dan mendekati jendela. Ia melambai ke arah Dessy. Dessy membuka jendelanya.
“Belum tidur, Vel?” Dessy mencondongkan tubuhnya. Angin malam menerpa tubuhnya.
“Belum. Lagi asyik chatting sama Siska,” jawab Velya.
“Siska siapa? Anak kelas kita?” tanya Dessy.
“Iya, yang tadi perutnya kena bola, yang itu…”
“Kamu udah dapat sahabat?”
“ya, gitu deh. Calon-calonku silih berganti datang dan pergi. Nggak ada yang cocok denganku. Yang cocok malah nanyain alasan kenapa harus tanda tangan. Tapi aku pede buat menang, kok Des. Hehehe,” cerita Velya.
“Sama! Aku udah deket sama seseorang, ya, gampang aja minta tanda tangannya!” pekik Dessy girang.
“Sudahlah, Des. Sudah malam. Aku mau nutup jendela dulu, ya!”
“Oke, aku juga mau tidur!” Dessy menutup jendelanya, menguncinya dengan rapat. Tak lupa ia menutup tirainya yang bergambar Phineas and Ferb. Lalu mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur yang sinarnya sedikit remang dan hampir-hampir tidak bercahaya. Lalu Dessy membaca do’a, “Bismillahirrahmanirrahim, bismika allahuma ahya wa bismika amut! Ya Allah, jagalah tidur hamba dari segala gangguan, berilah hamba mimpi indah, berilah hamba umur untuk menjalani hari esok, dan cerah ceriakan hari hamba besok ya Allah. Amin, amin ya rabbal ‘alamin...” Dan ia tertidur pulas.
Dikamar Velya, ia chatting tidak berhenti-berhenti. Hingga adiknya yang sedang menginap di kamarnya mengomel. Tapi ia tidak peduli.
Siska : Assalamualaikum, Vel, kamu lagi ngapain?
Velya : wa’alaikum salam, abis sholat. Kamu sendiri ngapain?
Siska : Oh, aku abis nyampulin buku teks yang baru di beli.
Velya : Mm, gitu. Kamu biasanya ngapain selain chatting?
Siska : Aku nggak ngapa-ngapain. Kita chatting aja tiap malem, ya, Vel.
Velya : Ya ampun! Terus kalo ada PR gimana? Aku nggak mau, Sis.
Siska : Ya, Velya…
Velya : Maaf, Sis, eh, kamu tau nggak si Dessy, murid baru itu?
Siska : Kenapa?
Velya : Aku tetanggaan sama dia, lho!
Siska : Kamu akrab sama dia?
Velya : Ya!
Siska : Udah kenalan? Sering ngobrol?
Velya : Iya!
Siska : Kamu gimana sih, Vel, katanya kamu sahabat aku… Kok malah main sama orang?
Velya : Lho? Apa salahnya?
Siska : Pokoknya kamu nggak boleh!!!
Velya terpaksa meminta maaf terus-terusan kepada Siska. Tentu Siska memaafkannya asalkan dengan syarat yang aneh… Me… Me… Menjauhi… Ups! Udah saatnya bab selanjutnya! Maaf, ya!
Hari Kelima: Rabu, 18 Juli 2008
> Dessy
Pagi ini aku berangkat sendiri ke sekolah. Mata pelajaran pertama adalah SBK, jadi kami diberi tugas menggambar di selembar kertas ukuran A2. berkelompok dua-dua. Satu menggambar dan satunya mewarnai. Aku sekelompok dengan Myftha. Dia pintar mewarnai sedangkan aku menggambar. Tadinya aku mau bareng Achi, tapi sayang dia nggak bisa ngewarnain, bisanya gambar doang, sama kayak aku… Akhirnya Myftha nanyain aku udah punya kelompok belum, dan aku menggeleng. Dan ia mengajakku sekelompok dengannya!
“Des, kamu gambar bunga, ya disebelah sini!”
“Ya!”
“Oh, ya, diatas bunganya ada kupu-kupu hinggap! Bikin coraknya yang rame, biar bagus kalo diwarnai!”
“Ya!”
“Kamu tambahin gambar ikan lagi loncat di kolam ikannya! Oh, ya, kamu bawa krayon biru, nggak? Punyaku udah abis!” keluh Myftha.
“Ya, ambil di tasku! Kamu bikin langitnya warna jingga, ya, ceritanya senja. Terus bagusin gradasinya! Jangan lupa kasih efek bayangan, katanya kamu jago!” perintahku sambil terus menggambar.
“Oke!” ia pun mulai mewarnai beberapa bagian yang sudah selesai kugambar.
“Tha, kamu kan supel, pasti kamu banyak kenalan, ya?” tanyaku. Ia mengangguk.
“Banyak temen, ya?” tanyaku lagi. Ia mengangguk. Ia mengambil krayon merah di kotak krayonnya.
“Banyak sahabat juga, dong!” seruku sambil menambahkan ekspresi senang seorang gadis di gambarku.
Myftha terdiam. Ia menatapku. Merasa diperhatikan, aku balas menatapnya.
“Kenapa?” tanyaku.
“Aku nggak punya sahabat, satupun,” jelas Myftha.
“Kenapa?” aku meraih penghapus dan menghapus gambar yang salah.
“Karena aku... karena, ya aku belum nemuin yang cocok, tapi sepanjang ini... Hm, ya, aku bisa punya sahabat,” jelasnya singkat. Aku berpikir, apakah orang itu adalah aku?
