KUDASAI - Let’s Fall in Love For The Night
Tidak peduli telah selama apa kamu pergi.
Tidak peduli telah sejauh apa kita sekarang.
Aku masih tetap mengingatmu sebagaimana aku masih menjadi kekasihmu dulu.
Meski gue tau Anet masih tetap tersenyum; senyum yang dulu pernah menjadi alasan gue bahagia. Senyum yang dulu pernah begitu gue damba-damba. Sebuah garis lengkung di bibir yang anehnya mampu meluruskan jalan hidup gue saat itu. Tapi gue sadar, Anet sedang berjuang amat keras untuk tidak menitikan air mata. Gue enggan menatap Anet lama-lama karena gue sendiri tau, gue tidak sekuat itu.
Keadaan tengik yang memaksa kami berdua berpisah dan gue harus berperan sebagai orang jahat yang terpaksa pergi ketika Anet sedang butuh-butuhnya, tampaknya tak cukup mampu membuat hatinya berubah menjadi sekeras batu. Anet tetap menjadi Anet yang gue kenal. Pemaaf yang paling gue sayang. Jiwa yang selalu mau mencoba mengerti tanpa menghakimi. Sebusah sikap rendah hati yang selalu dan selalu saja tersirat dari senyumnya tiap gue berbuat salah, seakan tanpa perlu berbicara, senyumnya mampu mengucap:
'kamu pasti punya alasan melakukan itu semua kok, Chak. Dan aku akan memakluminya.'
Anet adalah pasangan yang begitu baik. Ketidak-sempurnaan yang menyempurnakan kehidupan gue dulu. Satu-satunya yang bisa tertawa di tiap gue membicarakan banyak hal-hal aneh yang tak jarang sulit dimengerti orang lain. Anet adalah sesosok kekasih yang dengannya gue mampu membicarakan apa saja tanpa perlu merasa dihakimi sama sekali. Sesempurna itulah Anet. Dan sejahat inilah gue meninggalkannya.
Gue tau, Anet terlalu baik dan akan selalu mengerti. Oleh sebab itu, dulu gue berusaha bertindak sejahat mungkin agar ia membenci gue, agar ia menyumpah-serapahi gue, menghina gue, mengutuk gue habis-habisan. Tak apa, gue rela. Anet pantas membenci gue, menghilangkan gue dari hatinya, lalu ditemukan oleh orang yang jauh lebih pantas dan bisa mencintainya tanpa perlu terbeban selayaknya gue saat itu.
Gue rela Anet membenci, menghina, bahkan menghasut teman-temannya dan membicarakan semua hal buruk tentang gue. Gue rela. Asalkan dengan itu Anet jadi tidak sendiri, Anet tidak harus menangis sendirian lagi, Anet tidak perlu merasa bersalah dengan keadaan yang menimpa kami berdua. Gue rela. Sepenuh hati gue rela menjadi pihak yang jahat agar Anet membenci gue dan tak menunggu gue untuk kembali;
Karena nyatanya pilihan kembali memang tidak ada.
Tapi di sinilah kami sekarang. Berhadapan di sebuah meja dengan tatapan yang masih sama. Anet yang gue rasa sudah memaafkan gue terlepas bagimana jahatnya gue saat itu, dan gue yang masih merasa bersalah karena meninggalkannya tanpa mencoba berusaha untuk bertahan lebih lama.
"Chak, liat sini.." Anet meraih tangan gue yang saat itu bergetar menahan rasa benci pada diri sendiri. Betapa gue ingin menarik tangan gue karena gue tau di sana ada Twindy; seseorang yang kini sudah menjadi istri gue. Tapi, bajingannya, gue benar-benar tidak bisa menarik tangan itu dan membiarkan lengan mungil Anet mengalung memenuhi kekosongan di tangan gue yang penuh dengan luka-luka cipratan bekas minyak panas.
Gue menarik napas panjang, lalu perlahan menatap matanya. Dan ketika mata kami bertemu, mata Anet langsung berair sebelum kemudian ia yang membuang mukanya.