“Ya, aku cuma mau tau, eh, udah, cepetan, warnai bunganya, aku udah selesai!” kataku sambil menghempaskan pensil. Aku bersandar sambil memijat jariku yang pegal sehabis menggambar. Myftha meraih pensil warnanya dan mewarnainya di samping krayon. Menambahkan efek langit senja hari.
“Kamu suka cari info lomba-lomba?” tanyaku sambil menebalkan sketsa dengan spidol hitam.
“Maksudnya?” tanyanya heran.
“Mm, kamu kan pinter ngewarnain, gimana kalo kita ikut lomba menggambar dan mewarnai? Aku udah nemuin lombanya, batas waktunya seminggu lagi. Mau ikut?”
“Ada brosurnya, nggak? Aku boleh liat?” tanyanya sambil terus mewarnai.
“Kebetulan aku bawa majalah yang ada iklan lomba itu. Coba baca,” aku menyodorkan majalah itu pada Myftha. Ia membacanya.
“Hm, boleh! Nanti kamu ke rumah nenekku. Seluruh alat gambar ada di kamarku di rumah nenekku! Oke?” tawarnya. Aku mengangguk. Aku tahu, meyakinkan Myftha untuk menjadi sahabatku tinggal selangkah lagi!
> Velya
Aku jadi jengah juga sama Siska. Pukul enam pagi, dia udah jemput aku! Wah, kayaknya posesif banget, ya? Ya, aku kan jadi nggak enak aja. Aku belum siap, dia udah jemput. Aku baru aja sarapan. Akhirnya aku buru-buru demi Siska nggak nunggu lama. Kan, kasihan, kalo di biarin.
Di jalan, aku berkata, “Duh, buku pelajaran SDN 205 berat banget, ya? Aku jadi malas pake tas ransel, maunya pake koper beroda aja, nih!” keluhku.
“Kamu keberatan bawa tasnya? Sini, aku bawain,” tawar Siska. Pertamanya kukira dia cuma bercanda. Tapi, dia malah langsung meraih tasku dan memikul di pundak kanannya. Tasnya sendiri adalah tas selempang yang di selempangi di pundak kirinya.
“Eh, nggak usah, Sis, aku tadi kan cuma bercanda,” aku merebut kembali tasku.
“Udah nggak papa, aku aja!”
“Nggak usah, Sis!”
“Nggak papa, aku udah biasa! Kita, kan sahabat!”
“Aku bisa sendiri, Sis!”
“Bener?”
“Bener!”
“Nggak papa?”
“Nggak papa!”
Lama-lama, sedikit saja aku mengeluh, langsung ia tanggap melayani. Aku butuh sahabat yang jika aku mengeluh bukannya mengurangi keluhanku dengan pelayanannya, namun dengan saran dan komentarnya untukku.
Memang, Siska tampak seperti pembantu bagiku—jangan bilang-bilang, ini definisi kecilku saja!—soalnya dia, setiap aku butuh apa-apa, bahkan mengambil penghapus di tempat pensilku ketika aku berkata, “Aduh, salah lagi, dihapus lagi, deh!”—dia ambilkan, aduh, memang berat rasanya memiliki sahabat yang seperti Siska, tidak hanya posesif, tapi selalu melayanimu. Memang enak dilayani, tapi kalau terlalu berlebihan seperti Siska sangat tidak nyaman. Tapi sahabat tidak hanya sekedar status bagiku. Tapi ia adalah orang yang cocok denganku. Walau mungkin dengan Siska aku bisa memenangkan lomba, tapi aku tidak memaknai sahabat serendah itu. Aku dan sahabat adalah orang yang cocok, tapi tidak dengan Siska. Aku tidak bisa menjadi sahabatnya.
“Vel, semalam Hani SMS aku...” curhatnya ketika istirahat.
“Lalu?” aku memberi ekspresi standar.
“Dia bilang, ‘Siska, aku senengan di sini daripada disana bareng kamu, aku nggak betah’, tapi aku bersyukur, dia nggak ngomong kasar lagi,” Siska menyeruput esnya.
“Kamu balas?” aku menunjukkan ekspresi tertarik.
“Maunya. Tapi... pulsaku habis, hehehe, jadinya nggak jadi deh...”
“Memang kamu mau bilang apa?”
“Aku akan bilang, ‘Aku disini juga sudah punya sahabat, Han. Namanya Velya. Dan aku akan jauh lebih betah dengan Velya daripada denganmu. Ia setia, tidak sepertimu. Ia dan aku akan bersahabat selamanya, selamanya, dan selamanya,’ aku akan bilang begitu!”
Selamanya? Selamanya?!
Aku merasa menciut. Selamanya? Tidak akan!!!!!!!!! Sehari saja aku tidak kuat apalagi... Selamanya?!?! Aduh, aku merasa dunia jadi menciut.
Santai, santai, Vel... aku menghibur diriku sendiri.
“Iya, kan, Vel?” Siska mencoba meyakinkanku. Aku hanya menjawab dengan senyum, dan Siska menganggapnya YA!
“Oke, Vel, kita akan bersahabat terus, selamanya!!!” pekik Siska riang.
Oh, tidak...
Kurasa semua akan hancur...
Oke, ini berlebihan, kurasa aku akan meleleh...
Seperti lilin yang dibuang ke matahari...
“Vel? Halo, kok diam, sih?” Siska melambaikan tangan ke mukaku.
“Ah, ya, aku, aku bengong tadi. Maaf,” aku tersenyum dipaksakan.
“Ah, nggak apa-apa, kamu mau aku traktir bakso?” tanyanya. Aku menggeleng, “Aku disini saja. Aku... aku mau ngerjain tugas,” alasanku. Siska tersenyum. Aku menyangka senyumannya... Oh, tidak... Seluruh sendiku melemas seketika.
“Ya sudah, aku tak jadi jajan. Kita disini saja, mengobrol,” katanya tersenyum. Tuh, kan, benar perkiraanku!
“Em, um, em... Aku, aku, aku... Kebelet pipis,” aku langsung bangkit dan berlari ke luar kelas menghindari Siska.
“Velya, tunggu!!!!” ia mengejarku di belakang. Aku hampir-hampir tertawa. Ia mengejarku, mengikutiku, bahkan hingga ke kamar mandi sekalipun?!
Saat bel pulang sekolah, aku berusaha agar tak pulang dengan Siska. Ketika aku sudah diluar kelas, aku buru-buru mencari Dessy. Ternyata, dia sudah pulang dengan seorang anak. Sebelum Siska melihatku, aku buru-uru berlari ke perpustakaan. Satu hal yang kutau, dia nggak suka baca.
Tapi malang, Siska melihatku. Ia mengikutiku.
“Aku mau ke perpustakaan dulu, kamu pulang duluan aja,” aku tersenyum paksa.
“Kita pulang bareng aja.”
“Kamu mau baca juga di perpustakaan?”
“Nggak!” Siska membuka pintu perpustakaan, “Ayo masuk!” siska melangkahkan kainya. Tapi aku tak masuk.
“Kenapa? Ayo, masuk!” ajak Siska.
“Kenapa kamu masuk? Katanya nggak mau baca?” aku bertanya heran.
“Ya, nemenin kamu. Aku nggak usah baca,” Siska tersenyum.
“Sudahlah, kamu pulang duluan aja. Aku tau kamu nggak suka baca. Biarin aku sendiri,” kataku ketus sambil masuk perpustakaan. Tapi rupanya, Siska belum menngerti suasana hatiku yang sedang ‘panas’.
“Biar aja aku nemenin kamu disini. Lagipula... kita, kan, sahabat. Kemana-mana selalu bersama. Ya, kan?” ia meminta persetujuanku. Aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
“Siska, dengarkan aku,” aku memulai pembicaraan.
“Mari kita duduk di sana,” aku menuju bangku perpustakaan yang panjang dan tak ada yang duduk disana.
“Sebenarnya aku gerah sahabatan sama kamu. Bukannya aku ingin menjadi seperti Hani atau gimana, tapi aku bener-bener nggak betah sahabatan sama kamu, Sis!” kataku tajam.
“Tapi, Vel...” ia mencoba menyela.
“Diam! Dengarkan aku! Aku nggak setuju sama definisi kamu tentang sahabat. Apa definisi kamu terhadap sahabat?”
“Mm, ia adalah orang yang kuceritakan segala hal pribadiku, sama halnya dengan jiwaku, kemana-mana harus berdua, mm, harus berpikiran sama, dan kompak. Kompak yang kumaksud adalah selalu bersama, dan tak boleh berkomunikasi dengan orang lain—maaf—maksudku, berkomunikasi secara mengobrol lebih dari 10 menit saat istirahat ketika sang sahabat tak masuk sekolah hari itu. Selain itu, chatting, telepon, atau SMS-an dengan orang tanpa diketahui sahabat juga nggak boleh, pokoknya sahabat itu orang yang nggak punya rahasia terhadapku, tak menyembunyikan sandi e-mailnya, kode pembuka HP-nya, dan mengizinkan sang sahabat melihat diarinya. Begitu,” Siska menjawab dengan yakin.
“Hm, oke! Semua definisimu berbeda jauh denganku! Menurutku, sahabat adalah orang yang menegrti kita dan kitapun mengerti dia. Tak hanya itu, sahabat harus cocok. Tak harus berhobi sama, melainkan COCOK! COCOK, bukan SELALU SAMA. Itu definisiku. Berbeda jauh dengn definisimu yang ribet dan panjang. Definisiku sederhana, tapi di sisi lain aku dan sahabatku saling memahami dan nyaman, kan? Karena aku menggunakan kata COCOK, bukan SELALU SAMA sepertimu! Dengan kata COCOK, yang mengandung faktor kenyamanan, tak akan menjadi rasa tak enak seperti yang kualami!” aku menghela napas. Siska menanti kata-kataku selanjutnya.
“Jujur, aku merasa tak cocok denganmu. Karena kau sangat posesif, jadi, to the point saja, ya, aku tak suka jadi sahabatmu!” kata-kataku meluncur dengan lancar.
“Velya...? Ke-kenapa...” suaranya lirih sekali, hampir tidak terdengar.
“Karena ketidak-cocokan. Maaf, Sis, tapi aku benar-benar tak bisa. Maaf, Sis, aku harus pulang,” aku beranjak dari kursiku. Siska menahanku dengan tatapan memelasnya.
“Kamu... kamu kan mau baca buku...?” lirihnya lagi. Matanya berkaca-kaca. Aku tersenyum sambil menggeleng.
“Nggak jadi. Aku lapar, mau langsung pulang,” aku beralasan.
“Mau bareng?” tawarku datar. Siska menggeleng dan menggigit bibir.