"Kamu masih tetap kaya dulu ya. Ga ada yang berubah. Hanya sedikit lebih gemuk dan lebih bersih." Anet berusaha mengucap dengan lancar meski gue mendengar suaranya sedikit bergetar.
"Aku lebih tenang sekarang, Chak. Akhirnya aku tau kamu di mana. Sekarang aku bisa dateng setiap hari ke sini untuk melihat kamu." Sambungnya.
Aduh anjir, mati dah gua.
TAPI NET ANDA INI TIDAK MENGERTI. MASALAHNYA SAYA SUDAH MENIKAH DENGAN SEEKOR MAUNG!! KALAU ANDA DATANG LAGI, BISA-BISA TIAP MALEM UBUN-UBUN SAYA DISEDOT SAMA ISTRI SAYA SENDIRI, NET!!
Pengen deh gue bilang kaya gitu tapi gue tahan karena kondisinya lagi serius.
"Chak. Apa alasan yang sebenarnya terjadi malam itu?" Tanya Anet.
"Kan dulu sudah aku jelaskan, Net."
Anet menggeleng, "Bukan. Aku selalu hapal ketika kamu berbohong. Dan malam itu, kamu berbohong. Kamu sedang menutupi sesuatu hanya agar aku membenci kamu, kan?"
Gue tersentak dan langsung melihatnya.
"Tapi aku percaya bukan itu alasannya. Waktu kamu pergi, mungkin aku yang salah. Mungkin kamu memang sedang bosan sama aku dan ingin sendiri. Oleh sebab itu aku memberi waktu sebentar dan tidak mengganggumu lagi. Tapi ternyata, kamu benar-benar hilang setelah itu, Chak." Genggaman tangan Anet semakin menguat.
Astaga, bahkan setelah gue meninggalkannya dengan begitu jahat, Anet masih berpikir bahwa semua ini salahnya. Kenapa dia harus seperti itu? Kenapa? Kenapa dia harus membuat gue merasa semakin bersalah?
"Kalau tau kamu akan benar-benar menghilang, aku akan memilih egois dan menahan kamu untuk pergi waktu dulu itu, Chak." Akhirnya air mata itu menetes sekali, meluncur menuruni pipi, dihempas dan jatuh ke atas meja yang berada di antara kami berdua, "Chak, maafin aku yaaa."
"Maaf buat apa, Net? Kenapa malah kamu yang minta maaf?!" Kali ini suara gue yang mulai bergetar.
"Maaf kalau aku masih nunggu kamu." Luluh lantah sudah semua pertahanan Anet dan air mata mengalir deras dari dua buah bola matanya, bibirnya ia gigit seperti berusaha menahan agar suara tangisnya tidak terdengar ke mana-mana.
"Salah gak sih, Chak, kalau aku masih menanti? Maafin aku ya, yang merasa kita masih punya kesempatan, di saat aku benar-benar gak tau apakah kamu akan kembali atau tidak."
Anet melepaskan genggaman tangannya lalu menangkupkan tangannya di meja dan berusaha keras menahan tangisnya. Sedangkan gue masih diam di posisi yang sama. Mengepal tangan gue kuat-kuat, menahan sekuat tenaga agar tidak menangis juga. Menangisi dua buah hati yang masih menyimpan rasa yang sama namun tak pernah bisa bersama. Kami berdua sekarang sedekat ini untuk bisa saling menggenggam, namun juga sejauh itu untuk bisa kembali bersama.
"A, Chak.." Tiba-tiba gue dikagetkan sama Romi yang mendadak muncul di sebelah gue.
"Astagfirullah! Gue kira malaikat Izrail. Apaan sih, Rom?! Ngagetin aja! Gue lagi ngobrol penting ini!"
"Itu ada yang mau bayar, A."
"Ya elo urus sendiri dulu lah kan bisa! Ahelah lama-lama gue potong gaji lu sampe minus 5 miliar baru tau rasa!"
"Ya Allah jahat banget.."
"Sana urus dulu pelanggan yang lain. Terus jangan lupa cuci itu muka!"
"Lah emang ada yang salah sama muka saya, A?"
"Muka lo kaya kue semprong!"