“Duluan saja, aku mau ke kamar mandi,” lirihnya lagi,dan langsung berlari ke toilet perempuan.
“Siska!!” panggilku. Aku jadi merasa bersalah.
“Sudahlah, Vel, kamu pulang duluan saja!” katanya meyakinkanku.
“Siiis!!!” panggilku sambil mengikutinya.
“DULUAN SAJA! AKU NGGAK APA-APA!!!” ia berteriak. Aku mengalah.
> Dessy
Siang ini, seperti yang direncanakan, Myftha dan aku main ke rumah nenek Myftha yang masih diinapinya selama orangtua Myftha tidak ada dirumah. Di kamar neneknya, banyak sekali peralatan melukis. Hanya dalam 1 menit, kami asyik menggambari kertas A2—kertasnya kami dapatkan dari sisa menggambar tadi siang sudah kami minta pada guru—dengan banyak coretan dan garit warna.
“Kamu punya karbonit?” tanyaku, “Aku sudah selesai sketsanya, tinggal ditebalkan,” jelasku. Myftha menggerakkan matanya ke arah lemari. Aku langsung mengambilnya di lemari.
“Sekalian sama pastel, Des!” Myftha meminta. Aku mengambil karbonit dan pastel di lemari yang Myftha maksud. Lalu kami asyik menggambar sambil mengobrol.
“Ngomong-ngomong, ‘calon sahabat’ yang kamu maksud tadi siang itu siapa?” aku langsung menembak ke topik tanpa basa-basi. Aku yakin ia akan menyebut namaku!
“Hm, siapa, ya? Menurutmu siapa?” Myftha bertanya balik. Aku ingin bilang, “Aku, kan?” tapi itu terlihat kalau aku kepedean banget.
“Hm, siapa, ya? Aku belum terlalu tau seluruh teman sekelas kita, tetangga-tetangga kita, jadi aku belum bisa jawab. Yang aku tau, kamu dekat sama Ajeng, apa kamu mau sahabatan sama dia?” aku berpura-pura bingung. Myftha tersenyum. Ia berhenti mewarnai.
“Aku selektif banget milih sahabat, karena aku nggak mau kecewa kalau sahabat itu nggak cocok sama aku. Tapi... sekarang aku udah punya calonnya, tapi—“ kata-katanya terpotong dengan seruanku, “Beritahu aku siapa calonnya!”
Myftha tersenyum, “Siapapun yang ada dalam pikiranmu,” katanya.
“Menurutmu...” aku nggak mau keliatan terlalu kepedean di depan Myftha. Aku mau menyebut namaku, tapi...
“Kamu,” lirih Myftha, “Aku pingin jadi sahabat kamu, Des.”
“Aku juga. Kita sahabatan mulai sekarang. OKE?” aku meminta persetujuannya. Tapi ia menggeleng lemah.
“Aku nggak mau secepat itu, Des. Aku baru kenal kamu tiga hari, dan baru dekat dua hari. Aku nggak tau apakah kamu cocok apa nggak, jadi maaf, sekarang aku masih belum bisa. Kayak yang aku bilang tadi, aku selektif banget milih sahabat,” jelasnya sambil mewarnai.
“Nggak apa-apa. Mungkin besok atau lusa kamu bisa mengenalku lebih baik, dan yah, menganggapku cocok jadi soulmate-mu,” maklumku.
“Tapi nggak bisa besok atau lusa, Des. Aku bisa kalau udah lewat sebulan, dan aku udah bakal kenal banget sama sosok sahabatku itu.”
Sebulan? Hah? Lombanya saja tinggal beberapa hari lagi?!?!?!
Jadi, siang ini kuputuskan menjauhi Myftha, dan mencari orang lain demi memenangkan lomba itu. Oke.
> Velya
Sore ini, aku menelepon Siska. Walaupun aku tak suka dengannya, tapi aku merasa bersalah, entah kenapa. Pertama, aku menelepon ke rumahnya, yang mengangkat Siska sendiri, tapi setelah ia tau yang menelepon itu aku, langsung ditutup. Lalu aku menelepon ke HP-nya, tapi ia tak mau mengangkat. Lalu kutelepon lagi, dimatikan. Akhirnya aku menelepon dengan ID diblok (artinya tak terlihat nomor HP si penelepon di layar HP yang ditelepon, yang terlihat hanyalah tulisan ‘ID diblok’, atau ‘Nomor pribadi’ atau ‘No number’)—beberapa menit kemudian—lalu diangkat. Aku bertanya, marahkan ia padaku—KESALAHAN BESAR—dia langsung tau yang menelepon adalah aku, kau tau apa yang akan dia lakukan, yah, mematikan sambungannya. Tapi aku tak menyerah. Aku tau, tiap malam ia main komputer dan hal yang ia lakukan sebelum mematikan komputer adalah mengecek e-mail masuk. Jadi kukirimi ia e-mail.
Assalamualaikum, Siska.
Aku minta maaf atas insiden tadi siang. Aku memang sedang dalam emosi ketika itu. Maafkan aku, aku memang tak bisa menjadi sahabatmu, tapi kita bisa berteman, kan? Kita masih bisa bersama.
Aku tau kamu butuh seorang sahabat. Aku berjanji akan mencarikannya untukmu. Tapi kumohon, jangan marah padaku dan maafkanlah aku.
Kalau tadi siang aku terlalu blak-blakan dan penuh emosi, harap di maklumi. Sebab, setelah dihukum Bu Aditha karena aku lupa bawa buku IPA, aku masih bete, kesal, marah, dan emosi. Jadi harap dimaklumi.
Maafkan aku, kumohon,
Velya Ananditha
Kuklik tombol ‘Kirim’ dan saat aku sedang membaca e-mail lain, langsung ada balasan. Kubuka, ternyata ia mengajak chatting. Aku merasa serba salah. Aku tak suka chatting, tapi kalau aku menolak, kemungkinan besar ia takkan memaafkanku.
Aku bingung menerima ajakannya atau tidak.
Aku bingung harus bilang apa sama Siska.
Aku bingung harus mencari sahabat kemana lagi.
Hari Keenam: Kamis, 19 Juli 2008
> Dessy
I’m confused! Confused, confused!!! batinku pagi ini. Harus kucari sahabat dimana lagi? Aduh, Velya, kenapa aku harus menyetujui lomba ini, denganmu? Aku mungkin memang butuh sahabat, tapi tanpa lomba aku mungkin bisa saja mendapatkan Achi, karena kami bisa bersahabat, tanpa peraturan pasal nomor dua.
Menyerah. Ya, aku akan menyerah, karena PASTI Velya sudah mendapatkan sahabat. Dari kemarin ia bergandengan mulu sama Siska, dan aku yakin, Siskalah sahabatnya.
Pagi ini, aku menjemput Myftha di rumah neneknya yang terletak disebelah rumahku. Selama diperjalanan, kami membicarakan beberapa tempat asyik di perumahan ini. Misalnya, ada taman bermain di blok H, ada komedi putar di blok K, dan yang membuatku paling tertarik adalah Komunitas Pecinta Puisi, tempat mereka tak jauh dari rumahku. Ah, aku dapat ide! Nanti sore aku kesana, dan melupakan kata menyerah. Aku akan mencari sahabat disana. Mudah-mudahan Velya dan sahabatnya belum menandatangani surat pernyataannya, jadi aku bisa menang.
> Velya
Semalam, aku chatting dengannya, tapi hanya 3 menit. Aku hanya bilang, ‘Maafkan aku’ berkali-kali, karena aku bosan sekali dan kurasa, aku tak punya kosakata baru untuk kuucapkan ke Siska. Siska bilang, ia akan menjemputku pagi ini—lagi. Tapi aku menolaknya. Seperti biasa, ia memaksa. Terpaksa sekali aku datang pagi-pagi kesekolah, sebelum ia menjemputku. Rencananya aku akan berangkat 05.45, tapi bayangkan, Siska datang dari 05.20!!! Hah, aku harus mengeraskan Siska. Tanpa maaf, karena ia sudah keterlaluan. Bayangkan saja, ia menjemputku saat aku baru bangun! Ia sendiri sudah siap dan super rapi. Sedangkan aku, baru bangun tidur! Sungguh tidak sopan!!!
Aku berangkat sesiapnya, aku tidak sarapan dan hanya mandi, bahkan aku lupa bawa buku IPS dan LKS Bahasa. Karena aku buru-buru, aku juga meninggalkan payung, tempat pensil, dan botol minum. Aku berangkat pukul 05.30, dan selama diperjalanan aku bungkam dan berjalan cepat-cepat.
Tampaknya Siska sudah mulai mengerti suasana. Ia ikut diam dan berjalan cepat-cepat.
> Dessy
Hari ini aku berencana ke KP3M (Komunitas Pencinta Puisi Perumahan Melati). Aku sudah tau letaknya, blok H no. 4. Aku pernah melewatinya. Jadi sekarang aku kesana, sendiri.
Markas komunitas itu adalah sebuah rumah sederhana, dengan sebuah palang besar yang memamerkan bahwa rumah mungil itu adalah markas sebuah komunitas. Seperti rencana, aku langsung masuk ke sana dan mendaftarkan diri. Langsung diterima.
“Hai, kamu anak baru? Aku belum pernah lihat kamu di perumahan ini sebelumnya,” sapa seorang anak perempuan yang tinggi.
“Ya, aku baru pindah Jum’at lalu. Aku senang bikin puisi, di binder ini ada puluhan puisi, mau lihat?” balasku ramah.
“Boleh. Aku juga punya binder yang penuh puisi. Kita tukeran, yuk!” ajak anak itu. Aku memberi binderku, dan menerima binder anak itu.
“Dessy Rahmasari,” anak itu mengeja tulisan di kaver binderku, “Itu namamu?” tanyanya. Aku menggangguk tersenyum. Aku membuka halaman pertama bindernya dan membaca tulisan disana.
“Nabila Alya Riesha. Itu namamu?” tanyaku balik pada anak itu.
“Ya, kamu boleh panggil aku Bila, Bela, Nabila, Alya, Lya, atau Riesha, terserah kamu,” gadis itu tertawa. Aku tersenyum.
“Kamu kayak lagi mengabsen nama-nama anak perempuan,” aku tersenyum, “Tapi, aku akan memanggilmu... Hm, gimana kalau Alya? Biasanya kamu dipanggil apa?” aku bertanya sambil membuka halaman-halaman bindernya.
“Oleh keluargaku, aku dipanggil Ade, karena aku anak bungsu. Teman-teman dekatku memanggil Riesha, guru-guruku memanggil Nabila, teman-temanku yang lain Bela, dan kalau di komunitas ini, tidak tentu. Ada Alya, Bila, Riesha, Bela, Lya, Nabila, dan yang paling unik Lalysha. Singkatan dari ‘nabiLA ALYa’ rieSHA. Hehehe, aneh, kan?” katanya sambil membaca biodataku di binder.