Brengsek emang, lagi adegan sedih-sedih kaya film Bollywood malah diganggu. Tuh kan gue jadi lupa tadi gue sedihnya sampe mana. Bangke emang si Romi. Besok-besok kalau bulan Ramadhan dateng, gue sumbangin dia ke panti asuhan.
Gue bergegas pergi ke kasir, mengambil tisu untuk Anet, tapi sebelum kembali, gue bilang dulu ke pelanggan yang mau bayar tadi.
"Mbak, maaf ya, dilayanin sama dia dulu. Meski model mukanya kaya tanah kuburan, tapi dia baik kok. Kalau mbaknya takut, istigfar aja."
Romi cuma bisa memasang wajah bete sedangkan mbak-mbak tadi hanya tertawa bersama teman-temannya yang lain. Romi ini karyawan gue paling setia, waktu Cafe ini belum ada aja dia udah kerja sebagai assisten Chef ketika gue sibuk cari-cari menu yang tepat untuk dijual di cafe nanti. Dari pertama masuk sampe sekarang, Romi emang selalu gue ledekin, tapi dia tetap di sini dan gak pernah meminta resign. Pahalanya banyak tuh bocah. Tapi waktu gue tau alasan dia gak pernah mau resign karena istri bosnya cakep, gue langsung gak mau muji dia lagi. Awas aja lain kali kalau dia lagi mandi, gue tuker gayungnya sama centong nasi.
Gue menyodorkan tisu itu pelan-pelan ke depan Anet. Ia mengangkat kepalanya, mengambil tisu itu dan mengucapkan terima kasih tanpa bersuara.
"Net.. Aku minta maaf buat.."
"Gak usah, Chak." Anet langsung memotong, "Kamu gak pernah salah kok." Ia menggelengkan kepalanya, "Aku kenal kamu dari ketika kamu bukan siapa-siapa, dari saat kamu ngekos di kamar ukuran 5x5 yang gak ada jendela karena gak punya uang, sampai sekarang bisa kerja di cafe sebagus ini. Aku tau, kamu gak pernah berbuat jahat sama aku. Aku tau. Dan aku juga mengerti kalau kamu mempunyai alasan yang benar-benar gak bisa kamu lawan hingga pada akhirnya kamu memutuskan untuk pergi." Anet menghapus air matanya sekali lagi lalu tersenyum meski terlihat dipaksakan, "Kamu gak salah, Chak."
Entah Tuhan menciptakan Anet ini dari bahan dasar apa. Kenapa bisa ada manusia sebaik ini di kala gue sudah jelas-jelas menyakitinya? Kenapa gue harus melepas malaikat sebaik ini demi menikahi wanita yang saking galaknya, kalau batuk aja keluar becak, itu?
Gue lagi-lagi menarik napas panjang. Pasalnya, segala senyum dan sikap baik Anet ini benar-benar membuat kaki gue ingin sekali kembali lalu memperjuangkannya lagi. Namun, gue gak bisa. Ada yang mengikat gue sekarang. Meski jika dibandingkan istri gue dan Anet rasanya kaya membandingkan surga dan neraka, namun gue tidak bisa mengorbankan hati seseorang demi hati orang lain. Lantas apa bedanya gue dengan gue yang dulu kalau gitu. Pun, Twindy masih menahan ijazah gue. Entahlah ini pernikahan udah macam ngelamar jadi kurir JNE aja sampe pake acara ijazah gue ditahan.
Namun gue juga tidak bisa mengingkari bahwasanya pembicaraan ini adalah apa yang selama ini gue cari. Seakan ketika kita mulai berbicara, gue menemukan kepingan yang selama ini hilang. Hanya saja, rasanya begitu sakit ketika mengetahui kita sudah tidak seperti dulu lagi, tidak peduli sedekat apa tubuh kita sekarang. Dan terasa jauh lebih sakit lagi oleh karena gue tau gue tidak akan pernah bisa kembali bersamanya meski sekuat apa pun nanti gue berusaha.
"Boleh pinjem HPmu, Chak?" Tanya Anet yang tampaknya sudah terlihat baikkan.
Gue meletakkan hp itu di atas meja tanpa bertanya sama sekali. Anet mengambilnya dan mengetikkan sesuatu sebelum kemudian menunjukkannya ke arah gue.
Anet meletakkan HP itu perlahan di depan gue. "Aku tau, mungkin kedatanganku kali ini mendadak. Dan kamu juga tampaknya masih kebingungan setelah kita lama gak ngobrol kaya gini. Kalau nanti kamu sudah bisa menjelaskan, kasih tau aku ya, Chak. Apa pun penjelasan kamu nanti, aku gak masalah. Mau itu membawa kita kembali bersama atau menuntaskan apa yang selama ini aku tunggu, aku akan terima. Asalkan kamu kasih tau aku. Aku gak akan lama-lama di sini. Aku pulang dulu ya, Chak. Its really nice to meet you again." Ujar Anet yang langsung berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan Cafe setelah sempat mengacak-acak rambut gue.
Gue bersandar di kursi dengan pikiran mengawang-awang ke atas. Gue pikir dulu adalah kali terakhir di mana gue bertemu Anet, tapi ternyata tidak. Kami dipertemukan lagi di masa depan, di saat gue sudah benar-benar tidak bisa memilihnya. Hanya saja, gue juga tidak tega untuk mengatakan hal yang sejujurnya lalu mematahkan harapannya lagi. Gue tidak mau berbuat lebih jahat dari apa yang telah gue lakukan dulu itu kepada Anet.
Kening gue rasanya cenut-cenut sekali, gue memijatnya sesekali sambil menutup mata. Mencoba menenangkan pikiran dengan mendengarkan percakapan para pengunjung Cafe yang lumayan berisik siang hari begini.
Ada lebih dari lima menit gue memejamkan mata, hingga pada akhirnya gue terbangun dari tempat duduk dan melihat ke arah meja yang ada di belakang gue. Percakapan mereka sebelumnya tanpa sengaja gue dengar dan membuat gue langsung kembali menjadi Chaka yang biasanya. Gue melihat ke arah mereka sebentar, yang kebetulan saat itu sedang duduk memunggungi gue.
Dua orang pasangan muda-mudi yang tampaknya sedang ada masalah. Dari percakapan mereka yang tak sengaja gue dengar sih, si cowok ini selingkuh, si cewek gak terima, lalu mereka berantem. Si cewek nangis, si cowok tetap tidak mau merasa bersalah dan terus memojokkan si cewek dengan perkataan bahwa dia yang salah karena selama ini tidak perhatian hingga akhirnya si cowok milih cewek lain yang lebih memperhatikan dia. Benar-benar alasan yang tidak masuk di akal.
Sebenarnya gue tidak mau ikut campur urusan orang, terlebih urusan pelanggan cafe gue sendiri. Tapi yang membuat gue langsung melihat ke arah mereka adalah perlakuan si cowok sekarang. Tangan si cowok mencengkram tangan si cewek di bawah meja dengan kencang sekali. Bahkan menggunakan Kuku. Dan si cewek tetap menangis berusaha untuk tidak teriak. Si cowok terus saja menyudutkan si cewek dengan nada bicara yang semakin tidak masuk akal. Bahkan terdengar si cowok mulai mengancam sambil mencengkram erat punggung si cewek.
"Wah gak bener nih gak bener." Gumam gue yang langsung berdiri dan pergi ke dapur.
Tak lama, gue kembali sambil membawa Cookies and Cream Coffe Oreo Buttercream lalu menghampiri meja pasangan muda tadi.
"Silakan kak dimakan pesanannya." Tukas gue dengan muka polos banget kaya kaos sablon.
"Maaf, saya gak pesan." Jawab si cowok yang langsung merasa terganggu.
"Oh ini gratis kak dari kami. Menu baru. Silakan dicoba."
Gue berbalik pergi meninggalkan mereka. Berjalan lewat pintu belakang. Mengitari komplek. Masuk lewat pintu depan Cafe. Lalu mendatangi mereka lagi.
"Gimana kak kuenya? Enak?" Tanya gue kepada mereka yang kayaknya napas aja masih belum sempat.
"Belum dicoba mas!" Jawabnya dengan nada kesal.