“Ah, aku panggil kau Nilya, ya?”
“Arti dari...?”
“Hm, ‘NabIla aLYA’,” aku menuliskannya di kertas binderku. Ia mengangguk. “Kau kupanggil Esma, ya? Dari ‘dESsy rahMAsari’,” ia ganti menulis namaku di bindernya dan menunjukkan padaku. Aku tertawa, tapi menggeleng, “Sudah, Dessy sajalah. Biasa saja. Kalau dipanggil macam-macam... takutnya aku nggak ngeh. Nggak apa-apa, kan?”
“Ah, gitu aja mah... Bukan masalah!”
“Oke, Nilya, apa yang harus kulakukan di hari pertamaku disini?”
“Kamu cukup memberikan tiga puisimu, terserah apasaja temanya, bahasanya, pokoknya tiga puisi. Lalu setiap minggu kita harus menghasilkan 1 puisi, minimal. Setelah satu tahun, terkumpul 50-an puisi—kurang-lebih—lalu dipilih oleh Mbak Mitha, pelatih kita, lalu dikirim ke penerbit dan kalau diterima ya, dibukukan! Setelah jadi anggota, kita harus rutin datang minimal 1 kali seminggu. Kadang, aku datang 3 kali seminggu,” papar Nilya. Aku hanya menggangguk-angguk.
“Ada absennya, kan?”
“Ya! Satu kali hadir dapat 10 poin. Nanti ada semacam rapor yang dibagikan tiap akhir bulan, dan ada peringkat-peringkatnya juga. Satu puisi itu dapat 5 poin + nilai puisi itu. Nilai 10 ya poinnya 10, nilai 9 poinnya 9, dan seterusnya. Begitu,” jelas Nilya tanpa kumintai.
“Kubaca puisi-puisimu, ya,” pintaku pada Nilya. Ia mengangguk.
“Hm, lumayan menyentuh. Aku suka yang ini,” kataku setelah membaca satu dari tiga lainnya yang sudah kubaca. Ia juga membaca puisi-puisiku.
“Puisimu bagus. Apalagi yang tentang sahabat. Aku sangat suka. Puisi ini menceritakan tentang keadaan seseorang yang amat kesepian karena tak punya sahabat, selain sangat menyentuh juga cocok denganku! Aku kesepian tanpa sahabat. Tapi untung, aku punya banyak teman, hanya aku kurang pede menceritakan masalah pribadiku pada teman. Aku memang butuh sahabat... Kamu gimana, Des?” curhat Nilya. Aku hanya tersenyum.
“Aku menulis puisi itu ketika aku sedang dalam keadaan kesepian tanpa sahabat,” jawabku.
“Oh... sekarang gimana?”
“Apanya? Sahabatnya? Belum, nih, aku masih nyari. Kamu sampai sekarang juga belum punya sahabat, Nil?” tanyaku balik. Nilya menggangguk.
“Tapi sahabatku jauh di luar kota, aku sulit menghubunginya, sebab aku berkomunikasi lewat surat. Di daerahnya belum ada sinyal telepon. Makanya, aku masih mau nyari sahabat lagi disini, sebanyak-banyaknya! Hm, kamu mau jadi sahabatku, kan?” Nilya langsung menawarkan hal yang sudah 4 hari kutunggu. Tentu saja aku mengangguk tanpa pikir panjang! Aku tak menyangka, akan secepat ini. Tapi aku masih ragu, apakah ia akan pergi secepat kedatangannya?
“Nil, tapi benar, kan, kamu serius kalo aku mau jadi sahabat kamu? Kamu nggak takut aku nggak cocok? Kita, kan, baru kenal!”
“Nggak papa. Aku nggak terlalu perspektif dan selektif milih sahabat. Ya, yang mau jadi sahabatku tinggal bilang; ‘Nil, aku mau jadi sahabatmu’, atau kalimat sejenis lainnya, aku asal terima, syaratnya cuma enak diajak bicara, walau baru kenal. Kamu sesuai sama syaratku itu, makanya ya, aku asal terima. Kamu sendiri gimana?” tanya Nilya sambil membaca beberapa puisi-puisiku.
“Aku?” aku menggumam, “Aku sih...” Tiba-tiba aku teringat lombanya. Aku harus bilang apa? Dia sudah bilang ya, dan mustahil baginya untuk memusuhiku seperti Mira. Oke, ini kesempatan emas.
“Oke, kenapa tidak?” sambutku langsung. Ah, sayangnya, aku lupa membawa surat pernyataan. Sudahlah, besok saja. Mudah-mudahan Velya belum menemukan sahabatnya, amin!
> Velya.
Hi, friend, gimana sahabatmu? Sudah tandatangan surat pernyataan? Kalau aku, sih... Eh, gimana kalau nanti kita chat aja jam 7 malam? Sambil buka internet yang tugas Bahasa Indonesia mencari berita dari website. Ok?
Itulah bunyi SMS yang kukirim pada Dessy, siang ini. Aku menunggunya membalas. Pukul 3 baru ia membalas.
Hi, I’m confused. Belum. Kamu? Oh, ya, aku nggak bisa chat sore ini. Setelah isya dan makan malam, OK? katanya.
Ok. Itulah reply-ku yang sangat singkat. Untuk hari ini, tak ada PR kecuali tugas Bahasa Indonesia itu. Aku menghabiskan sisa sore dengan belajar matematika. Kuharap ia—matematika—menjadi sahabatku setelah aku mengerti beberapa rumusnya. Tapi, sahabat seperti itu takkan kuajak bermain seharian. Benar, kan?
Jam 4. Aku belajar a x t x ½ = rumus segitiga.
Jam 5. Aku mandi, shalat ashar, dan mengaji.
Jam 6. Shalat maghrib dan makan malam.
Jam 7. Shalat isya dan... Online di internet!! Tapi aku nggak hanya main komputer, lho! Aku sambil belajar melalui satu website yang menyediakan game teka-teki silang yang pertanyaannya seputar pelajaran kelas 5 dan game ular yang bila naik level kita harus menjawab 5 pertanyaan matematika, minimal benar 3.
“Assalamu’alaikum... Udah online?” Tiba-tiba satu pertanyaan masuk ke kolom chatting-anku.
“Wa’alaikumsalam. Sahabatku telah pergi”, tulisku singkat.
“Meaning?” balasnya. “Bukan, deh, bukan dia yang pergi, tapi aku,” aku mengakui.
“Kenapa?” Dessy menulis lagi.
“Karena... Aku nggak cocok sama dia,” jawabku.
“Lalu?”
“Aku harus cari lagi! Tinggal satu hari lagi...” aku menambah aplikasi emotion (aplikasi chatting yang menggambarkan bermacam-macam ekspresi, bisa dikirimkan) yang tersenyum.
“Aku sudah ketemu.”
“Sudah tanda tangan?” tanyaku. Ia membalas dengan audible (aplikasi chatting yang memungkinkan sang pengirim mengirim gambar bergerak beserta suara) perempuan menggeleng sambil berkata ‘No, I’m not.’
Yeah, belum tanda tangan!!! Aku bebas!! Masih ada waktu lagi!
> Akhirnya saling tau...
Setelah keduanya saling tahu, bahwa surat pernyataan mereka belum diisi, mereka semakin semangat. Dessy merencanakan besok ia akan datang ke KP3M, dan ia tahu bahwa Nilya akan datang saat itu. Ia akan membawa surat perjanjian, dan tentu saja, menyuruh Nilya menanda tanganinya! Ia pasti mau! Dessy sudah sangat yakin.
Berbeda dengan rencana Velya, besok ia akan meminta teman sebangkunya, Salsa (Velya sudah pindah ke bangku depan karena ada pengaturan bangku masing-masing oleh wali kelas) menandatangani surat pernyataan itu. Salsa sudah bilang, bahwa ia akan cocok bersahabat dengan orang seperti Velya.
Hari terakhir, datanglah!
Hari Terakhir: Jum’at, 20 Juli 2008
> Dessy
Hari terakhir. Velya dan aku sama-sama masih mencari. Kami berjanji akan menulis jamnya di surat perjanjian. Berarti aku harus menemui Nilya sekarang juga.
Semalam, aku meng-SMS Nilya, dia sekolah dimana. Dan ia baru membalas pagi ini... Tebak apa sekolahnya!
Maaf baru balas sekarang. Aku sekolah di SDN 205, kamu dimana?
SDN 205!
Aku senang! Berarti ia teman sekelasku. Selama 4 hari bersekolah, aku belum terlalu memperhatikan teman-teman sekelasku. Hanya ada 12 anak perempuan yang kukenal dari 20 anak perempuan. Pernah waktu hari rabu, aku seperti melihat Nilya di kantin. Berarti.... Yes! Mudah sekali! Aku tinggal minta tanda tangan, tak perlu menunggu persetujuan ia mau atau tidak.
Siap-siap, Velya... I’m the winner!
Aku benar-benar yakin kalau Nilya adalah teman sekelasku. Hari ini, aku pergi kesekol;ah dengan semangat ‘empat-lima’, eh, salah, sudah bukan ‘empat-lima’ lagi, tapi ‘sembilan-sembilan’, karena aku semangat banget!
Sampai di sekolah, aku langsung mencari Nilya. Kok nggak ada, ya? Ah, bodohnya aku. Mungkin ia terlambat.
Pukul tujuh kurang lima. Sebentar lagi bel. Kelasku sudah penuh. Tapi aku belum melihat Nilya. Ah, kutanya saja.
“Eh, Sis, kamu lihat Nilya, nggak? Udah dateng belum?” tanyaku kepada Siska yang sedang mengobrol dengan seseorang.
“Nilya? Siapa, tuh?” tanya Siska. Aduh, masa’ nggak tau Nilya? Oh, iya, aku lupa. Katanya, ia biasa dipanggil Bela.
“Eh, maksudku Bela,” aku meralat sedikit ucapanku.
“Em... Udah. Bela anak kelas empat, kan?” tanya Siska meyakinkan.
“Maksudku Bela, Nabila Alya Riesha, lho!” aku meyakinkan lagi.
“Iya, dia udah datang dari tadi! Nabila Alya Riesha kelas empat, kan? Soalnya setahuku yang punya nama begitu cuma Bela anak kelas empat! Emang maksud kamu siapa, sih?” Siska rada sewot.
“Enggak, kok. Ya udah, makasih, ya, atas informasinya!” aku mencoba ke ruang kelas empat. Benar! Ada Nilya disana!
“Dessy! Kamu sekolah disini juga? Kelas berapa?” tanya Nilya menyambutku ketika ia melihatku di depan pintu kelasnya.