Gue meninggalkannya. Berjalan lewat pintu belakang. Mengitari komplek. Masuk lewat pintu depan Cafe. Lalu mendatangi mereka lagi. Tapi kali ini beda. Yang mendatangi mereka bukan gue, melainkan Romi yang wajahnya kaya kue semprong tadi.
"Maaf mas mengganggu, katanya mas jualan iphone second ya?" Tanya Romi tanpa wajah bersalah.
"Hah?! Apaan sih?! Saya gak jual apa-apa!" Bantahnya sambil mengusir Romi.
Romi kebingungan, dia berlari nyamperin gue di meja kasir,
"ANJIR A' LO NIPU GUE YAK?! DIA BUKAN PENJUAL IPHONE SECOND ANJIR!!! BIKIN MALU GUE AJA AH LO!"
Dan gue cuma bisa ketawa waktu Romi marah-marah kaya orang baru datang bulan. Seneng deh gue punya karyawan kaya Romi. Lucu bener gampang ditipu.
Gue melakukan hal ini semata-mata agar si cowok tadi terganggu dan pulang saja. Tapi ternyata tidak ada gunanya, mereka masih di sana. Si cewek menangis dan si cowok masih melakukan hal yang sama. Terpaksa gue melakukan usaha terakhir. Gue mendatangi meja itu lagi, namun kali ini gue langsung berdiri di hadapan mereka.
"MAU APA LAGI?! KUENYA GAK SAYA MAKAN! SAYA JUGA BUKAN PENJUAL IPHONE SECOND! BISA GAK USAH DATENG-DATENG LAGI GAK?" Nada suaranya naik, membuat hampir seisi Cafe melihat ke arah gue.
Gue tidak menggubris dan justru menundukkan badan gue ke depan si cewek, "Mbak gapapa? Ada yang bisa saya bantu?"
Cewek itu tidak menjawab dan masih menutup matanya berusaha menutupi kalau saat itu ia masih menangis.
"Mas, tangan kirinya di lepas, bisa? Jangan mencengkram kaya gitu. Kasian mbaknya." Kali ini nada gue mulai meninggi, "Maaf bukan maksud mencampuri urusan pribadi, tapi kalau bisa selesaikan masalahnya baik-baik, gak usah pakai memaksa, mas."
Tampaknya cowok tadi tersinggung, nadanya tak kalah ditinggikan, "Apa urusanya sama elo? Ini hubungan gue. Dia cewek gue. Terserah gue mau ngapain. Bacot aja lo. Jangan mentang-mentang kerja di sini lo jadi bisa seenaknya sama pelanggan. Gaji kecil aja belagak jadi jagoan."
Waduh waduh... belum tau si abang ini kalau istri saya kaya banget. Yah jangankan isi dompet, istri saya kalau bersin aja keluar uang. Sekali bersin, muncul 300 ribu.
Ketika si cowok tadi membela diri, dia beberapa kali menyentuh pundak ceweknya tapi dengan kasar sampai badannya sedikit oleng waktu disentuh. Bahkan sudah seperti mendorong. Gue menarik napas lagi, berusaha agar tidak terjadi keributan di cafe gue. Tapi waktu gue mau ngomong lagi, tiba-tiba gue dikejutkan dengan Twindy yang bergegas menghampiri dan berdiri di sebelah si cewek itu. Gue sampai lupa kalau dari tadi ada istri gue di sini.
"Kamu ikut saya aja sini." Ajak Twindy memaksa cewek itu berdiri hingga kemudian memeluknya. "Gapapa kan? Kamu tenang aja ya." Bisik Twindy.
Si cowok tidak terima, dia langsung berdiri juga.
"NGAPAIN LO IKUT CAMPUR?!" Teriaknya ke arah Twindy.
Gue kaget. Kagetnya bukan karena istri gue dibentak. Tapi kaget kok ini anak berani-beraninya ngebentak seorang Twindy. Dia belum tau siapa cewek di depannya ini.
Cowok itu menggebrak meja lalu menunjuk bergantian ke arah gue dan Twindy, "Oh pada mau ikut campur ya, hah?! Pada mau ngeasa sok jagoan?! Lo belum tau bapak gue polisi?!" Ancamnya. Sebuah ancaman yang sering dikeluarkan bocah-bocah metropolitan.