“Hai, Nil. Kamu kelas empat? Wah, nggak nyangka, ya, abis badan kamu nggak beda jauh dari badan anak-anak kelas lima,” kataku senang menyambut Nilya, sekaligus sedih. Senang karena bertemu dengan sahabatku, sedih karena tak bisa memenangkan lomba, mengetahui Nilya masih kelas empat dan itu sama saja aku melanggar peraturan pasal dua! Kan, sahabat untuk lomba harus seusia!
Ah, sudahlah, aku bisa menjadikannya sahabat di luar lomba.
“Hoi, kenapa diam?!” Nilya menepuk bahuku.
“Hahaha... Mulai sekarang kau panggil aku Kakak, ya!” candaku.
Sudahlah, aku benar-benar malas. Aku menyerah. Selamat jadi pemenang, Velya.
> Velya
Mungkin Dessy akan merasa ia menang. Tapi... aku akan minta tandatangnan Salsa sepulang sekolah, dan Dessy meminta tandatangan sahabatnya... Nanti sore, ketika ia berangkat ke KP3M! Jelas aku yang akan menang.
Nanti malam, aku ke rumah Dessy sekalian mengerjakan tugas prakarya. Kebetulan kami sekelompok.
Tunggu saja, Dessy... I’m the winner!
“Trilili, trilili!”
HP-ku berbunyi. Ada SMS masuk.
Vel, tolong bilangin sama anak-anak sekelas, hari ini aku nggak masuk sekolah dulu. Salah satu anggota keluargaku ada yang meninggal, jadi aku izin. Terimakasih. Your best friend, Salsa Aliya.
Salsa!!! Kenapa kamu harus nggak masuk hari ini?!?! Ah, gimana dong?!?!
Dessy, aku benar-benar bingung. Apa yang harus kulakukan?
Menyerah, tidak, menyerah.... TIDAK AKAN!
Oke, aku nggak boleh menyerah walaupun batas waktunya tinggal malam ini.
Tapi kemana?!
Bagaimana kalau...?
“Hai, hari ini Salsa nggak masuk, ya? Aku boleh duduk sini?”
Allah memang baik! Seorang teman sekelasku—aku mengenalinya sebagai teman sekelas, walau aku tak tau namanya—masih menyandang tas, menghampiri bangkuku.
“Kamu tau dari mana Salsa nggak masuk?” tanyaku balik, sok kenal gitu, deh...
“Aku sahabatnya, oh, ya, aku boleh, kan, duduk sini?” tanya anak itu mengulang.
“Oh, tentu boleh!” aku mempersilakan.
“Namamu Velya, kan? Aku Chika,” ia mengulurkan tangan ingin berkenalan.
“Hai, Chik. Senang mengenalmu,” aku membalas uluran tangannya. Dan kami mengahabiskan waktu dengan mengobrol hingga bel masuk. Ternyata Chika adalah anak yang memiliki banyak sahabat dan baginya, sahabat dan teman tak ada ubahnya. Jadi, ya, dia bisa menjadikanku sahabatanya walau baru bertemu 5 menit! Tentu kesempatan besar untukku.
Selamat kalah, Dessy...
Karena aku yakin sekali aku yang akan menang...
Malam hari batas akhir lomba
Mereka berkumpul di kamar Dessy.
“Hm, gimana seminggu ini?” Dessy berbasa-basi sambil menawarkan minuman pada Velya.
“Begitulah. Kamu?” jawab Velya ngasal.
“Begitulah,” Dessy menirukan, “Sudah, ayo minum dulu.”
“Nah, sekarang saatnya. Kita letakkan surat pernyataan kita di tangan lawan dalam keadaan terbalik. Lalu, tepat di hitungan ketiga, aba-abanya kita bersama, dan... Kita buka suratnya! Siapa yang menang!” Dessy menjelaskan.
“Oke!” Velya menyerahkan surat pernyataannya dalam keadaan terbalik pada Dessy. Dessypun sebaliknya.
“Oke...” Dessy bergumam.
“Satu...” kata kedua gadis itu.
“Dua...” suara mereka mulai tertahan, “Tiga!”
“Hah?” mereka berdua terbelalak begitu melihat isi surat pernyataan lawan mereka masing-masing.
“Kok kamu...”
“Kamu kok...”
Mereka berkata bersamaan. Memang, apa yang spesial? Pantas saja, lihatlah isi kedua surat pernyataan mereka.
Surat Dessy:
Surat Pernyataan Persahabatan
Saya memiliki sahabat bernama Velya Ananditha(*), yang juga bertanda tangan di bawah ini. Kami telah resmi menjadi sahabat, pada tanggal 20(**) Juli 2007.
Tertanda,
Velya Ananditha(***) dan Dessy Rahmasari(****)
NB: kamu mau, kan, Vel? Tolong tanda tangan, ya.
Surat Velya:
Surat Pernyataan Persahabatan
Saya memiliki sahabat bernama Dessy Rahmasari(*), yang juga bertanda tangan di bawah ini. Kami telah resmi menjadi sahabat, pada tanggal 20(**) Juli 2007.
Tertanda,
Dessy Rahmasari.(***) dan Velya Ananditha(****)
NB: Kamu mau, kan Des? Tolong tanda tangan, ya.
Mereka berdua bengong seusai membaca, begitu mengetahui kalau isi surat mereka sama. Lalu mereka tersenyum penuh arti.
Tanpa dikomando, mereka berbarengan menandatangani surat masing-masing.
-SELESAI-