"Maaf, bapaknya polisi di divisi apa kalau saya boleh tau?" Tiba-tiba Kolega Twindy berdiri dan memotong pembicaraan, "Saya kenal langsung sama bapak kapolda kota ini. Jadi kalau saya boleh tau, bapaknya divisi apa? Siapa namanya? Biar saya yang cari." Lanjutnya sambil mengeluarkan hp.
Belum sempat cowok itu menjawab, kolega Twindy yang satu lagi berdiri.
"Sudah mas, ini urusan saya saja." Katanya ke temannya yang ngaku kenal Kapolda tadi, "Jika bapak mas memang polisi, mari kita selesaikan kasus ini di kepolisian saja. Saya lulusan hukum dan kebetulan pengacara juga," Ia menyodorkan kartu nama dan benar saja jabatannya di sana memang pengacara, "Saya akan senang hati mendampingi wanita ini apabila anda berkenan melanjutkan perkara ini ke pengadilan. Untuk masalah bukti, CCTV cafe ini sudah merekam semuanya. Bukan begitu mas Chaka?"
"Oh iya, CCTV ini hebat kok, jangankan kejadian barusan, dia bahkan bisa ngerekam ulang kejadian waktu cafe ini masih jadi kuburan kucing dulu." Jawab gue sambil ngacungin jempol.
Twindy yang mendengar hal itu langsung menyikut perut gue yang ada di belakangnya sampai gue meringis kesakitan. Bisa-bisanya bercanda pas lagi kaya gini.
"Bagaimana mas? Mau dilanjutkan lagi masalah ini?" Kata si pengacara.
Si cowok itu hanya terdiam. Merasa tidak berdaya. Sudah gue bilang, Twindy ini yang menakutkan bukan dirinya, tapi koneksi keluarganya. Lo berbuat sesuatu yang fatal ke Twindy, lo gak akan dapat marabahaya, tapi yang dapat marabahaya adalah keluarga lo. Tiba-tiba kakak lo bisa dipecat dari pekerjaannya, tiba-tiba rumah yang lo tempati bisa didatangi petugas tanah, kalau lo masih kuliah, tiba-tiba lo bisa di DO dengan alasan yang gak masuk akal. Jadi mending hati-hati deh.
Cowok tadi gusar, dia menatap cewek yang tengah dipeluk Twindy sebentar sebelum kemudian pergi begitu saja tanpa membayar. Brengsek emang. Udah bikin masalah eh ditambah gak bayar makanan pula.
Twindy mengelus kepala cewek tadi yang mungkin masih menjadi siswi SMA, "Kamu gapapa kan? Tenang aja, kalau ada apa-apa, kamu bisa menghubungi cafe ini ya. Nanti aku bantu. Kalau cowok itu ganggu kamu lagi, jangan sungkan buat datang ke sini. Kamu rumahnya di mana? Nanti aku suruh supirku nganter kamu pulang. Oke?" Ujar Twindy ramah dan cewek itu mengangguk mengerti.
Gue yang saat itu bediri di belakang Twindy melihat ke arah luar, si cowok tadi buru-buru pergi sambil masih ditempel terus sama kedua kolega Twindy barusan. Gue terkekeh.
"Mampus lo!" kata gue sombong.
Mendengar hal itu, tiba-tiba Twindy berbalik. Senyum yang tadi menghiasai bibir gue, kini bak kolak pisang sesudah bulan ramadhan, alias hilang total tak lagi terlihat keberadaannya.
Twindy maju dua langkah hingga kini jarak antara muka kami berdua benar-benar hanya sekitar 10cm-an doang. "Tadi kamu ngobrol sama siapa sampai pegangan tangan segala? Berani banget kamu kaya gitu waktu ada aku gak jauh dari sana. Kamu mau mati, hah?!"
Mendadak muka gue langsung pucat kaya orang baru nelen puyer,
Kesombongan gue sebelumnya langsung dibayar tunai sama Tuhan. Firasat malam ini gue bakal dipaksa nelen kalender ini mah. Ya Allah pengen tobat :((